
...Hay gesss...
...HEPPIII REEDDDIINNGGG...
...Di tunggu komen, like and vote nya ya biar authornya makin semangat ngehalunya biar bisa update terus tiap hari....
......………......
Lio dan yang lainnya pun segera menaiki tangga dan memasuk 4 kamar tamu dan membersihkan tubuh mereka masing masing. Sementara Queensa melangkah kan kakinya menuju kolam renangnya. Duduk di tepi kolam sambil memainkan air menggunakan kaki jenjangnya yang mulus, putih dan bersih itu. Dia teringat kembali tentang masa lalunya di mana ke dua orang tuanya itu masih berada di tengah tengah Queensa dan Altaf.
"Cilla kangen Mom, Dad," gumam Queensa.
Tanpa dia sadari di belakangnya sudah berdiri lah Lio dan tak sengaja mendengar gumaman Queensa.
"Ar malem malem ko main air sih, nanti masuk angin loh," ujar Lio perhatian sembari ikut mendudukkan badannya di samping Queensa.
"Nat kamu ko disini, emang nggak bersih bersih dulu gitu," ucap Queensa sambil mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya.
"Tadi sebelum kesini aku udah mandi ko Ar," jelas Lio.
"Kalo kamu punya masalah atau beban pikiran kamu bisa cerita sama aku Ar," lanjut Lio
"Aku nggak papa ko, aku cuma kangen Mommy dan Daddy aja Nat,"
"Kalo aku boleh tau orang tua kamu dulu meninggal karena apa," tanya Lio yang memang tidak tau atas meninggalnya orang tua Altaf.
Queensa pun menerima perlakuan Lio itu ia bersandar di dada bidang Lio yang memberikan kehangatan dan ketenangan tersendiri untuk Queensa.
"Queen, Lio ayo makan dulu," suara Altaf pun terdengar dari dalam ruang makan yang memang bersebelahan dengan kolam renang.
Queensa dan Lio pun tersadar dari lamunannya dan bergegas meninggalkan kolam renang dan menuju ruang makan untuk makan malam bersama.
"Aduh kalian tuh ya kaya perangko tau nggak nempel mulu," protes Yarra.
"Apaan sih kalian nih kalo nggak suka mending pulang aja sono," ucap Queensa sinis
"Heheheh piss Sa gue kan cuma bercanda," ucap Yarra.
"Hadeehh Luh tuh ya Ra kalo Lo iri kan ada Raffa yang setia banget tuh nunggu Lo mending Lo mesra mesraan sama Raffa aja biar nggak iri sama Queensa dan Lio," omel Zeffa yang gemas dengan mulut Yarra karena gara gara Yarra hampir aja mereka di usir.
"Iya beb mending kamu sama aku aja," ucap Raffa sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Udah ya, kapan kita makan nih gue udah laper," protes Naureen yang sudah kelaparan
"Eh Zeffa, Yarra udah dong debatnya kalo kalian nggak mau diem nggak bakal ada yang makan," ucap Lesya dia memang paham dengan sifat Queensa.
Nggak ada yang boleh berisik di tempat meja makan atau nggak akan makan semala masih ada yang berisik di meja makan.
"Heheheh piss," ucap Zeffa dan Yarra bersamaan sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huru V.
"Udah debatnya," ucap Queensa datar.
"Kalo udah, biar bang Altaf pimpin doa," lanjut Queensa.
"No debat,"
Setelah Altaf memimpin doa makan mereka pun menikmati makan malam mereka tanpa suara, hanya ada dentingan sendok beradu dengan piring.
Setelah makan malam selesai mereka pun duduk di ruang keluarga karena ada yang ingin Queensa sampaikan.
"Gays ada yang mau gue omongin, dan gue nggak mau basa basi terlalu panjang karena gue udah ngantuk dan capek," ucap Queensa.
"Gue minta sama kalian, kalian harus tetep pura pura nggak tau siapa gue sebenernya, kalian harus tetep panggil gue Queensa," lanjutnya
"Emang kenapa gitu sa," ucap Lesya.
"Karena gue nggak mau ada orang yang mengenal identitas gue sebelum gue berhasil membalaskan dendam kedua orang tua gue," ucapnya dingin.
"Nat untuk sementara nggak papa kan kalo kita kaya gini dulu," ucap Queensa pada Lio.
"It's oke Ar aku ngerti ko," ucap Lio.
"Kalo nggak ada pertanyaan lagi kalian bisa istirahat besok kan sekolah," ucap Queensa dan berdiri dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya bergegas dan menghilang di balik pintu lift yang menutup dengan sendiri. Dengan sekejap Queensa sudah berada di depan pintu kamarnya dan masuk kedalam kamarnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya karena memang dia sangat kelelahan dengan hari ini.
Dan di susul Altaf dan Lio dkk yang masuk kedalam kamar mereka masing masing.
Merekapun terlelap dalam mimpinya namun tidak dengan Altaf dan Lio yang memang tidak bisa tidur sedari tadi dan tiba tiba saja mendengar teriakan Queensa dari dalam kamarnya merekapun bergegas menuju kamar Queensa. Tak lupa Altaf membawa kunci cadangan kamar Queensa yang sengaja dia simpan karena untuk berjaga jaga jika ada sesuatu dengan adiknya itu. Altaf pun terkejut karena ternyata Lio belum tertidur dan sudah berada di depan kamar Queensa.
"Mommy... mommy....," teriak Queensa dari dalam kamarnya.
"Buruan Al buka pintunya," Lio yang sudah sangat khawatir pun memerintah Altaf agar lebih cepat membuka pintu kamar Queensa.
"Mommy.... Daddy... jangan tinggalin Cilla sama Abang," rancau Queensa terus memanggil kedua orang tuanya.
"Queen bangun Queen," Altaf terus berusaha membangunkan adiknya hingga akhirnya Queensa pun tersadar dan langsung memeluk sang Kaka.
"Abang Cilla mau Mommy sama Daddy Cilla takut Bang," Queensa pun masih memeluk Altaf dengan sangat erat ia pun sesenggukan air matanya terus mengalir deras membasahi pipinya. Bayangan dia mana ia melihat ke dua orang tuannya didi tutup kain putih saat di rumah sakit masih terus terlintas. Suara sang dokter yang beberapa taun lalu mengatakan kedua orang tuannya tidak bisa terselamatkan terus mengiang di telinganya.
"Queen tenang dulu ya, Mommy sama Daddy udah di surga sayang kamu nggak boleh gini ya, ini kamu minum dulu biar tenang," ucap Altaf yang berusaha menenangkan sang adik.
"Makasih ya Bang, aku kayanya terlalu rindu sama Mommy dan Daddy," ucap Queensa dengan masih sesenggukan di punggung sang kaka.
"Iya sama sama lebih baik kamu tidur lagi aja ya, Abang jagain kamu disini ya,"
"Li lebih baik kamu tidur sana ini udah malem," perintah Altaf pada Lio.
Lio pun mematung pikirannya entah kemana Hatinya terasa teriris ngilu melihat wanitanya terlalu rapuh. Hingga suara dingin itu memecahkan lamunannya dan tersadar seketika.
"Bang biarin Nathan tidur disini ya,"
"ya udah, Lo tidur sini aja Li di sebelah gue," Altaf pun menuruti keinginan adiknya.
Akhirnya pun Altaf, Queensa dan Lio pun tertidur pulas dengan Queensa yang tidur di atas ranjangnya sedangkan Lio dan Altaf tidur di sofa lipat yang ukurannya cukup besar hingga bisa menampung Lio dan Altaf.