
Queensa pun keluar dari ruangannya dan sudah dengan memakai baju kebesarannya. Saat Queensa membuka pintu dia sedikit terkejut karena ternyata sudah ada sang abang di depan ruangannya.
"Lama sekali kamu hanya berganti pakaian saja sangat lama," Altaf pun menggerutu sambil berjalan mendahului Queensa. Sedangkan Queensa yang melihat kelakuan sang abang hanya bisa mencebikan bibirnya saja.
"Siapa juga yang minta di tunggu, abang ku sekarang lebih suka menggerutu sudah seperti anak gadis saja," sarkas Queensa setelah ia berhasil mendahului langkah kaki sang abang. Ia menuruni anak tangga dan ternyata semua temannya telah berkumpul menunggu dirinya di bawah sana.
Queensa pun berjalan melewati semua teman temannya dan mengambil langkah lebar agar ia bisa segera sampai di ruangan bawah tanah ia sudah tak sabar ingin memulai permainan yang sangat ia nanti nantikan sedari dulu.
Di bawah sana ternyata sudah ada Dara dengan tangan dan kaki yang di ikat yang kemudian di dudukan di depan sel sang mamah. Dara yang melihat Queensa datang pun langsung menatap Queensa tajam. Sepertinya emosinya sudah di ujung tanduk. melihat sang mama yang sedang tertidur pulas karena kelelahan hingga membuat Mona tak terbangun meskipun Dara telah berkali kali meneriaki mamahnya.
"Kau apakan mamaku," teriak Dara saat Queensa hendak menuju ke arahnya. Queensa pun tersenyum smirk senyuman iblis yang pernah Dara lihat saat di perkemahan satu tahun yang lalu.
"Kau ini bodoh atau tolol, bukan kah sedari pagi berada di gedung yang sama bahkan siang tadi kau mendorongku hingga aku terjatuh," ujarnya tenang bahkan memasang wajah polosnya.
"Terus kenapa nyokap gue nggak bangun bangun Hah!!" seru Dara ia tak takut sama sekali melihat Queensa yang sepertinya dia bukan perempuan biasa.
"Tanyakan saja pada bawahan ku mungkin mereka yang uda tante Mona kelelahan," jawab Queensa enteng sambil mengeluarkan sebatang rokok. Namun sayang Lio yang berada di sebelah Queensa langsung merebut bungkus rokok itu sambil membulatkan matanya namun bukan takut Queensa malah menyengir kuda menunjukan barisan gigi putihnya pada sang kekasih. Lio yang melihat itu pun langsung mengacak gemas rambut Queensa.
Sedangkan Dara sudah sangat geram dengan kelakuan Queensa yang masih saja bermesraan di hadapannya di saat Dara sedang sangat ketakutan karena mamahnya yang tak kunjung sadarkan diri. Dara pun terus berontak meminta di lepaskan ikatannya ia ingin masuk kedalam sel jeruji besi itu untuk mengecek keadaan Mona.
"Lepasin gue, gue mau masuk buat mastiin keadaan nyokap gue," terik Dara sambil berusaha melepas diri dari ikatannya.
"Tante ini anak mu datang tenang saja kali ini tidak ada penyiksaan," ujar Queensa santai namun ternyata belum ada tanda Mona membuka matanya.
"Ya sudah kalau tak mau bangun maka masukan ****** kecil ini ke dalam sel berbeda dan seperti biasa berikan dia obat pe....," belum sempat Queensa melanjutkan perintah nya tiba tiba Mona langsung membuka mata dan berjalan cepat menghampiri Queensa meskipun jarak mereka terhalang sel jeruji.
"Saya mohon ampuni saya dan anak saya jangan libatkan dia biarkan dia hidup dengan damai di luar sana cukup saya saja, Dara tak tau apa apa tentang kematian orang tuamu biarkan saya saja yang bertanggung jawab atas semua yang saya perbuat," seru Mona yang kini sangat takut jika anak semata wayangnya juga akan di perlakukan hal yang sama seperti dirinya, di jadikan budak ***, hanya di beri makan makanan sisa bahkan sering di jadikan kemarahan Queensa dan Altaf.
"Mamah aku akan menyelamatkanmu ayo kita pergi dari sini," seru Dara menatap mamahnya yang saat ini keadaannya sangat kacau di sekujur tubuhnya banyak sekali lebam bahkan bekas luka gores pun juga banyak.
"Hadeehhh Dara Dara lo dari tadi aja nggak bisa buka ikatan lo sendiri sekarang malah sok sok an mau jadi pahlawan, Tolol emang," celetuk Lesya yang berdiri di belakang Queensa dan Lio. Celetukan itu pun di sambut gelak tawa oleh yang lainnya.
"Gue mohon sa lepasin nyokap gue ampuni kesalahan nyokap gue, gue janji gue bakal bawa nyokap gue keluar negeri dan kita nggak akan pernah ganggu hidup lo dan abang lo lagi bahkan gue akan relain Lio buat lo," Dara pun memasang wajah melasnya dan memohon pada Queensa.
"Hah emang nggak pernah sadar diri nih bocah, meskipun lo nggak mau merelakan Lio buat Queensa, Lio bakal tetep milih Queensa ketimbang lo," Zeffa pun ikut mengomentari celotehan Dara yang menurutnya sangatlah bodoh meminta Queensa melepaskan Mona dengan iming iming merelakan Lio. Huh sungguh iming iming macam apa itu merelakan Lio yang sudah pasti tidak akan bisa di pisahkan oleh Queensa meskipun banyak penghalang.
"Sudahlah masukkan saja ****** kecil itu bersama nyokapnya," ujar Queensa yang sudah mulai jengah dengan Drama yang Dara suguhkan. Tiga mafioso pun segera bertindak mereka melepaskan ikatan Dara dan memasukan ke dalam sel jeruji bersama Mona.
Queensa pun pergi dari ruangan bawah tanah dan di ikuti dengan yang lain. Wajahnya sangat datar dan dingin.
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan ?" ujar Altaf yang melihat raut wajah Queensa seperti sedang memikirkan sesuatu.