My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 49



Bilal sunggyh melakukan apa yg dinginkan nya, setiap hari ia selalu mengantar Asma ke sekolah, menjemput nya di sore hari, tak pernah lagi lembur dan lebih memilih membawa pekerjaannya kerumah agar tetap bisa bersama istri mudanya itu, dan sebisa mungkin Bilal menghindari hal yg bisa memicu perdebatan dengan istri nya.


Bilal mengatakan banyak hal pada Asma jika sudah berangkat nanti, seperti harus jaga diri, harus selalu memegang ponsel nya, jika ada apa apa harus segera memberi tahu Ummi dan Abi nya, dan yg membuat Asma tak habis fikir Bilal mengatakan jika Ummi nya mengajak Asma ke suatu tempat atau pergi ke undangan, Bilal melarang Asma menggunakan riasan dan meminta mengenakan cadar, dan ia harus selalu berada di sisi Ummi nya. Tidak boleh pergi tanpa pamit, tidak boleh berbicara dengan orang yg tidak di kenal dan itu membuat Asma merasa seperti anak TK yg di beri wejangan oleh ibunya sebelum berangkat ke sekolah.


Bilal selalu menghitung hari ke berangkatannya hingga tinggal satu hari lagi.


Dan seperti biasa, sore ini ia sedang menunggu istri nya yg masih berada dalam kelas padahal pelajaran sudah usai. Tak lama kemudia Asma terlihat keluar dari kelas nya dan Bilal langsung menyambut nya.


"Hey, Sayang. Gimana pelajaran hari ini?" tanya nya sembari melingkarkan tangannya di pundak Asma dan menggiring Asma ke mobil nya.


"Seperti biasa" jawab Asma.


"Besok aku sudah berangkat" ucap Bilal sedih


"Aku tahu" Asma menjawab nya dengan senyuman. Dan kedekatan nya dengan Bilal selama seminggu ini, benar benar menimbulkan rasa yg sangat indah dalam hati Asma. Apa lagi tanpa perdebatan yg berakhir dengan air mata Asma, Bilal selalu memperhatikan nya, bahkan sering juga ia membantu Asma mengeringkan rambut nya, membantu Asma belajar dan menyelesaikan tugasnya.


"Engga usah sedih gitu, kalau emang kangen sama aku yg imut imut ini ya tinggal video call" ucap Asma yg membuat Bilal kembali tersenyum.


"Kata siapa kamu imut imut?" tanya Bilal sembari menjalankan mobil nya.


"Kata Ummi dan Abi. Kamu juga membuktikan hal itu benar" ujar Asma sambil menatap pria yg sudah mulai ia cintai itu. Dalam hati Asma juga terasa berat jika harus berpisah dari suami nya itu.


"Maksud nya? Bagaimana cara ku membuktikan nya" tanya Bilal tak mengerti.


"Ya buktinya, kamu langsung jatuh cinta sama aku hanya dengan sekali pandang. Orang bilang love at first sight. Engga heran sih, aku emang imut, manis,cantik, ya kan?" goda Asma yg kembali membuat suaminya itu tertawa.


"Engga, kamu itu tembem, suka cemberut, sering lawan suami, ya engga cantik dong kalau begitu" balas Bilal yg membuat Asma mencebikkan bibirnya namun keduanya tertawa kemudian.


Sesampainya di rumah, Bilal langsung memarkirkan mobil nya kemudian ia dan Asma turun dari mobil, terlihat Khadijah yg tampak nya memang menunggu suami nya itu.


"Ada apa?" tanya Bilal.


"Engga, cuma mau tanya, Mas Bilal sudah packing semua nya? Engga ada yg tertinggal, kan?" tanya Khadijah sembari berjalan masuk bersama Asma dan Bilal.


"Ada" jawab Bilal


"Apa?" tanya Khadijah. Kemudian Bilal menarik Asma dan mengecup pipi nya dengan gemas di depan Khadijah.


