My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 93 - Extra Part (TAMAT)



7 bulan kemudian...


Asma terbangun saat putri nya merengek. Dengan mata yg masih terasa berat, ia pun bangkit dan mengecek apa yg membuat putri nya itu bangun. Bersamaan dengan itu, Bilal pun juga bangun.


"Ada apa, Sayang?" tanya Bilal sambil menguap dan bangun menghampiri istrinya.


"Mau ganti popok nya, sudah penuh. Maka nya Baby Maryam merengek"


Asma membuka popok putri nya dan ia memasangkan yg baru setelah membersihkan putri nya itu dengan tisue basah, sementara Bilal bangkit dan membuang popok nya ke tempat sampah.


Setelah itu, Asma mulai menyusui putri nya, Bilal duduk di belakang Asma, mengecup pundak Asma dengan begitu mesra, kemudian memijit pundak nya.


Asma tersenyum menerima perlakuan Bilal itu, karena setiap malam, bukan hanya Asma yg terjaga saat putri mereka bangun, tapi Bilal pun ikut bangun, membantu Asma sebisa nya, memijat nya, dan juga...


"Ummi...." Benar, putra mereka pun akan terjaga, Faraz mudah sekali terganggu tidur nya, sehingga saat Bilal dan Asma mengurus Maryam itu pasti akan menganggu tidur Faraz.


Jangan salahkan mereka, Faraz sendiri yg tak mau berpisah dari Ummi dan Abi nya dan selalu ingin tidur bersama mereka.


"Ya Sayang..." jawab Asma setengah berbisik karena Maryam yg perlahan mulai menutup matanya.


"Unyil bangun lagi?" Asma mengangguk sambil menyunggingkan senyum, apa lagi mendengar Faraz terus saja memanggil Maryam dengan Unyil.


"Sini, Nak. Tidur di pangkuan Abi" seru Bilal pada Faraz. Faraz pun meletakkan kepala nya di pangkuan ayah nya, dan Bilal mulai menepuk nepuk pelan punggung Faraz hingga perlahan Faraz kembali tertidur. Sementara Asma masih menyusui putri nya.


"Sayang..." panggil Asma pada suami nya "Aku kasian sama Faraz kalau bangun setiap malam begini, tidur nya jadi terganggu"


"Dia sendiri engga mau berpisah dan selalu ingin tidur bersama kita, lagi pula Faraz juga engga pernah mengeluh, dia merasa nyaman di sini"


"Ya juga, cuma aku kasian"


Asma melihat Maryam yg sudah berhenti menyusu, dan kini putri nya itu kembali tertidur pulas. Dengan sangat pelan pelan Asma meletakkan Maryam ke box bayi nya, mengecup kening nya dengan penuh kasih.


Asma menatap wajah Maryam yg sangat polos seperti malaikat kecil yg selalu bisa menghangatkan hati nya dan menghilangkan rasa lelahnya.


Bilal pun juga menidurkan Faraz di tengah ranjang, menyelimutinya dan mencium nya.


Kemudian ia pun berbaring dengan bersender ke kepala ranjang dan mengulurkan tangan nya pada Asma, Asma menyambut nya dan ia segera berbaring di pelukan Bilal dan meletakkan kepala nya di dada suami nya.


Bilal mencium pucuk kepala Asma, mendekap tubuh istri nya yg lebih berisi dan membuat nya tampak menggemaskan apa lagi pipi nya yg bulat.


Asma semakin mendekatkan tubuh lelah nya pada Bilal. Mengurus dua anak sungguh tidak mudah, Bilal ingin mempekerjakan Baby sitter namun Asma menolak. Dia ingin mengasuh anak anak nya sendiri, dan lagi pula ia tak memiliki aktifitas lain selain mengurus anak dan suami nya.


Asma juga ingin memastikan apa yg anaknya lakukan dalam pertumbuhan nya, apa yg anak anak nya dengar, lihat, dan terutama apa yg mereka konsumsi.


