
Sedangkan di dalam bus Queensa dan Altaf dan pasukannya memilih untuk duduk di barisan paling belakang sedangkan Dara duduk di depan kursi yang di duduki oleh dua insan yang sedang melepas rindu siapa lagi kalau bukan Queensa dan Lio. Setelah sekian purnama tidak saling menghubungi ataupun bertatap muka.
"Nat maaf ya kalo kemarin aku cuekin kamu," ucapan Queensa langsung manarik perhatian Dara yang sedang duduk di depannya. Dara pun langsung memasang telinganya agar lebih jelas menguping pembicaraan mereka.
"Iya nggak apa apa ko, udah aku maafin," jawab Lio sambil memainkan jari lentik Queensa.
"Aku juga minta maaf ya kalo kemarin aku cemburu nya berlebihan," lanjut Lio.
"Iya nggak apa apa aku sengaja bikin kamu cemburu ko," jawab Queensa.
"Emang kemaren itu beneran ya kalo kamu pacaran sama Abyan ?," Tanya Lio dengan polosnya hingga membuat Queensa merasa gemas sendiri.
"Haiiss kamu ini Abyan dan Abyanca itu saudara aku anak dari adiknya Mommy," jawab Queensa sambil memberi cubitan kecil di pinggang Lio.
"Au sakit sayang," rintih manja Lio yang di bubuhi kata sayang di belakangnya membuat Dara yang mendengarnya bertambah geram atas kemesraan mereka.
"Puas puasin kalian berdua sebentar lagi Lio akan jadi milik Dara seorang," gumam Dara lirih dan senyum tipis ia sungging kan.
Ia pun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri kedua insan yang sedang asik melepas rindu.
"Woy j***** minggir gue mau duduk di samping Lio karena nyokap gue tadi udah nyuruh Lio buat jagain gue," seru Dara yang tiba tiba sudah berdiri tepat di samping Lio.
Queensa pun bangun dari tempat duduknya yang berada di pinggir jendela atau lebih tepatnya di sebelah kiri Lio karena mereka memilih bangku bus di barisan sebelah kiri.
"Silahkan nona Dara Monalisa, biar saya cari tempat duduk lain," jawabnya dengan senyum manisnya.
Saat Queensa mau melewati Lio tiba tiba saja tangannya Queensa di tarik oleh Lio hingga ia terjerembab di atas pangkuan Lio.
"Kalo kamu berani pindah tempat duduk aku akan **** kamu seperti waktu itu," bisik Lio saat wajahnya sangat dekat dengan wajah Queensa.
"Aku nggak takut tuh aku lebih takut kalo nona Dara Monalisa mengadu pada mamanya kalo kamu nggak mau jagain dia," bukannya menghindar Queensa malah menantang Lio dan sedikit mengejek Dara.
"Jaga ...," ucapan Dara terhenti saat melihat adegan yang sangat mesra di depan matanya hingga membuat tangannya mengepal kuat seketika.
Lio yang merasa tertantang pun langsung saja **** bibir manis Queensa di tepat di depan mata Dara.
"Nathan kamu gila ya didepan kita ada Nona Dara Monalisa, aku takut dia marah padaku," kesal Queensa namun dengan suara yang sedikit manja.
Queensa pun mencoba untuk bangkit dari atas pangkuan lio.
Namun siapa sangka tangan kanan Dara pun berhasil di cekal oleh Lio yang sedari tadi hanya menonton drama yang di siarkan langsung oleh Arcilla kecilnya dengan wanita setengah cabai busuk.
"Au Lio sakit !," seru Dara dengan meringis menahan sakit di tangannya yang saat ini sedang di cengkram kuat oleh lio.
"Sekali lagi lo mau main kasar sama pacar gue, gue nggak akan segan segan patah in tangan lo !," bentak Lio dengan wajah yang sudah sangat merah padam pertanda dia sedang marah besar, Sampai sampai semua teman yang di dalam bus langsung di buat merinding namun berbeda dengan semua kawan dekatnya yang hanya tersenyum smirk.
"Gawat Raf bentar lagi kegilaan Lio yang udah lama banget nggak pernah muncul kayanya sekarang bakal muncul," bisik Adzriel yang memang sekarang udah berdiri di samping Raffa.
"usstt jangan berisik biarin aja tuh j***** di habisin sama singa bucin," ujar Raffa yang masih sempat bercanda ditengah tengah suasana yang mencekam.
"Nat udah dong lepasin tangannya liat dia udah kesakitan seperti," rengek Queensa dengan suara manjanya, namun hasilnya tetap sama Lio masih saja mencengkram tangan Dara dengan kuatnya.
"Aku nggak akan pernah biarin siapapun nyakitin kamu Ar," ujar Lio pada Queensa namun tatapan tajam nya masih belum berubah iya masih menatap Dara dengan penuh amarah yang berkobar.
Queensa pun nggak kehilangan akal cerdiknya, ia mengusap pundak Lio dan sedikit berjinjit untuk membisikkan sesuatu di telinga lio.
"I LOVE YOU," suara itu lolos dari bibir Queensa dengan sangat merdunya di telinga Lio, hingga membuat Lio menoleh seketika menghadap Queensa. Namun saat Lio menoleh saat itulah Queensa hendak mencium pipi Lio dan alhasil ciuman yang hendak diberikan di pipi Lio kini mendarat tepat di bibir Lio.
Semua teman yang melihatnya sampai tercengang apalagi sang kaka yang baru kali ini melihat adiknya itu berani mencium pria.
Seketika cengkraman tangan lio pun melunak hingga Dara bisa melepaskan tangannya. Tapi ternyata dia belom kapok juga dan sekarang ia berhasil menampar Queensa tepat di pipi sebelah kiri.
Plak...
"Dasar j***** berani lo cium Lio di depan mata gua, dasar murahan udah dapet ciuman dari Lio lo masih kurang sampe lo harus nyosor duluan," geram Dara dengan segala caci makinya. Hingga membuat Lio pun langsung menampar Dara dengan kerasnya.
Plak..
Plak...
"Sepertinya lo emang pingin banget ya gua patahin tangan lo sekarang," tatapan membunuh yang Lio berikan kali ini sudah tak bisa di remehkan lagi.
"Thian kayanya tadi gua bawa palu di tas, tolong dong ambilin," suara berat itu terdengar sangat menyeramkan hingga membuat siswa siswi lainnya ikut merasa ketakutan. Hawa mencekam yang tadinya sudah mereda kini malah menjadi lebih mencekam dari sebelumnya.
"Ini suatu pelajaran buat kalian semua kalo sampe ada yang berani bertindak bodoh seperti ****** satu ini maka nasibnya pun akan sama seperti dia," ujar Lio sambil memberi peringatan pada semua temannya.
"Ini Li..," ujar Thian sambil menyerah kan palu itu pada Lio. Dengan tangan satunya ia menerima palu itu sedangkan tangan satunya lagi kini sedang mencengkram tangan Dara.