Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 10



HEPPIII READIIIING 🤗🤗🤗


Selang beberapa menit akhirnya merekapun sampai di tempat tujuan dan Lio pun segera memarkirkan mobilnya.


Mereka berjalan beringin memasuki minimarket terlihat serasi dan seperti sepasang kekasih.


Di saat Queensa dan Lio tengah berbelanja beberapa keperluan Altaf dan yang lainnya sibuk menata peralatan BBQannya.


Hari pun semakin sore matahari mulai tenggelam di sebelah barat dan bulan pun perlahan menunjukan wujud aslinya. Queensa dan Lio pun telah kembali dan berkumpul dengan teman-temannya.


"Yang perempuan siapin bumbunya, yang cowo yang panggang memanggang aja," perintah Queensa sambil memainkan gitarnya di bangku ayunan yang terbuat dari anyaman bambu.


Lio yang melihat Queensa menyendiri dengan gitarnya pun langsung menghampiri Queensa. Entah mengapa setiap kali melihat Queensa ia terbayang sahabat kecilnya yang ia rindukan.


"Kenapa nggak gabung bikin bumbu," tanya Lio tiba tiba hingga membuat Queensa memilih untuk menghentikan jari jemari tangannya yang sedang memetik senar gitar ya ia pegang.


"Males aja, terus ngapain Lo di sini nggak bantuin yang lain ?," jawab Queensa sedikit dingin.


"aku punya trauma sama asap,"


"Sorry gue nggak tau kalo Lo punya trauma,"


"Lo bisa maen gitar ?,"


"Bisa tapi sedikit,"


Dan Queensa pun mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu.


Pagi telah pergi


Mentari tak bersinar lagi


Entah sampai kapan


'Ku mengingat tentang dirimu


'Ku hanya diam


Menggenggam menahan


Segala kerinduan


Memanggil namamu


Di setiap malam


Ingin engkau datang


Dan hadir di mimpiku


Rindu


Dan waktu 'kan menjawab


Pertemuanku dan dirimu


Hingga sampai kini


Aku masih ada di sini


'Ku hanya diam


Menggenggam menahan


Segala kerinduan


Memanggil namamu


Di setiap malam


Ingin engkau datang


Dan hadir di mimpiku


Rindu


Dan bayangmu


Akan selalu bersandar di hatiku


Janjiku pasti 'kan pulang bersamamu


'Ku hanya diam


Menggenggam…


"Kayanya Lo mendalami banget," ucap Lio


"Bukannya kalo nyanyi itu harus memang harus mendalami, menghayati, menjiwai ya agar orang yang mendengar lagu yang kita nyanyikan ikut tersentuh hatinya," jelas Queensa dengan sedikit senyuman di bibirnya.


"Sa sini napa gabung sama kita perasaan berduaan mulu," ucap goda Yarra. Hingga Lio pun tersadar jika saat ini dirinya dan Queensa menjadi pusat perhatian semua teman temannya.


"Yuk gabung sama yang lain," ajak Lio dan menarik tangan Queensa dan ia pun segera berdiri dan mengambil gitarnya.


Dan acara pun berlangsung dengan asiknya. Namun saat ini Altaf lah memainkan gitarnya dan Naureen yang menyanyikan sebuah lagu. Hingga tiba-tiba ponsel Queensa berdering.


"Sa hp Lo bunyi tuh," ujar Lesya yang memang tak sengaja melihat ponsel Queensa terus menerus menyala.


Sedangkan Queensa yang asik lagi ngobrol bersama Lio pun langsung mengambil ponselnya terlihat tertera nama DION di depan layar ponselnya.


"Bentar ya Li gue angkat telfon dulu," ucap Queensa dan memilih menjauh dari teman temannya.


'Dion ? bukannya kekasih Queensa itu Nathan, lalu siapa Dion' batin Lio yang penasaran dan sedikit cemburu Queensa mengangkat telpon dari pria lain.


"Holla, eh Hallo da paan ion,"


"....."


"Kapan ?,"


"....."


"Ok gue siap-siap dulu,"


Queensa pun menutup panggilannya dan berlari ke kamarnya tanpa memperdulikan semua orang yang menatap bingung ke arahnya.


"Al Ade Lo kenapa tuh," tanya Lio yang dengan raut wajah kebingungan dengan kelakuan seorang gadis yang diam diam sudah mencuri perhatiannya.


"Kan Lo yang dari tadi sama dia, malah tanya gue yang dari tadi disini sama Naureen," jawab Altaf dengan santai nya.


