
Hari pun terus berlalu dengan cepatnya hingga tak terasa ternyata sudah satu Minggu lebih Queensa dan Lio tidak saling bertemu dan tidak ada komunikasi sekalipun ada handphone untuk saling bertukar kabar.
Queensa pun akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia karena 3 hari lagi birth day Nathan Nya. Ia juga sudah sangat merindukan sang Abang dan juga semua orang yang ada di negara kelahirannya itu terlebih lagi saat Queensa pergi ia tak berpamitan pada Lio.
Dan kini Queensa sudah berada di bandara LAX yang terletak di barat daya Los Angles di kota Westchester yang letaknya lebih kurang 16 mil (27 km) dari pusat kota.
Di antar dengan beberapa pengawal dan juga Oma dan Opanya sebelum Queensa masuk kedalam bandara tak lupa ia memeluk Oma dan Opanya menciumi kedua pipi mereka.
"Sayang apa kamu sudah menghubungi Altaf untuk menjemputmu ??," tanya sang Oma setelah melepaskan pelukan dari cucu perempuannya.
"Emm... Queensa sengaja nggak ngabarin Abang Oma, karena Queensa akan memberi kejutan untuknya," jawanya.
"Opa dan Oma sehat sehat ya disini Queensa akan main kesini lagi jika ada waktu luang ," lanjutnya.
"Iya sayang kamu juga jaga kesehatan di sana sering sering kabarin kami disini," kini Opa pun mulai membuka suara.
"Siap boss," jawab Queensa sambil memberikan hormat kepada kedua orang tua yang sudah mulai lanjut usia itu.
"Queensa pergi dulu ya," ujar Queensa setelah mencium kedua pipi mereka dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam bandara tersebut.
Di Indonesia.
Seorang pria sedang duduk termenung di tengah tengah para sahabatnya yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing masing.
"Woy ngelamunin apa sih," seru Raffa pada Lio yang sedari tadi asik dengan pikirannya sendiri.
"Palingan juga ngelamunin adik gue, makanya kalo ma orang yang sepesial tuh harus bisa tahan emosi," bukan Lio yang menjawab namun Altaf yang kini mengungkit masalah Lio dengan Queensa.
"Hahaha.. sepesial telornya 3," canda Adzriel di sertai dengan tawanya.
"Lo kira adiknya Altaf martabak telor kali ah," ucap Thian dan di ikuti tawa yang lainnya.
"Ini baru spesial," kini para wanita pun ikut membuka suaranya secara bersamaan sambil mengangkat gelas masing masing yang airnya berwarna oren
"Kampret Lo kalian pikir Queensa sirup ABC kali ah," ucap Raffa dengan diiringi gelak tawanya.
Lio yang mulai kesal dengan teman temannya memutuskan untuk masuk ke kamarnya terlebih dahulu.
"Gue tidur duluan ya," ujar Lio sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Tumben tidur ini kan masih sore, baru juga jam 10 udah tidur aja," ujar Altaf sembari menatap layar ponselnya berharap adiknya itu akan mengabari.
"Di sini berisik banyak ocehan tidak bermutu," ucap Lio segera berjalan menuju anak tangga dan tidak sengaja beradu tatap dengan Byan saat tak sengaja mereka berpapasan. Mata Lio selalu saja tak bersahabat jika bertatapan dengan Byan karena Lio masih mengira Byan lah yang merebut Queensa darinya.
"Cie ngambekan Lo kaya perawan," seru Thian dengan tawanya hingga para perempuan di sekitarnya menatapnya tajam.
"Hehe.. canda perawan," ujar Thian sambil cengir kuda dan di ikuti gelak tawa semua temannya.
"Biasa abis telpon my girlfriend," jawab Byan dan segera duduk di samping Thian.
"Nih Lo mau main nggak ?," tawar Thian pada Byan sambil menyodorkan stik PS yang ada di tangannya.
"Ok thanks ya, Lo pengertian banget," Byan pun mengambil stik PS yang ada di tangan Thian.
"Lo lawan gue ya Zriel," seru Byan yang merapatkan posisi duduknya pada Adzriel setelah Thian beranjak bangkit dari duduknya dan mulai mendekati Altaf.
"Lo kenapa Al muka Lo kaya lagi mikirin sesuatu," tanya Thian pada sahabatnya itu saat ia sudah duduk di samping Altaf.
"Cuma lagi kepikiran Queensa aja," jawabnya lesu.
"Lah ada apa sama Queensa Al ?," tanya Thian lagi.
"Padahal kurang 3 hari lagi tapi dia belom juga pulang, dan hari ini dia belom ngabarin gue," jawab Altaf sambil mengecilkan suaranya takut Lio kembali turun kebawah dan mendengar pembicaraan mereka.
"Mungkin aja dia lagi di perjalanan pulang," ujar Thian yang juga mengecilkan suaranya.
"Tadi sebelum gue turun kebawah gue nelpon Oma dan katanya Queensa udah tidur habis memanah dan menembak mungkin dia kecapean," ujar Altaf.
"Ya Lo tenang aja dulu mungkin adik Lo baliknya mepet kali," ujar Thian.
"Woy kalian berdua udah mojok ngobrolnya sambil bisik bisik kaya orang pacaran aja," cibir Raffa yang langsung mendapat tatapan maut dari Thian dan juga Altaf.
Raffa yang mendapat tatapan seperti itu langsung mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah hingga membentuk huruf v sambil memberikan cengir kudanya.
"Piss bro kita kan sodara jadi ngeliatin nya biasa aja bro, emang nggak takut apa tuh bulu matanya pada jatoh," ujar Raffa yang masih saja menggoda dua manusia dingin nan kaku itu jika sedang serius.
"Kalo Lo masih ngomong gue nggak bakal mau comblangin Lo sama Yarra," ujar Thian dengan tatapan dinginnya
"Loh ko nama Yarra di bawa bawa sih kan dari tadi Yarra lagi nonton film sambil makan," ujar Yarra yang tidak tau menau dengan keadaan sekitarnya karena dia yang paling fokus menatap laptop yang ada di hadapannya.
Sedangkan yang lainnya malah sudah cekikikan melihat tingkah konyol Raffa yang sedari tadi menggoda dua es balok yang berwujud pria tampan itu.
"Raff itu lagi adegan romantis coba deh Lo tembak Yarra pasti dia nggak nyadar dan langsung Nerima Lo," usul Zeffa pada Raffa.
Zeffa memang lah orang yang paling tau semua tentang sifat, sikap, kelakuan baik maupun buruk yang ada pada diri Yarra.
Meskipun keduanya sering cekcok jika bersama namun mereka sangat kompak dan saling memahami karakter keduanya.
Yarra orang yang sedikit lemot dan sangat polos berbanding terbalik dengan Zeffa maka dari itu mereka saling melengkapi. Yarra dan Zeffa mempunyai hobi yang sama yaitu nonton Drakor, jika sudah berkumpul dengan Queensa, Naureen, Lesya untuk nonton Drakor maka bisa di pastikan Zeffa dan Yarra lah yang paling fokus pada drama yang sedang mereka tonton namun meskipun begitu Zeffa tidak sefokus Yarra yang sampai tidak menyadari sekitarnya mungkin jika ada gempa atau ada banjir bandang sekalipun Yarra tidak peduli.
"Yarra kamu mau nggak jadi pacar aku habis lulus aku janji deh bakal langsung nikahin kamu," ujar Raffa yang sekarang mendudukkan dirinya di samping Yarra yang sedang fokus dengan laptopnya.