
Sedangkan Queensa yang diam diam mendengarkan perdebatan Lio dan Dara hanya tersenyum getir, ada rasa sedikit cemburu di hatinya saat melihat Nathan nya selalu berduaan dengan musuh bebuyutannya.
"Sudah berapa kali gue bilang jangan pernah Lo menyebutkan kata kata menjijikan itu untuknya karena yang sepantasnya di sebut ja**** itu Lo !!!," ujar Lio sambil mengeraskan suaranya dan langsung berjalan menuju Queensa kemudian langsung menarik tangannya untuk meninggalkan rooftop sedangkan yang lainnya hanya terbengong melihat kelakuan Lio yang menarik tangan Queensa seperti menarik seekor kambing.
"Lepasin Li, tangan gue sakit ," ucap Queensa yang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Lio.
"Li lepasin, Lo gila ya," lanjut Queensa lagi saat mereka hampir sampai dalam kelas.
"DIAM !!!," bentak Lio ketika udah berada di depan kelas semua siswa siswi lainnya langsung saja keluar dari kelas begitu melihat Lio yang sedang marah besar pada Queensa.
"Iya gue gila !!! gila karena Lo berpaling dari gue !!!," lanjut nya lagi sambil menyudutkan Queensa ke dinding tembok.
"Mana janji Lo Ar katanya Lo cuma milik gue,"
"I itu kan janji kita waktu masih kecil Li dan sekarang kita udah dewasa dan gue nyaman sama cowok gue ," jawab Queensa dengan sambil tergagap karena saking takutnya melihat kemarahan Lio. Meskipun Queensa adalah ketua mafia namun dia tetaplah seorang wanita yang akan ketakutan ketika di amuk oleh orang yang paling tersayang.
CIHH
Lio bercedih dengan meludah kesamping langsung saja mencengkram rahang Queensa dan langsung ******* bibir Queensa dengan kasarnya. Lio yang tau Queensa berontak atas kelakuannya dan berusaha untuk melepaskan tautan bibir mereka langsung saja menahan tengkuk Queensa dan memperdalam ciumannya. Para siswa siswi yang mengintip mereka dari jendela kelas langsung ternganga melihat sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan. Altaf yang melihat itu langsung saja segera menuju pintu kelas yang tertutup itu dan sialnya pintunya di kunci dari dalam
PLAKKK...
"Br***** ," satu tamparan mendarat tepat di pipi mulus Lio setelah tautan bibir mereka terlepas.
"Kenapa kau menamparku sayang bukankah ciuman tadi sangat menggairahkan ??," ucap Lio dingin dengan senyum puas tersungging di bibirnya.
"Mulai hari ini aku sangat membencimu wahai NATHANIEL ADHELIO ARSALAN !!!," ucap Queensa yang kemudian mengambil tas dan jaket nya yang kemudian langsung saja berjalan menuju pintu.
Namun belum saja sampai di pintu Lio langsung mencekal pergelangan tangan Queensa.
"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi milikku wahai Queensa Arcilla," ucap Lio yang langsung saja di tepis tangannya dari pergelangan tangan Queensa.
Setelah terlepas dari cengkraman Lio, Queensa segera membuka pintu dengan kasarnya dan membantingnya kemudian segera menuju parkiran mobilnya dan bergegas masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang sangat kacau dia mulai menyalakan mobilnya untuk segera pergi dari sekolahnya. Pak satpam penunggu gerbang sekolahan pun berdiri segera membukakan gerbang sekolah setelah tau bahwa pemilik sekolah lah yang akan pergi.
BUGH... BUGH..
Dua pukulan melayang ke wajah tampan Lio "Brengsek !!!," umpat Altaf pada Lio dan akan melayangkan pukulan untuk ketiga kalinya. Namun belom sempat pukulan itu mendarat di wajah Lio, Naureen berlari dari arah pintu dan langsung memeluk Altaf dari belakang untuk meredam emosi Altaf yang meluap-luap.
"Stop Al, please lebih baik kita cari Queensa," ujar Naureen yang masih memeluk Altaf dari belakang.
"Lepasin gue Reen, gue bakal habisin pengecut satu ini sekarang juga," ucap Altaf yang masih tersulut emosi.
"Berani-beraninya dia nyakitin adik kesayangan gue !!!," lanjutnya.
"Kalo kamu bunuh Lio apa bedanya kamu sama dia !!! bukankah dia lelaki yang paling di cintai adik kamu," bisik Naureen yang membuat Altaf sadar seketika itu juga. Untung saja Naureen mengingatkan bahwa Lio orang yang sangat berharga bagi Queensa. Jika saja Naureen tidak mengingatkan mungkin Lio sudah sekarat saat ini di tangan Altaf.
Altaf langsung mengambil tas, jaket dan kunci mobil.
"Naureen kamu ikut aku sekarang !!," perintah Altaf dingin dan tak terbantahkan.
"Baik, aku ambil tas dan jaket dulu," jawab Naureen yang segera berlari kecil untuk mengambil tas dan jaketnya.
Mereka berdua pun langsung bergegas menuju parkiran dan segera masuk kedalam mobil untuk sesegera mungkin mencari Queensa.
Satpam yang sedang berjaga melihat Kaka dari sang pemilik sekolahan ingin keluar langsung saja membuka gerbang sekolah.
Naureen yang melihat raut wajah Altaf sangat kacau jadi sangat tidak tega melihatnya.
Tingg...
Tanda bunyi grup WA berbunyi. Naureen langsung segera membuka ponselnya.
"*Reen, kalo Lo udah ketemu sama Queensa langsung ngabarin kita ya???," (Lesya)
"Ya Reen kita juga khawatir," (Yarra)
"Apa kita ikut Lo aja sama Altaf buat nyari Queensa,"(Zeffa)
"Udah kalian di situ aja bantu tenangin Lio, gue sama Altaf janji bakal nemuin Queensa secepatnya," (Naureen)
"Tapi Lo harus secepetnya ngabarin kita kalo Queensa udah ketemu," (Zeffa)
"Oke, kalian jangan lupa ijinin kita bertiga ya," (Naureen)
"Oke,"(Lesya*)
Saat teman temannya udah pada off Naureen langsung fokus pada tujuannya untuk mencari Queensa.
"Al, apa kamu kira kira tau Queensa lagi dimana sekarang," tanya Naureen pada Lio saat sudah memasukan ponselnya kedalam tasnya.
"Udah, tadi aku udah liat GPS yang menunjukan dimana Queensa sekarang," jawab Altaf datar dan tetap fokus pada jalan.
"Syukurlah kalo Lo udah tau dimana Queensa, apa keberadaan Queensa masih jauh dari sini ??," tanya Naureen kembali.
"Iya, kita sampai sana paling nanti sore, karena jalanan terlihat sangat macet lebih baik kamu istirahatlah dulu," perintah Altaf pada Naureen.
"Maaf dan terima kasih Reen," lanjutnya.
"Buat ???," tanya Naureen pada Altaf yang tiba tiba saja mengucapkan kata kata itu.
"Maaf karena tadi aku kelepasan dan tidak bisa mengontrol emosiku dan terima kasih karena kamu udah ingetin aku tadi," jawab Altaf menjelaskan perkataannya.
"Aku tau ko Al, kamu pasti kecewa dengan apa yang Lio lakukan pada Queensa, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu karena bagiku Queensa orang yang penting di hidupku," jelas Naureen pada Altaf. Persahabatan Queensa dan Naureen memang tidak bisa di ragukan lagi sudah bertahun tahun mereka menjalin persahabatan yang sudah seperti saudara.
'Sama sepertimu' batin Naureen.