
Seorang gadis cantik berjalan dengan anggunnya di tengah tengah banyaknya orang berlalu lalang. Ia menyeret kopernya keluar dari bandara memfokuskan pandangannya untuk mencari seseorang ia iya perintahkan untuk menjemputnya.
"Queen," Seru Dion sambil melambaikan tangannya kepada Queensa alih alih agar Queensa dapat melihatnya.
Iya gadis itu adalah Queensa Arcilla yang baru saja pulang dari negara dimana Oma dan Opanya tinggal. Ia sengaja menyuruh Dion bukan Altaf sang Kaka untuk menjemput kepulangannya ke negara kelahirannya.
Queensa juga memerintahkan, Dion agar tutup mulut dan tidak memberi tahukan siapapun atas kembalinya dirinya. Tak terkecuali sang Abang.
"Hay Ion, apa Lo udah lama nunggu gue?," tanya Queensa saat sudah berada di depan hadapan Dion.
"Nggak ko, paling sekitar 10 menitan lah," jawab Dion santai.
"Oh iya, nih tolong bawain koper gue ya," perintah Queensa pada Dion dan Dion pun menerima koper yang di sodorkan oleh Queensa.
"Queen perasaan Lo waktu berangkat nggak bawa koper, ko pulangnya bawa segede gaban gini ?," tanya Dion penasaran dengan isi koper yang dia bawa itu.
"Oh itu oleh oleh buat kalian semua,"
Setelah perjalan panjang akhirnya Queensa telah sampai di mansion megah miliknya. Di sambut dengan para pelayan yang terlihat begitu terkejut atas kepulangan dirinya.
"Non, nona udah pulang ???," tanya kepala pelayan itu saat melihat nona nya berjalan melangkahkan kakinya kedalam mansion itu.
"Iya bi, apa bibi nggak suka kalo Queensa pulang ya ??," tanya Queensa dengan wajah yang di buat semendung mungkin.
"Aduh, bukan begitu bibi seneng banget kalo non udah pulang, tapi bibi belom masak apa apa buat menyambut kepulangan non," ujar bibi.
"Udah bibi nggak usah masak kita delivery aja ya," ujar Queensa dengan senyum manisnya hingga membuat para pelayan tersenyum kegirangan.
"Eits jangan seneng dulu, dengan syarat kalian nggak ada yang boleh kasih tau ke Abang kalo saya udah pulang," ujar Queensa memberikan arahnya pada para pelayannya.
"Siap non," ujar para pelayan serempak.
"Baiklah saya ke atas dulu mau bersih bersih," ucap Queensa yang mulai melangkahkan kakinya.
Sedangkan di sekolah Lio seperti biasa dia selalu menyendiri di setiap jam istirahat. Ia memandangi wallpaper ponselnya. Nampak seorang gadis cantik sedang tersenyum mengarah kamera.
Lio sangat merindukan Queensa saat ini. Ia benar benar sudah tidak kuat seperti ini terus menerus harus berjauhan seperti dulu lagi dengan wanitanya.
"Kamu lagi ngapain sih di sini kenapa kamu selalu menyendiri," ujar Dara sambil merangkul manja di pundak Lio.
"Lepas Dar, jangan sentuh gue," seru Lio dengan nada ketus dan di iringi tatapan tajam miliknya.
"Udah pergi jauh dari sini aja kamu masih tetap ngarepin dia dan nggak pernah nganggep aku ada," gumam Dara namun Lio dengan acuhnya tak menanggapinya dia malah memilih pergi dari tempat duduknya.
"Seharusnya ja**** itu bukan hanya ke luar negri tapi ke neraka aja sekalian," seru Dara dengan kesalnya karena malah di tinggal Lio sendiri.
Lio yang mendengar ucapan Dara langsung segera menghentikan langkahnya dan membalikan badannya. Ia segera mengambil langkah panjang dengan tatapan penuh amarah menatap Dara.
Dara yang melihat Lio menghampirinya dengan kilatan amarah yang terpancar di mata Lio. Dara mengerutuki kebodohannya karena berbicara tanpa ia pikirkan akibat buruk yang akan di alaminya.
