
...HALLOO, HOLLAA GEEESSS...
...SEPURANE NGGEH UDAH LAMA NGGAK UPDATE PASTI PADA NUNGGUIN YA ?? UOKEEH LAH KALO BEGITU CUSSS KITA LANJUT CERITA YANG EPISODE KEMAREN KUY...
...HAPPY REDING LURRR !!!!!...
Lio pun berjalan menuju parkiran sekolah dan bergegas masuk kedalam mobil. Lio mengemudikan mobilnya dengan sangat ugal ugalan pikirannya sangat kacau beberapa kali dia memukul setir mobilnya.
Para pengguna jalan lainnya banyak yang menyumpahi dia. Banyak yang kesal dengannya.
Hingga beberapa menit kemudian Lio pun sampai di kediaman Naya. Lio pun segera memencet bel rumah Naya beberapa kali dan akhirnya pintu rumah pun di bukakan oleh pembantu rumah tangga Naya.
"Eh, den Lio tumben kesini," tanya bibi setelah tau yang datang adalah sepupu nona mudanya.
"Pasti nyari non Naya ya den," lanjut bibi
"Iya bi, Naya nya ada kan bi ?,"
"Iya ada ko den, mari masuk den,"
"Siapa yang datang bi ??," terdengar suara wanita paruh baya menuruni anak tangga yang ternyata adalah mamanya Naya.
"Den Lio Nyah," jawab bibi
Lio yang mendengar suara mamanya Naya pun segera mencium tangannya.
"Eh Lio, tumben kamu kesini nggak ngabarin dulu," ucap Naura mamanya Naya dan menghampiri anak dari kakaknya.
"Iya Tan, aku ada perlu sama Naya," jawab Lio sopan dengan senyumannya.
"Naya di kamar, samperin aja sana nanti biar makanan sama minumannya di bawa ke atas aja sama bibi," perintah Naura.
"Ok Tan, makasih ya Lio ke atas dulu kalo gitu," ujar Lio sambil menaiki anak tangga satu persatu.
Tok tok tok.
"Nay ini gue Lio,"
Naya yang berada di dalam kamar pun segera menyuruhnya masuk.
"Masuk aja nggak di kunci ko," teriak Naya dari balik pintu kamarnya.
"Tumben Lo kesini?!," pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Naya.
Lio memang sekarang sudah jarang sekali ke rumahnya semenjak dia bertemu sahabat kecilnya itu.
"Gue...," kalimat Lio menggantung membuat Naya jadi penasaran.
"Lo kenapa,"
"Gue...," bukannya menjelaskan maksud dan tujuannya datang Lio malah tetap menggantungkan kalimatnya.
"Iya Lo kenapa, ngomong itu yang jelas dong," ucap Naya yang mulai keki.
"Emm,,,"
"Au ah kalo Lo nggak niat ngomong ya nggak usah ngomong aja sekalian," Naya yang di buat penasaran oleh kalimat menggantungnya Lio pun jadi kesal.
"Nay, Arcilla masih ngambek sama gue," akhirnya kalimat itu lolos juga. Sebenarnya Lio malu jika harus minta tolong sama Naya, masa iya cowok galau dan minta tolong sama cewe. cowok itu kan harusnya bisa nyelesein masalahnya sendiri.
"What, dari tadi Lo ngomong ngegantung nggak jelas cuma mau ngomong ini," kesal Naya dengan Lio hanya mau ngomong kaya gitu aja pake berbelit belit.
"Gue... gue cuma nggak enak aja sama Lo, gue mau kalo harus minta bantuan Lo lagi buat nyelesein masalah gue sama Arci," Lio pun mengungkapan tujuannya dengan terus menundukkan kepalanya.
"Ciih ... kalo gitu terus ngapain Lo kesini," Naya pun akhirnya bertambah kesal dengan otak udangnya si Lio. Semua urusan dan masalah bisa dia hadapi tapi jika sudah urusan wanita otaknya terlalu bebal atau karena mungkin ia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun makanya ia terlalu bodoh jika menyangkut urusan wanita.
"Gue bingung Nay," ucap Lio yang kemudian menceritakan semua kejadian hari ini. Mulai mereka sampai di sekolah hingga Lio nembak Queensa namun tidak dijawab olehnya sampai Queensa telpon dengan seorang pria yang dia kira itu adalah kekasihnya.
