
...🤗HEPPIII REDIINNNGGGG GEESS🤗...
Namun bukannya menganggukkan kepalanya untuk membela Queensa sang adik Altaf malah mengangkat kan kedua bahunya pertanda jika kita tidak tahu apa apa.
"Sa Lo kemana sih kita udah sampe dari tadi Lo ko baru sampai, atau jangan jangan kalian tadi mojok dulu ya," goda Zeffa kembali dan itu berhasil membuat Queensa melototkan kedua bola matanya, wajah merah yang tadinya seperti tomat kini berubah seperti kepiting rebus.
Lio yang mengerti ke adaan Queensa yang mulai tak nyaman pun akhirnya membuka suaranya.
"Tadi ban motor Queensa bocor jadi kita tambal ban dulu, kalian nggak usah berfikiran yang nggak nggak lagian Queensa udah punya juga," jawab Lio sedikit berbohong pada orang orang yang ada di sekitarnya.
"Udah ya, interogasinya sekarang mana lawan gue ion," Queensa yang mengerti maksud Lio bicara seperti itu agar teman temannya berhenti menggoda mereka pun langsung mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Itu Queen orangnya," jari telunjuk dion pun berhasil mengarah seorang pria yang sedang bersama geng nya.
Queensa pun berjalan menghampiri lawannya di temani Altaf dan Dion.
"Jadi, cewe lawan gue," ucap pria itu, sambil senyum meremehkan Queensa. Dia belum tau saja siapa Queensa.
"Nggak usah banyak omong deh Lo, apa taruhannya," ujar Queensa menantang pria itu tanpa basa basi lagi.
"Apart pribadi gue sama motor kesayangan gue ini karena gue yakin Lo nggak bakal bisa ngalahin gua," jawab pria itu meremehkan Queensa. Queensa yang mendengar perkataan pria itu pun hanya tersenyum smirk iblis.
"Hmm ... boleh juga taruhan loh gue akan kasih apapun yang Lo mau," ucap Queensa sambil menunjukan smirk iblis nya.
"Ok karena gue hari ini lagi baik hati gimana kalo gue cuma minta Lo puasin gue di ranjang gimana ?," ucap pria itu lagi dengan senyuman yang sulit di artikan.
"Ok dill," ucap Queensa dan berlalu pergi dari hadapannya pria itu.
Altaf pun terkejut dengan taruhan gila yang di setujui adiknya itu. Gimana kalo sampai Queensa adik satu satunya itu kalah ? itulah yang di khawatirkan Altaf saat ini.
"Queen Lo gila ya, kalo kamu kalah gimana," ucap Altaf sambil mengikuti adiknya yang terus berjalan menuju motor kesayangannya.
"Bawel banget dah Abang ku satu ini, tenang aja napa, kaya abang nggak pernah liat aku balapan aja," ucap Queensa dengan senyuman kecilnya dan bersiap menaiki motornya.
Kini Queensa pun sudah bersiap mengambil posisi.
1.
2.
Dan seorang wanita berpakaian seksi itu mengibarkan benderanya dan lawan main Queensa pun sudah jalan terlebih dahulu. Akan tetapi Queensa baru melajukan motornya dengan kecepatan tinggi namun dia sengaja tidak langsung menyalip lawannya agar lawannya yang sombong itu merasa puas dan bangga terlebih dahulu. Sampai lawannya hampir memasuki garis finish tiba-tiba Queensa menyalip dengan sangat kencangnya.
wuuusss....
"Queen ayo Queen," ucap Altaf yang sangat takut adik satu satunya itu akan kalah.
Namun ketakutan yang di miliki Altaf tidak akan terjadi hingga akhirnya motor yang di kendarai Queensa berhasil menyentuh garis finish terlebih dahulu.
Queensa pun turun dari motornya, abang dan semua teman temannya menghampiri dirinya. Pria itu dan rombongan nya pun ikut menghampiri Queensa.
"Gimana ? masih meremehkan WANITA," satu kalimat terdengar sangat dingin itu pun keluar dari mulut Queensa saat pria itu sudah berdiri di hadapan nya.
"Ok thanks," Ucap Queensa setelah ia menerima kunci motor dan sertifikat apartemen.
"Sorry, boleh gue tau nama Lo," secara tidak langsung pria itu mengajak Queensa berkenalan terlebih dahulu sebelum mereka berpisah.
"Queensa,"
"Arkan,"
"Lo nggak papa kan sa ?," ucap Lio tergambar jelas rasa khawatir di raut wajahnya.
