
Waktu yang telah ditunggu-tunggu tiba, meskipun sudah ada wedding organizer yang cukup mumpuni, namun bukan Bunda Wiwi namanya jika tidak ikut turun tangan langsung.
Bunda Wiwi kini tengah berada di kamar Adelina dan Alister.
"Udah kamu duduk aja dulu jangan lama-lama berdirinya kasihan baby." Ucap Bunda Wiwi mencegah Adelina bangkit dari duduknya.
Bunda Wiwi memerhatikan gaun yang dikenakan oleh Adelina dengan seksama. Sangat pas dan cantik di badan Adelina putrinya.
"Kamu nyaman kan?, nanti kalau ada apa-apa kamu langsung minta tolong Alister. Bunda takut nanti nggak ada di samping kamu selama acara." Jelas Bunda Wiwi memberikan petuah.
Adelina mengangguk. "Anak Bunda di mana?." Tanya Adelina penasaran.
"Fabi lagi di bawah, dia bagian nyambut tamu nanti." Jawab Bunda Wiwi yang sepertinya tidak peka jika Adelina menanyakan keberadaan Alister calon suaminya.
Adelina hanya mengangguk meski jawaban Bunda tidak sesuai ekspektasi nya.
"Bun, udah siap?." Tanya Alister yang baru saja masuk.
Bunda Wiwi dan Adelina kompak menoleh ke arah Alister yang masih di ambang pintu.
Tap
Tap
Tap
Alister berjalan dengan langkah tegap ke arah mereka. Adelina terpukau dengan ketampanan calon suaminya itu, sungguh mungkin ke depannya Adelina bisa betah seharian di rumah asal ada Alister tentunya.
Seolah ada slow motion di antara mereka, setiap langkah yang dilakukan Alister membuat detak jantung Adelina bekerja lebih cepat.
Adelina tanpa sadar memegangi dadanya.
"Kamu kenapa?, apa ada yang sakit?." Tanya Alister panik dan langsung berjongkok di hadapan Adelina.
Adelina masih saja memandangi wajah Alister dan tidak menjawab apapun.
"Adelina?, apa kau baik-baik saja?." Tanya Alister lagi dengan memegang pundak Adelina.
"Eh!, tidak. Aku baik-baik saja." Jawab Adelina gugup.
"Bun, apa tidak ada sepatu tanpa hak?, kenapa ini tinggi sekali?." Tanya Alister yang melihat sepatu hak yang dikenakan oleh Adelina.
"Eh, bukan kah itu yang paling rendah haknya?." Ucap Bunda Wiwi yang malah balik bertanya.
"Ini hanya 2 cm, tidak apa-apa." Jawab Adelina.
Alister tanpa meminta persetujuan dari Adelina langsung melepaskan sepatu itu.
"Kenapa di lepas, aku bagaimana jalannya?." Protes Adelina.
"Biar aku yang menggendong mu turun." Kata Alister yang langsung menggendong Adelina ke luar dari kamar.
Bunda Wiwi tentu saja tersenyum dengan tingkah mereka berdua. Tak perlu menunggu lagi, Bunda mengekor di belakang mereka dan ikut turun ke bawah.
...*********...
Adelina dan Alister sama menghela nafas panjang untuk mengusir kegugupan mereka. Duduk bersampingan dan berhadapan dengan penghulu yang akan menikahkan mereka.
"Bagaimana para saksi apakah sah?." Tanya penghulu setelah menikahkan Adelina dengan Alister.
"Sah!." Kompak mereka dengan tersenyum bahagia.
Sah, sebuah kata yang membuat status dirinya berubah dalam detik itu juga. Adelina tanpa sadar menitihkan air mata bahagia, seperti ini kah rasanya dimiliki pikirnya.
Setelah dilanjut dengan doa dari penghulu untuk pengantin itu, kini acara selanjutnya adalah sungkeman.
Alister dan Adelina saling bertatapan, perlahan Alister mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Adelina dengan mencium punggung tangan suaminya itu.
Mereka bergantian meminta doa restu kepada Ayah, Bunda dan Kakek serta Fabian selalu keluarga inti.
Acar pernikahan digelar sedikit lebih tertutup, hanya beberapa tamu undangan penting saja dan juga seluruh karyawan Red Pen tentunya
Alister dan Adelina terus menebarkan senyum bahagia mereka kepada para tamu undangan. Bahkan dirinya nanti berniat untuk meminta teman-temannya menginap.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