"Gue nggak mau Queensa jadi milik orang lain Nay, gue harus gimana,"
"Iya, iya nanti gue bantu Lo tenang aja,"
Suara ketukan pintu pun terdengar.
Tok tok tok
"Masuk," perintah Naya dari dalam kamar.
"Makasih ya Bi, taro situ aja Bi," ucap Naya sambil menunjuk nakas dekat tempat tidur.
"Bibi tinggal dulu ya non, den," ucap Bibi sambil melangkah menuju pintu kamar nonanya.
Beberapa hari kemudian
Queensa keluar dari kamarnya dengan memakai seragam lengkap dan segera menghampiri kamar sang Kaka.
"Abang ....," seru Queensa tepat di depan pintu kamar Altaf.
"Apa sih de, pagi pagi udah kaya Tarsan aja lu," dumel Altaf karena mulut Queensa yang memang sudah biasa seperti itu.
"Ayo sarapan, udah siang nih," ajaknya sambil menarik narik tangan Altaf.
"Tumben amat ngajakin sarapan bareng,"
"Iya karena gue mau nebeng,"
Queensa dan Altaf pun berjalan menuruni anak tangga satu persatu menuju meja makan. Sesampainya di meja makan mereka pun langsung menyambar sarapan mereka dan meminum susunya.
"De Lo waktu itu telfonan sama siapa sih,"
"Kapan??," jawab Queensa dengan muka bingungnya.
"Itu loh waktu di rooftop sama waktu Lo mau pulang,"
"Oh,,, sama Byan," jawab Queensa sambil mengelap bekas susu yang ada di sekitar bibirnya.
"Byan??,"
"Iya Byan Triadmaja,"
"Ohhh... iya iya Abang inget Byan kembarannya Byanca anaknya uncle Tama kan?,"
"Iya Byan somplak," jawab Queensa.
"Dia mau pindah kesini Lo Bang sama Byanca juga," lanjutnya sambil memakai kaos kaki yang di ikuti Altaf juga.
"Serius kamu de,"
"Iya aku juga udah minta bantuan mereka buat ngetes keseriusannya Lio, Abang jangan sampai bilang ke Lio kalo dia sepupu kita," ucap Queensa yang terkesan memperingatkan Abangnya itu biar nggak keceplosan pada yang lain.
"Ok, tapi Abang nggak janji ya de,"
"Awas aja ya kalo sampe Abang bocorin rencana aku, aku nggak bakal anggap Abang Kaka aku lagi!!!," ancam Queensa yang membuat Altaf langsung menoleh.
"Ko kamu jahat banget de,"
"Jahat kenapa ??," tanya Queensa dengan muka cueknya.
"Lah tadi kamu bilang nggak anggap Abang ini Kaka kamu lagi,"
"Itu kan kalo Abang ngebocorin rencana aku, lagian aku bikin rencana kaya gitu aku pingin liat seberapa besar perjuangan dia buat dapetin aku dan seberapa besar dia cinta ma aku,"
"Emangnya Abang mau kalo nanti ternyata aku cuma buat mainan doang," lanjut Queensa.
"Ya enggak lah de emangnya kamu pikir Abang sejahat itu,"
"Kalo nggak ya udah Abang tinggal ikutin aja permainanku, inget jangan ada yang tau satu pun tentang aku dan Byan," tegas Queensa.
"Iya, iya Abang nggak bakal bocor deh nih mulut,"
"Dah, selesai belom," lanjut Altaf mempertanyakan adiknya yang sedang memakai sepatu.
"Udah, yuk cuss berangkat," jawab Queensa yang sudah nyelonong jalan duluan menuju garasi.
"Tuh bocah yak, nggak tau diri banget udah nebeng, di tungguin, eh gue malah di tinggal," dumel Altaf namun sudah tak terdengar oleh Queensa yang sudah jauh dari pandangannya.
Akhirnya Altaf menyusul Queensa yang sudah jalan terlebih dahulu. Masuk kedalam mobil dan segera duduk di jok kemudi sebelum mereka melesat di tengah tengah banyaknya mobil.
"Pak, tolong gerbang ya," perintah Altaf yang sudah mau masuk kedalam mobilnya.
"Baik den," satpam yang berjaga pintu gerbang pun langsung sesegera mungkin membukakan pintu gerbang untuk majikannya itu.