Asma ingin memastikan semua itu berjalan dengan baik, apa lagi Bilal ingin Sarfaraz dan Maryam jadi penghafal Al Quran, sehingga mereka tak boleh membiarkan anak anak nya mendengar dan melihat hal yg buruk, apa lagi mengkonsumsi hal yg syubhat, tidak jelas halal haram nya dan kesucian nya.


"Kamu pasti sangat lelah ya, Sayang?" tanya Bilal sambil mengusap ngusap punggung Asma dan sesekali memberikan pijatan yg lembut.


"Iya, tapi lelah ku seketika hilang saat melihat anak anak kita tersenyum dan tertawa" Asma melingkarkan tangan nya di pinggang Bilal.


"Aku merasa berdosa pada Ummi. Aku sudah sangat menyusahkan nya, membuat dia khawatir dengan tingkah bodoh ku, padahal dia mengurus ku dengan penuh kesulitan. Setiap kali aku merasa lelah, aku teringat pada Ummi, pasti itu juga yg dia rasakan saat merawat anak anak nya"


Sekali lagi Bilal mengecup kepala Asma dan berkata.


"Setiap ibu adalah malaikat bagi anak anak nya, dan setiap anak adalah anugerah bagi ibu nya. Memang sulit menjaga anak dan itulah yg membuat anak sangat berharga, karena semakin berharga yg kita miliki, semakin sulit pula kita menjaga nya"


"Kau benar, aku ingin pulang ke rumah Ummi, bagaimana kalau kita mengadakan acara 7 bulanan Maryam di sana? Dulu acara 7 bulanan Faraz sudah di sini"


"Itu ide yg bagus, Zahra. Aku akan segera mengatur kepulangan kita"


"Terimakasih, Sayang. Aku mencintai mu" Ucap Asma mengecup pipi Bilal membuat Bilal tersenyum senang.


"Aku yg berterima kasih, istri ku. Terima kasih sudah membuat hidup ku sempurna, terima kasih sudah memberikan seorang pangeran yg tampan dan putri yg cantik, dan aku juga mencintai mu, sangat mencintaimu" mendengar pujian suami nya itu Asma kembali merona, padahal sudah sering Bilal memuji nya seperti itu, dulu dia akan mengatakan Bilal lebay dan modus tapi sekarang dia merasa tersanjung, merasa di cintai dengan begitu sempurna.


"Sekarang tidurlah" Bilal memberikan kecupan selamat malam nya


Kemudian ia semakin mendekap tubuh istri nya, membuat istri nya merasa sangat nyaman dan dengan perlahan rasa kantuk pun tak bisa ia tahan.


Alam mimpi pun segera menyambut nya.


.


.


.


Bilal segera mengatur kepulangan nya, terlihat sekali Faraz jauh lebih senang dari pada Asma ketika Bilal mengatakan mereka akan pulang kampung.


Melakukan perjalan dengan dua anak tentu sangat merepotkan dan ada banyak barang yg harus di bawa. Namun dengan senang hati Bilal mengatur nya sehingga tidak membuat Asma kerepotan.


Bahkan Bilal tak keberatan saat harus membawa tas yg berisi pampers untuk putri nya ataupun cemilan untuk putra nya. Beruntungnya karena ia tak harus membawa susu karena Asma hanya ingin anak nya meminum ASI nya.


"Sayang, kalau capek tidur aja. Biar aku yg jagain Maryam" Bilal berkata sambil membantu Asma memasang seatbelt nya karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.


"Engga apa apa, kamu juga pasti lelah kan, setiap malam juga mengurus aku dan Maryam" jawab Asma kemudian Bilal bergantian memasang kan seatbelt Faraz yg duduk di dekat jendela dan ber kata


"Aku engga pernah merasa capek ketika harus mengurus kalian, justru aku sangat senang dan bahagia" Bilal meyakinkan itu membuat Asma tak bisa menahan senyum bahagia nya karena Bilal memang terlihat sangat bahagia.


