Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 25



...Hai hai hai sedulur...


...HEPPIII REEDDDIINNGGG...


Suara Lio yang terdengar dingin dan berat itu langsung membuat Zeffa membulatkan matanya dan yang lain langsung berhenti tertawa.


Queensa yang berada dalam pelukan Lio pun langsung melepaskan dirinya dan menjauh.


"Ngapain Lo kesini, minggir jauh jauh Lo," suara Queensa yang tak kalah dingin itu langsung membuat Lio membulatkan matanya pula.


"Kamu ngusir aku Ar ?!,"


"Kalo aku nggak datang kesini mungkin kamu udah dibunuh sama Zeffa," lanjut Lio lagi.


"WHAT'S !!!," teriak Zeffa kencang dan tambah membulatkan matanya.


"Lo gila ya Li, mana mungkin gue mau bunuh sahabat gue sendiri," lanjut Zeffa lagi.


"Gue tadi denger sendiri saat Queensa ngomong gitu," ucap Lio.


"Apaan sih Nat gue cuma asal ngomong doang, lagian ngapain Lo sok peduli sama gue,"


"Karena Lo PACAR gue," ucap Lio dengan penuh penekanan di kata pacar.


"Emang kapan gue bilang mau jadi pacar Lo," jawaban Queensa pun langsung membuat Lio bungkam seketika.


Saat mereka sedang debat ada telfon masuk di handphonenya Queensa. Queensa pun langsung bergegas mengangkat telpon dan menjauh dari temannya sambil tersenyum riang.


"Hallo, holla my sweetyku," terdengar suara pria dari sebrang telephone.


"Hallo, ko tumben ngabarin kirain udah lupa sama aku," ucap Queensa dengan nada manjanya.


Lio yang penasaran siapa yang menelpon Queensa pun langsung mendekat di ikuti dengan Altaf di samping Lio.


"Jadi kapan kamu mau kesini by," ucap Queensa dengan nada yang lebih manja lagi pasalnya dia tau Lio mengikutinya.


"......"


"seriously ??!! ," Seru Queensa meyakinkan orang yang ada di sebrang telepon.


"....."


"Yes i will wait for you by," Queensa pun tersenyum senang membuat semua sahabatnya penasaran.


"Ok, by aku harus masuk kelas lagi karena jam istirahat akan segera berakhir," ucap Queensa pada pria di balik telepone.


"......"


"I miss you too by, see you," Queensa pun mematikan teleponnya dan segara memasukan ke dalam kantong seragamnya.


"Siapa Queen," tanya Altaf pada adiknya


"Calon adik ipar Kaka lah siapa lagi," jawab Queensa sambil melenggang dan melangkahkan kakinya untuk segera pergi ke kelasnya.


Lio yang mendengar itu pun langsung kesal rahangnya mulai mengeras, tatapannya mulai tajam seperti mata elang dan wajahnya pun mulai merah padam.


Lio tidak bisa terima jika Queensa jadi milik orang lain. Sebab sedari dulu dia selalu pegang komitmennya untuk menjaga Queensa dan akan menikahinya kelak jika mereka sudah dewasa.


"Li Lo tenang aja ya gue jamin Queensa nggak mungkin punya cowok, karena setau gue dari dulu Queensa cuma tertarik sama Nathan kecilnya," ujar Altaf yang mencoba menenangkan Lio. Sebagai sesama pria dia tau pasti perasaan Lio saat ini, apalagi dari padangan Lio saja Altaf sudah sangat yakin bahwa sahabatnya itu sangat tulus mencintai Queensa.


"Iya Li Lo yang sabar ya," Raffa pun tak mau kalah dengan Altaf, sebagai sahabat dia juga mencoba menenangkan Lio.


"Thanks guys, masuk kelas yuk," ajak Lio sambil tersenyum kecut dan mengajak para temannya untuk masuk kelas karena bel jam pelajar berikutnya akan segera di mulai.


Mereka pun bergegas berjalan menuruni anak tangga. Banyak siswi yang memperhatikan mereka karena mereka terkenal akan sikap dingin, cuek dan tampannya.


"Minggir Lo gue mau duduk di sini," usir Lio siswa lain yang duduk di sebelah Dara.


