Queensa Cruel Mafia Girl

Queensa Cruel Mafia Girl
EPS 44



Ia berjalan memasuki mansion dan menuju ruang makan dan benar tenyata di sana sudah ada semua temannya sedang menunggunya untuk makan malam bersama.


"Bentar ya gue ganti baju dulu," ujar Altaf pada semua sahabatnya.


"Ok, jangan lama lama ya mas," ujar Naureen manja dan langsung mendapat senyuman termanis dari Altaf.


Teman temannya yang mendengar panggilan untuk Altaf dari Naureen pun langsung membulatkan matanya. Apa lagi sang Abang yang langsung tersedak dengan Saliva nya sendiri. Pasalnya Thian yang saudara kandungnya tak pernah di panggil Naureen dengan suara lembut seperti itu.


Naureen yang tau jika ia kelepasan dengan sebutan yang ia ucapkan pada Altaf pun langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya. Apalagi kini ia sedang menjadi pusat perhatian teman temannya dan pula saudara kandungnya sendiri. Sedangkan Altaf sekarang sudah berada di dalam lift yang akan mengantarnya ke kamarnya.


"Reen...," panggil mereka semua dan Naureen pun semakin bersemu merah ia tau apa yang akan katakan para sahabatnya.


"Apa sih kita cuma deket dan belom jadian," ujar Naureen masih di posisi yang sama telapak tangannya masih setia menyembunyikan wajahnya.


"Cihh belom jadian, berarti kamu ada niatan buat jadian sama Altaf," ujar Thian sinis. Dan ternyata ucapannya berhasil membuat adiknya membuka telapak tangannya.


Di lihatnya wajah sang adik menjadi lesu dan murung.


"Kamu nggak akan Abang izinin pacaran dengan siapapun kecuali Altafariz Arcello," ujar Thian tegas dan Naureen yang mendengar itu wajahnya langsung berubah drastis tak sedih dan tak murung lagi namun bersemu merah kembali.


"Ciee...," ledek mereka semua.


Altaf pun kini berjalan menuju meja makan setelah selesai dengan aktivitasnya berganti baju di dalam kamar beberapa menit yang lalu.


"Lama banget sih Lo Al," ujar Byanca dengan nada manja namun wajah mode ngambek.


"Tau loh cuma ganti baju aja lama banget," timpal Abyan yang sudah tau kini adiknya sangat kelaparan.


"Iya sorry," ujar Altaf yang langsung duduk di kursinya.


"Udah ayo mulai aja, nggak tau apa nih perut bebeb aku udah kelaparan," ujar Raffa yang kini mulai mengambilkan nasi di piring sang pujaan hatinya.


Dan di ikuti yang lain mengisi piringnya masing masing dengan lauk pauk, sedangkan Naureen yang tengah mengisi piring Altaf setelah ia selesai mengisi piring Kaka tercintanya.


"Makasih Rena," ujar Altaf pada Naureen dengan tangannya mengacak poni Naureen tak lupa ia juga memberikan senyuman termanisnya yang tak pernah ia berikan kepada siapapun selama ini selain sang adik.


Mendengar nama yang di sebut bukanlah nama sang adik, Thian langsung menatap tajam pada Altaf. Sedangkan Altaf langsung mengerti tatapan tajam yang di berikan oleh sahabatnya itu, apalagi kalau bukan meminta penjelasan siapa Rena.


"Tenang bro horor banget tatapannya, Rena itu singkatan nama belakang Naureen dan Altaf," jelas Altaf pada Thian dan seketika membuat orang yang ada di sana langsung tersedak dan menatap Altaf dan Naureen.


Naureen yang tau kini ia menjadi pusat perhatian langsung saja menutup wajahnya yang sudah bersemu merah.


"Cieee....," mereka semua akhirnya kembali meledek Naureen.


"Udah udah katanya mau makan," ujar Altaf mengingatkan semua sahabatnya. Dia juga kasihan wanita di goda para teman temannya sedari tadi.


Akhirnya kini mereka makan dengan tenang hingga semua makanan yang ada di piring mereka tandas tak tersisa.


…………………


Matahari sudah mulai tinggi jam pun sudah keluar dari peraduannya.


Kriiing ....


Jam alarm di kamar Lio berbunyi nyaring membuat sang empunya langsung membuka matanya.


"Astagfirullah kesiangan," ujarnya setelah melihat jam yang ada di nakasnya.


Segeralah ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa menit berkutat dengan aktifitasnya di kamar mandi ia segera masuk kedalam walk in closed memakai seragam sekolahnya.


Selesai dengan seragam sekolahnya yang kini sudah melekat di tubuhnya ia segera menyambar tas sekolahnya tanpa membereskan bukunya terlebih dahulu karena hari ini memang hari bebas tanpa pelajaran hanya akan ada apel pagi dan persiapan untuk acara besok akan di adakan nya camping tahunan.


Lio menuruni anak tangga dengan seragam lengkap dengan dasi yang belum sempat ia pasangkan dengan sempurna. Dengan tas yang ia cangkolkan di pundak sebelah kanannya beserta jaket yang ia sampirkan di tangan sebelah kirinya.


"Hay boy, ko ke sekolah apa kamu lupa hari ini kita akan menghadiri pertunangan sepupu kamu," ujar bunda Zora yang bingung menatap putra semata wayangnya.


"Iya Bun, Lio nggak lupa ko lagian hari ini hari bebas ko," jawabnya sambil menarik kursi di samping sang bunda.


"Kalo hari bebas harusnya kamu nggak perlu ke sekolah dong boy," suara bariton terdengar dari ujung anak tangga yang menampakkan ayah Candra Arsalan suami dari bunda Zora Arsalan.


"Lio harus menghadiri acara persiapan buat camping besok Yah, Bun," ujar Lio yang sambil memakan roti selai kacang yang telah di buatkan oleh sang bunda.


"Lio bakal pulang lebih cepat ko, jadi ayah dan bunda tenang aja ya," lanjut Lio yang kini telah meneguk habis susunya dan berdiri dari tempat duduknya setelah ayahnya menarik kursi dan ikut duduk di sana.


"Loh kamu ko cepet banget, ayah aja baru mau mulai makan," ujar Candra yang melihat anaknya bangkit dan berjalan mengitari tempat duduknya dan berjalan menghampirinya.


"Iya Ayah ini udah siang banget, Lio berangkat duluan ya," ujar Lio dan mencium kedua tangan orang tuanya dengan takzim.


"Iya udah kamu hati hati di jalan ya," ujar sang Bunda mengingatkan putra semata wayangnya itu.


Lio pun segera bergegas ke bagasi untuk memanaskan motornya terlebih dahulu dan memakai sepatunya.


Biasanya ada yang mang Udin yang selalu memanaskan motor ataupun mobil yang ada di bagasi namun dari kemaren mang Udin ijin pulang kampung di karenakan anaknya sedang sakit hingga mau tak mau ia harus kembali terlebih dahulu untuk ke kampung halamannya.


Sedangkan di Altaf kini sedang bersiap untuk ke sekolah bersama dengan semua sahabatnya kini ia sudah selesai sarapan bersama dan akan meninggalkan Queensa sendiri di meja makan.


"Abang berangkat dulu ya," pamit Altaf pada Queensa yang kini sedang menikmati roti dan telur mata sapi nya.


"Hemm," jawabnya sambil terus mengangguk-angguk kepalanya.


Kini Altaf yang lainnya sudah berada di mobil masing masing mereka hanya membawa 2 mobil saja yang satu untuk para ciwi ciwi yang satu untuk cowok cowok.