Dan ya, Asma sungguh lelah sebenarnya. Sementara Maryam tertidur di gendongannya, ia pun menyandarkan kepala nya di bahu sang suami. Bilal mengecup kepalanya, melingkarkan tangannya di pundak istri nya.


"Tidurlah" ucap Bilal lembut sembari menepuk nepuk pelan pundak Asma.


Baru beberapa menit Asma tertidur, Maryam malah membuka mata dan tangannya meraba raba seolah mencari sesuatu, dengan cepat Faraz mengambil mainan nya dan memberikannya pada Maryam sebelum Maryam menangis dan mengganggu tidur ibunya.


Bilal pun ikut membantu dengan bermain main bersama Maryam hingga membuat putri nya itu tersenyum dan tertawa dengan sangat menggemaskan.


Namun tangan Maryam yg terus bergerak gerak akhirnya malah terkena pipi Asma dan membuat ibu nya itu langsung terbangun.


Dan pemandangan yg pertama kali ia lihat sangat menyenangkan, suami dan putra nya yg sedang bermain main bersama Maryam dan membuat Maryam terkikik lucu. Bahkan ia tertawa saat kakaknya menggoda nya, membuat Asma ikut tertawa senang.


"Padahal kami sudah berusaha supaya Maryam engga nangis dan menganggu tidur mu, eh dia malah nabokin pipi mu" ucap Bilal sembari mebcium gemas putri nya itu "Putri Abi malah ganggu tidur Ummi, ya. Hem kasian Ummi" ia berkata sambil terus mencium gemas seluruh wajah dan leher Maryam membuat Maryam semakin tertawa geli.


"Justru aku akan menyesal kalau aku engga bangun, karena aku engga akan bisa liat betapa menggemaskannya suami dan anak anak ku" ucap Asma kemudian ia juga mencium Faraz dan Maryam bergantian "Kenapa Faraz engga bangunin Ummi supaya kita bisa main bersama?"


"Faz kasian, Ummi capek. Ngantuk pasti" jawab Faz yg membuat Asma semakin gemas pada nya.


"Dia sangat pengertian, padahal masih kecil" sambung Bilal yg merasa bangga pada putra nya.


"Karena kamu mendidiknya dengan sangat baik, Sayang"


"Kita" jawab Bilal dengan cepat "Kita yg mendidiknya dengan baik. Tapi akan jadi seperti apa Faraz dan Maryam kelak, itu berkat kamu. Karena sungguh, pengaruh ibu jauh lebih besar dari pada ayah" Asma membenarkan apa yg di katakan Bilal. Karena itulah ia berusaha sebaik mungkin menjadi ibu yg baik sehingga anak anak nya akan tumbuh menjadi pribadi yg sangat baik.


Karena, anak adalah cerminan ibunya, tak selalu. Tapi ke banyakan, karena ibu adalah guru dan sekolah pertama anak anak nya.


Di bandara, keluarga Asma sudah menunggu Asma dan keluarga kecil nya, mereka menyambut Faraz dan Maryam dengan penuh kebahagiaan.


Faraz pun terlihat sangat senang, karena memang Faraz menyukai tinggal di desa yg katanya adem, dan Faraz suka saat Adil membawa nya kerumah Fatimah, dimana disana ia bisa melihat sapi sapi yg membajak tanah, anak anak yg bermain di atas rumput, mengejar layangan dan lain nya.


Asma merasa kini kehidupan nya sangat sempurna, memiliki suami yg sangat mencintainya seperti orang gila dan ia cintai seperti orang gila juga, dan juga anak anak yg sangat menggemaskan. Dan ia mengucapkan banyak terimakasih pada Khadijah, dimana kehidupan yg ia miliki sekarang berkat dirinya.


Dan ia juga ingin meminta maaf, karena telah menyakiti Khadijah dengan kata kata nya di malam itu, bahkan menuduhnya wanita egois dan sombong.


.


.


.


Bilal menggeliat saat merasakan sentuhan di pipi nya, dan saat membuka mata wajah meggemaskan putri nya menyambutnya.


