Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
Eps 59



Queensa dan Lesya pun telah selesai dengan ritual mandinya kini ia sedang berjalan menuju tendanya. Awalnya mereka berdua berjalan santai tanpa beban dan perasaan senang namun siapa sangka ia bertemu dengan cabe jadi jadian.


Queensa yang tak peduli dengan Dara dkk pun hanya cuek saja dan melenggang pergi melewati Dara dkk yang mungkin saat ini sedang bertanya tanya bagaimana bisa Queensa tidak kenapa napa tidak ada yang lecet sama sekali di badannya. Setidaknya kalau Queensa tidak mati dia harus terluka parah. Itulah yang mungkin saat ini ada di benak Dara dan kawan kawannya.


"Eh, ****** ko lo masih hidup aja sih," ceplos Dara saat Queensa sudah melawatinya. Namun seakan tuli Queensa memilih diam dan acuh tak acuh pada Dara.


Dara tetap Dara dia tak bisa terima di acuhkan oleh musuh bebuyutannya ia mencekal pergelangan tangan Queensa hingga menghentikan langkah Queensa. Sepertinya Dara masih belum ada kapoknya atau mungkin nggak akan pernah ada kapoknya jika nyawanya belum benar benar hilang dari raganya.


Queensa pun menoleh ke arahnya menghempaskan tangan Dara dari pergelangan tangan nya.


"Mungkin lo yang sebentar lagi akan menikmati yang namanya neraka dunia," dengan senyum smirk dan sedikit berbisik di telinga Dara. Hingga membuat Dara tercengang mendengar bisikan yang lirih namun aura seperti mematikan.


Dara yang telah di sadarkan dari rasa terkejutnya langsung ingin memaki Queensa namun siapa sangka Queensa dan Lesya sudah sangat jauh dari pandangan matanya.


"Brengsek, kurang ajar beraninya tuh ****** ngancem gue, lagian ngapain sih Arven suruh anak buah yang nggak guna semua," gerutu Dara yang sangat kesal dengan Arven yang menurutnya hanya ingin memanfaatkan nya saja.


"Sa, kayanya Dara tuh nggak ada kapoknya cari masalah sama lo terus," ujar Lesya saat mereka sudah mulai mendekat kearah tenda.


"Dia nggak akan pernah kapok Sya kalo nyawanya belum lepas dari raganya," ujar Queensa lirih bahkan hanya Lesya yang bisa mendengarnya.


"Gue yakin abis ini dia bakal langsung datang ke markas LD buat nyamperin si Arven, kita tinggal tunggu aja permainan selanjutnya dari mereka cepat atau lambat, mereka atau kita yang akan merenggang nyawa terlebih dahulu," lanjutnya dengan senyum devil nya tanpa Lesya dan yang lain sadari mata Queensa berubah menjadi hitam namun hanya beberapa detik.


"Woy cepet sarapan keburu nih mienya melar," seru Yarra dengan nada kesalnya. Pasalnya Yarra sudah sedari tadi ingin memakan makanannya namun semua kawannya lebih memilih untuk makan bersama sama dan menunggu Queensa dan Lesya.


"Yaelah, lo kalo udah laper banget tinggal makan aja repot banget sih Yar," Zeffa yang duduk di samping Yarra dan sedang asik mabar game online bersama Adzriel pun akhirnya mau tak mau menyudahi permainannya dan bangkit menuju karpet yang sudah di tata makanan dan minumannya oleh Naureen dan Byanca.


Queensa dan Lesya pun langsung menghampiri teman temannya yang sudah standby di atas karpet pinggir danau tersebut. Lio yang sudah mempersiapkan tempat duduk untuk Queensa ia langsung menarik tangan Queensa agar duduk tepat di sebelahnya.


"Ciih, posesif amat lo," monolog Byan namun masih bisa di dengar oleh semuanya.


"Sini aja Queen duduk di sebelah abang Iyan yang valing tamvan," lanjutnya langsung mendapat tatapan sengit dari Lio.


"Udah deh lo nggak usah rese yan, nanti yang ada lo di terkam singa bucin mau lo," seru Byanca yang sudah hafal dengan sikap jahil sang Kakak.


Mendengar sang Queen sudah angkat bicara apalagi dengan suara datar dan dingin membuat mereka langsung diam dan mengambil mangkok mie milik mereka masing masing.


Tanpa ada suara mereka menikmati sarapan pagi mereka hanya ada suara sendok dan mangkuk yang saling beradu.


Setelah mereka selesai dengan aktifitas sarapan pagi kini giliran Queensa dan Lesya yang mencuci mangkuk dan gelas kotor yang telah mereka gunakan.


Meskipun Queensa adalah Queen di anggota mafianya ia tak mau hanya menyuruh dan berpangku tangan saja. Karena baginya jika di luar markas atau sedang tidak berperang maka mereka hanyalah kawan yang harus saling menolong.


Tak selang beberapa mereka telah selesai dengan aktifitas pagi mereka dan kini Queensa dan Lio dkk sudah memakai baju olahraga sekolah mereka karena kegiatan hari ini cukup menguras keringat.


"Lio kamu kan disuruh buat mamah aku jagain aku, aku ikut di kelompok kamu ya," rengek dara yang kini sudah ada di depan Lio dkk.


"Nggak bisa kelompok gue udah full 3 cewe 3 cowok," bukan Lio yang menjawab namun Naureen lah yang menjawab.


"Ya udah lo aja yang pindah kelompok atau sebelah lo aja tuh yang pindah biar nggak nempel nempel terus sama calon suami aku," seru Dara dengan percaya diri yang sangat tinggi dan menyuruh Queensa yang memang saat ini tengah berdiri di antara Lio dan Naureen.


"Cihh percaya diri sekali ondel ondel satu ini," bukan Queensa yang berbicara karena di sindir oleh Dara namun malah Adzriel yang menyeletuk. Membuat wanita yang di sindir sebagai ondel ondel itu langsung membulatkan kedua bola matanya.


"Apa lo bilang ondel ondel, cantik begini di bilang ondel ondel," Karena saking jengkelnya di bilang ondel ondel Dara langsung melayangkan pukulan di lengan Adzriel hingga membuat Zeffa yang melihat itu langsung menarik tangan Adzriel. Sepertinya ia tidak terima jika Adzriel berdekatan dengan Dara. Entah karena Zeffa cemburu atau entah apalah itu hanya Zeffa dan author saja yang tau.


"Pergi lo ngapain sih gangguin Lio terus apa mata lo buta Lio udah ada pawang nya," seru Zeffa yang secara terang terangan mengusir Dara.


"Apa lo bilang tadi Lio calon suami Lo hahahah ngelawak lo," lanjut Zeffa dan langsung di sambut gelak tawa yang lainnya.


"Kan calon papah tiri gue temen deketnya om Candra, jadi gue tinggal bilang aja sama papah tiri gue kalo gue maunya nikah sama Lio," ujar Dara dengan percaya dirinya namun malah di sambut gelak tawa oleh Queensa dan Lio dkk.


"Apa lo pikir bunda Zora dan ayah Candra mau punya menantu seperti lo bahkan mungkin jika om Susilo tau siapa lo dan nyokap lo itu dia nggak akan mau lagi jadi calon papah tiri lo," celetuk Byanca dengan entengnya.


Belum sempat Dara membalas perkataan Byanca namun guru pembina mereka telah memanggil semua murid untuk berkumpul melakukan upacara terlebih dahulu sebelum aktifitas mereka di mulai.