
Hari hari yg membahagiakan memang terasa berjalan sangat cepat, begitu juga yg di rasakan istri kedua Bilal itu.
Tanpa terasa, dua minggu yg menjadi hari hari paling bahagia dalam hidup nya akan segera ia lewati karena kini ia harus kembali pulang bersama sang suami, dan kembali menjalankan aktifitas nya menjadi seorang santri.
Bilal pun merasa sangat bahagia selama dua minggu ini, hidup bersama kekasih hati nya seolah adalah obat dari segala rasa sakit nya dan penghilang beban dalam hidup nya.
Saat ini, Bilal terus memperhatikan Asma yg sedang sibuk memasukan pakaian nya ke dalam lemari.
"Sayang...." panggil nya yg hanya dijawab gumaman oleh istri nya itu.
"Zahra...." Bilal memanggil nya lagi dengan sedikt penekanan karena istrinya itu tak merespon dengan baik.
"Ada apa, Bilal?" tanya Asma namun ia masih sibuk dengan aktifitas nya.
"Kamu cinta engga sih sama aku?" dan nada bicara Bilal itu seperti remaja smp yg sedang mempertanyakan perasan pacar pertama nya.
"Pertanyaan macam apa itu?" Asma justru balik bertanya dan ia masih sibuk menggantung pakaian nya dan pakaian Bilal di lemari. Bilal berdecak kesal karena respon istri nya itu.
"Ck, kamu selalu seperti itu. Kamu bahkan engga pernah sekalipun mengutarakan perasaan mu. Sementara aku, di setiap hembusan nafas ku, aku selalu mengutarakan perasaan ku, kamu juga engga pernah memanggil ku dengan sebutan sayang"
Asma mengulum senyum mendengar keluhan suaminya akhir akhir ini yg itu itu saja, ia pun segera menyelesaikan pekerjaan nya dan kemudian menutup pintu lemari nya.
Setelah itu, Asma berjalan mendekati Bilal yg saat ini duduk di tepi ranjang nya. Tak di sangka Bilal, tiba tiba Asma duduk di pangkuan nya, kemudian ia membingkai wajah tampan suaminya itu dengan kedua tangan mungil nya. Dan Asma mencium kening suaminya itu cukup lama, Bilal memejamkan mata dan menikmati ciuman hangat istri nya itu, dari kening turun ke kedua kelopak mata Bilal, kemudian hidung mancung Bilal, dan Asma memberikan kecupan kecupan kecil beberpa kali di kedua pipi Bilal, hingga akhirnya berakhir di bibir suami nya itu. Bilal menikmati setiap sentuhan penuh cinta dari Zahra nya itu.
"Hanya itu yg bisa ku lakukan untuk mengungkapkan perasaan ku, aku engga tahu caranya mengutarakan perasaan ku dengan kata kata, aku engga pandai dalam hal itu, Bilal.
Aku juga engga pandai dalam memuji, aku engga tahu bagaiamana caranya aku mengatakan betapa tampan nya suamiku, apa lagi saat suami ku terlelap, bahkan membuat ku sering sekali tidak tahan untuk tidak mencuri cium dari wajah tampan mu ini.
Dan soal panggilan sayang, aku engga tahu kenapa tapi aku sangat menyukai saat aku menyebut nama mu, nama mu sendiri adalah panggilan sayang terindah bagi ku.
Bilal, setiap kali aku mengucapkan nama mu atau bahkan jika mendengar seseorang menyebut nama mu, inilah yg ku rasakan" Asma membawa tangan Bilal dimana jantung nya berdegup kencang, membuat Bilal tercengang.
Ia tak bisa mengalihkan tatapan nya dari wajah istri nya itu, dan ia tak tahu harus berkata apa lagi. Cara istri nya mengungkapkan perasaannya begitu indah dan langsung menyentuh hati nya, memporak porandakan perasaannya, bahkan membuat akal nya seolah tak berfungsi dengan baik.
