
Setelah mereka saling berkenalan tiba-tiba ada segerombolan siswi dengan dandanannya seperti ondel-ondel plus cabe BS an , ups emang cabe ya ..., rok di atas lutut, bibir yang merah darah, dan baju yang sangat ketat melekat di badannya.
BRAK !!!!
"Eh kalian minggir gue sama temen-temen gue mau duduk di sini," seru Dara mengusir Queensa dan kawan kawannya.
"Lah lo siapa dateng-dateng ngusir kita dikira ini kantin punya nenek moyang Lo," seru Zeffa tak kalah kesalnya dengan kelakuan si ratu cabe.
"Gue Dara calon pacarnya Lio,"
"Gue Katrine calon pacarnya Raffa,"
"Gue Devi calon pacarnya Adzriel,"
"Gue Disa calon pacarnya Thian,"
"Gue Sinta calon pacarnya Altaf,"
"Ciih dasar ogeb gua udah kenal keles nama lo dan cecunguk cecunguk lo ini, dasar si ratu cabe," seru Zeffa yang sebenarnya udah rada males ngeladenin orang modelan kaya Mereka.
"Lo yang obeg disini gue nggak ngajak ngomong sama lo tapi sama dia anak baru," seru Dara dengan menunjuk Queensa yang sedang asik dengan earphone nya.
"Ooh..," jawab Queensa Dkk bersamaan kecuali Queensa dia masih saja asik dengan earphone nya.
"Sayang, liat mereka nggak mau pergi," tutur Dara dengan suara manja sambil bergelayutan di lengan Lio. Dara yang selalu mengajar cinta Lio bahkan dari dulu sampai sekarang namun sedikit saja Lio tidak tertarik pada wanita itu.
Lio yang memiliki wajah dingin, kulit putih, bibir tipis tatapan mata yang tajam, rahang yang tegas hingga membuat para wanita klepek klepek oleh wajah yang sempurna bagi kaum wanita yang melihatnya.
"Iya yang ayo kmu usir dong mereka," tutur Sinta yang tak kalah manja sambil mengusap pundak Altaf.
"Yang ... yang ... yang .... pala lu peyang," ucap Altaf dengan nada dinginnya.
"Mending kalian pergi dari sini," ujar Lio pada Dara dengan nada yang tak kalah dingin wajah datarnya tanda ia tak suka dengan perilaku Dara yang menyentuh dirinya.
"Sayang ko kamu gitu sih sama aku, aku kan calon pacar kamu," ucap Dara yang masih saja bergelayut di lengan Lio tak gentar sedikitpun oleh tatapan mematikan yang Lio berikan.
"PERGI !!!," bentak Lio
Namun bukannya pergi Dara malah menghampiri Queensa dan menyiramnya dengan jus jeruk di atas kepalanya.
BYUUURRR...
"Dasar ****** ini pasti gara-gara Lo kan Lio jadi nggak suka ma gue," ucapnya pada Queensa yang sedari tadi hanya diam dan memilih untuk menonton drama yang sedang wanita itu mainkan. Namun siapa sangka jika pemainnya memaksa dirinya untuk turut serta ikut memainkan drama itu.
"Wah gila Lo ya ngapain Lo nyiram temen gue," ucap Lesya yang sudah mulai kesal dengan kelakuan Dara dan kawan kawannya.
"Wah ... wah... ada pahlawan kesiangan nih, kalo temen Lo yang kaya ****** ini nggak ada pasti Lio udah sama gue, PAHAM !!?," ucap Dara dengan sangat PD nya. Padahal sedari dulu Queensa belum ada di sekolah itupun Lio selalu menolaknya mentah mentah.
"Gila bener ... jaman sekarang tuh emang jamannya ****** teriak ******," ujar Lesya dengan nada sinis nya.
PLAAK...
Satu tamparan dari tangan Dara mendarat di pipi mulus Lesya.
Dan yaps tanpa Dara sadari ia telah berhasil memancing emosi sang Queen mafia.
Dengar kilatan amarah di matanya Queensa pun berdiri dan melepas earphone nya, dan berjalan menghampiri Dara.
Dan mengambil air jeruk hangat yang ada di meja sebelahnya.
"Gue pinjem dulu nanti gue ganti 2 kali lipat," ujar Queensa pada pemilik air jeruk hangat itu. Dan gadis itu pun hanya bisa mengangguk tanpa membatah ataupun berbicara. Ia sadar betul akan kilatan amarah yang sudah terpancar dari raut wajah Queensa.
Pertama dia mendekati Sinta. Sinta yang melihat Queensa mendekat kearahnya pun merinding dan secara tidak sadar ia melangkahkan kakinya 2 langka ke belakang.
PLAKK !! Satu tamparan keras di pipi Sinta.
"Wah dasar ****** gila berani lo nampar temen gue !!?," bentak Dara yang tak terima temannya di tampar dengan kerasnya hingga ia mengeluarkan sedikit darah di ujung bibirnya oleh Queensa.
