My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 40



Sudah tiga hari Khadijah di rawat di rumah sakit, dan sudah tiga hari juga Asma tinggal bersama keluarga Bilal. Terkadang Bilal menyempatkan sedikit waktu nya untuk menemui Asma, Asma tidak masalah dengan itu, dia senang di asrama dan menghabiskan waktu bersama teman teman nya dan tidur di kamar asrama Nora, ia merasa menjadi santri normal. Namun terkadang, ia merindukan saat saat bersama Bilal, biasanya ia tidur dalam pelukan Bilal meskipun ia selalu mencoba melepaskan diri, biasanya ia mendapatkan kecupan hangat sebelum tertidur yg membuat Asma merasa kesal. Namun saat ia tak mendapatkan itu semua, ia merasa menginginkan nya, sangat menginginkan nya. Asma berharap besok mereka benar benar pulang.


Dirumah sakit, Bilal terus memikirkan Zahra nya. Dia rindu memeluk dan mengecup nya, dia rindu perdebatan kecil keduanya. Ingin sekali rasanya dia berlari pulang dan menarik Zahra nya kedalam pelukan nya, mengecup nya hingga rasa rindu nya terobati. Namun Khadijah tak ingin di tinggal, Khadijah meminta Bilal selalu menemani nya.


"Mas...." Panggil Khadijah yg melihat Bilal uring uringan di sofa. Bilal segera bangun dan menghampiri Khadijah.


"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Khadijah mengangguk " Apa?"


"Kamu, aku butuh kamu" jawab Khadijah


"Aku disini" Bilal membelai pipi Khadijah dengan sayang. Namun Khadijah tahu, hanya raga Bilal yg ada bersama nya, sementara hati dan fikirannya pasti sudah di penuhi Asma.


"Aku rindu pelukan mu, Mas. Boleh malam ini aku tidur di pelukan mu?" Khadijah berkata sembari sedikit menggeser tubuh nya, Bilal pun ikut naik ke atas bangsal dan memeluk Khadijah di tempat yg sempit itu.


"Tentu saja boleh" jawab Bilal sembari mengeratkan pelukannya.


.


.


.


Ke esokan hari nya Setelah jam pelajaran nya usai, Asma berusaha menghubungi Bilal namun tak ada jawaban, padahal Asma hanya ingin di antarkan kunci rumah nya, Asma ingin mengambil barang barang nya, selain itu seharusnya Bi Mina hari ini sudah kembali. Karena tak ada jawaban dari Bilal, Asma pun memutuskan menyusul kerumah sakit dengan naik taksi. Dan kebetulan sekali, Mila juga ingin mengunjungi Khadijah, jadi mereka bersama sama pergi kerumah sakit.


Sesampai nya di rumah sakit, mereka bergegas menuju kamar Khadijah, dan tanpa sengaja mereka mendengar Dokter Fina mengatakan Khadijah sudah boleh pulang.


"Assalamualaikum..." ucap Mila yg langsung di sambut oleh Khadijah.


"Waalaikumsalam, Mila. Asma, kamu kesini juga?" tanya Khadijah yg melihat Asma muncul mengikuti Mila.


"Iya Mbak, tadi nya mau minta Kunci rumah, tapi aku dengar tadi kata Dokter, Mbak sudah boleh pulang, jadi aku fikir kenapa kita engga pulang bareng aja" tutur Asma, namun Khadijah segera membantah Asma.


"Aku belum boleh pulang, Asma. Tadi maksud Dokter itu...aku boleh pulang saat aku merasa lebih baik" tutur Khadijah yg membuat Asma dan Mila mengernyit bingung, karena mereka fikir tak mungkin mereka salah dengar.


"Oh... begitu" seru Asma pelan dan tampak meragukan Khadijah. Sementara Mila menatap tak percaya pada Khadijah, ia berfikir Khadijah berbohong.


Dan tanpa sengaja, Asma melihat ponsel Bilal berada di atas meja di samping bangsal Khadijah, ia pun mengambil nya.


"Hp Mas Bilal ketinggalan, Asma. Tadi dia buru buru" ucap Khadijah.


"Pantas aku menelepon nya berkali kali engga ada jawaban, apa Mbak engga dengar ponsel nya berdering?"


"Engga, mungkin di silent" jawab Khadijah, Asma menyalakan hp suami nya itu dan memeriksa nya. Namun ia bingung karena setelah dirinya, ada panggilan masuk dari Hubab. Setelah di periksa, hp nya jug tidak dalam mode silent. Asma menatap bingung pada Khadijah kenapa ia berbohong, namun Asma tak berani berkata apapun.


Hingga kemudia pintu terbuka dan Hubab datang. Melihat Asma, Hubab tampak terkejut, namun ia segera menetralkan ekspresi nya.


"Hubab, kamu mau jagain Khadijah?" tanya Mila.


"Engga, Mil. Aku kesini untuk mengambil hp Bilal yg tertinggal, dia lagi ada pertemuan dengan investor kami, jadi dia menyuruh ku" jawab Hubab.


