Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 15



...😎HEPPII REEDIIINGGG GESSS😎...


Plak


"Jangan pernah kau mengatakan hal bodoh seperti itu untuk Nathan ku," teriak Queensa setelah ia berhasil menampar pria itu cukup keras


Prok prok prok


"Kau hebat Queen kecilku," ucap Altaf yang tiba tiba sudah ada di dalam sambil di iring tepuk tangannya.


"Biar aku saja yang bermain main dengannya karena dia sudah berani mengusik Nathan ku," suara dingin dan datar itu terdengar mengerikan hingga membuat bulu kudu Arkan merinding dan menciut nyali nya.


BUGH


BUGH


KREK


BUGH


Pukulan demi pukulan terus di layangkannya hingga akhirnya Arkan tak sadarkan diri.


"Cih belum apa apa sudah pingsan," Queensa pun berdecih sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dengan jubah kebesaran yang ia kenakan.


"Dion jangan biarkan dia kabur ataupun mati terlebih dahulu besok pulang sekolah aku akan kembali," pesan Queensa dan Dion pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Queen kenapa tidak kau habisi dia," tanya Altaf pada adiknya itu.


"Aku akan bermain main terlebih dahulu karena dia sudah berani mempunyai niatan untuk mencelakai Nathan bahkan dia sudah menyuruh orang untuk terus mengikuti Nathan," ucap Queensa dingin.


"Dion nanti kamu obati semua Mafioso yang terluka dan berikan waktu mereka untuk beristirahat sampai mereka sembuh total," perintah Queensa


"Baik Queen," ucap Dion.


"Terima kasih Queen," ucap Mafioso bersamaan dengan Mafioso yang lainnya


"Baik saya kembali dulu ke mansion,"


"Salam Queen, salam King," mereka pun menundukkan kepala mereka sambil mengucapkan salam pada Queensa dan Altaf.


"Queen kamu hutang penjelasan sama Abang," ucap Altaf.


"Hutang penjelasan apa lagi sih bang,"


"Nathan," ucap Altaf


"Ok aku akan jelasin sekarang, kita ke taman belakang saja," ucap Queensa dan berjalan menuju taman.


Mafioso yang ada di sana pun menundukkan kepala sebagai tanda hormat mereka pada Altaf dan Queensa saat melewati mereka.


Tanpa mereka sadari ada Lio dkk di sana mendengarkan semua pembicaraan mereka.


"Lalu bagaimana ...," ucap Altaf


"Apanya," jawab Queensa dingin.


"Nathan,"


"Nathaniel Adhelio Arsalan," ucap Queensa menyebutkan nama lengkap sahabat Altaf sedari SMP itu.


"What Lio, jadi maksud kamu Lio itu Nathan,"


"Iya,"


"Bagaimana kamu bisa tau dia itu Nathan, terus apa kamu udah bilang langsung sama dia ,"


"Kemarin saat balapan dia berantem sama Arkan aku liat ada luka di keningnya dan dia juga punya cincin yang sama denganku," jelas Queensa sambil memperlihatkan cincin yang dia jadikan sebagai bandul kalungnya.


"Lalu apa kamu udah ngomong sama dia,"


"Heii Queen kamu takut kenapa sayang kan ada Abang di sini," Altaf yang tau akan perasaan adiknya itu pun mencoba untuk menenangkannya.


"Aku takut dia akan menjauhi ku kalo dia tau aku yang sekarang bukanlah seorang gadis kecil yang dulu dia kenal melainkan gadis yang kejam dan berdarah dingin," jelas Queensa sembari meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa lagi di bendung.


"Kata siapa kamu gadis yang kejam, kamu ini ade kecilnya Abang yang sangat ceria cantik dan manja," Altaf pun memeluk Queensa erat.


"Tapi aku ketua mafia bang, aku udah membunuh mereka yang telah mengusik kehidupan kita dan aku juga yang akan membunuh orang yang udah bikin kita berpisah selamanya dengan Mommy dan Daddy," teriak Queensa sambil melepaskan pelukan Altaf.


