
Lio pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor kesayangannya. Untuk saat ini suasana hati dan pikirannya kembali kacau mengingat akan Arcilla nya yang sampai kini belom juga mau menemuinya.
Melajukan kendaraannya entah kemana arah laju motornya akan membawa dirinya.
Sedangkan di markas terlihat acara pelantikan telah selesai dan kini akan di adakan rapat dadakan semua pimpinan klan mafia QUEEN OF THE DARK WORLD.
Semuanya telah menunggu Queensa dan Altaf di ruang rapat yang baru saja selesai di persiapkan oleh beberapa pelayan.
"Salam Queen, salam King," ujar mereka bersamaan memberikan hormat dan salam pada kedua pimpinan tertinggi di klan mafia QODW.
Queensa masuk kedalam ruangan rapat terlebih dahulu dan di ikuti oleh Altaf dibelakangnya.
Rapat pun di mulai semuanya mendengarkan arahan dari pimpinan yang paling berpengaruh siapa lagi kalo bukan Queensa.
Dan kini Hari pun semakin larut hingga akhirnya rapat pun berakhir Queensa menutup rapat dan keluar dari sana berjalan menuju lift dan segera menghilang di balik pintu lift.
Ia pun melepas jubah kebesarannya dan menggantinya dengan baju tidur Doraemon kesayangannya. Setelah ia selesai dengan kegiatan mengganti bajunya Queensa segera menuju arah ranjang tempat tidurnya.
Terlintas memori memori kecilnya saat kedua orang tuanya masih hidup dan ini membuat Queensa tersenyum getir merasakan sesuatu yang teramat sesak di dadanya.
"Mom, Dad lihatlah sekarang aku dan Abang sudah sangat dewasa dan kami akan membalaskan dendam kalian," gumamnya lirih dengan di sertai senyum kecilnya. Sangat terlihat jelas saat ini ia sedang sangat terpuruk, seharusnya ada Nathan nya yang menghiburnya saat ini.
"Aku rindu," (Nathanku).
Saat mendengar suara nada khusus yang ia berikan pada Lio, Queensa pun segera mengambil ponselnya mengecek pesan dari orang yang paling ia butuhkan saat ini.
"Aku sangat rindu," gumamnya lirih namun ia tak berani mengirimkan pesan itu pada Lio. Sebenarnya bukannya tak berani namun ia takut semua rencananya akan berantakan.
Sedangkan di sebrang sana Lio yang menunggu balasan dari Queensa pun hanya tersenyum kecut, karena Arcilla masih tak mau membalas pesan darinya.
……………………………………………
Di kediaman Mona dan Dara terlihat anak dan ibunya sedang menonton tv di ruang keluarga.
"Ra, apa kamu kenal dengan Lio," tanya Mona tiba tiba saat ia sudah mendudukkan tubuhnya di samping anak nya.
Dara yang sedang menonton tv langsung menoleh pada Mona.
"Dari mana mamah kenal Lio," bukannya menjawab Dara malah memberikan pertanyaan balik pada Mona.
" Kamu itu kalau orang tua sedang bertanya harusnya dijawab bukan malah bertanya balik Apakah kamu mengenal dia," dengan nada kesal Mona pun bertanya kembali pada Dara.
"Ia mah Ara mengenalnya dia pria impian Ara tapi ada satu penghalang mah dia siswi pindahan baru dari LA,"
"Apa namanya Cilla ???," Tanya Mona to do poin dengan nama wanita yang menjadi saingan anaknya.
Belum sempat Dara menjawab namun ponsel Mona lebih dulu berdering tertera nama Susilo di sana.
" Bentar ya Ra mamah angkat telpon dulu dari om Susilo," ujar Mona dan berdiri dari tempat duduknya berjalan dengan terburu menaiki anak tangga dan meninggalkan Dara sendiri di ruang keluarga.
Mengingat Lio dan Queensa rasa kesal dihatinya pun mulai bermunculan.
"Tenang aja sebentar lagi nyawa lo akan game over Queensa, dan gue lah yang akan jadi pemeran utama di hati Lio," gumam Dara dengan senyum smirknya dia belum tau aja siapa lawan yang akan di hadapinya kali ini.
Bahkan seekor harimau pun akan bertekuk lutut jika berhadapan dengan Queensa.
Tingg..
Satu chat masuk di ponsel Dara, tertera nama Arven di layar ponselnya.
"Aku sudah di depan rumahmu, buruan keluar aku akan menagih janjimu sekarang," Kira kira seperti itu isi pesannya.
Dara dengan malas nya pun membuka pintu rumahnya. Terlihat ada tiga orang pria berdiri di sana. Dia adalah Arven dan juga dua om om senang.
"Kamu ngapain bawa dua om om jelek ini kesini Ven," ujar Dara.
"Sudah lah nanti juga kau akan tau, Ayo kita pergi sekarang," ajak pria itu.
Dua pria paruh baya itu sudah tidak sabar ingin sekali mereka bermain panah di atas ranjang bersama Dara.
Bagaimana tidak ?? Dara keluar dari rumahnya hanya dengan mengenakan baju dinas yang biasanya di kenakan oleh kaum wanita yang akan melakukan malam pertama nya dengan sang suami.
Bra merah terang dan CD merah terang itu sangat tercetak jelas di mata orang orang yang melihatnya, apa lagi baju dinas yang di kenakan berwarna putih sedikit transparan hingga ya sudahlah membuat dua om om senang itu sangat bergairah.
"Wait, gue bilang dulu ke nyokap gue," ujarnya dan segera masuk kedalam rumahnya.
"Mah aku mau pergi dengan Arven," ujar Dara saat ia sudah ada di depan pintu kamar Mona. Mona yang mendengar itu pun segera membuka pintu kamarnya dengan pakaian yang sama seperti sang anak gunakan.
Cihh dasar tabiatnya emang keluarga Ja****.
"Ya sudah sana ganti bajunya, kalo mau pergi sama Arven kamu harus terlihat cantik dan seksi," ujar Mona setelah ia berhasil membuka pintu kamarnya.
"Biar mama yang temani anak itu dulu, kamu bersiaplah," lanjutnya dan berjalan menuju pintu depan untuk menyambut pria itu.
Mona pun masih dengan pakaian yang sama dengan yang Dara kenakan hingga itu membuat dua bandot itu ingin meniduri ibu dan anak yang murahan itu.
"Hei Arven, udah lama loh tante nggak ketemu, mari masuk dulu Dara sedang bersiap dulu," ujarnya sambil menarik tangan Arven untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Dua bandot yang mengikuti Arven pun sudah terlihat dengan jelas jika mereka juga menginginkan tubuh Mona. Arven yang mengerti itu pun tidak mau membuang kesempatan emas.
"Gimana kalo tante juga ikut dengan kita, Arven janji akan bikin kalian berdua melayang ke udara," bisik Arven dan tangannya bergerilya di paha mulus Mona. Arven memang sangat pandai jika memainkan Mona dan Dara dengan satu sentuhan di area sensitifnya maka mereka akan langsung bergairah.
"Tidak usah lah Ven biar kalian aja lah yang happy tante di rumah aja," ujar Mona berpura pura menolaknya.
"Ayo lah tan," tangan Arven pun semakin aktif menyikap baju dinas Mona sedikit dan terlihat lah ************ Mona dan itu membuat dua bandot itu langsung mendekatinya.
"Saya akan kasih kamu berapapun kamu mau, asal kamu dan anakmu mau ikut dengan kita," ujar bandot itu merayunya.