"Tapi jika kau mau, aku akan mengungkapkan perasaan ku seperti cara mu, aku akan belajar itu, hm? Aku juga akan memanggil mu sayang" Asma berkata dengan sangat lembut sembari membelai pipi suami nya itu dengan sayang. Entah sejak kapan pribadi lembut nya ini muncul.
Dan untuk pertama kalinya, Bilal merasa Asma bersikap jauh lebih dewasa dari pada dirinya.
"Jangan!" seru Bilal kemudian sambil menggenggam tangan Asma yang masih berada di pipinya, Bilal mencium telapak tangan Zahra nya itu dengan sangat mesra "Jangan ubah cara mu mengungkapan perasaan mu, Zahra. Aku menyukai cara mu itu, dan teruslah mengucapkan nama ku dengan bibir ini" Bilal membelai bibir Asma dengan jempol nya kemudian mengecup nya.
"Sekarang aku ingin bertanya pertanyaan yg ada dalam benak ku sejak pertama kali kita bertemu, Kenapa kamu memanggil ku Zahra?"
"Saat pertama kali melihat mu" Bilal membelai pipi Asma sembari memutar ingatan nya kembali saat pertama kali ia melihat Asma "Aku seperti melihat sebuah lambang keindahan, kau sangat cantik dan manis seperti bunga yg baru mekar. Aku tidak bisa melupakan wajah mu, setiap kali aku memejamkan mata, wajah mu muncul begitu saja dan menari dalam benakku. Aku tidak bisa memikirkan yg lain selain betapa indah nya dirimu, Zahra" Asma tersipu mendengar penuturan penuh cinta dan pujian Bilal itu.
"Apa kau mencintai ku karena keindahan ku?" tanya Asma kemudian dengan nada lirih.
"Aku tidak tahu, Zahra. Yg aku tahu, jantung ku berdebar setiap kali mengingat mu, wajahmu terbayang setiap kali aku memejamkan mata, dan aku bahkan tidak bisa tidur karena hal itu. Sampai sekarang jujur aku tidak tahu, apa yg membuat ku mencintai seorang gadis remaja yg bahkan aku tidak tahu siapa namanya saat itu" Bilal menatap sayu istri nya itu. Dan Asma membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman.
"Maka kau sungguh mencintai ku, Bilal. Karena cinta adalah perasaan yg tidak memiliki alasan, Karena jika seseorang mencintai dengan satu alasan, maka orang akan memiliki dua alasan untuk tidak mencintai lagi" Bilal kagum mendengar kata kata istri mudanya itu, dia tak pernah tahu istri nya bisa se puitis itu, dan juga bisa berkata kata dengan sangat indah. Seolah dia bukan Asma si gadis manja yg ke kanak kanakan dan terkadang sedikt bar bar.
karena dia adalah Zahra nya Bilal.
Bilal mendekap Zahra nya dengan sangat erat, dan menyatakan betapa ia mencintai Zahra nya.
.
.
.
"Aku dengar hari ini Bilal akan pulang" Hubab berkata pada Khadijah yg saat ini sedang menonton tv,ia pun bergabung dengan sepupu nya itu.
"Iya, tapi seperti nya dia akan pergi ke suatu tempat, karena dia minta mobilnya di antarkan ke bandara"
"Hmm begitu, Khadijah, apa kamu sudah membicarakan nya dengan Bilal?" tanya Hubab sembari menatap Khadijah yg sudah tampak jauh lebih baik.
"Belum, aku masih belum menemukan waktu yg tepat"
"Kamu sabar aja dulu, ya. Insya Allah Bilal akan mengerti jika kedua istri nya tidak bisa tinggal satu atap"
"Aku harap begitu, Hubab"
Khadijah sudah yakin dengan keputusan nya untuk tinggal terpisah dari Asma, dan Khadijah yakin Bilal akan memenuhi keinginan nya itu seperti biasanya. Bilal tak pernah sekalipun menolak permintaan Khadijah.