"Gue nggak papa ko Li," ucap Queensa di iringi senyuman kecilnya mencoba menenangkan rasa khawatir yang Lio berikan.
"Oh iya Arkan kenalin ini Abang gue Altaf, ini manager gue di dunia balap Dion, dan ini temen temen gue," ucap Queensa sambil mengenalkan semuanya.
Di saat mereka berkenalan sambil menyebutkan namanya tiba tiba Arkan mendekati Lio dan berbisik di telinganya namun masih bisa di dengar Dion Altaf dan Thian.
"Pasti Lo cowok nya Queensa kan," ucap Arkan dan mendekati Lio sedikit berbisik di telinganya.
"bodi cewe lo yahut banget jangan pernah sia-siain kesempatan kalo kalian lagi berduaan, selain bodinya gue yakin suara desahannya pun sangat menggairahkan," lanjut Arkan mungkin dia pikir Lio adalah orang yang sama seperti dirinya yang selalu memanfaatkan wanita untuk memuaskan hasratnya Semata.
"Oke semua nama gue Arkan gue pergi dulu ya, thanks buat waktunya cantik," ucap Arkan sambil memegang dagu Queensa. Queensa yang di perlakukan seperti itu sengaja tidak melawan ataupun memberikan pria itu sedikit pelajaran ia ingin tau bagaimana reaksi seorang Lio.
Dan saat itu juga Lio menarik baju yang di gunakan Arkan. dia memukulinya dengan sangat membabi buta.
BUGH
BUGH
BUGH
"JANGAN PERNAH LO MERENDAHKAN ATAU PUNYA PIKIRAN KOTOR PADA WANITA KU !!!," bentak Lio dan penuh penekanan di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya pria brengsek yang bernama Arkan tak mampu melawan Lio sedikitpun, ia sudah terkulai lemas tak berdaya di tanah dengan wajah yang penuh lebam.
"Tadi Lo bilang apa Li wanita ku," tanya Naureen memastikan jika dirinya memang tak salah mendengar dengan apa yang di katakan Lio barusan.
"Lupakan ! ayo kita pulang biar gue anterin Lo," ucap Lio sambil menarik tangan Queensa yang masih diam mematung karena kaget dengan perkataan Lio.
Tanpa basa basi Lio pun manarik pergelangan tangan Queensa dengan sedikit kasar ia melewati kerumunan orang orang dengan sorot mata yang masih terpancar jelas api kemarahan yang ada di dalam dirinya. Mereka pergi meninggalkan teman temannya yang masih menyimpan banyak pertanyaan di otak mereka masing masing.
"Li boleh menepi sebentar ?," tutur Queensa pada Lio dengan suara yang lembut karena Queensa tau bahwa hati Lio saat ini tidak sedang baik baik saja.
Dan Lio pun menepikan motornya di pinggir danau. Mereka pun berjalan mencari tempat duduk yang nyaman untuk sekedar bercerita.
"Kita duduk sini aja sa," ajak Lio sambil menggenggam jemari Queensa erat.
"Maaf ya sa atas kelakuan gue yang udah kelewatan," ucap Lio sambil tertunduk ia merasa takut jika gadis yang beberapa hari ini mampu mengobrak abrikan pikirannya itu membenci nya.
"It's ok Li nggak papa gue ngerti ko, tapi.. kenapa Lo ngomong kaya tadi," ucap Queensa meminta penjelasan atas apa yang Lio ucapkan tadi.
"Sorry sa gue nggak tau pasti sama perasaan gue ini tapi setiap gue deket sama Lo gue ngerasa nyaman banget, dan yang tadi juga sorry ya karena gue juga nggak tau kenapa gue bisa ngelakuin itu yang jelas hati gue sakit banget waktu cowok brengsek itu berfikiran kotor tentang Lo, gue harap setelah ini Lo nggak ngejauh dari gue ya," pinta Lio sambil memegang ke dua tangan Queensa tergambar jelas dari tatapan mata Lio jika apa yang di ungkapkan barusan itu sebuah ketulusan.
"Iya karena gue juga nyaman kalo di deket Lo tapi gue belom tau pasti nyaman sebagai sahabat apa sebagai pacar," ujar Queensa sebisa mungkin ia harus menutupi perasaan yang sebenarnya sampai waktunya tiba dan Lio bisa menerima kelebihan dan kekurangan nya.
"Emm.... Sorry sa bukannya lo udah punya pacar ya ? waktu lo tidur di dalam kelas lo sempet nyebut nama Nathan apa dia pacar lo ?" tanya Lio ingin memastikan langsung siapa Nathan itu yang sebenarnya.