"Ayo bangun, Bi. Hari ini acara 7 bulanan Maryam. Maryam akan nginjak tanah dan kemudian belajar berjalan" Asma berkata dengan suara kecil mewakili Maryam sembari menepuk nepukan tangan kecil Maryam ke wajah Bilal. Bilal pun menangkap tangan Maryam, mencium dan menggigitnya dengan gemas membuat Maryam cekikikan.


"Putri Abi wangi, sudah mandi ya sayang"


"Sudah" jawab Asma kembali mewakili putri nya yg masih cekikikan itu.


"Faraz dimana, Sayang?"


"Lagi main sama Rafa dan Afsana. Mandi gih. Acara nya sebentar lagi di mulai" Asma berkata sembari memakaikan minyak bayi ke tubuh Maryam kemudian memakaikan baju nya.


"Hubab sama Lita sudah datang?"


"Iya, dari tadi"


"Baiklah, aku mandi sebentar" jawab Bilal beranjak dari ranjang, mencium pelipis istri nya sebelum akhirnya bergegas ke kamar mandi.


.


.


.


Ummi Kulsum menggendong Maryam, kemudian membuat nya menginjak jadah dan bayi mungil itu malah menendang nendangkan kaki nya seolah ia ingin turun dari gendongan sang nenek, membuat semua orang begitu gemas yg melihat nya, tak terkecuali Bilal yg terus tersenyum lebar memperhatikan putrinya yg memang seperti unyil itu.


Setelah selesai, kini Maryam di dudukan dan di hadapannya terdapat beberapa barang yg di siapkan di talam, orang bilang itu untuk melihat akan seperti apa atau apa hobinya nanti. Dari buku, pensil, tasbih, jus amma, sisir, bahkan juga di letakkan selembar uang kertas dan lain sebagai nya. Dan yg pertama kali Maryam ambil adalah buku, kemudian ia mengambil tasbih dan memainkan manik manik itu membuat ia tertawa sendiri, apa lagi saat ia memukul mukulkan tasbih itu ke talam dan menimbulkan suara, membuat Maryam cekikikan, namun kemudian Maryam melemparkannya dan kini ia mengambil selembar uang kertas.


"Aduh, jangan sampai putri ku jadi mata duitan" celetuk Asma karena melihat Maryam memegang uang itu cukup lama. Bilal yg mendengar celetukan istri nya itu pun terkekeh pelan.


"Beli coklat... Coklat... Coklat" seru nya mengundang tawa semua yg ada di sana.


"Faraz Sayang, jangan di ambil, itu milik adik mu" Aisyah berkata pada keponakannya itu. Kemudian Faraz mengembalikan uang itu ke tangan Maryam, dan dengan sangat menggemaskan ia menghapus air mata Maryam.


"Kakak enda ambil, Unyil punya uang. Jangan nangis ya" ujar nya dan membuat semua orang tertawa bahkan tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi tembem Faraz.


Setelah serangkaian acara yg bahkan Asma sendiri sebenarnya tak begitu mengerti, akhirnya kini Maryam akan di turun kan untuk menginjak tanah.


"Jangan, kotor" seru Faraz ketika melihat abi nya akan membuat adiknya menginjak tanah.


"Engga apa apa, Sayang. Nanti kan bisa cuci kaki, biar adik Faraz juga bisa cepat berjalan. Jadi bisa lari larian nanti sama Faraz, iya kan?"


"Oooo" Faraz membulatkan bibir nya sambil menganggukan kepala nya berkali kali.


Bilal pun kini membuat Maryam menginjak tanah.


"Semoga bisa cepat berjalan ya, Nak. Kasian Ummi kalo gendong terus" Bilal mengangkat Maryam kembali. Kemudian mereka pun berdoa untuk putri Bilal itu.


Setelah semua selesai, Asma membawa Maryam ke kamarnya karena ia yakin Maryam pasti sudah lapar.


Asma menidurkan Maryam di ranjang kemudian di susul dirinya yang rebahan dengan posisi menyamping, saat hendak menyusui putrinya itu, tiba tiba terdengar pintu yg terbuka, saat Asma menoleh, ia mendapati suami nya yg sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.


