Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 05



Kini hari pun sudah menjelang malam. Matahari telah kembali ke tempatnya. Dan bulan telah menampakan wujudnya.


Kini sepasang anak manusia sedang bejalan dengan sedikit bersenda gurau menuju ruang makan setelah sebelumnya sang kepala pelayan memanggil mereka untuk makan malam.


Queensa yang terlihat habis mandi setelah selesai berenang tadi sore bersama sang kaka memakai kaos oblong yang ke besaran di padukan dengan hotpants tanpa make up sedikitpun di wajahnya membuat ia benar benar terlihat cantik natural dengan baby face yang ia miliki. Hingga membuat para pelayan yang ada di sana merubah cara pandang mereka. Jika ternyata nona muda dan tuan muda mereka tidaklah sekejam yang mereka bayangkan.


Sedangkan Altaf dengan kaos oblong di padukan celana santai nya di tambah rambut basah yang di biarkan sedikit berantakan membuat ia terlihat seperti bad boy yang di bawah umur karena wajahnya yang masih terlihat sangat muda.


Diruang makan


Queensa menarik kursi tempat duduknya bersama dengan sang kaka tak lupa pula ia juga memaksa kepala pelayan untuk ikut masakan bersama mereka. Hingga akhirnya mau tak mau Bi Surti pun menurut i permintaan kedua majikannya.


Saat mereka yang tengah asik menikmati makan malam ponsel Queensa berdering.


"De itu oma telfon angkat dulu gih telfonnya," perintah Altaf yang tak sengaja melihat ponsel adiknya dan tertera nama Grand ma di layar ponsel adiknya. Ia segera menghabiskan sisa makanan yang ada di piringnya.


"Holla eh Hallo maksudnya, assalamuallaikum," ucap Queensa menerima telfon sambil meminum air putihnya karena memang makannya pun sudah selesai.


"wa'allaikumusallam dasar cucu durhaka kamu ya !!!?," jawab seseorang wanita paruh baya di balik telfon dengan nada tinggi.


"Eh Oma kenapa marah-marah, aku baru saja selesai makan," Queensa pun heran kenapa Omanya tiba-tiba menelfon sambil marah-marah.


"Nggak usah pura-pura lupa !! kenapa kalian sudah sampai tapi malah tidak mengabari Oma ataupun Opa disini ?!! apa kalian tidak tau kami disini sangat khawatir ?!! takut terjadi apa-apa dengan kalian ?!!," bentak Oma di balik telfon dengan nada yang cemas.


"Maaf Oma tadi kami langsung bersih-bersih dan tidur karena perjalanan yang sangat melelahkan," ujar Queensa dengan nada bersalahnya karena telah membuat sang Oma dan Opanya khawatir.


"Baiklah Oma maafkan tapi lain kali kalian jangan seperti itu lagi ya sayang," perintah Oma hang kini sudah mulai melembutkan suaranya selembut mungkin. Oma dan Opa memang tak akan bisa jika harus memarahi kedua cucu kesayangannya dengan berlebihan.


"Iya sudah kalian lanjut makannya dan habis itu langsung istirahat ya, Oma matikan dulu telfonnya lain waktu Oma telfon lagi," ucap Oma sebelum ia memutuskan panggilan telpon ya


"Oke boss," jawabnya sebelum panggilan telpon itu benar benar teputus.


Setelah panggilan telpon itu benar benar terputus Queensa dan Abangnya pun meninggalkan meja makan dan menuju ruang keluarga dan bi Surti berserta beberapa pelayan pun segera memberikan meja makan.


"Bang besok aku mau sekolah, kamu mau ikut nggak ? kalo mau nanti aku bilangin ke Dion buat ngurus semuanya dan bilang ke Bang Fathir," ucapnya setelah duduk dan meluruskan kedua kakinya di atas sofa kemudiaan dia mengambil buah pir yang sudah di cuci bersih dan berada di meja ruang keluarga.


Fathir seorang pria dewasa yang umurnya terpaut 2 tahun lebih tua dari umur sang kaka ia mempunyai kembaran bernama Fathur mereka sama seperti Queensa dan Altaf seorang anak yatim piatu. Beda jika Queensa dan Altaf orang yang berada jika Fathir dan Fathur seorang anak gelandangan yang di manfaatkan oleh preman untuk mengamen dan di ambil uangnya. Mereka tolong saat dulu Fathir di pukuli ketua preman hanya karena Fathir memberikan setoran hasil ngamennya lebih sedikit dari hari-hari sebelumnya dan akhirnya Fathir pun di angkat menjadi Abang angkat Queensa dan Altaf sekaligus tangan kanan mereka dalam geng mafianya.


"Oke lah abang ikut kamu atur semuanya aja, abang lagi nanggung nih nanti kalah," ujar Altaf sambil asik memainkan gamenya. Ya Altaf memang selalu seperti itu mengabaikan Queensa hanya karena game terkadang Queensa pun merasa terabaikan walaupun ia tau jika sebenarnya sang kaka selalu menuruti semua keinginannya.


Dengan kesal pun akhirnya Queensa melangkahkan kaki menuju lift untuk pergi menuju lantai tiga dimana kamarnya berada. Karena ia masih kesal karena di abaikan sang kaka ia pun membanting pintu kamarnya dengan cukup keras hingga membuat Altaf terperanjat kaget dan menggelengkan kepalanya ia sudah tau jika adiknya lagi kesal dengan dirinya karena ia mengabaikannya.


Queensa pun bejalan menuju ranjangnya dan membaringkan tubuhnya setelah sebelumnya ia menggosok gigi, membasuh muka dan berganti pakaian tidur.


Tangannya terulur mengambil ponselnya yang tergelatak di atas nakasnya untuk menghubungi Dion terlebih dahulu sebelum ia tertidur dan memerintahkannya untuk mengurus semua keperluan sekolahnya juga sang kaka dan memintanya untuk menghubungi Fathir karena besok dia akan langsung pergi ke sekolah.


Setelah menghubungi Dion ternyata ia pun masih belum bisa tertidur. Bayang bayang semasa ia kecil dulu pun melintas di pikirannya seorang anak laki laki yang pergi meninggalkan dirinya dan berjanji untuk kembali.


Queensa pun melangkah kan kakinya mengambil sebuah figura foto yang terletak di lemari kaca terlihat sepasang anak kecil sangat menggemaskan dengan boneka yang anak perempuan itu pegang dan seorang anak laki laki berdiri di sampingnya dengan senyum yang sangat manis sedang kan anak perempuan itu terlihat sedang memanyunkan bibirnya yang mungil seakan ia sedang kesal saat itu.


"Apa kabarmu ? sedang apa kamu sekarang ? apa kamu juga merindukan ku saat ini ?" pertanyaan itu pun lolos dari bibir mungil Queensa.


Sebentar lagi kita akan bertemu kembali entah kau masih mengingatku atau tidak setelah tiga belas tahun kau pergi meninggalkanku.