
Alister yang harus mampir ke toilet membiarkan Angel pergi ke ruangannya terlebih dahulu. Lagi pula itu kantornya, mana mungkin Angel akan tersesat bukan pikirnya.
Alister melihat jam tangan yang bertengger di tangan kirinya. Setelah mendapat informasi bahwa dia tengah kedatangan tamu, Alister bergegas masuk dan tanpa mencari keberadaan Angel karena dia sudah memberi tahu Fabian bahwa Angel sedang ada di lantai tempat ruangnya berada.
Ceklek
Alister membuka pintu. Suara pintu yang terbuka membuat Adelina menoleh ke belakang karena dirinya tengah berdiri di dekat jendela memandang ke luar sembari melipat kedua tangannya.
"Maaf, karena menunggu terlalu lama." Ucap Alister yang semakin lirih ketika matanya menangkap sosok yang telah lama hilang di hidupnya.
Deg
Pandangan mereka saling bertemu. Masing-masing tak mampu melepaskan sedetikpun pun tatapannya.
Tap
Tap
Tap
Alister melangkah dengan sangat perlahan, dirinya masih menerka-nerka. Ini hanya khayalannya saja atau memang kah fakta.
"Adelina." Ucap Alister dengan bibirnya yang bergetar.
Alister langsung memeluk Adelina erat-erat. Air matanya tak lagi mampu dia bendung, kerinduan yang bertahun-tahun membuatnya menjadi sosok yang teramat rapuh.
"Maafkan aku, aku salah karena sempat menyerah." Kata Alister dengan sesegukan.
Adelina terpaku di tempatnya. Hati kecilnya ingin mencoba merengkuh Alister sekarang juga, namun egonya masih tetap ada.
"Maaf, aku menyesal. Ku mohon jangan tinggalkan aku lagi." Pinta Alister yang hampir saja merobohkan pertahanan Adelina.
Adelina mengurai pelukan Alister, beruntung dia masih sanggup menahan rasa rindunya meski tengah meronta-ronta.
"Aku kemari karena ada sesuatu yang harus kau tandatangani." Ucap Adelina to the poin.
Alister menatap Adelina dalam-dalam. "Tidak kah ada secuil rasa yang tersisa untuk ku?." Tanya Alister miris.
Sebegitu benci kah Adelina terhadapnya.
"A-ku." Jawab Adelina gugup ketika Alister terus saja menatapnya penuh cinta.
Tatapan indah yang membuat hatinya terenyuh, tatapan cinta yang selalu dia damba dari suaminya.
Alister memegang pundak Adelina. "Jawab aku!, katakan bahwa kau membenci ku!. Katakan sekarang!." Kata Alister dengan penuh emosi.
Tidak kah Adelina merasakan kesakitan yang dia alami selama tanpa dirinya.
"A-ku..., aku membenci mu!." Ucap Adelina dengan memejamkan matanya.
Mata mereka lagi-lagi bertemu, Adelina kini tidak sanggup lagi menahan air matanya. Pertahannya telah berhasil Alister runtuh kan. Dinding yang dia bangun berhasil Alister jebol hanya dengan satu kali pukulan.
"Aku benci!, aku benci dengan diri ku sendiri...hiks...hiks...." Kata Adelina terisak dengan memukul-mukul dada Alister.
Adelina menangis sesegukan di dalam pelukan Alister. Mana mungkin dia mampu tegar ketika Alister menggoyahkan dirinya.
"Aku mencintaimu Adelina, aku mencintaimu istriku." Lirih Alister dengan mengecup pucuk kepala Adelina berulang kali.
Adelina mempererat pelukannya. "Aku takut, semuanya hancur." Lirih Adelina yang masih terisak.
Adelina tak kunjung berhenti dari tangisnya. Dirinya masih saja merasa trauma dengan apa yang telah dialaminya. Alister menangkup pipi Adelina.
Cup
Alister menyatukan bibir mereka, membiarkan Adelina merasakan kehangatan yang semestinya.
"Eummp..." Desah Adelina ketika Alister terus saja menikmati bibirnya.
Alister terus ******* bibir Adelina tanpa memberikannya jeda. Adelina memukul dada Alister agar menghentikan kegiatan mereka.
"Maaf, aku menyakitimu." Ucap Alister dengan terkekeh karena melihat wajah Adelina yang memerah hampir kehabisan oksigen.
Adelina cuek dan sibuk mengatur nafasnya. "Aku akan melanjutkannya lain kali." Bisik Alister dengan mengelap bibir Adelina yang basah karena ulahnya.
Adelina melotot tak percaya, pertemuan mereka setelah sekian lama. Apakah hanya itu yang ada di otak kecil suaminya.
"Mesum!." Pekik Adelina yang membuang muka karena merasa malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Mommy!." Teriak Steve yang langsung berlari ke arah Adelina.
Alister dan Adelina kompak menoleh ke arah pintu yang ternyata belum tertutup rapat dan masih sedikit terbuka.
Alister dan Adelina saling melempar pandang lalu menggeleng.
"Mommy, aku ingin ke toilet sekarang." Rengek Steve yang langsung menarik tangan Adelina dan pergi dari ruangan itu.
Alister hendak mencegah bocah tengil yang baru saja mengganggunya namun putri kecilnya tiba-tiba juga berada di sana.
"Daddy, apa yang kalian lakukan tadi?." Tanya Angel polos dan membuat Alister kikuk.
"Tadi?, em... sepertinya tadi ada nyamuk di ruangan Daddy. Bukan kah sebaiknya kita pergi?." Ujar Alister memberi alasan.
"Tentu Daddy, Angel tidak suka nyamuk." Jawab Angel yang langsung membuat Alister menggendongnya ke luar dari ruangan itu.
Hati Alister berbunga-bunga, setelah penantiannya kini mungkinkah saat bahagia telah tiba.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