Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 51



"Arcilla anaknya Aidan ??," ayah Candra pun menimpali bunda Zora tak kalah antusias nya.


"Iya om, Tan," jawab Queensa dengan yakinnya hingga membuat Mona langsung terlihat gugup dan langsung menajamkan telinganya.


Susilo yang mendengar itu pun langsung melangkahkan kakinya menghampiri Queensa dan memandangi wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Mommy nya.


"Apakah kau benar anaknya Arita ?? Arita Tiana wanita yang sudah ku anggap seperti adik kandungku ?," ujar Susilo terbata sambil terus menahan sesak di dadanya.


"Iya Om, apa Om mengenal Mommy ku ??," jawab Queensa dengan senyum manisnya.


"Iya aku sangat mengenal Mommy mu dan Daddy mu, lalu di mana Cello kakak mu itu ??," Susilo sangat mengingat betul anak pertama dari sahabatnya dulu adalah seorang putra.


Altaf yang merasa tak asing dengan orang tua itu pun langsung menghampiri sang adik. Dan betapa terkejutnya Zora dan Candra bahwa Kaka dari Arcilla yang mereka kenal adalah teman dekatnya Lio semasa sekolah menengah pertama.


"Ello ? jadi kamu anaknya Arita juga ?," tanya Zora yang langsung pada intinya.


"Iya Tan," jawabnya dengan senyumnya yang sangat mempesona itu.


"Cello apa kabarmu nak, apa kamu masih ingat dengan om ?," tanya susilo saat ia sudah berada tepat di depan Altaf, tangannya terulur menyentuh rahang yang tegas itu. Ia teringat masa kecil Altaf dulu ia dan mendiang sang istri sering sekali menggendong Altaf saat masih kecil.


"Om temannya daddy dan mommy kan? kalo ngga salah om susilo ya ?," jawab altaf dengan mencoba mengingat nama sahabat dari kedua orang tuanya.


"Iya nak," susilo pun langsung memeluk altaf dengan air mata yang tertahan di ujung pelupuk matanya.


Mona dan Dara yang melihat itu pun sangat geram. Bisa bisanya anak dari keluarga Aidan masih hidup. Itulah yang ada dipikiran ibu dan anak itu.


"Sial kenapa dua bocah itu nggak ikut mati aja sih," geram Mona di dalam hatinya.


"Hay Dar Apakah dia Mamah mu ?," tanya Queensa sedikit berbasa basi. Namun bukannya Dara yang menjawab tetapi Susilo lah yang menjawabnya.


"Iya nak dia Mona mamahnya Dara sekaligus calon istri om," ujar Susilo dengan senyumnya.


"Wah dia calon istri om ya, kalo begitu kenalkan aku Queensa Arcilla Khan dan ini Abang Abang Ku Altafariz Arcello Khan," ujar Queensa memperkenalkan dirinya dan juga sang kaka dengan senyum manisnya.


"Oh iya kami seorang anak yatim piatu yang di tinggalkan kedua orang tua kami 2 taun silam, orang tua kami meninggal mengalami kecelakaan akibat rem mobil blong yang ternyata mobil orang tua kami sudah di sabotase oleh mantan kekasih dari Daddy ku sendiri," Queensa sengaja menceritakan kejadian itu di depan Mona dengan wajah yang sangat sesedih mungkin hingga itu menarik perhatian orang tua Lio dan juga om Susilo.


Dan benar saja wajah mona kini telah berubah menjadi pucat pasi. Dia takut akan posisinya sekarang, akankah dia mendekam di dalam penjara? apakah polisi telah menemukan bukti jika dialah pelaku pembunuhan keluarga Aidan Khan?.


"Apakah kamu tau siapa mantan kekasih Daddy mu itu?," tanya susilo tiba tiba hingga membuat Mona terlihat sangat jelas gugup sampai sampai ia kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


"Aku nggak tau orangnya om tapi orang suruhan pelakunya sudah tertangkap om dan dia mengatakan bahwa ia di suruh oleh mantan kekasih Daddy tapi dia belom mau bicara siapa orangnya," ujar Queensa sedikit memberi nafas untuk Mona. Queensa tau sangat bahwa saat ini Mona tak mampu untuk bernafas sudah terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat pucat seperti orang yang sudah tak bernyawa.


"Ya sudah om dan tante kita masuk ke bus dulu ya karena bus sepertinya sebentar lagi akan berangkat," ujar Altaf pamit pada para orang tua yang berada di sana.


"Iya kalian hati hati ya, Lio kamu jaga Cilla yang bener ya jangan sampe Cilla di sana kenapa napa," ucapan bunda Zora pun langsung membuat Lio mendengus kesal.


"Sebenarnya anak bunda itu Lio atau Arcilla kenapa cuma Arcilla aja yang nggak boleh kenapa napa," ujar Lio protes karena sedari mereka kecil Bundanya selalu memprioritaskan wanita kecilnya itu.


'Kerana bunda tau kamu pria yang hebat jadi kamu harus jaga Cilla, emangnya kamu mau Cilla kenapa napa,'


Selalu kata kata itu yang Bundanya sampaikan dan ternyata saat mereka dewasa perkataan itupun masih berlaku untuknya.


"Lio kamu itu kan cowok harusnya kamu bisa jaga diri kamu sendiri dan juga jagain Arcilla dong, apa kamu mau Arcilla cari cowok lain yang lebih bisa buat jagain dia ?," kini om Susilo pun ikut berbicara dan itu membuat Mona dan Dara semakin kesal.


"Iya iya aku bakal jagain Arcilla kalian nggak usah khawatir," Dengan senyuman yang sangat menawan Lio pun langsung menggenggam erat tangan Queensa dan berjalan menjauh dari kerumunan para orang tua itu.


"Kamu ini gimana sih mas harusnya kamu suruh Lio jagain Dara dong calon anak kamu," ujar Mona protes karena calon suaminya malah menyuruh Lio untuk melindungi Queensa bukannya Dara.


"Aku yakin Dara bisa jaga dirinya sendiri ko, ya kan Dara ?," jawab Susilo sekaligus bertanya pada Dara. Dan dengan rasa dongkol di hatinya mau tak mau akhirnya Dara pun mengiyakan pertanyaan Susilo.


Kini semua pun sudah masuk kedalam bus yang bentar lagi akan berangkat kepuncak untuk memulai acaranya.


"Mamah tenang aja aku udah suruh Leon buat habisin Queensa nanti malam," Kira kira seperti itulah isi chat yang dikirim Dara pada Mona.


Mona yang membaca isi pesan dari anak semata wayangnya itu pun langsung tersenyum tipis.


"Kamu kenapa senyum senyum sendiri," suara Susilo pun langsung membuat Mona terkejut.


"Nggak apa apa ko mas ini lagi chat sama Dara," ujar Mona sambil menutupi kegugupannya di depan Susilo.


"Aku lapar kita singgah di rumah makan terlebih dahulu ya," ajak Susilo sambil terus menatap ke depan pengemudi.


"Iya mas aku juga agak lapar," jawab Mona dengan suara manjanya.


Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi ada beberapa mafioso yang mengikuti mereka lebih tepatnya mengikuti Mona.