
"Sekarang tinggal pilih pake tangan kosong atau pake ini," masih sempatnya Lio bernegosiasi pada Dara sedangkan Dara yang di beri pilihan malah menciut karena takut. Baru kali ini ia melihat api amarah yang begitu tajam dari sorot mata Lio.
"Jangan lakuin itu Li gue masih pingin punya tubuh yang utuh," rengek Dara memohon pada Lio ia sudah mulai mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya. Sedangkan Queensa saat ini malah sedang bersedekap ia lipat kan tangannya di depan dada menyaksikan sang kekasih sedang menyiksa anak dari seorang pembunuh yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya.
"Cihh, semuanya udah terlambat bukankah tadi aku sudah memperingati mu agar tidak kasar pada wanitaku," Ujarnya dengan suara dinginnya dan tak lupa satu tangannya memainkan palu yang ia pegang dengan santainya.
"Sekarang kau lihat pipi mulus Queensa menjadi merah akibat tanganmu yang kotor dan menjijikan itu," lanjutnya lagi.
"Tapi aku melakukan ini karena aku nggak rela jika kamu di sentuh oleh ****** itu," seru Dara tetap membela dirinya. Namun akibat mulut kotornya itu membuat Lio semakin menjadi untuk tidak segan segan menyiksanya.
"Tutup mulut kotor mu itu, bukankah dirimu sendiri yang semalam telah menghabiskan malam bersama dengan dua pria bandot bahkan kan sempat merayu Arven bukan ketua mafia untuk melayani mu namun sepertinya Arven sudah bosan yang tubuhmu yang sudah tak senikmat dulu," kata kata itu membuat Dara menjadi pucat pasi pria yang ia sukai telah mengetahui hal menjijikan yang ia lakukan semalam.
"Oh ia bahkan kau juga melakukan hal itu di ruangan yang sama dengan Mona si ****** dan Arven hanya menikmati pertunjukan **** yang kalian berikan bukan?" lanjut Lio hingga membuat para siswa siswi lainnya tercengang tak percaya.
"Stop Li," ujar Katrine menghentikan ucapan Lio, namun bukannya berhenti Lio malah tertawa dengan menggelegar nya.
"Oh... ternyata ada yang iri mau di sebut juga," ujar Lio setelah ia menyelesaikan tawanya yang membuat orang mendengarnya langsung merinding seketika.
Mendengar itu membuat wajah Katrine dan para cabe lainnya pucat pasi.
"Aku sampai lupa jika di sekolah kita ada 5 anak yang menjual diri salah satu club malam milih wanitaku," lanjut Lio.
"Jika kalian butuh teman ranjang silahkan hubungi Dara Monalisa, Katrine Diniago, Disa Young, Devita Novian, Sinta Richardo," serunya hingga membuat para siswa saling berbisik.
"Eiits tapi menurutku kalian semua jangan mau pake kelima ja**** ini, takutnya udah banyak penyakitnya," seru Lio kembali dan sedikit mengejek 5 wanita murahan itu.
"Stop Lio," seru Dara air matanya sudah berhasil mengalir di pipinya.
"Dia dan nyokap nya yang ****** bukan gue ataupun nyokap gue," Seru Dara bukannya meminta maaf ia malah semakin menjadi mengatai Queensa dengan sebutan itu.
Seketika Lio cengkraman tangan Lio menguat hingga Dara tampak meringis kesakitan. Tangan Lio yang satunya menjatuhkan palu yang sedari tadi ia mainkan. Tangannya merogoh saku celananya mengeluarkan pisau lipatnya.
Tangan yang tadinya mencengkram tangan Dara kini berubah mencengkram dagu Dara.
"Mungkin alangkah baiknya jika aku memotong lidahmu dahulu agar kau tak bisa mengucapkan hal kotor itu untuk wanitaku," seru Lio dengan tangan yang memainkan pisau lipat nya rasanya ia ingin sekali menghabiskan nyawa Dara.
"Li biar ku urus dia lebih baik kau temani Queensa saja, sepertinya pipinya memerah," ujar Byanca. Sedang kan Lio yang mendengar pipi sang kekasih memerah pun langsung menoleh ke arah Queensa dan benar saja terlihat jelas di sana pipi sebelah kiri Queensa terlihat memerah.
Dara yang merasa cengkraman tangan Lio sudah mulai mengendur pun langsung bernafas lega.
"Ciihh kau selamat dari Lio tapi gue nggak yakin lo selamat dari gue," ujar Byanca tiba tiba dengan senyum smirk nya berdiri tepat di hadapan Dara.
"Gue nggak akan segan segan ngabisin nyawa orang yang udah nyakitin sepupu gue," lanjut Byanca dengan sinis nya.
"Lo mau ngapain hah, Lo tuh anak baru jadi nggak usah sok Pahlawan apalagi sok sok an ngebelain ja**** satu itu," seru Dara tak gentar dengan gertakan yang Byanca berikan.
Plak ...
"Tutup mulut lo,"
"Brengsek, berani lo tampar gue cuma buat belain ****** itu atau jangan jangan lo sama ja****nya kaya dia dan nyokap nya," Bentak Dara dengan beraninya belum tau saja dia jika Byanca adalah salah satu anggota mafia yang paling di takuti dan di segani di dunia.
Queensa yang kini darahnya sudah mendidih, tatapan membunuh tanpa ampun nya kini sudah sangat terlihat jelas. Dia sangat membenci orang yang telah mengatai kedua orang tuanya dengan kata kata yang tidak pantas.
"Jaga mulut lo a****g !," bentak Queensa yang sudah berdiri tepat di belakang Byanca.
"Kenapa emang hah, yang gue omongin bener kan nyokap lo itu j****g makanya lo ngikutin jejak nyokap lo dan ngrebut Lio dari gue ," bukannya meminta maaf Dara malah semakin menjadi menghina dan menginjak injak harga diri Mommy Arita.
Bugg... satu bogeman berhasil mendarat di pipi mulus Dara, bukan pukulan dari Queensa yang mendarat di pipi mulus Dara tapi pukulan dari Byanca.
"Tante gue nggak sehina nyokap lio bang**t !! ," seru Byanca yang hampir saja melayangkan Bogeman nya kembali ke wajah Dara namun berhasil di cegah oleh Queensa.
"Lepasin tangan gue, gue nggak terima dia hina tante Rita," ujar Byanca yang masih saja kekeh ingin menghabisi Dara saat itu juga.
"Mundur, aku yang akan berikan hukuman permulaan buat j****g nggak tau diri itu," ujar Queensa dengan suara beratnya namun tatapan dan suaranya masih terdengar mengerikan, jika sedang marah seperti ini jiwa kepemimpinannya sebagai ketua mafia tertinggi sangat terlihat jelas.
"Cih apa lo bilang gue ja**ng??, yang ja**ng tuh lo dan nyokap lo, kenapa sih lo nggak sekalian ikut mati aja biar lo nggak Ngerusak hubungan gue sama Lio," seru Dara sambil berdecih namun bukannya membalas ucapan Dara Queensa malah tertawa melengking dengan kerasnya bahkan sampai sang supir pun mau menghentikan bus itu namun untung saja di sana sudah ada Raffa dan Adzriel yang mengatur kondisi di bus bagian depan.