Dan Khadijah juga yakin Asma pun akan dengan senang hati keluar dari rumah nya dan tinggal di pesantren, karena memang itu yg Asma inginkan, fikirnya.
"Bagaimana pekerjaan mu di kantor tanpa Bilal selama ini?"
"Lancar, Bilal tetap membantu kok"
"Ya, di Singapore aku juga sering liat dia terus bekerja"
Tapi nyatanya, Bilal melaksanakan setiap tugas nya dengan baik, ia mampu mengatur waktu nya dengan sangat baik.
.
.
.
Asma dan Bilal sedang bersiap siap untuk pergi ke bandara, Karena keduanya sama sama tidak membawa pulang banyak barang, jadi sekarang pun hanya membawa barang barang pribadi nya saja, seperti biasa Bilal pasti akan meninggalkan pakaiannya disana.
"Aku pasti kangen kamar ini" seru Bilal sembari menatap setiap sudut kamar kecil Asma, dimana ia sering bermesraan dengan istri nya disana selama dua minggu ini, menghabiskan waktu bersama, dan kamar itu, adalah saksi penyatuan cinta mereka. Bahkan tak jarang mereka sering mandi bersama, kemudian Bilal akan membantu Asma mengeringkan rambut nya dan ia juga belajar mengepang rambut Asma, karena Asma sering sekali mengepang rambut nya sebelum tidur.
"Kamar ini jauh lebih kecil dari pada yg dirumah, apanya yg akan kamu rindukan dari kamar ini?" tanya Asma heran dengan suaminya itu.
"Segalanya, Sayang" jawab Bilal sembari memeluk Asma dari belakang, ia melingkarkan tangannya di perut Asma dan menghirup aroma rambut Asma yg sangat manis "Kamar ini adalah saksi cinta kita, di kamar ini juga aku mendapatkan istri ku. Di kamar ini terjadi hal hal terindah dalam hidup ku yg takkan mungkin aku lupakan"
"Kalau begitu...." Asma berkata sambil berbalik dan kini ia menatap suaminya itu "Apa bisa kita tinggal lebih lama lagi?"
"Sayangnya engga bisa, aku sudah lama meninggalkan pekerjaan ku"
"Aku mengerti" ucap Asma " Apa kamu sudah siap?" tanya nya kemudian.
"Sudah, aku akan menunggu mu di luar, oke?"
"Iya, aku Hanya perlu mengganti baju" ucap Asma.
"Mau ku bantu?" goda Bilal yg langsung mendapatkan tatapan tajam dari Asma. Kemudian Asma mendorong Bilal keluar dari kamarnya dan ia segera bersiap siap.
Bilal dan Asma berpamitan dengan keluarga nya, kedua mata Asma berkaca kaca saat memeluk Ummi dan Abi nya, ia pasti akan merindukan mereka semua.
"Jaga diri ya, Nak. Dan jangan merepotkan suami mu" ucap Abi nya yg di jawab anggukan Asma.
"Sudah, jangan menangis. Kalau kangen sama Ummi kan bisa video call" seru sang ibu sambil mengusap satu tetes air mata Asma yg berhasil lolos dari sudut matanya "Oh ya, Asma, apa kata ibu mertua mu nak jika kamu memanggil suami mu dengan nama nya? Dia akan berfikir kau tidak menghormati suami mu"
"Tentu saja aku menghormati nya, Ummi. Seperti aku menghormati Abi, Ummi dan juga mertua ku"
"Zahra benar, Ummi" sambung Bilal sambil melirik Asma sekilas "Lagi pula, dia bilang Bilal adalah nama panggilan terindah dalam hidupnya, aku jauh lebih menyukai dia memanggil ku dengan penuh cinta karena itu pasti berasal dari hati, dari pada dengan panggilan hormat yg mungkin hanya ada di bibir saja"
"Terima kasih" ucap Abi Asma "Berkat kamu, Asma menjadi wanita yg lebih dewasa"
"Justru Asma yg merubah ku, Bi. Dia membuat ku mengerti arti cinta dan hidup"
"Semoga kalian selalu di rahmati Allah, Nak."
