Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 43



Sedangkan di tempat latihan Altaf, Abyan, Byanca, dan Dion telah menyudahi latihan pada hari ini. Hanya Fathir yang tak terlihat di antara mereka biasanya Fathir selalu ikut membantu untuk melatih para anggota baru. Namun karena 2 hari lagi ada acara di sekolahan dan akhirnya mau tak mau mengharuskan dirinya lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya agar dapat di pastikan acara yang telah di buat berjalan lancar.


"Latihan stop sampe sini dulu ya karena hari sudah semakin larut kita lanjut besok lagi," ujar Altaf sebagai King dalam klan mafianya.


"Sekarang kalian bersih bersih dulu habis itu langsung segera turun untuk makan malam kita udah lewat 1 jam dari jam makan malam kita," tambah Altaf lagi sebelum benar benar pergi dari sana.


"King bukannya kita di suruh menghadap Queen di ruangnya setelah latihan selesai ??," satu pertanyaan lolos dari mulut Naureen.


"Nanti biar saya yang bicara pada Queen agar kita dapat makan malam terlebih dahulu," jawab Altaf.


"Siap King," seru mereka serempak dan membukukan badan mereka dengan telapak tangan berada di dada sebelah kanan mereka sebagai tanda salam dan hormat mereka.


jika sedang latihan ataupun setelah latihan mereka selalu di biasakan untuk menghormati ataupun berbahasa formal seperti para penjaga dan para Mafioso di klan mereka. Namun jika sedang berada di luar jam latihan ataupun di luar jam tugas mereka bersikap biasa terhadap Queensa dan Altaf.


Altaf, Abyan, Byanca dan Dion pun memasuki ruang tv dan diikuti para temannya yang sebentar lagi akan di Lantik menjadi anggota baru di organisasi mereka. Semua temannya berpencar menuju kamar mereka masing masing untuk membersihkan diri begitupun dengan kedua sepupunya Abyan, dan Byanca sedangkan Dion ijin pamit pada Altaf untuk mengangkat telfon dari Fathir. Altaf memutuskan menuju sofa ia yakin bahwa adiknya masih berada di sana apalagi setelah di lihatnya tv masih menyala dan ada pelayan yang duduk di karpet sambil memijat kaki sang adik.


"Nona sedang tidur tuan," ujar pelayan itu dengan sedikit berbisik. Dan Altaf pun semakin mendekat pada sang adik di perintahkan nya sang pelayan untuk berdiri dari tempat duduknya dan menyudahi aktifitas memijat kaki sang adik.


"Ya ampun nih bocah kebiasaan kalo lagi kecapean," gumam Altaf dan segera menggendong adiknya untuk di pindahkan ke kamar milik Queensa sendiri.


"Bi tolong ikut aku ke atas untuk membuka pintu kamar Queensa," perintah Altaf pada pelayannya. Meskipun Altaf dan Queensa seorang mafia dan orang terkaya no 1 di negaranya ia selalu mengucapkan kata tolong setiap kali memerintahkan seseorang dan mengucapkan terima kasih pada orang yang telah di perintahnya.


"Baik tuan," ujar pelayan itu sambil mengekor di belakang Altaf hingga akhirnya Altaf berhenti di depan pintu lift, pelayan yang tau jika tuannya kesulitan untuk memencet tombol lift pun bergegas untuk segera untuk memencet kan tombol tersebut tanpa tuannya meminta.


"Terima kasih bi," ujar Altaf tulus pada pelayannya. Perlakuan seperti ini lah yang membuat semua pelayan dan semua orang yang di dekat Altaf setia padanya maupun pada Queensa. Karena selalu di hargai dan tidak pernah di pandang rendah.


Altaf pun masuk kedalam lift dan masih tetap di ikuti oleh pelayan hingga akhirnya liftpun berhenti yang ternyata ia sudah sampai di lantai yang ia tuju. Lift pun terbuka Altaf dengan segera keluar dan bejalan cepat menuju kamar Queensa. Dan kini Altaf sudah berada tepat di depan pintu kamar Queensa.


"Sekali lagi terima kasih bi, sekarang bibi bisa kembali pada pekerjaan bibi yang belom selesai," ujar Altaf setelah pelayannya itu membukakan pintu kamar sang adik.


Altaf pun segera masuk kedalam kamar sang adik membaringkan tubuh saudara kandung satu satunya itu di atas tempat tidur berukuran king size di sana. Karena tak mau mengganggu tidur sang adik Altaf pun akhirnya memilih langsung keluar dari kamar itu dan menutup pintu perlahan agar tidak berisik dan mengganggu tidur Queensa.


Altaf pun pergi ke kamarnya sendiri yang berada di depan kamar Queensa. Ia pun segera membersihkan tubuhnya yang sudah lengket akibat keringat yang bercucuran saat melatih anggota baru yang tak lain temannya sendiri.


Tak selang beberapa lama Altaf pun selesai dari ritual di kamar mandinya ia segera berganti baju dan kemudian keluar dari kamarnya berjalan menuruni anak tangga berjalan cepat menuju mushola yang lumayan besar berada tepat di tengah taman belakang markas untuk melakukan kewajibannya meskipun sudah telat 1 setengah jam namun tak masalah yang terpenting ia tidak meninggalkan kewajibannya.


Sesampainya di sana ternyata sudah ada teman temannya dan juga ke dua sepupunya yang telah selesai beribadah dan akan segera kembali masuk kedalam markas.


"Loh Al Queensa mana ko nggak ikut kesini," ujar Abyan yang sudah berada di dekat Altaf.


"Hem, dia tidur mungkin kecapean," jawab Altaf singkat dan berlalu kedalam mushola itu. Kemudian segera mengambil wudhu .


Setelah mengambil wudhu ia berpapasan dengan Fathir dan Dion yang juga akan mengambil air wudhu.


"Queen mana Al ??," tanya Fathir.


Fathir memanglah orang yang selalu memperhatikan Queensa selain ia sebagai orang kepercayaan Altaf dan Queensa Fathir juga merasa bahwa kedua atasannya itu adik kandungnya sendiri yang selalu harus ia perioritas kan di atas segala.


"Tidur bang," jawab Altaf singkat dan langsung mendapat anggukan dari Fathir sedangkan Dion sudah berjalan terlebih dahulu untuk mengambil air wudhu.


Altaf pun mulai masuk kedalam mushola itu berjalan masuk dan mulai menggelar sajadah di sana. Berdiri menghadap kiblat yang agak sedikit menyerong ke arah barat laut. Membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya dan kemudian di lipat di depan dadanya.


Hingga tak membutuhkan waktu 10 menit Altaf menyelesaikan kewajibannya itu. Mengucapkan 2 kali salam dan kemudian membaca doa setelah selesai solat. Dengan posisinya sekarang yang sedang bersila ia terus berdzikir yang kemudian di lanjutkan membaca ayat kursi, Al-fatihah dan ayat ayat pendek lainnya setelah itu ia baru mendoakan kedua orang tuannya, tak lupa juga ia mendoakan untuk dirinya dan adiknya berserta orang orang yang berada di sekitarnya.


Seusai Altaf dengan kewajibannya ia segera keluar dari mushola itu berjalan perlahan saat melewati Fathir dan Dion yang ternyata juga telah selesai dengan kewajibannya kini mereka terlah berdzikir dan berdoa.