
Plak...
Satu tamparan keras Queensa layangkan dengan sangat kuatnya hingga membuat sudut bibir sebelah kanan Dara mengeluarkan darah.
"Pertama kalo lo bilang gue dan nyokap gue j****g emang ada buktinya ??, bukannya lo dan nyokap lo ya yang selalu gunain tubuh kalian yang nggak seberapa itu buat narik para investor dan para bandit," sarkas nya.
Plak .... tamparan yang sama seperti sebelumnya hingga membuat luka di sudut bibir Sebelah kiri Dara mengeluarkan sedikit darah hingga membuat Dara jatuh tersungkur.
"Itu buat tamparan karena lo udah berani berkali kali menghina Mommy gue, oh iya asal lo tau ya kenapa Lio lebih milih gue dari pada lo ??? karena di lihat dari segi apapun gue lebih unggul dari lo,"
Queensa menyetarakan tubuhnya dengan Dara dan langsung menarik nya agar berdiri.
"Dan yang terakhir kenapa gue nggak mati sekalian berati itu kesalahan dari nyokap lo, kenapa waktu dulu nyokap lo ngebunuh orang tua gue nyewa premannya yang amatir kan jadi nggak tau kalo gue sama abang gue belom mati," bisik Queensa lirih tapi sangat tajam sedangkan Dara yang kini telah terkejut dengan apa yang selama ini ia dan nyokap nya rahasiakan telah di ketahui oleh Queensa dan Altaf.
"Dan kini saatnya gue yang habisin nyawa lo sebagai ganti nyawa kedua orang tua gue," lanjutnya sambil tangannya sudah berada di leher Dara.
Mencekiknya tanpa memperdulikan suara di sekitarnya yang menyuruhnya berhenti melakukan itu. Bahkan sang kaka yang sedari tadi hanya sebagai penonton kini sedang berusaha untuk melepaskan cekik kan itu.
"Lepasin tanganmu Bang dia harus membayar apa yang j****g Mona perbuat," ujar Queensa pada sang kaka namun tangan masih saja mencekik Dara dengan tatapan membunuh nya.
Lio yang tau jika Altaf kewalahan menghadapi amukan Queensa pun langsung membantunya.
"Dengerin aku kalo kamu membunuhnya dengan cara seperti ini, Mona nggak akan bisa se sedih kamu waktu dulu," bisik Lio tepat di telinga Queensa.
"Sekarang lepasin ya sayang kita cari cara yang lebih extrem lagi, kita akan buat mereka lebih menderita dari apa yang kamu alami dulu," lanjutnya masih terus berbisik hingga Queensa perlahan melepaskan cekikannya.
Seketika Dara langsung bisa bernafas dan Queensa pun langsung ambruk di pelukan lio.
Hanya ada teman dekatnya Dara yang mau membantu Dara bangkit dan pindah tempat duduk, mereka takut jika benar Queensa mau membunuh Dara saat itu juga.
"Reen lo bawa freshcare nggak ? atau yang lainnya dong tolong cariin," ujar Byanca yang kini sedang membantu Altaf dan Lio untuk menyadarkan Queensa.
"Ada nih punya Yarra," ujar Naureen dan memberikannya pada Byanca.
Byanca pun langsung memberikannya pada Lio, dengan telaten Lio memberikan aroma dari fresh care itu dan memijat kecil pelipis Queensa.
"Al apa Queensa selalu seperti ini jika sedang semarah tadi," Lio pun bertanya pada Altaf ia takut akan hal yang tidak di inginkan terjadi pada Queensa.
"Iya karena jika sudah marah seperti tadi sebagian tubuh Queensa sedang di kendalikan oleh Altar nya," jelas Altaf.
"Oh pantesan dia langsung bisa berganti mimik wajah dalam satu detik aja, kaya jadi punya 2 kepribadian ganda ya," ujar Adzriel yang memang sedari jauh dia memperhatikan mimik wajah Queensa berganti ganti dengan cepatnya.
Mereka pun menghentikan obrolan mereka takut jika ada siswa atau siswi yang mendengar percakapan mereka.
Nggak terasa bus kini sudah hampir sampai di tujuan namun Queensa masih belom sadar juga, entah dia pingsan atau memang tertidur ??
"Al, ko Arci belom bangun juga ini gimana? gue harus ngapain," ujar Lio yang mulai panik kembali dengan keadaan Queensa saat ini yang sudah sedari tadi memejamkan matanya.
"Udah lo tenang aja palingan juga dia itu tidur bukan pingsan," ujar Altaf dengan santainya menurutnya sudah jadi kebiasaan Queensa seperti itu, selalu tertidur setelah Aqueen menampakan kemarahannya.
"Hoammm ,,,, udah sampai ya," dan benar saja yang di katakan Altaf jika adiknya itu tertidur bukannya pingsan.
"Nah kan apa gue kata, nih bocah tengil tuh tidur," ujar Altaf sambil mengacak rambut Queensa.
"Iya emang gue tidur, Abang pikir gue akan is dead semudah itu," ujar Queensa menggerutu dan sambil terus merapihkan rambutnya yang berantakan karena ulah tangan usil sang kaka.
"Kamu itu kalo ngomong bisa di rem nggak sih, noh cowo kamu khawatir gara gara kamu tidur tapi kaya orang mati," Altaf yang kesal dengan ucapan Queensa yang memang selalu ceplas ceplos kalo bicara pun langsung menoyor kepala Queensa.
"Kamu nggak apa apa kan Ar, aku dari tadi khawatir, aku takut kamu kenapa kenapa," ujar Lio sambil memegang jari jemari Queensa. Rasa cemas dan khawatir itu terlihat jelas di raut wajah Lio.
"Cih.. nih dua orang cowo pada lebay amat ya, emangnya mereka pikir seorang Queensa pemimpin mafia dapat dengan mudah di kalahkan oleh cabe cabean," batin Queensa.
Dara yang mendengar kata manis dari mulut Lio untuk Queensa pun langsung mendidih, pancaran kilatan amarah dari matanya pun ia tujukan kepada Queensa.
"Sebentar lagi gue akan sampai di lokasi gue nggak mau tau lo harus berhasil membuat ****** itu mati," isi chat dari Dara untuk anak buah leon.
Cih ...
"Sebentar lagi kalian semua akan kehilangan Queensa kesayangan kalian itu," lirih Dara yang tak sengaja di dengar oleh siswa lain yang duduk di belakang tempat duduknya.
Tak terasa bus yang mereka tumpangi akhirnya sampai di tempat tujuan semua murid pun langsung berdesak desakan saling berebut untuk turun dari bus itu. Namun berbeda dengan Queensa dkk mereka memilih mengalah dan tetap stay di tempat duduk mereka masing masing sambil menunggu penghuni bus itu perlahan berkurang.
Setelah di rasa semua murid sudah turun dari dalam bus kini gantian Queensa dkk mulai turun dengan di pandu Adzriel yang turun berjalan duluan di depan. Mereka semua kini sudah berada di luar bus dan tiba tiba saja ada yang menepuk pundak Lio yaitu siswa yang tadi duduk di belakang Dara dia meminta waktu sebentar untuk berbicara empat mata.
"Li bisa kita bicara sebentar ada yang mau omongin sebentar ini untuk keselamatan pacar lo Queensa," bisik siswa itu di telinga Lio yang sontak saja membuat Lio menarik tangan siswa itu.
"Gue tinggal bentar kalo kalian mau kesana dulu gapapa entar gue nyusul," ujar Lio berpamitan pada teman temannya.