"Aamiin"
"Baby Rafa, Tante pulang dulu ya, cepat cepat tumbuh besar, biar engga merepotkan" ucap Asma sambil mencium Baby Rafa yg ada dalam pelukan Aqilah, Baby Rafa tampak senang mendengar suara Asma karena tiba tiba saja ia tersenyum dan tertawa senang.
"Semoga kamu cepat menyusul ya, Dek" ucap Aqilah yg membuat Asma tercengang.
"Maksud nya?" tanya nya.
"Punya bayi juga" jawab Aqilah.
"Mbak, Asma masih sekolah. Asma engga mau berfikir kesana, Asma ingin menyelesaikan pendidikan Asma dulu" jawab Asma terus terang dan tanpa Asma sadari, Bilal sedikit terkejut dengan jawaban Asma, ia fikir Asma siap jadi ibu setelah apa yg mereka lewati bersama di sini. Ummi Kulsum yg mengerti ekspresi Bilal pun segera berkata.
"Apa kamu kecewa, Nak? Kamu pasti menginginkan bayi kan?" bisiknya agar tak di dengar Asma.
"Tentu aku sangat menginginkan nya, Ummi. Tapi jika Zahra belum menginginkan nya, itu sama sekali engga masalah. Itu adalah hidupnya dan tubuh nya yg akan mengandung dan melahirkan. Bisa memiliki Zahra sebagai istri ku, itu sudah lebih dari cukup untuk ku, aku sangat bahagia. Dan selebihnya, aku menyerahkan semua nya pada Zahra ku"
"Kau suami yg baik Bilal, terimakasih sudah mengerti putri kami"
"Itu sudah kewajiban ku sebagai suami"
Setelah berpamitan dengan semua anggota keluar nya, Adil mengantar Asma dan Bilal ke bandara. Di sepanjang perjalanan, Adil menghujani Asma dengan nasehat nasehat nya yg dulu tampak membosankan bagi Asma dan ia sering mengabaikannya, namun sekarang ia memang sangat membutuhkan nasehat kakaknya itu dalam segala hal. Agar ia bisa menjalani kehidupan nya dengan lebih baik, dan yg terpenting dia ingin memerankan peran nya sebagai istri dengan baik.
"Aku titip adikku ya, Bilal. Tolong jaga dia, dia adalah permata keluarga kami"
"Dan dia adalah hidup dan jiwa ku" jawab Bilal yg membuat Asma tersenyum begitu juga Adil yg bisa merasakan betapa Bilal mencintai adiknya . Dalam hati, Adil sangat berharap Bilal bisa memenuhi keinginan Asma, karena Adil tidak tega melihat Adiknya jika terus terusan sedih dan menangis.
"Kami pergi dulu ya, Kak" ucap Asma dan Adil pun langsung memeluk nya dan mencium kening nya.
"Jaga diri, Dek. Dan teruslah berserah diri pada Allah, minta petunjuk nya dalam setiap langkah mu. Dan jangan bertindak untuk mengikuti hawa nafsu mu, seperti membenci contoh nya"Adil berkata begitu, Karena tak ingin Asma memelihara kebencian dalam hatinya pada orang yg mungkin membicarakannya dan menyakiti hati nya.
Asma mengangguk dan sekali lagi memeluk kakaknya, sebelum akhirnya ia harus segera berpisah dengan kakaknya itu. Asma tampak sedih, dan Bilal segera menghibur nya dengan mengatakan mereka bisa pulang saat liburan nanti, Bilal pun merangkul istri nya itu dan membawa nya pulang.
▪️▪️▪️
Tbc...