Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 09



Queensa pun mengerjakan soalnya dengan benar dan sangat terperinci hingga sangat jelas dan mudah di pahami. Bu Mila pun sampai tercengang karena jawabannya benar.


"Gimana Bu jawabannya, pasti salah kan bu ?," tanya Dara pada Bu Mila dengan tak sabarnya karena rasa dendam yang menggebu. Namun apalah daya kali ini dia harus mengalami kekalahan lagi dari Queensa, hingga sangat terlihat jelas api ke bencian yang ia pancarkan dari sorotan matanya.


"Jawabannya benar dan sangat terperinci, baik Queensa kamu boleh melakukan apapun," jawab Bu Mila dan ia pun menepati janjinya pada Queensa.


Dengan santai Queensa berjalan menuju ketempat duduknya lalu memasang kembali earphone ke telinganya dan ia benar benar tertidur di tempat duduknya.


"gila tuh cewe itu pelajaran kan belom pernah di jelasin sama Bu Mila," batin salah satu murid.


Kriingg.... kriiingg... kriiiingg.... kriinggg...,"


Bel pun berdering empat kali dengan cukup nyaring pertanda jika jam pelajaran terakhir telah usai.


"Baik anak-anak Ibu rasa cukup pelajaran hari ini kita sambung minggu depan," ujar Bu Mila dan segera pergi meninggalkan kelas.


Queensa yang masih asik dengan alam mimpinya tak menyadari jika pelajaran telah usai dan kini saatnya mereka pulang. Lio yang duduk berada di sebelahnya pun semakin mengagumi kecantikan Queensa.


"Eem cantik," dia bergumam pelan sambil menyingkirkan anak rambut yang ada di pipi mulus Queensa. Tanpa dia sadari bahwa ada Altaf di sampingnya.


'Kayanya Lio suka sama Queen' batin Altaf.


Dan Altaf pun keluar kelas meninggalkan Queensa dengan Lio karena dia yakin bahwa Lio mampu menjaga Adiknya. Namun apakah Lio juga mampu meruntuhkan penantian panjang Queensa dan membuka hati Queensa untuk Lio.


Altaf tau betul jika sang adik masih menunggu sahabat kecilnya yang tak kunjung pulang untuk menemui dirinya.


Altaf dan Lio memang lah teman satu sekolah namun mereka sama sama tak mengerti jika Altaf kaka kandung Arcilla dan begitupun sebaliknya Altaf juga tak mengerti jika yang di maksud Nathan oleh sang adik adalah Lio.


Queensa memang lah anak yang sangat pandai sedari kecil dia sudah sangat jenius dia di sekolahkan khusus para putri hingga akhirnya dirinya bertemu dengan para sahabatnya. Dan Altaf pun berada di sekolah yang berbeda dengan sang adik.


Meskipun umur Queensa terpaut 2 tahun dari yang lainnya kecuali Naureen namun kecerdasan Queensa bisa mengimbangi mereka. Naureen dan Queensa memang teman sekolah bahkan di luar sekolahpun terkadang Mereka bersama. Terkadang Naureen bermain di rumah Queensa makanya Naureen juga mengenal Altaf sebagai kaka Queensa.


Selang beberapa menit setelah Lio puas memandangi kecantikan Queensa, akhirnya dia memberanikan diri membangunkan Queensa untuk pulang karena kelas memang sudah sepi. Namun belum sempat Lio membangunkan Queensa tiba-tiba Queensa mengigau.


"Nat jangan pergi,"


"Nat siapa dia, apa dia kekasih Queensa," gumam Lio.


"Ko dada gue sakit ya," gumamnya kembali entah mengapa ia merasakan nyeri di hatinya ketika Queensa menyebut nama pria lain di hadapannya, semacam rasa tidak terima jika gadis itu menyebut nama pria lain.


"Sa bangun ," Lio pun akhirnya membangunkan Queensa sambil menepuk pundaknya pelan.


Setelah beberapa kali Lio menepuk pundak Queensa, akhirnya Queensa pun terbangun sambil merenggangkan otot-ototnya. Tapi dia malah kebingungan kenapa dia ada di sekolahan bersama Lio.


Dan mau tak mau akhirnya Lio pun menceritakan kembali kejadian beberapa jam yang lalu saat Queensa di perintahkan Bu Mila mengerjakan soal di papan tulis.


"Terus kenapa Lo nggak bangunin gue dari tadi ?," tanya Queensa dengan suara khas bangun tidur.


"Karena gue nggak tega liat Lo tidurnya pules banget ," jawab Lio. Padahal kejadian sebenarnya Lio memandangi wajah Queensa sedari tadi. Wajah cantik natural saat lagi tertidur. Hingga membuat dirinya tak mau membangun kan Queensa.


Hmm dasar Lio pinter aja ngelesnya.


"Lah terus kenapa Lo nggak pulang ?," tanya Queensa.


"Y..ya karena gue nggak mungkin tega ninggalin Lo sendirian, udah ah udah sore gue mau pulang dulu," jawab Lio dengan gugup, ia takut jika Queensa tau jika sebenarnya dirinyalah yang sengaja tidak membangun kan nya agar ia bisa memperhatikan dirinya lebih lama.


