
"Ini kita lagi bikin sarapan, ko lo keluar tenda sih sa kalo masih lemes di dalem tenda aja," ujar Naureen yang kini telah berhadapan dengan Queensa. Ada 2 gelas teh hangat yang di pegang Naureen sedangkan Byanca ia sedang membuatkan kopi dan teh untuk teman teman yang lainnya.
"Apaan sih Reen gue itu nggak selemah itu ya, lihat nih gue nggak kenapa napa gue masih bisa loncat juga atau mau lomba lari hayoo gue jajanin," ujar Queensa sambil lompat lompat di tempat dan menantang Naureen untuk lomba lari. Ia kesal karena semua Temannya terlalu berlebihan padahal ia cuma tertidur dari sore sampe pagi doang. Bagaimana jadinya kalo Queensa terluka parah sudah di pastikan mungkin Queensa nggak akan boleh turun dari ranjang sebelum Queensa benar benar sembuh total.
"Queensa jangan lompat lompat dong kalo terjadi sesuatu sama lo kita semua yang bisa di sembur sama pria penjaga kutub utara dan selatan tau," seru Yarra yang baru saja sampai di sana sehabis mandi malah di suguhkan pemandangan Queensa yang lompat lompat di depan Naureen.
"Tau tuh lo itu ratunya salju jadi kalo lo kenapa napa dua penjaga lo bakalan ngamuk ke kita semua mendingan lo duduk di sini dengan santai dan menikmati cemilan ini sambil nunggu mienya mateng, terus lo mau kopi, susu atau teh?" Zeffa pun langsung mendekat ke arah Queensa dan mempersilahkannya duduk di karpet yang sudah mereka sediakan. Sambil menunggu sarapan Queensa jadi ia pun memberikan cemilan yang sempat mereka beli di mall tempo hari bersama teman teman yang lainnya.
Dengan santainya Queensa duduk di karpet itu dengan kaki bersila dan makanan ringan di tangan kemudian di suguhkan genangan air danau yang luas, jernih dan tenang. Queensa dan rombongan memang memilih mendirikan tenda agak jauh dari para rombongannya ia lebih memilih dibawah pohon yang rindang dan di tepian danau.
Dari kejauhan ternyata ada sepasang sorotan mata yang memancarkan pandangan penuh kebencian. Bagaimana bisa Queensa saat ini masih baik baik saja sedangkan dia sudah membayar kelompok mafia dengan pengeluaran uang yang tidak sedikit. Belum lagi ia harus suka rela memberikan tubuh moleknya untuk para bandot bandot dan tidak menerima uang sepeser pun.
Huh dasar Dara jelas lah Queensa nggak akan is death semudah itu.
"Sayang kamu aku tungguin loh di dalem tenda eh malah asik makan disini," Lio dan Altaf yang sedari tadi menunggu Queensa masuk kembali kedalam tenda akhirnya menyerah mereka keluar dari tenda untuk mencari Queensa. Baru saja Lio keluar selangkah dari dalam tenda sudah melihat wanita pujaannya duduk di karpet tepian danau sambil memegang makanan ringan, ia langsung berlari menghampiri Queensa dan mendekapnya dari belakang.
Dengan jahilnya Lio mengambil makanan yang ada di tangan Queensa dan hendak di masukan dalam mulutnya.
"Nathan, itu punya aku kalo kamu mau sana minta sama Zeffa," rengek Queensa yang setelahnya ia menyembunyikan makanan nya dengan wajah kesalnya ia duduk menjauh dari Lio.
"Zeffaaaaa mana cemilan lo ada lagi nggak nih Nathan minta katanya," seru Queensa meneriaki nama Zeffa yang kini sedang memasak mie dan membuatkan minuman untuk yang lainnya. Yaps kini gantian Zeffa dan Yarra yang sedang memasak karena Naureen dan Byanca harus gantian mandi terlebih dahulu.
"Ada di tas khusus buat naro makanan dan minuman minta ambilin Lesya aja gue lagi sibuk," Lesya yang sedang menyiapkan peralatan mandi untuk dirinya dan Queensa pun segera keluar dari dalam tenda dan membawakan beberapa cemilan di tangannya.
Keren ya perlengkapan Queensa dkk padahal mau kemah acara sekolah udah kaya mau camping acara pribadi aja untung aja segala kasur, kulkas, lemari dan peralatan rumah tangga nggak di bawa semua.
"Nath itukan banyak cemilan ngapain kamu ngambil punya aku terus, udahlah aku nggak mau deket deket kamu lagi," protes Queensa pasalnya Lio malah mengambil cemilan yang ada di tangan Queensa padahal Lesya sudah membawakan banyak cemilan yang lainnya.
Queensa pun benar benar langsung berdiri dan menghampiri sang abang yang sedang duduk bersama Byan. Queensa duduk di antar dua lelaki itu.
"Ngapain kamu deket deket sama satu curut ini Ar," ujar Lio saat sudah berdiri tepat di depan Queensa dan dua orang pria yang sedang duduk di atas batang pohon yang sudah tumbang.
"Abisnya kamu ngambil punyaku terus sih jadinya mendingan aku disini sama Byan dan bang Altaf yang nggak akan mungkin ngambil cemilan punyaku," ujar Queensa sambil menyembunyikan makanannya di belakang tubuhnya seperti anak anak yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Oke, aku nggak akan ambil makanan kamu lagi tapi ayo kita kembali ke sana," Lio yang sedang membujuk kekasihnya seperti membujuk anak kecil malah di tertawakan oleh teman temannya. Sedangkan Queensa yang di bujuk bukannya luluh malah semakin erat memegang baju Byan dengan salah satu tangannya.
"Sayang lepasin tangan kamu dari baju Byan, bajunya nggak pernah di cuci nanti kamu cacingan," Lio menarik tangan Queensa agar terlepas dari baju Byan.
"Eh singa bucin enak aja lo kalo ngomong, baju gue ini selalu di cuci dengan sabun cuci yang ada campuran emas dan berliannya ya," seru Byan, ia tak terima Lio berkata seperti itu karena pada kenyataannya kebersihan bagi Byan itu no 1 walopun orangnya slengean tapi dia orang yang perfeksionis kalo sudah menyangkut kebersihan.
Lesya pun berjalan Mendekat ke arah tiga pria dan satu wanita itu. Ia membawakan peralatan mandi beserta baju ganti untuk dirinya dan Queensa.
"Ayo sa mandi, Byanca dan Naureen udah selesai mandi," ujar Lesya, sedangkan Queensa yang melihat kedua pria itu masih adu mulut akhirnya Queensa hanya berpamitan pada Altaf.
"Aku mandi dulu ya bang, ini tolong jagain cemilan ku jangan di makan loh," ujarnya kemudian pergi meninggalkan ketiga pria itu bersama Lesya. Mereka berdua saja masuk kedalam rimbunnya pepohonan di aana.