"Iya, Lo minggir aja cari tempat duduk lain biar Lio yang duduk sama gue," ucap Dara yang ikut mengusir teman sebangkunya itu.


"Ko kamu tumben banget mau duduk di sini," ucap Dara penuh penasaran.


"Kenapa ??! kalo Lo nggak suka ya, Lo aja yang pergi," jawab Lio dengan nada dinginnya.


"Nggak bukan gitu, gue seneng ko bisa duduk sama Lo," ucap Dara sedikit gugup namun tetap memperlihatkan senyumannya.


Sedangkan di sisi lain Queensa hanya cuek saja dia tau Lio sengaja duduk dengan Dara hanya untuk membuat dirinya kesal.


Queensa yang terlihat cuek dan acuh bahkan tidak memperdulikan Lio membuat Lio semakin kesal akan hal itu. Hingga jam pelajaran berikutnya di mulai, dan pelajaran demi pelajaran pun berakhir.


Bel pun berdering satu kali dengan nada yang panjang yang artinya jam semua pelajaran sudah selesai membuat siswa siswi segera merapikan peralatan belajarnya dan bergegas untuk pulang.


"Gays gue balik dulu ya," ujar Queensa pada teman temannya.


"Ko balik sih sa, padahal kita mau ngajak Lo nongkrong di cafe yang biasa," jawab Zeffa dengan nada sedihnya.


"Duh, gue nggak bisa,"


"Emang ada urusan apa sampe Lo nggak bisa ikut??," tanya Lesya.


"Ada deh, lain kali aja gue ikut nongkrongnya," jawab Queensa


"Bye....," lanjut Queensa sambil melangkahkan kakinya namun belom sampai di pintu kelas ia di cekal tangannya oleh Altaf.


"Ada apa sih Queen," Altaf yang penasaran pun langsung melontarkan pertanyaan itu, karena nggak biasanya Queensa pulang duluan.


"Nggak ada apa apa cuma lagi kangen seseorang aja," ucap Queensa dengan senyuman manisnya. Lio yang masih duduk di samping Dara dan mengobrol dengan temannya pun tak sengaja mendengar pembicaraan Kaka beradik itu.


Sedangkan Dara yang mengerti bahwa Lio dan Queensa sedang ada masalah pun langsung mengambil kesempatan untuk mendekati Lio.


"Beib, nanti kamu jadi kan anterin aku pulang," ucap Dara sambil menggelayut manja di lengan Lio.


"Iya, nanti aku anterin kamu pulang," jawab Lio dingin.


Queensa yang mendengar itu pun masih tetap tersenyum dia tidak memperdulikan itu. Hingga handphone Queensa berbunyi, tertera sebuah nama di kontaknya "BYAN"


"Hallo, by aku baru mau pulang nih nanti kalo udah sampe rumah aku telpon balik," jawab Queensa setelah mengangkat telepone nya.


"Oke, my sweety i miss you" suara seorang pria dari sebrang sana.


"I miss you too by," jawab Queensa yang kemudian mematikan teleponnya*.


"Aku pulang dulu ya ka," Queensa pun bergegas jalan keluar kelas dan menuju parkiran.


Lio yang mendengar Queensa berbicara hangat dengan pria lainpun langsung tersulut emosi di menendang meja yang ada di depannya sangat keras hingga membuat meja itu terpental lumayan jauh.


"Aarrgghhh,,,,, bre*****," seru Lio dengan emosi yang membara.


"Beib, kamu kenapa sih, tenang dong ada aku disini," Dara pun coba untuk tenangkan Lio.


"Minggir Lo, ja****," bukannya tenang Lio malah mengusir Dara dengan cacian yang keluar dari mulutnya.


Lio langsung mengambil tas dan jaketnya dan segara pergi dari sana untuk menemui Naya dan meminta bantuannya agar Arcilla itu nggak ngambek lagi padanya dan tidak mencari pria lain. Ia sangat takut jika harus kehilangan Queensa.


"Li, tunggu Lo mau kemana," teriak Altaf pada Lio yang sudah menjauh dari pandangannya, dia tau pasti bahwa saat ini Lio sangat kacau hatinya.


"Gue butuh waktu sendiri," jawab Lio sedikit mengeraskan suaranya.