"Dengar kan Abang kamu itu nggak jahat mereka yang udah jahat sama kita, tidak ada salahnya bukan membunuh dari pada di bunuh," ucap Altaf.


Saat Lio dkk sedang mendengarkan pembicaraan Queensa dan Altaf tiba tiba saja ada Mafioso yang memergoki mereka.


"Hey siapa kalian, ngapain kalian disini," ucap Mafioso yang memergoki Lio dkk.


Queensa pun langsung menghapus air matanya dan mereka segera berdiri dari tempat duduk nya dan bergegas menuju sumber keributan.


"Ada apa ini," ucap Altaf.


"Ada penyusup King sepertinya mereka menguping pembicaraan Queen dengan King," ucap salah satu Mafioso sambil menundukkan kepalanya.


"Kalian, sejak kapan kalian disini," ucap Altaf dingin pada Lio dan kawan kawan lainnya yang sedang di tahan oleh para Mafioso.


"Lepaskan mereka, mereka semua teman saya," perintah Queensa pada para Mafioso nya.


"Baik Queen," ucap para Mafioso sambil menundukkan kepalanya.


"Ikuti aku kita bicarakan ini di ruangan ku," kata Queensa dingin dan datar.


Queensa pun melangkahkan kakinya menuju ruangan kebesaran nya


"kalian sudah tau bukan siapa aku dan Bang Altaf yang sekarang," ucap Queensa dengan nada yang dingin mencekam dan wajah yang sangat datar sangat sangat berbeda dari Queensa yang mereka kenal.


Tiba tiba saja Lio mendekat pada Queensa sekarang mereka sudah sangat dekat bahkan sudah tak ada celah dia antara mereka.


"Arci," lirih Lio sambil memperlihatkan hansaplast yang dulu pernah di berikan Queensa saat Lio terjatuh karena mendorong Arci yang hampir tertenggor motor dan luka di tangannya. Dan kini hansaplast itu di jadikannya bandul kunci mobilnya


*flash back on*


"Nat jangan udah yah kejar-kejarannya Arci cape ..,"


"Ar awass ada motor..,"


"aaa..,"


"Makasih Nat udah nolongin Arci kalo nggak ada Nathan pasti tadi Arci udah ke tabrak motor, tapi gara gara nolongin Arci tangan Nathan jadi luka sini biar Arci aja yang obatin luka Nathan"


"Makasih Ar,"


"Nathan jangan pernah tinggalin Arci ya,"


"Iya Ar, Nathan janji bakal selalu lindungin dan jagain Arci,"


*flash back off*


"Aku tak peduli siapa kamu karena bagiku kamu tetap Arcilla wanita kecilku," ucap Lio dengan suara beratnya karena menahan tangisnya. Wanita yang selama ini dia rindukan sekarang sudah ada di depan matanya.


"Tapi aku bukan Arci yang dulu Li," belom sempat selesai Queensa berbicara Lio langsung memeluknya.


"Aku tak peduli itu Ar kamu tetap wanita kecilku, dan aku nggak akan pernah biarin kamu menghilang lagi," tegas Lio dan tetap memeluk Queensa dengan eratnya.


"Iya Queen benar yang di katakan Lio kami tidak peduli siapa kalian yang sekarang kalian tetep sahabat kami," ucap Zeffa yang setuju oleh perkataan Lio


"Karena kita yakin Lo dan Altaf punya alasan tersendiri dan kita siap dengerin curhatan kalian ataupun kalo kalian butuh bantuan kita siap bantu ko," tegas Lesya ikut meyakinkan Altaf dan Queensa.


Dan tanpa di sadari Queensa pun meneteskan air matanya di pundak Lio rasa rindu yang memang selama ini ia pendam, ingin memeluk tapi sulit rasanya.


"Arci kangen Nathan," lirih Queensa dan membalas pelukan Lio dengan erat.