"Apa aku boleh ikut kamu ke kantor?" tanya Asma tiba tiba.


"Untuk apa, Asma?" tanya Khadijah "Biar Hubab nanti mengantar kunci nya kesini ya"


"Engga usah, kasian dia bolak balik, nanti dari kantor aku bisa naik taksi pulang kerumah" jawab Asma pada Khadijah. Kemudian ia menatap Hubab dan berkata "Ponsel nya nya ada bersama ku, ayo kita pergi" Asma memasukan ponsel Bilal ke dalam ransel nya, kemudian tanpa menunggu jawaban Khadijah, Asma berjalan keluar yg segera di ikuti Hubab.


"Khadijah..." seru Mila sembari duduk di kursi "Aku engga mungkin salah dengar tadi, Dokter mengatakan kamu sudah boleh pulang, dan aku lihat ekspresi Asma tadi saat memeriksa ponsel Bilal, kamu tahu Asma menelpon nya kan?"


"Mila, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu... aku hanya..."


"Jadi kamu sengaja engga jawab panggilan Asma?"


"Mil" seru Khadijah sedikit kesal "Aku butuh suami ku, bahkan saat Mas Bilal seharusnya menjaga ku disini, dia masih memikirkan dan mengkhawatirkan Asma. Aku tidak bisa meminta cinta nya untuk ku, jadi setidak nya aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan nya. Hanya dirumah sakit ini Mas Bilal bisa berada di samping ku tanpa harus membagi waktu bersama Asma"


"Tapi apa seperti ini cara nya?" tanya Mila dengan nada tak percaya, ia tampak kecewa dengan tindakan sahabat nya itu "Asma juga membutuhkan suami nya, Khadijah. Dia punya hak yg sama besar seperti kamu terhadap Bilal"


"Dia mendapatkan hak yg lebih banyak dari ku, Mil"


"Apa maksud mu? Aku yakin Bilal berbuat adil terhadap kalian berdua, dan sampai sekarang, Bilal tetap memperlakukan mu dengan sangat baik, kan? Tidak ada perubahan sedikit pun dalam dirinya terhadap mu"


"Aku tahu itu, tapi tetap saja aku merasa di perlakuan berbeda. Mas Bilal memperlakukan Asma dengan penuh cinta, aku tahu aku engga boleh iri apa lagi benci, tapi terkadang aku merasa engga sanggup melihat nya" khadijah berkata dengan mata yg berkaca kaca.


"Bukannya itu alasan mu meminta Bilal menikahi Asma? Karena Bilal mencintai nya, iya kan?" Khadijah hanya bisa terdiam karena memang benar apa yg di katakan Mila "Kamu harus selalu ingat, Khadijah, baik Bilal apa lagi Asma, mereka tidak pernah menginginkan pernikahan mereka. Kamu lah yg menyatukan mereka, Khadijah. Gadis kecil itu bahkan harus memilih antara kehidupan yg dia inginkan atau perasaan kedua orang tuanya, tak hanya itu, dia harus kehilangan masa remaja nya dan menjadi bahan pembicaraan teman teman nya sendiri. Kamu sudah berbuat terlalu banyak dalam hidup Asma, Khadijah"


Khadijah tak kuasa menahan air mata nya mendengar kata kata Mila, karena semua itu memang benar. Ia merasa menjadi wanita egois, tapi ia juga merasa tak sanggup lagi menahan kecemburuan di hati nya.


"Aku sama sekali engga ada niat jahat sama Asma, Mil. Dia gadis yg manis dan baik, dan jauh dalam hati ku, aku menyayangi nya. Hanya saja, setiap kali aku melihat bagaimana Mas Bilal memperlakukan nya dengan penuh cinta, aku merasa iri dan cemburu. Aku sudah mendampingi Mas Bilal dan mencintai nya sepenuh hati selama 10 tahun, dan tak pernah sekalipun Mas Bilal memperlakukan ku seperti memperlakukan Asma" melihat sahabat nya yg patah hati dan menangis, Mila segera memeluk nya. namunt baginya tetap saja yg di lakukan Khadijah itu salah.


"Kamu menjalani apa yg sudah kamu putuskan sebelum nya, Khadijah. Bilal sudah berusaha menjaga hati mu dengan tidak menerima perjodohan yg kamu lakukan dengan teman mu, dia juga tidak memberi tahu mu tentang cinta nya. Tapi kamu sendiri yg membuat hati mu terluka"


"Aku bisa mengerti perasaan mu, tapi kamu sudah melangkah terlalu jauh, kamu harus bisa bertahan. Dan ingat, jangan pernah mencoba mengambil hak Asma. Kasian gadis itu, Khadijah"


.


.


.