"Cepat katakan sekali lagi apa yang Lo katakan barusan," seru Lio sembari menggebrak meja yang ada di depannya membuat semua siswa siswi lainnya segera menoleh ke arahnya.
"Cepat katakan !!! akan ku pastikan setelah itu kau tidak bisa berbicara kembali untuk selamanya," seru Lio yang setelahnya mengeluarkan tawa devil nya.
Semua murid yang baru saja memasuki ruangan pun bergidik ngeri melihat tawa devil Lio yang begitu menggelegar.
Altaf dan pasukannya di ikut dengan Naureen dan yang lainnya di belakang mereka Altaf pun merasa begitu terkejut mendengar tawa Lio. Mereka pun segera melangkah masuk kedalam kelas untuk melihat apa yang terjadi pada Lio.
"Cepat katakan, atau katakan kalimat terakhir yang akan kau katakan sebelum kau benar benar tidak bisa bicara," seru Lio yang masih di ikuti amarah serta mengeluarkan pisau lipat dari balik saku seragam sekolahnya.
Altaf dan yang lainnya terbelalak tak kala mata mereka melihat Lio yang sedang mengancam Dara dengan pisau lipat di tangannya.
"Lio ada apa denganmu hei kemarikean pisau itu," pinta Altaf yang sekarang sudah ada di dekat Lio meskipun Altaf tidak tau apa masalahnya namun dia berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu. Ia tak mau jika pria yang di cintai adiknya ini terkena masalah dengan hukum hanya karena tak bisa bermain lebih halus dan rapi.
"Tidak Al, sebelum aku memotong lidah wanita ja**** ini terlebih dahulu," tolak Lio dan mencoba menjauhkan pisaunya di jangkauan Altaf.
"Hei, kita bisa omongin ini baik baik, bukankah kau masih sangat yakin jika Queensa masih mencintaimu lalu apa jadinya jika adikku tau tentang dirimu yang tidak bisa bermain halus dan rapi seperti ini," ujar Altaf setelah Naureen dan Lesya berhasil membawa Dara pergi dari hadapan Lio.
"Benar yang di katakan Altaf Li, gue yakin jika Queensa tau Lo yang lepas kontrol seperti ini pasti dia akan betah bersama Abyan dan meninggalkanmu selamanya," ujar Thian yang langsung saja mendapat tatapan tajam dari Lio.
Namun Altaf yang sedari tadi berada di samping Lio pun langsung menepuk pundak Lio. Ia tau persis jika pujaan adiknya ini terpancing emosi dengan perkataan Thian.
"Apa yang di katakan Thian ada benarnya Li, apa kau lupa bagaimana cara Queensa yang menghabisi musuh ??? bukankah dengan sangat epic, sangat rapi, sangat halus namun tetap sadis dan mengerikan bukan??? ," bisik Altaf tepat di samping Lio hingga siswa siswi lain tak mendengar perkataan Altaf.
Penuturan Altaf barusan langsung saja membuat dirinya teringat dengan kejadian beberapa Minggu lalu saat dirinya baru pertama kalinya mengetahui bahwa Queensa adalah ketua mafia terkejam di dunia mafia yang paling di takuti sekalipun di segani.
"Bukankah Queensa pernah bercerita tentang tante Mona yang telah membunuh kedua orang tua kami, gue yakin Queensa sudah merencanakan sesuatu yang sangat kejam," lagi lagi Altaf berbisik di samping kepala Lio dan seketika Lio langsung menoleh menghadap Altaf dia baru teringat akan hal itu.
"Kita hanya menunggu waktu untuk memusnahkan kedua ja**** itu, jadi kau bersabarlah jangan gegabah," ujar Altaf lirih namun masih bisa di dengar oleh Lio dkk saja.
"Akan gue habisin Lo Queensa dimana pun Lo berada Lo akan mati di tangan gue" batin Dara yang diam diam memperhatikan Lio di balik jendela kelasnya.