Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
Eps 65



Queensa memilih cambuk berduri untuk memberikan penyiksaan pada Mona. Dia berjalan mendekati Mona dengan membawa cambuk berduri di tangannya hingga membuat Mona meronta ketakutan bahkan wajahnya pun sudah sangat pucat seperti mayat. Sedangkan Dara sedang di siksa di gilir dipaksa melayani beberapa mafioso pengidap sadomasokis hingga membuatnya terus berteriak meminta ampun memohon agar di lepaskan. Namun nyatanya teriakan kesakitan itu tidak membuat para mafioso yang menggagahinya berhenti melakukan kesenangan mereka. Semakin Dara kesakitan maka semakin bergairah lah para mafioso itu.


Mona pun kini telah merasakan sakit di punggung dan di hatinya. Merasakan cambukan berduri dari Queensa hingga membuat punggung wanita tua itu tak terlihat seperti punggung seorang wanita. Darah terus mengalir dari punggung wanita tua itu. Sedangkan hatinya sudah hancur melihat anak semata wayangnya di gagahi beberapa pria berbadan kekar dengan brutal. Dunianya sudah hancur. Mona sudah tidak memohon untuk berhenti, ingatannya saat dulu mencelakai keluarga Aidan terekam jelas. Hanya karena obsesi ia tidak bisa memiliki mantan kekasihnya itu ia akhirnya dengan tega membuat kedua remaja kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Ingin sekali rasa ia segera mati. Mungkin jika ia mati ia bisa menebus kesalahan nya itu.


Suara tawa Queensa menggema di ruangan itu membuat para sahabat dan Altaf sang abang merinding seketika. Suara tawa, umpatan serta air mata itu menandakan suara kesakitan yang teramat dalam yang selama ini queensa rasakan. Terlintas di benaknya saat ia menyaksikan kematian kedua orang tuanya dulu membuat Queensa dengan brutal menyiksa Mona dan Dara. Belum puas dengan hasil karyanya menggunakan cambuk berduri kini ia mengambil belati kecil menggores wajah Mona yang sudah terlihat sedikit keriput. Darah terus menetes dari wajahnya hingga membuatnya terus berteriak namun teriakan itu seperti nyanyian untuk Queensa. Ia terus menggambar di wajah Mona.


Dara yang melihat orang tua satu satunya di siksa Queensa terus menerus mengumpat nya, sumpah serapah terus ia lontarkan untuk ketua mafia yang kini telah menyiksa dirinya dan orang tuanya. Air matanya terus mengalir rasa sakit di tubuhnya kini seakan tak ada apa apanya di bandingkan rasa sakit di hatinya menyaksikan orang tuanya di kuliti di dapan matanya dan darah terus mengalir dari tubuh wanita tua itu.


Para mafioso yang merasa sudah terpuaskan langsung pamit mengundurkan diri dan meninggalkan Dara yang masih tergeletak di atas ranjang dengan tanpa segelas benang yang ia gunakan. Banyak bercak darah yang tertinggal di ranjang dan di tubuh Dara, namun bukan darah kegadisannya melainkan bekas darah cambukan dan goresan yang tertinggal di tubuh Dara.


"Cih, cepat sekali mereka melakukan itu," gumam Queensa yang masih bisa di dengar oleh Mona. Mona pun sedikit bernafas lega saat mengetahui jika anaknya telah lepas dari pria berbadan kekar yang menggagahinya.


"Ya mungkin saat ini waktu yang tepat aku ingin melihatmu hancur sehancur hancurnya sebelum nyawamu meninggalkan raga mu wanita tua," ujar Queensa dengan senyum iblis nya membuat Mona yang tadinya sedikit bisa bernafas lega langsung pucat pasi seakan akan wanita tua itu sudah menjadi mayat hidup.


Queensa pun berjalan menuju ketempat di mana semua alat untuk mengeksekusi tertata dengan rapih. Ia menaruh belati kecil kesayangannya dan berganti mengambil sebuah pedang yang panjang dan terlihat sangat tajam. Membuat Mona dan Dara ketar ketir mereka menelan ludah nya dengan kasar. Apa lagi saat Queensa mulai berjalan menghampiri Dara yang masih tergeletak di atas ranjang dengan keadaan kedua tangan dan kakinya di ikat Menggunakan rantai hingga membuatnya tak bisa lari dari sana. Jangan kan lari bergerak pun susah.


"Gue baru sampai di hadapan lo, gue juga belum ngapa ngapain lo tapi lo udah nangis aja," celetuk Queensa dengan entengnya sedangkan Dara kini sudah pucat pasi keringatnya sudah bercucuran bersamaan dengan air mata Dara yang terus mengalir.


Sedangkan Mona kini terus meronta menangis memohon agar Queensa tidak menyakiti anaknya lebih jauh.


"Nyawa harus di bayar nyawa aku ingin kamu merasakan apa yang aku dan abang Altaf rasakan dulu," jawab Queensa dengan senyum iblis dan berjalan santai mengitari ranjang dimana Dara sedang terlentang di atas sana.


"Saya mohon jangan lakukan itu, anak saya tidak ada sangkut pautnya dengan kematian kedua orang tua kalian," air mata Mona terus mengalir ia benar benar takut akan nasib anak semata wayangnya ia tidak ingin Dara mati sia sia di tangan Queensa hanya karena dendam yang Queensa bawa. Andai saja dulu ia tak nekat untuk menghabisi keluarga Aidan mungkin saat ini hidup anaknya akan aman dari kekejaman Queensa dan saudara laki lakinya.


Queensa terus memainkan ujung pedang yang ia pegang saat ini. Memainkannya dari ujung kepala dan bergerak sampai ujung kakinya. Melihat itu membuat Mona terus berteriak dan memohon sedangkan dara hanya bisa pasrah wajahnya sudah pucat pasi dengan keringat dan air mata terus keluar.


Tiga


Dua


Satu


Ctak


Dengan hitungan mundur Queensa menebas kepala Dara di depan mata Mona hingga membuat kepala Dara terlepas dari badannya kepalanya menggelinding ke bawah darah terus mengucur deras sedangkan badan Dara menggelinjang hebat.