"Istri ku, Zahra ku" Asma mendorong Bilal dengan paksa dan ia terlihat merona, kemudian Asma segera bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sementara Khadijah, berusaha menahan api cemburu yg semakin membara dalam hatinya, apa lagi dia melihat dalam seminggu ini suami dan madu nya itu sangat dekat. Terkadang Khadijah merasa dia adalah wanita jahat dan egois, karena masih menyimpan rasa cemburu itu dan terkadang menjelma menjadi sebuah kemarahan yg ia pendam, namun Khadijah berusaha tidak bertindak akan sesuatu hal berdasarkan kecemburuan nya itu. Ia masih menahan diri, apa lagi setiap kali ia curhat pada Mila betapa tersiksa nya ia menahan cemburu itu, Mila selalu mengingatkan Khadijah, bahwa itu adalah keputusan dirinya sendiri, dan Khadijah harus menjalani apa yg sudah dia putuskan dalam hidupnya. Mila berpesan agar Khadijah tidak melakukan hal buruk yg bisa menodai niat suci nya untuk membahagiakan Suami nya.


.


.


.


"Sayang..." panggil Bilal pada Asma yg kini terlelap dalam pelukan nya, padahal baru jam 10 lewat, tapi Asma sudah tampak tertidur lelap. Malam ini adalah malam terkahir bersama Zahra nya. Bilal ingin terus memeluknya dan memandang wajahnya.


Bilal membelai pipi Asma dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan nya berada di bawah kepala Asma dan menjadi bantalan istri keduanya itu. Saat fokus memandangi wajah istri nya yg memang imut dan manis, dering ponsel Bilal mengagetkan nya, ia pun segera meraih nya dengan tangannya yg bebas dan Bilal mengernyit bingung karena yg menelpon adalah Khadijah.


"Ada apa, Khadijah ?" tanya Bilal setengah berbisik agar tak menggangu kekasih hati nya yg sedang terlelap itu.


"Mas, obat ku ketinggalan di rumah Ummi. Malam ini aku belum minum obat, bisa minta tolong ambilkan kesana engga?" tanya Khadijah dari seberang telepon.


"Oh iya, tunggu sebentar" jawab Bilal kemudian mematikan sambungan telepon nya, namun saat ia menatap Zahra nya yg masih berada dalam pelukannya, Bilal tak ingin meninggalkan nya. Ia pun berfikir mungkin ada seseorang yg bisa mengantarkan obat Khadijah dan Bilal segera menelpon ibu nya


"Ada apa, Bilal?" tanya sang ibu setelah menjawab telpon Bilal.


"Ummi maaf ganggu, kata Khadijah obat dia ketinggalan di sana, bisa minta seseorang mengantarkan nya kerumah?" pinta Bilal masih dengan suara berbisik.


"Oh, bisa. Tapi kenapa kamu engga ambil sendiri? Ini masih belum terlalu malam"


"Zahra lagi tidur, Ummi. Kalau aku gerak nanti dia bangun, aku juga engga mau ninggalin dia" ucap Bilal sejujur nya.


"Hah?" seru ibunya seolah tak mengerti maksud Bilal namun kemudian terdengar suara tawa kecil ibunya. "Oh, iya. Di mengerti, Nak. Jadi karena itulah kamu bicaranya bisik bisik, ya?" Bilal mengulum senyum menyadari apa yg pasti di fikirkan Ummi nya saat ini "Ya sudah, jaga Zahra mu ya, jangan sampai terganggu tidurnya" ucap Ummi nya kemudian memutuskan sambungan telepon nya.


"Engga usah ngomong kayak gitu juga kali sama Ummi. Jujur amat" Ucap Asma tiba tiba yg membuat Bilal terkejut.


"Kamu belum tidur?" tanya nya sambil kembali meletakkan ponsel nya.


"Bangun tadi saat ponsel mu bunyi" ucap Asma berbohong, karena ia memang tidak tidur, ia hanya memejamkan mata, ia bahkan juga tau yg menelpon itu adalah Khadijah, Asma senang karena Bilal tidak meninggalkan nya untuk Khadijah. Asma pun semakin mengeratkan pelukannya dan menyelundupkan wajahnya di dada Bilal. Bilal senang dengan Asma yg sudah bersikap layak nya istri yg rindu dengan pelukan suami ny, Bilal pun mendekap Asma dan menghujani pucuk kepala Asma dengan kecupan kecupan mesra.


