
Lio dan siswa yang bernama Pramana itu menjauh dari kerumunan tanpa mereka sadari Altaf diam diam mengikuti mereka. dan mencuri dengar pembicaraan mereka di balik pohon yang lumayan besar.
"Thanks Pram atas informasinya, gue dan yang lain akan lebih waspada melindungi Queensa," Lio dan Pram pun meninggalkan tempat itu dan kembali ke rombongan yang lainnya sedangkan Altaf yang tadi menguping pembicaraan mereka pun memasang wajah santai seperti tidak terjadi apa apa tidak ada wajah cemas atau khawatir yang ia tunjukan.
Bukan karena Altaf tak perduli pada sang adik namun ia percaya adiknya mampu menghadapi semua masalah di depannya sekalipun banyak orang yang mengincar nyawanya. Altaf percaya adiknya bukan wanita lemah maka dari itu Queensa di jadikan ketua mafia bukan dirinya.
"Udah selesai urusannya?" tanya Queensa yang sebenarnya penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Udah cantikku kalo belom ngapain aku ada disini," Lio yang tak tahan gemasnya dengan pertanyaan Queensa pun mengacak rambut Queensa yang tergerai.
"Rambutku jadi berantakan Nathan," Queensa yang sebal dengan tingkah usil sang kekasih pun langsung menghadiahi pukul kecil di dada bidang Lio.
Dara yang melihat itu pun langsung naik pitam ingin rasanya ia menghampiri Queensa dan mengacak acak wajahnya namun apalah daya ia tak mempunyai keberanian sebesar itu. Ia cukup trauma dengan kejadian di dalam bus tadi dengan ganas dan garangnya Queensa mencekik lehernya sampai ia hampir kehabisan nafas.
"Kuy lah kita ikut kumpul biar lebih cepet kita diriin tendanya," Adzriel pun melangkahkan kaki terlebih dahulu dan di ikuti yang lain.
Mereka pun ikut berkumpul dengan yang lainnya mendengarkan guru pembimbing menerangkan aturan perkemahan yang akan mereka lakukan. Dan untuk pembagian perkelompok mereka bisa mencarinya sendiri sendiri minimal lima orang dan maksimal enam orang sedangkan tenda pun mereka di haruskan membawa tenda sendiri karena sekolah tidak menyediakan tenda.
Setelah pembina selesai mengarahkan semua peserta, peserta pun di bubarkan dan mereka bersiap untuk mendirikan tenda.
"Aku minta tolong diriin tendanya ya," ujar Yarra dengan nada manjanya agar sang kekasih Raffa mau membantunya.
"Iya beib nanti aku diriin abis tenda aku jadi ya," Yarra yang mendengar kekasih nya mau membantunya langsung menghadiahi satu kecupan di pipi Raffa.
"Makasih ayang aku dan yang lain mau mandi dulu," Yarra pun berlari menghampiri Queensa dkk meninggalkan Raffa yang masih mematung atas keterkejutan nya tidak biasanya Yarra mau menciumnya terlebih dahulu meskipun hanya sekedar di pipi.
Queensa dan yang lainnya berjalan ke toilet umum yang letaknya lumayan jauh dari area perkemahan mereka berjalan melewati banyak pepohonan. Queensa sadar sudah banyak pasang mata yang mengarah ke mereka namun Queensa adalah seorang ketua mafia berdarah dingin yang tidak pernah takut akan kematian. Para mafioso Queensa pun sudah bersiap di tempat Mereka masing masing tembakan peredam suara pun sudah berada dalam genggaman Queensa dkk.
"Baik Queen," ujar mereka serentak.
Dengan sudut pandang yang yang sudah mulai remang remang karena hari sudah mulai senja matahari pun sudah mulai turun dari arah timur ke barat. Namun pandangan Queensa tetaplah tajam ia bisa mengetahui di mana saja letak para musuhnya.
Satu tembakan peredam sudah berhasil mengenai lawannya. Para mafioso pun berhasil melumpuhkan sebagian lawannya.
"Sudah lah kalian nggak usah sembunyi sembunyi sini keluar kalo berani, katanya pria tapi lawan perempuan aja masih ngumpet dasar banci," seru Queensa sedangan para musuh yang tadinya bersembunyi langsung keluar dari persembunyiannya mereka tidak terjadi terima di sebut banci oleh Queensa.
Senyuman smirk itu muncul senyuman kematian yang Queensa tunjukan. Bahkan seluruh sahabatnya pun bergidik ngeri melihat Queensa tersenyum seperti itu.
Death Demon nama itulah yang para mafioso sematkan untuk sang Queen. Bola mata Queensa perlahan berubah warna menjadi hitam pertanda seluruh tubuh Queensa sudah di kuasai altar ego nya yaitu Aqueen.
"Kalian semua minggir biar Aqueen yang bereskan para tikus tikus nakal ini," mendengar suara Queensa lebih tegar dan auranya sudah mulai menyeramkan membuat Naureen, Lesya, Yarra, dan Zeffa segera menyingkir dari tempat itu.
Tawa yang sangat melengking dan memekakkan telinga yang Queensa keluar kan sontak membuat para lawan menjadi menciut nyalinya.
Dengan gerakan secepat kilat Queensa berlari dari musuh satu ke musuh yang lain dengan lihainya ia menggunakan belati dan pistol kesayangannya. Tak membutuhkan waktu lama semua lawannya sudah tumbang dalam sekejap mata membuat Naureen dan yang lainnya mau tak percaya namun itu yang mereka lihat.
Aqueen pun nampak puas dengan hasil kerjanya sendiri seperti sudah sangat lama ia tak melakukan hal itu. Setelah Aqueen mengeluarkan tawanya kembali Queensa langsung terkulai lemas di tanah. Ya seperti biasa Queensa akan selalu pingsan ketika Aqueen sudah selesai dengan tugas nya. Naureen dan yang lainnya pun segera menghampiri Queensa saat mereka melihat Queensa yang sudah tergeletak di tanah. Dan salah satu dari mereka segera menghubungi Altaf.
"Hallo Al, Queen pingsan di tengah hutan yang arahnya mau ke toilet umum," Lesya pun segera menelfon Altaf agar ia bisa menggendong Queensa untuk di bawa ke tenda wanita.
Sedangkan Altaf yang mendapat kabar jika adiknya pingsan pun langsung meninggalkan tenda yang baru saja ia buat. Lio yang melihat sahabatnya langsung pergi berlari meninggalkan tempat langsung berlari pula mengikutinya seakan akan ia tau jika Altaf terlihat tergesa gesa dengan raut wajah khawatir berarti terjadi sesuatu dengan Queensa.