Sejak hamil Faraz, Asma selalu bisa melihat kebahagiaan yg terpancar di mata suaminya, dan saat hamil Maryam, pancaran kebahagiaan itu semakin sempurna.


"Apa dia lapar?" tanya Bilal dan mencubit gemas putrinya.


"Sudah pasti" jawab Asma kemudian mulai menyusui Maryam.


Sementara Bilal, terus menerus ia menatap Asam dengan intens, membuat Asma salah tingkah dan ber pura pura tak tahu bahwa Bilal menatap nya.


"Sayang..." panggil Bilal mesra.


"Hem?" pandangan Asma tetap fokus pada Maryam.


"Kamu makin hari makin cantik" dan seketika gelak tawa Asma pecah.


"Yakin? Aku naik 10 kilo lho sejak hamil Maryam"


"Justru itu, makin cantik, bikin gemes" Bilal mencubit pipi Asma dengan gemas yg sekali lagi membuat Asma tertawa sekaligus heran dengan tingkah suami nya itu.


"Kamu kenapa sih? Kayak ada mau nya aja"


"Hehe. Aku kangen" ucapnya manja dan Asma pun sudah bisa menebak apa isi otak suami nya itu "Malam ini ya, titip Faraz sama Ummi. Bilang aja Faraz mau tidur sama kakek neneknya"


"Kamu ini ya, bener bener...."


Ucapan Asma terhenti saat terdengar suara Faraz yg menangis di luar.


"Biar aku yg liatin Faraz, kamu tidurin Maryam" Asma mengangguk dan Bilal pun segera meninggalkannya.


Di luar, Faraz menangis keras sambil memegang tangan Afsana yg di gendong Lita.


"Ada apa, Ta?" tanya nya


"Faraz nangis gara gara Rafa cium Afsana" jawab Lita sambil tertawa kecil.


"Lho kenapa? Afsana kan juga adik nya Rafa, Sayang"


"Enda mau, adik Faz aja. Hua..."


"Uh putra Abi engga boleh begitu" Bilal mengangkat tubuh Faraz dan menggendong nya "Faraz kan sudah punya Maryam"


"Mau Ana... Hiks hiks" jawab Faraz sambil mengucek matanya dengan punggung tangannya yg bebas, sementara tangannya yg lain masih enggan melepaskan tangan Afsana


"Ya sudah, kalau gitu Unyil kasih Kak Rafa aja" Sambung Lita sambil berusaha melepaskan tangan Afsana dari tangan Faraz, karena putri nya itu juga sudah akan menangis.


"Enda mau... Adik Faz semua"


"Ya Allah, rakus juga" celetuk Lita yg seketika membuat Bilal terkekeh.


"Faraz sudah nangisnya" sambung Rafa "Faraz, Ana dan Unyil sama sama adik Kak Rafa, sudah ya"


"Tuh dengarkan, Sayang. Kak Rafa sayang kalian semua" tutur Bilal dan syukurlah Faraz mengangguk dan langsung menghentikan tangis nya, Faraz pun merebahkan kepalanya di pundak Bilal dan melingkarkan tangan nya di leher Bilal.


"Mau bobok" ucapnya kemudian, membuat Lita tertawa.


"Bakal kayak ibunya neh anak. Drama" gumam Lita sambil tertawa geli.


Bilal pun membawa Faraz ke kamarnya, dan terlihat Asma yg sudah menidurkan Maryam.


"Ada apa? Kenapa dia nangis sampai nyaring begitu" tanya Asma sambil menyelimuti tubuh Maryam.


"Dia marah karena Rafa cium Afsana" jawab Bilal dan juga menidurkan Faraz di samping Maryam.


"Ya Allah. Masih kecil juga, udah cemburuan. Persis bapak nya" Bilal langsung tertawa karena memang benar apa yg di katakana istri nya itu.