"Bilal..." panggil Asma pelan.


"Hmmm" Bilal menjawabnya dengan gumaman "Zahra... apa kamu masih marah?" tanya Bilal kemudian yg membuat Asma mengernyit bingung.


"Marah kenapa?" tanya nya masih menyembunyikan wajahnya di dada Bilal.


"Kamu masih memanggil ku 'Bilal', Apa kamu marah?" tanya Bilal yg tiba tiba ingat pertama kali Asma mengucapkan namanya tanpa embel embel apapun karena dia sangat marah.


"Engga, terus aku harus panggil apa? Ustadz?" tanya Asma sambil tertawa kecil.


"Ya jangan, Sayang. Aku kan suami mu, kamu bisa memanggil ku dengan nama panggilan yg lain, yg lebih romantis gitu" Asma mendongak dan ia menatap Bilal yg juga menatapnya saat ini. Tiba tiba tangan Asma terangkat dan menutup mata Bilal kemudian ia memberikan kecupan kecil di sudut bibir Bilal dan berbisik di telinganya.


Itu sama sekali bukan Asma yg dia kenal, tapi.... mungkin ya, dia adalah Zahra istri nya.


Bilal mencoba menyingkirkan tangan Asma dari matanya karena ia ingin menatap mata Zahra nya saat ini, ia juga ingin menciumnya namun Asma tak mau melepaskan tangannya.


Sementara Asma... Gadis itu juga tampak terkejut dengan apa yg sudah di dilakukannya, ia sendiri tak tahu dari mana ia mendapatkan keberanian itu untuk menggoda suami nya. Asma meringis, berfikir entah bagaimana sekarang dia bisa menatap mata Bilal.


"Tamatlah riwayatku" gumam Asma yg masih tetap menutup mata Bilal.


"Zahra, lepaskan tangan mu, Sayang" pinta Bilal dengan suara serak. Asma memutar otak nya mencari cara bagaimana bisa menghindari suami nya itu sekarang.


Dan dengan lugu nya, Asma kembali menyembunyikan wajahnya di dada Bilal sebelum akhirnya ia melepaskan tangannya. Asma tak bergerak dan tak bersuara sedikitpun, ia menutup matanya rapat rapat. Seandainya ia bisa menghilang dari pelukan Bilal saat ini, fikir nya. Setelah Asma melepaskan tangannya, Bilal segera mendorong pundak Asma agar ia bisa menatap wajah istri nya, namun istri nya itu tak bergeming membuat Bilal gemas padanya.


"Ck, ayo tatap aku, Zahra. kamuY harus bertanggung jawab karena sudah menggoda suami mu" mendengar itu, Asma hanya bisa meringis.


"Aku engga sengaja melakukan nya" jawab Asma dengan polos nya namun ia masih enggan menatap Bilal.


"Oh ya? Mana mungkin orang engga sengaja mencium suami nya dan menggodanya" goda Bilal sambil menahan senyum.


"Beneran"


"Ternyata nakal kamu ya..." seru Bilal sambil menggelitik Asma, yg berhasil membuat Asma menjerit tertawa dan melepaskan pelukannya.


"Dasar gadis nakal, kamu harus tanggung jawab atas perbuatan mu" seru Bilal. Sungguh , apa yg sudah Asma lakukan sebenarnya sudah membangunkan jiwa laki laki nya. Tapi....


"Maaf.. haha..Aduh... Bilal...udah.. maaf. Hehe haha" seru Asma di sela sela tawa nya.


Saat Asma mengucapkan namanya, yg memang terdengar romantis dan seksi di telinga Bilal, Bilal langsung berhenti menggelitik Asma dan ia menatap Asma sangat intens. Membuat hati Asma kembali meleleh dengan tatapan itu.


Bilal mengelus pipi Asma dengan mesra kemudian mencium kening nya, dan ia berbisik di telinga Asma


"Cintai aku, Zahra. Dan jadilah istri ku, ku mohon"


.


.


.