Asma masih tak habis fikir kenapa Khadijah berbohong, namun ia mencoba mengabaikan hal itu. Di sepanjang perjalanan, tak sedikit pun dia membuka mulut nya untuk berbicara. Sementara Hubab, pria itu sesekali mencuri pandang pada Asma yg sejak tadi membuang pandangan nya ke luar, begitu dekat dengan Asma seperti ini, membuat adrenalin nya berpacu,


"Astaghfirullah..."Hubab segera berusaha kembali pada ke warasannya dan mengingat kan diri nya sendiri, wanita yg duduk di samping nya ini adalah istri dari saudara nya.


Sesampai nya di kantor Bilal, Hubab membawa Asma masuk ke dalam ruangan Bilal.


"Mungkin sebentar lagi pertemuan Bilal selesai, kamu tunggu saja di sini"


"Terima kasih" ucap Asma tanpa menatap Hubab.


"Sama sama. Oh ya, kamu mau teh, kopi, atau sesuatu yg lain?" Hubab bertanya. Asma melihat ada segelas air di meja kerja suami nya.


"Apa itu punya suami ku?" tanya Asma menujuk gelas itu. Mendengar Asma mengucapkan kata Suami, entah kenapa hati Hubab seperti di cubit.


"Iya" jawab Hubab akhir nya mencoba menenangkan perasaannya.


"Aku minum yg itu saja" seru Asma kemudian. Hubab pun segera keluar dari ruangan Bilal dengan jantung yg berdegup kencang.


Di dalam, Asma melihat lihat ruangan kerja Bilal, dan tak lama kemduian, ia mendengar suara pintu yg terbuka, Bilal masuk dengan wajah sumringah melihat kekasih hati nya. Ia melangkah cepat dan segera memeluk Zahra nya.


"Zahra..." Gumamnya. Seolah ia sudah terpisah puluhan tahun, Asma tak menolak pelukan Bilal seperti biasanya, kini ia juga melingkarkan tangan mungil nya di punggung Bilal, ia juga merindukan nya, Asma menghirup aroma maskulin Bilal yg ia rindukan.


"Sayang, kata Hubab kamu kesini untuk mengambil kunci rumah" seru Bilal sembari melepaskan pelukan nya.


"Hmm, tadi aku fikir untuk mengambil beberapa barang ku"


"Nanti kita pulang bareng ya, besok Bi Mina juga akan kembali"


"Ya, baiklah. Oh ya, ini ponsel mu" Asma berkata sembari mengeluarkan ponsel Bilal dari ransel nya dan menyerahkan nya pada Bilal. Bilal mengecek ponsel nya dan ia terlihat terkejut melihat panggilan tak terjawab dari Asma.


"Kamu menelpon ku berkali kali" gumam Bilal.


"Iya, tadi nya aku mau minta anterin kunci ke rumah Ummi"


"Maaf, Sayang. Karena buru buru aku lupa membawa ponsel ku"


"Engga apa apa" jawab Asma "Emm boleh aku bertanya?" tanya nya kemudian.


"Tentu, mau tanya apa?"


"Dokter bilang kapan Mbak Khadijah boleh pulang?" tanya Asma ragu ragu. Ia masih penasaran apakah ia memang salah dengar saat di rumah sakit tadi.


"Khadijah bilang Dokter belum memperbolehkan nya pulang, mungkin satu atau dua hari lagi" Asma tampak kecewa mendengar jawaban Bilal, Itu artinya Khadijah juga membohongi Bilal. Melihat istri nya yg terdiam dan tampak memikirkan sesuatu, Bilal pun bertanya "Ada apa, Zahra? Apa ada masalah? Atau kamu engga betah ya di rumah Ummi?" Asma menyunggingkan senyum samar nya.


"Bukan, aku senang kok di sana, hanya saja tadi aku sempat dengar..." Asma berfikir mungkin sebaik nya dia tidak mengungkit hal itu pada Bilal, anggap lah dia memang salah dengar.


"Dengar apa, Sayang?" tanya Bilal penasaran.


"Engga kok, engga ada"


"Huh?" Bilal terlihat tidak percaya dengan jawaban istri nya itu, karena wajahnya menyiratkan sesuatu yg lain "jangan bohong, Zahra. Apa yg kamu dengar?"


"Aku cuma dengar.... emm... minggu ini kamu harus mengisi kajian mingguan kan?" Asma berkata asal. Bilal tertawa kecil mendengar hal itu.


"Iya, tapi hanya kalau aku engga sibuk,kenapa? Kamu kangen ya dengan kajian ku?" goda Bilal yg membuat Asma memutar bola mata jengah. kambuh lagi, fikir nya.


"Bukan aku yg kangen, tapi santri yg lain tuh"


"Ck, sudah biasa mereka kangen sama aku" ucap Bilal yg membuat Asma melotot sempurna dan memberangut kesal kemudian.


Membuat Bilal terkekeh kemudian kembali memeluk Asma dan mencium pucuk kepalanya berkali kali.


"Ugh, aku benar benar merindukan mu, Sayang" gumam nya yg membuat Asma marona.


▪️▪️▪️


Tbc...