Red Pen

Red Pen
Alister, Anak Siapa?



Ayah Alex, Fabian dan Alister hanya duduk diam ketika Bunda Wiwi memberikan kabar bahwa Adelina tengah mengandung.


"Percepat pernikahan kalian." Titah Ayah Alex.


"Baik Yah." Jawab Alister.


Fabian menepuk pundak Alister. "Selamat Kak." Ucap Fabian yang kemudian pergi.


"Bunda minta kamu selalu buat Adel nyaman, Bunda tahu kalian masih menyesuaikan diri tapi Bunda mohon sama kamu supaya bisa jauh lebih dewasa ke depannya." Nasehat Bunda Wiwi.


"Alister akan berusaha Bun." Jawab Alister yang membuat Bunda Wiwi tersenyum.


"Bersiaplah nanti siang untuk pergi ke rumah sakit dengan Adel. Biar Bunda yang membujuknya." Ucap Bunda Wiwi yang kemudian menuju kamar Adelina.


Tok


Tok


Tok


Bunda Wiwi mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari Adelina. Dengan berat hati Bunda terpaksa masuk meskipun tanpa seijin dari Adelina.


"Sayang." Panggil Bunda Wiwi ketika melihat mata Adelina yang sembab karena menangis.


Adelina langsung memeluk Bunda Wiwi yang duduk menghampirinya. "Adel takut Bun...hiks...." Lirih Adelina terisak.


Bunda mengelus punggung Adelina. "Ada Bunda, jangan takut. Katakan kenapa Adel menangis?." Tanya Bunda Wiwi lembut.


Adelina melepaskan pelukannya. "Adel takut Ai nggak nerima baby." Ucap Adelina memikirkan bagaimana nanti sikap Alister jika mengetahui bahwa dia tengah hamil.


Bunda Wiwi tersenyum. "Sayang, baby itu anak kalian. Alister pasti mengerti itu." Jelas Bunda Wiwi.


"Tapi kita belum menikah Bun, apa Ai akan kecewa?." Kata Adelina yang khawatir.


Bunda Wiwi menghapus air mata di pipi Adelina. "Pernikahan kalian akan diadakan secepatnya, kamu jangan mikir yang macem-macem kasihan baby." Kata Bunda Wiwi.


"Tapi Bun." Ragu Adelina.


...*********...


*Rumah sakit.


"Apa masih sering keram?." Tanya dokter Prilis.


Adelina menggeleng. "Tidak, hanya tadi pagi saja." Jawab Adelina yang sudah menyelesaikan pemeriksaannya.


"Jangan terlalu stres dan minum vitaminnya dengan teratur, kau mengerti?." Ucap dokter Prilis yang membuat Adelina mengangguk.


"Apa bisa kita tahu berapa usia kandungannya?." Tanya Alister penasaran.


Adelina menatap Alister dengan tatapan aneh. "Apa kau tidak percaya ini anak mu?." Ucap Adelina yang membuat Alister menoleh.


"Buk-." Alister baru saja hendak menjawab namun Adelina sudah lebih dahulu bangkit dan ke luar dari ruangan itu.


"Astaga, kenapa wanita merepotkan." Kata Alister dengan mengusap kasar wajahnya.


"Kau memang harus bersabar, wanita hamil memang sensitif. Terlebih lagi sepertinya hubungan di antara kalian kurang baik bukan?." Tebak dokter Prilis.


"Berikan nomor mu dok, biar aku mudah menanganinya." Pinta Alister yang membuat dokter Prilis mengangkat sebelah alisnya.


"Tuan Alister, kau lupa jika aku dokter pribadi keluarga mu. Apa kau perlu nomor ku lagi?." Heran dokter Prilis.


"Kenap tidak katakan saja dari tadi." Ucap Alister sebal yang langsung ke luar menyusul Adelina.


Alister mencari Adelina namun tidak kunjung menemukannya, sampai pada akhirnya dia memilih bantuan pengawas untuk memeriksa CCTV.


"Kenapa dia ceroboh sekali." Kata Alister yang melihat rekaman CCTV bahwa Adelina pergi dengan menggunakan sebuah taksi.


Alister segara pergi dan pulang ke rumah sebelum semuanya semakin kacau karena Adelina yang salah paham.


"Menyebalkan." Umpat Alister dengan memukul stir mobil yang tengah dikendarainya. Dengan kecepatan tinggi Alister melajukan mobilnya untuk cepat sampai ke rumah.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