
"Kenapa Queensa bisa jadi pingsan gini kalian abis ngapain," ujar Lio setelah ia berhasil membaringkan Queensa di dalam tenda para wanita ya baru saja jadi.
Niat hati ingin mandi untuk membersihkan tubuh malah di ajak bertarung dengan para tikus tikus kecil.
"Tadinya kita mandi tapi ternyata di sana sudah ada para musuh yang mengepung jadi mau nggak mau kita beresin dulu itu semua para tikus tikus kecil, terus di tengah tengah pertarungan Queensa berubah matanya menjadi hitam suara tawanya sangat melengking gerakan nya seperti angin sangat cepat hingga hanya beberapa menit para musuh yang masih sangat banyak itu tewas di tangan Queensa," Naureen pun menjelaskan kejadian sebenarnya hingga membuat Altaf sedikit terkejut.
Kejadian seperti itu sebenarnya sudah tak pernah terjadi lagi semenjak Queensa dan dirinya memutuskan untuk Kembali ke Indonesia.
"Seluruh tubuh Queensa di kuasai oleh Aqueen maka dari itu kekuatannya bisa berkali kali lipat dan sudah di cerna oleh orang awam seperti kalian," lirih Altaf membuat para sahabatnya pun langsung menoleh kearahnya. Altaf pun mengingat kembali masa masa pertama kali Aqueen datang di kehidupan Queensa. Mengenang masa masa itu masa masa di saat Queensa terkenal lebih kejam dan lebih bengis dari sekarang tidak pandang buluh mana kawan dan lawan sekali mengkhianati kepercayaan Queensa nyawa lah jadi taruhannya.
"Terus kapan kira kira Queensa akan sadar apakah lebih lama lagi dari pingsan tadi siang waktu di dalam bus," pertanyaan itu langsung Lio lontarkan kepada Altaf. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada kekasih yang baru ia temui beberapa bulan ini.
"Paling besok juga udah bangun, lo tenang aja adik gue nggak selemah itu," ujar Altaf yang mencoba menenangkan Lio.
Acara kemah pun berlangsung kini saatnya duduk melingkar di pinggir api unggun yang berkorban namun tak ada Queensa, Lio, Altaf dan Naureen di sana mereka lebih memilih menemani Queensa yang masih setia dengan tidur nyenyak nya.
Dara yang tak melihat Queensa di sekitaran sana pun merasa puas, ia pikir jika Queensa akan kalah dengan semudah itu.
Hingga acara malam itu selesai Queensa tetap saja belum membukakan kedua kelopak matanya.
"Queensa belum juga bangun Al," terdengar suara sang pujaan hatinya Altaf ya siapa lagi kalo bukan Naureen. Kini para wanita sudah mulai berdatangan kembali ke tenda mereka.
"Ini udah malem banget mending kalian balik ke tenda kalian terus tidur gih istirahat biar besok pada seger, biar kita yang di sini sekalian jagain Queensa," Lesya pun mencoba membujuk kedua laki laki yang sedari tadi menjaga sahabatnya agar mau segera beristirahat. Karena sebenarnya para wanita pun sama mereka sudah sangat capek sedari pagi sampe sore mereka di perjalan giliran udah sampe mau mandi malah jadi bertarung. Sedangkan kedua laki laki itu sebenarnya sudah di suruh balik ke tenda sejak mereka baru selesai dengan rangkaian acara malam ini. Namun Altaf dan Lio keras kepala mereka bilang ingin menjaga Queensa.
Dengan bujukan teman temannya akhirnya dua laki laki itu kembali ke tendanya untuk beristirahat. Hingga akhirnya matahari mulai keluar dari persembunyiannya. Para siswa siswi pun mulai dengan aktivitasnya bergantian mandi di toilet umum untuk bersiap siap, ada pula yang sudah mulai memasak air atau sekedar mengobrol ringan sambil memakan cemilan ringan yang mereka bawa sendiri sendiri.
Sedang di dalam tenda Queensa di sana masih ada Lesya yang setia menemani sang sahabat sedangkan Naureen ia bertugas memasak air untuk membuatkan mie rebus dan segelas teh panas untuk Queensa yang mungkin sebentar lagi akan terbangun sedangkan Zeffa dan Yarra mereka berdua memutuskan untuk mandi terlebih dahulu agar nanti setelah mereka mandi Naureen dan Lesya bisa bergantian untuk mandi.
"Reen cepet mana teh dan mienya Queensa udah bangun nih," seru Lesya.
Altaf dan Lio yang memang kebetulan baru datang habis dari toilet umum pun langsung menghampiri Lesya untuk bisa memastikan bahwa kondisi wanita yang mereka sayangi.
"Minggir gue mau liat kondisi calon istri," sarkas Lio pada Lesya yang memang berdiri di depan pintu tenda.
Lesya pun langsung meminggirkan badannya ia tak mau membuat singa jantan bangkit dari tidurnya.
Lio dan Altaf pun masuk kedalam tenda terlihat gadis cantik yang sedari kemaren sore mereka khawatir kan sedang duduk dengan rambut yang berantakan dan mengucek kedua kelopak matanya.
"Apaan sih Nath aku belum mandi udah peluk peluk," gerutu Queensa sambil meronta meminta di lepaskan dari pelukan pacar posesif nya.
"Lepasin Nath pelukanmu membuatku sesak nafas," seketika Lio pun langsung melepaskan pelukannya namun ia masih tetap berada di jarak terdekat hingga membuat Altaf geram ia juga ingin memastikan adik satu satunya itu tidak kenapa napa.
"Tapi kamu nggak apa apa Ar, aku khawatir banget," Lirih Lio sambil menatap dalam kedua bola mata Queensa.
Belum sempat Queensa menjawab pertanyaan yang Lio lontarkan Altaf sang Kakak sudah menyela terlebih dahulu.
"Minggir Li gue Kakak nya gue yang harusnya mastiin keadaan adik gue baik baik aja apa nggak,"
"Tapi gue cowoknya calon suaminya kelak Al jadi gue yang seharusnya memastikan semuanya baik baik aja," Queensa yang sudah bosan mendengar perdebatan dua pria posesif itu langsung berdiri dan melenggang keluar dari dalam tenda melewati Lesya yang sedang terbengong melihat Queensa dengan cueknya meninggalkan dua pria itu.
"Kalian masak apa," ujar Queensa saat sudah berada di belakang Naureen dan Byanca yang sedang asik memasak air dan memasak mie instan untuk makan pagi mereka semua.