Mereka pun berkemas dan berjalan keluar menuju parkiran mobil dan melesat meninggalkan sekolah itu.


Membelah padatnya jalanan ibu kota yang selalu saja macet dan membuat para pengendara emosi karena rasa tidak sabarnya.


Sesampainya di rumah Queensa dia langsung mencari Abangnya.


"ABANG .... ABANG... ABANG...," teriaknya sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion.


Setelah mencari-cari ke sana dan kemari ternyata Kaka laki-lakinya sedang asik berenang.


"Kenapa Abang ninggalin aku tadi ?," ucap Queensa kesal pada Altaf sambil memanyunkan bibir mungilnya itu.


Queensa memang terkadang sangat manja pada Kaka satu satunya itu.


"Karena ada Lio yang setia menemanimu," ucap Lio sambil menggoda Adiknya.


Queensa pun terdiam dan wajahnya berubah menjadi agak memerah.


"Cie .. cie ada yang malu-malu kucing nih," godanya kembali.


Queensa yang kesal dengan ulah sang Kaka yang sangat suka menggodanya pun akhirnya memilih pergi meninggalkan sang kaka yang masih asik di dalam air. Ia pun pergi menuju kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.


"Ciee..... ada yang lagi malu malu nih," teriak Altaf masih saja terus menggoda sang adik sebelum ia Queensa benar benar menghilang dari pandangan matanya.


Grup wa LATAR (Lio, Altaf, Thian, Adzriel, dan Raffa)


"Weh wehh wehh nanti malem pada jadi nginep di mansion gue kan ?," Altaf.


"Ya jadi bentar lagi kita otw," Thian.


"Temen Adik lo suruh nginep juga dong Al ," Rafa.


"Nanti gue coba bilang sama Ade gue dulu ya," Altaf .


"Kalo nggak Ade Lo aja Yan suruh ikut nginep di rumah Altaf kalo bisa Ade Lo suruh ajak temen-temennya juga," Adzriel.


"Ok ntar gue suruh Ade gue tenang aja pasti dia mau ko," Thian.


"Li gimana Lo ikut jadi ikut nginep di mansion nya Altaf kan ?," Raffa


"Ya gue ikut kalian ngumpul di rumah gue aja dulu nanti ke mansion Altaf nya bareng bareng aja ," Lio


"Ok," Raffa.


Lio off


Altaf off


Thian off


Adzriel off


Raffa off


Seusai membersihkan tubuhnya Queensa pun berjalan menuruni tangga dan menuju ke ruang keluarga dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Bang apa Lo tadi jadi ke markas ?," tanya Queensa pada Altaf yang sedang berjalan menghampirinya.


"Udah tadi gue kesana dan semuanya aman," ucapnya


Tak berselang lama tiba-tiba Lio dkk dan Naureen dkk pun datang.


"Assalamuallaikum, Yarra yang cantik datang," ucap Yarra dengan sangat percaya dirinya.


"Kalian kesini ko nggak ngabarin dulu sih ,"ucap Queensa.


"Kan kejutan buat Lo," Zeffa pun menjawabnya.


"Kita jadi kan BBQannya Al," tanya Naureen pada Altaf.


"Tentu jadi dong cantik," jawab Altaf di iringi dengan senyumannya.


"Ape Lo kate ko nggak ada yang ngomong ke gue," protes Queensa lagi.


"Orang di bilang ini tuh superes eh maksudnya suprise buat Lo Sa," ucap Naureen.


"Ya lagian kan mereka juga udah bilang sama Abang," tutur Altaf.


"Hmm.. ya udah lah serah kalian, lagian emangnya udah ada peralatannya ?," tanya Queensa.


"Tenang aja sa itu bagian anak anak cowo yang udah siapin semuanya," ucap Adzriel.


"Ya udah siapin aja peralatannya di taman belakang, gue mau pergi dulu bentar," ucap Queensa sambil melangkahkan kakinya keluar.


"Mau kemana sa ?," tanya Lesya.


"Beli cemilan," ucapnya


"Li Lo temenin Ade gue aja biar disini kita yang handle," perintah Altaf.


Dan Lio pun mengejar Queensa.


"Sa biar gue temenin Lo ya," ucap Lio.


"Hmm.. boleh deh biar sekalian Lo pilih sendiri makanan kesukaan kalian," jawabnya


"Pake mobil gue aja sa, biar lebih gampang," pinta Lio. Mereka pun memasuki mobil Lio dan Lio membukakan pintu mobilnya untuk Queensa. Lio sepertinya benar benar memperlakukan Queensa layaknya seorang putri dan momen itu di saksikan oleh para sahabatnya.


"Kita mau kemana nih sa," tanya Lio yang mulai memasuki mobilnya, yang sebelumnya ia mengitari mobilnya dan masuk ke tempat duduk pengemudi.


"Mini market depan situ aja Li," perintah Queensa. Pakaian hotpants dan kaos oblong yang kebesaran menjadi ciri khas tersendiri untuk Queensa. Menjadikannya dirinya lebih sederhana dan senatural mungkin, hanya ada lip gloss yang menghiasi bibirnya.