"Itu karena tangan kotor temen Lo yang kaya ****** ini berani menyentuh Abang gue !! nggak mungkin kan kalo gue patahin tangannya karena udah nyentuh pundak abang gue, Ya sebagai gantinya gue gampar aja tuh muka biar langsung ngaca !!" seru Queensa dengan nada yang sangat dingin dan datar nya.
'Ko auranya jadi dingin banget ya,"'batin Dara dan yang lainnya.
Ko Queensa jadi nyeremin sih , batin Yarra yang mulai menyadari perubahan Queensa yang ia tau Queensa dulu seorang anak yang lembut, baik dan ceria.
'benar benar unik' batin Lio.
BYURRR
Segelas air jeruk hangat tumpah tepat di atas kepala Dara karena Queensa yang menyiramnya. Semua anak di kantin saat itu menertawakan Dara. Pasalnya selama ini tidak ada yang pernah berani melawan Dara dan Queensa satu satunya membuat Dara di tertawa kan oleh banyak siswa siswi yang ada di kantin itu.
"Sorry gue nggak tau kenapa gelasnya ngajak tangan gue buat numpahin airnya di atas kepala lo," ujar Queensa sambil sedikit meledek Dara yang sudah terlihat sangat kesal di perlakukan seperti itu.
PLAKK
"Itu karena Lo udah ganggu ketenangan gue dan temen temen gue,''
PLAKKK
"Itu karena Lo udah nyebut gue ******,"
PLAKKK
"Itu karna Lo udah nampar Lesya temen gue, jangan pernah main main sama gue atau nasib Lo bakal lebih sadis dari ini," ucap Queensa sambil berlalu pergi bersama teman temannya.
"Awas Lo ****** gue bakal bales perbuatan Lo," seru Dara dengan lantang nya sambil mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan sedikit darah.
Kriiinggg..... kriingggggg....
Tanda bel masuk pun berbunyi.
"Udah bel gess masuk yuk ?," ajak Naureen pada teman temannya yang sedang asik bersenda gurau didepan kelas mereka.
Queensa yang sedang asik mengunyah permen karet pun berjalan masuk kedalam kelas dengan santainya dan di ikut dengan yang lainnya.
"Queen kamu nggak papa kan ?," tanya Altaf yang sedikit khawatir dengan keadaan pada adiknya. Pasalnya Queensa jika sudah terlalu emosi hingga meluap luap seperti tadi ia akan sulit mengendalikan emosinya kembali. Untuk meredakan emosinya kembali hanya ada satu jalan yaitu tidur tanpa ada yang mengganggu.
"Nggak papa Bang cuma masih kesel aja," jawab Queensa dengan santai nya.
Raffa yang duduk bersebelahan dengan Lio pun minta tuker posisi sama Naureen dengan alasan agar lebih cepat paham jika duduk di depan bersama Yarra yang lumayan pandai dalam pelajaran fisika.
sedangkan Altaf yang diam-diam menyukai Naureen pun meminta tukar posisi dengan Lio.
Guru pun masuk kedalam kelas.
"Siang anak anak," ucap Bu Mila sambil memasuki ruang kelas dan berjalan menuju meja guru
"Siang Bu," murid pun dengan serempak menjawab salam dari Bu Mila.
"Baik sekarang kalian buku halaman 35," perintah Bu Mila sambil menerangkan contoh soal yang ada di papan tulis.
"Bu itu anak baru nggak memperhatikan ibu dari tadi," Katrine yang melihat Queensa tidak memperhatikan Bu Mila pun mengadu.
Dan Bu Mila pun mengarahkan pandangannya pada Queensa.
"Hei kamu anak baru," seru Bu Mila.
Lio pun langsung menyenggol tangan Queensa. Dan Queensa pun mematikan earphone nya.
"Iya ibu panggil saya ?," tanya Queensa sopan.
"Iya kamu, kenapa kamu dari tadi tidak memperhatikan saya ? lalu mana buku mu?," tanya Bu Mila.
"Bukunya nggak punya Bu kan saya anak baru,"jawabnya santai dengan wajah dinginnya.
Ya karena memang seperti itu kenyataan Queensa memang anak baru dan tidak memiliki buku pelajaran itu.
"Seharusnya kamu itu memperhatikan saya jika saya sedang menerangkan, sekarang kamu maju jawab itu soal di depan !!?," perintahnya.
"Jika saya bisa Ibu apa keuntungan yang saya dapatkan ?," tantang Queensa pada Bu Mila.
"Kalo kamu bisa, kamu boleh lakuin apa aja di saat jam mata pelajaran saya hari ini. Tapi jika kamu nggak bisa kamu harus berlari keliling lapangan 10 kali di sambung hormat pada tiang bendera sampai jam pulang sekolah ," jawab Bu Mila .
"Oke ," jawab Queensa sambil berjalan ke depan papan tulis dengan santai nya.
"Mampus lo ," batin Dara dkk.