
Queensa pun segera masuk kedalam ruangan pribadinya entah mengapa saat melihat Mona dan Dara saling memohon kepadanya ada perasaan iba melihatnya mungkin hati nuraninya sedikit terketuk. Namun secepat mungkin ia singkirkan perasaan iba itu.
Queensa pun melangkah kan kakinya memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena ternyata kini hari sudah semakin sore.
Matahari sudah tak terlihat lagi namun belum ada tanda tanda Queensa keluar dari ruangannya. Semua temannya sudah menunggunya di meja makan mereka sudah tak sabar ingin menyaksikan sepasang anak dan ibu itu menerima penyiksaan yang pantas dari Queen mereka.
"Al kemana adik lo lama amat nggak keluar keluar nggak tau apa nih cacing cacing di perut gue udah meronta ronta minta jatah makan malam," celetuk Byan yang memang saat ini sudah duduk manis di samping Altaf dan tak ketinggalan pula alat makan yang akan ia gunakan juga sudah tersedia rapih di hadapannya piring yang sudah terbuka beserta sendok dan pisau di atas piring itu pertanda jika pemuda itu memang sudah kelaparan.
"Ciih, dasar perut karet sabar napa paling sebentar lagi Queensa turun," jawab Altaf santai dia memang tau kebiasaan Byan. Sepupunya itu memang tidak pernah bisa menahan rasa lapar.
Karena di rasa Queensa memang tak juga kunjung turun akhirnya Lio pun bangkit dari tempat duduknya. Ia segera mengambil langkah panjang untuk menghampiri ruangan Queensa.
"Dasar bucin nggak turun turun aja langsung di samperin," gerutu Raffa tanpa dia sadari dia pun sebenarnya juga sama bucinnya seperti Lio bahkan bisa di bilang Raffa lebih parah karena dimana ada Yarra pasti di situ ada Raffa.
"Lah kaya lo nggak bucin aja dasar Bab*," seru Adzriel yang gemas dengan mulut lemes Raffa. Sedangkan yang lainnya hanya menanggapinya dengan tertawa.
"Sorry ya, udah nunggu gue lama ya?" ujar Queensa yang kini sudah ada di tengah tengah mereka ntah sedari kapan Queensa dan Lio sudah berada di sana.
"it's oke sa, kita belum terlalu laper ko cuma kita udah nggak sabar buat liat lo eksekusi kedua ****** itu," celetuk Naureen namun langsung menerima tatapan tajam dari Byan.
"Nggak terlalu lapar mata lo, cacing di perut gue nih udah nuntut hak makan malam mereka," Seru Byan namun ia hanya mendapat tatapan tajam dari semua yang ada di meja makan itu hingga berhasil membuat seorang Abyan tersenyum kikuk.
Setelah makan malam selesai Queensa pun berjalan memimpin jalan. Ia berjalan dengan angkuhnya ke ruangan bawah tanah tepatnya di mana Dara dan Mona sedang di kurung.
Queensa ingin mengakhiri semuanya hari ini. Sungguh sebenarnya Queensa sudah sangat lelah dengan dendam yang ia simpan selama ini.
"Mau apa kalian datang kemari, sudah cukup kalian melukai nyokap gue selama ini gue mohon lepasin kita dari sini," seru Dara dari balik jeruji besi ketika melihat Queensa datang dengan mengenakan jubah kebesarannya. Baru Dara sadari ternyata orang yang ia singgung selama ini adalah ketua mafia yang paling di takuti di seluruh penjuru dunia. Dara dapat melihat dengan jelas lambang mawar hitam dengan bertuliskan Queen QODW. Tubuhnya bergetar hebat rasa takut itu muncul seketika. Andai saja sedari dulu mengetahui jika Queensa adalah ketua mafia, mungkin dirinya tidak akan menyinggung wanita itu.
"Dion bawa kedua wanita itu ke ruang penyiksaan, jangan lupa ikat mereka berdua," perintahnya terdengar dingin bahkan terkesan acuh melihat wajah kedua tawanannya yang sudah meronta minta untuk di lepaskan.
Queensa pun berjalan terlebih dahulu menuju ruangan penyiksaan dan di ikuti oleh Altaf dan kawan kawannya. Sedangkan Dion dan Fathir tengah memerintahkan beberapa mafioso untuk membawa Dara dan Mona menyusul sang Queen. Sesampainya di sana beberapa mafioso langsung mengikat kedua wanita berbeda usia itu.
"Baringkan jala** kecil itu di atas ranjang dan panggil kan beberapa mafioso yang mengidap sadomasokis," perintahnya pun langsung di jalankan beberapa mafioso Dara di baringkan di atas ranjang besar kemudian di ikat di pergelangan tangan dan kakinya.
"Suntikan dia obat perangsang," perintahnya lagi dan ya beberapa mafioso memberikan obat perangsang melalui suntikan pada tubuh Dara yang terus memberontak. Sedangkan Mona telah di rantai ia terus memohon agar Queensa mau melepaskan Dara namun seakan tuli dan buta Queensa sama sekali tidak menanggapi rengekan Mona yang terus memohon. Saat ini ingatan saat kedua orang tuanya merenggang nyawa terus menari nari di bayangannya. Hingga akhirnya beberapa mafioso yang Queensa panggil tadi menghampiri nya.
"Kalian puaskan jala** kecil itu, lakukan sesuka kalian," perintahnya pada 7 mafioso yang berbadan kekar namun mereka mengidap sadomasokis. Sadomasokis ialah kelainan seksual dimana orang itu akan menikmati dan bertambah gairah nya jika melihat lawan mainnya merasa kesakitan.
"Mamah tolong Dara badan Dara terasa panas," rengek nya melihat mamahnya yang terlihat pasrah karena saat ini mamahnya juga telah di rantai oleh Queensa sedangkan Queensa tengah sibuk memilih alat apa yang cocok untuk menyiksa Mona saat ini.