"Tadi Ade Lo dapet telpon nggak tau dari siapa tapi tadi gue dengernya dia mau siap siap mau pergi," ucap Lio dengan nada yang sedikit khawatir.


"Ohh... biasanya sih jam segini kalo dia keluar rumah pasti mau balapan," jawab Altaf dengan santainya tanpa rasa takut sedikitpun ia sudah hafal dengan kelakuan adiknya yang berubah drastis semenjak kepergian mendiang kedua orang tuanya.


Semakin di larang ataupun di kekang maka gadis itu akan semakin nekat.


"APA !!," ucap Lio dan lainnya terkejut dengan jawaban Altaf yang terdengar sangat santai bahkan tanpa khawatir sedikitpun.


"Wah Lo gila Al, Ade Lo cewe dan dia mau ikut balapan Lo biarin gitu aja," ucap Lio kesal pada Altaf.


"Iya parah Lo Al, emang nya Lo nggak takut apa terjadi sesuatu sama Queensa," ucap Lesya yang tak kalah kesalnya.


"Udah deh kalian tenang aja, balap liar itu hobinya dia percuma juga kalo di larang nggak bakal mempan," ujar Altaf dan kembali mainkan gitarnya.


Tiba-tiba Queensa pun turun dari kamarnya berjalan tergesa gesa menuju garasi untuk mengambil motor kesayangannya.


"Gayss, Bang gue pergi dulu ya tadi di telpon Dion," pamit Queensa pada Altaf dan teman temannya.


"GUE IKUT," ucap Lio dan yang lainnya secara bersamaan.


"Ya udah ayo buruan gue udah di tungguin dari tadi," ucap Queensa dan bergegas mengambil motornya.


Mereka pun segera berhamburan mengambil jaket dan bergegas menuju mobil mereka.





"Li Lo temenin Ade gue ya biar mobil Lo gue yang bawa, kita bawa 2 mobil aja ya gays," perintah Altaf.


Tanpa berfikir panjang Lio pun langsung menghampiri Queensa.


"Sa gue di suruh Altaf buat nemenin Lo, gue aja yang bawa motor ya," pinta Lio saat di sudah berdiri di hadapan Queensa dan sebelum Queensa menjawab Altaf pun ngomong lebih dulu.


"Ya sa Lio aja yang bawa motornya, biar tenaga Lo buat balapan nanti aja biar menang," perintah Altaf dengan sedikit senyuman yang tak seperti biasanya.


Altaf memang sengaja mendekatkan Queensa dan Lio karena dia tau Lio bisa menjaga adiknya dengan baik. Altaf yang mengerti jika Queensa bukan tipikal orang yang mudah akrab dengan pria namun bersama Lio dia berbeda maka dari itu dia mencoba mendekatkan sang adik dengan sahabatnya itu.


Dengan malas, mau tak mau akhirnya Queensa tak bisa menolak perintah dari kakaknya itu.


"Nih kuncinya, awas Lo kalo bawa nya nggak bener," ancam Queensa pada Lio dengan nada sinis nya.


Dan mereka pun melesat meninggalkan mansion. Di tengah perjalanan Lio sengaja mengendarai motornya sangat pelan.


"Li buruan dong jalannya," perintah Queensa dengan nada kesalnya karena Lio yang membawa motor sangat pelan.


"Ya udah Lo pegangan ya gue bakal ngebut," ucap Lio. Dan Queensa pun berpegangan jaket yang di gunakan Lio. Namun bukannya mempercepat motornya ia malah menepi dan menghentikan motornya.


"Loh ko malah berenti sih, katanya mau ngebut lagian tempatnya masih jauh," ujar Queensa sedikit ngegas karena kekesalannya semakin bertambah.


"Lo pikir gue tukang ojek apa, pegangannya tuh kaya gini," ucap Lio sambil menuntun kedua tangan Queensa untuk memeluknya. Dan kemudian menjalankan motornya dengan sangat ugal-ugalan.


Sesampainya di tempat balapan Queensa dan Lio sudah di tunggu dari tadi oleh para sahabatnya.


"Cie Queen gebetan baru ya, meluknya sampe gitu banget makan-makan dong," ledek Dion. Dion selain tangan kanan Queensa dan Altaf dia juga yang mengatur semua urusan balapan Queensa.


Altaf yang tau adiknya di ledek Dion pun hanya menahan tawanya. Apalagi saat wajah Queensa memerah seperti tomat.


"Apaan sih Lo ion, dia temen sekolah gue temennya Bang Altaf juga, iya kan Bang," ucap Queensa dan minta pembelaan pada Altaf sambil menahan malunya sampai wajahnya pun memerah seperti tomat.