"Ibunya juga kali, posesif lagi"


"Ya karena kamu suami ku" jawab Asma kemudian ia menepuk nepuk punggung Faraz dan perlahan putra nya itu pun menutup mata hingga terdengar dengkuran halus yg menandakan ia sudah terlelap.


.


.


.


"Bilal..."


"Hem" jawab Bilal sembari mengecup jari jari istrinya yg saat ini sedang bergelanyut manja di pelukannya.


"Bagaiamana rasanya saat kau jatuh cinta pada ku? Dan bagiamana kamu tahu bahwa itu adalah cinta?" tanya Asma dan semakin mendesakan tubuhnya pada tubuh Bilal.


Malam yg sepi dan dingin, tentu ini akan menjadi saat yg sangat menyenangkan bagi ia dan suami nya untuk memadu kasih.


"Entahlah, yg aku tahu aku tidak bisa melupakan mu, saat aku menutup mata, bayangan mu selalu muncul dalam benakku, membuat aku tidak bisa tidur, jantung ku berdebar setiap kali mengingat mu, atau dekat dengan mu" Asma mengulum senyum dan terbayang kembali saat saat pertama kali ia mengenal suaminya yg ia anggap guru privat nya.


"Dan bagaiamana dengan mu, Sayang? Bagaiamana rasanya saat kau jatuh cinta pada ku? Dan bagaimana kau tahu bahwa itu cinta?"


"Aku juga menanyakan hal yg sama selama ini, aku juga bertanya tanya, sejak kapan sebenarnya aku jatuh cinta pada mu"


"Jadi sejak kapan?" Bilal bertanya dengan antusias.


"Jika ciri ciri yg kau katakan tadi adalah cinta, maka..." Asma mendongak, dan Bilal pun menunduk sehingga tatapan kedua nya bertemu "Aku sudah jatuh cinta sejak lama, sejak aku tidak tahu hubungan kita" Asma berkata lirih. Dan Bilal kini menatap nya penuh tanda tanya.


"Maksud mu?"


"Saat kamu dekat dengan ku untuk membantuku belajar, sebenernya saat itu jantung ku juga berdebar, tapi aku fikir mungkin karena aku minum kopi, aku bahkan menanyakan itu pada Kak Adil. Aku juga berfikir mungkin aku gugup menunggu kelulusan" Bilal terkekeh dengan kepolosan istri nya, membuat Asma tersipu malu.


"Lalu?"


"Lalu.. Aku juga sering memikirkan mu, bahkan saat menutup mata untuk menghafal, malah wajah mu yg muncul dalam otak ku. Aku jadi tidak fokus untuk menghafal" jawab Asma malu malu dan mengingat saat pertama kali ia merasakan jantung nya berdebar karena Bilal. Sungguh ia tak tahu jika itu cinta.


"Jadi?"


"Jadi apa?"


"Kau mencintai ku sejak saat itu?"


"Mana aku tahu. Yg aku tahu itu yg aku rasakan dulu"


"Wah, Sayang. Rupa nya kamu mencintai ku diam diam ya. Dan kenapa kamu baru memberi tahu ku sekarang? "


"Entahlah, hanya saja aku teringat masa lalu kita saat menjadi murid dan guru"


"Maaf ya, dulu aku sering menyakitimu, selalu bertengkar dan membuat mu menangis" Bilal berkata dengan sangat serius, kemudian ia mengecup mesra istrinya dan di balas dengan kecupan mesra pula.


"Itu salah ku, yg tidak bisa membuka mata hati ku, tapi ya... dulu memang menyakitkan, apa lagi ada kecemburuan yg sulit di tahan"


"Dan sekarang aku hanya milikmu, Zahra. Milik mu dan milik anak anak kita" Asma mengulum senyum dan mengecup rahang Bilal yg masih meninggalkan bekas luka.


"Dan kami juga milikmu, hanya milik mu. I Love you, Bilal. My Husband"


"I love you more, Zahra. My lovely wife"


▪️▪️▪️


...T A M A T...


But true love never ends...



Hubungi SkySal untuk info pemesanan ya. (085648506782)