Setelah berpamitan pada keluarga nya, Bilal dan Khadijah langsung pergi menuju bandara, Mukhlis dan Abi nya mengantar mereka begitu juga dengan Asma, Asma dan Bilal satu mobil dengan kakak dan Abi nya, sementara Khadijah lebih memilih satu mobil bersama Hubab karena Hubab juga ingin mengantar nya.


Di sepanjang perjalanan, Bilal tak sedetik pun melepaskan tangan Asma dari genggamannya dan sesekali ia mengecup tangan kecil istri nya itu, tak peduli Asma yg protes dan mencoba menarik tangannya karena Asma merasa di perhatikan oleh Kakak ipar dan ayah mertua nya.


Semenatara Mukhlis yg sedang menyetir juga sesekali melirik kelakuan adik nya itu dari kaca mobil begitu juga dengan Kiai Khalil.


"Abi engga nyangka adek mu itu lebay ternyata" ucap Kiai Khalil pada Mukhlis.


"Putra Abi tuh" ucap Mukhlis. Bilal yg mendengar itu tak peduli kini ia malah semakin mendekatkan dirinya pada Zahra nya.


"Bilal, kamu tahu engga? Dulu Abi sama Ummi juga sering berpisah, dan dulu tuh engga ada hp seperti sekarang yg bisa video call kapan pun dan dimana pun saat kangen, kami hanya berkirim surat itu pun masih menunggu beberpa hari. Tapi Abi engga se lebay kamu" Bilal hanya mengulum senyum mendengar penuturan Abi nya itu.


"Bilal tuh sudah bucin sama Asma, Bi" sela Mukhlis.


"Bucin bagaimana?" tanya Abi nya yg tak mengerti bahasa gaul.


"Bucin, budak cinta" jawab Mukhlis yg langsung membuat Abi nya mengucapkan istighfar.


"Astaghfirullah..." Bilal tertawa melihat reaksi nya itu. Semenatara Asma hanya bisa menahan malu.


Sementara di mobil yg lain, Hubab sedang memotivasi Khadijah agar tetap semangat dan terus berdoa, Hubab yakin kemo itu akan membuahkan hasil. Khadijah mengucapkan terimakasih karena Hubab selalu mendukung nya sejak kecil.


Sesampai di bandara, Bilal kembali memeluk istri kecil nya itu sebelum ia check in. Ia memeluk istri nya itu sangat erat dan mencium pipi nya kanan kiri. Membuat Asma menjadi salah tingkah.


"Telpon aku jika kamu membutuhkan ku, oke? Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak nonton film, harus tetap belajar dengan serius, dan ya, jangan keluar rumah sendirian lagi, dan jangan pergi tanpa pamit"


Asma hanya bisa mengangguk mendengar nasehat yg sama selama satu minggu terkahir ini. Sementara yg lain hanya bisa geleng geleng kepala dengan sifat protektif Bilal.


"Apa Abi juga begitu setiap kali mau pergi dan berpisah dengan Ummi?" bisik Mukhlis.


"Iya, tapi engga berlebihan seperti Bilal" jawab Kiai Khalil.


"Mungkin Abi engga mencintai Ummi seperti Bilal mencintai Asma" ucap Mukhlis yg langsung mendapatkan tabokan kecil di pipi nya itu.


"Mulut mu itu, Abi bahkan lebih mencintai Ummi mu itu lebih dari diri Abi sendiri. Dan kalau Abi engga cinta, mana mungkin kalian lahir dengan wajah tampan dan cantik seperti Shofia"


"Jadi kami tampan dan Shofia cantik karena Abi mencintai Ummi?"


"Ya iyalah, apapun yg terlahir karena cinta akan selalu indah" Mukhlis menaikan sebelah alisnya, tak menyangka Abi nya puitis juga fikir nya.


"Mas, sudah saatnya check in" seru Khadijah. Bilal dan Khadijah pun masuk untuk check in. Walaupun sesekali Bilal masih menoleh seolah masih ingin menatap Asma dan enggan berpisah. Asma melambaikan tangannya dan tersenyum manis pada suami nya itu.


▪️▪️▪️


Tbc...