My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 37



Setelah berfikir cukup lama dan mengingat kembali kata kata Bilal, Asma memutuskan untuk kembali bersekolah. Benar kata Bilal, sampai mati pun tidak ada orang yg bisa selamat dari lidah orang lain. Jika Asma mau menghindari omongan orang, maka sampai kapan dia akan bersembunyi? Sementara selamanya dia akan menjadi istri Bilal.


Setelah mempersiapkan segala kebutuhan sekolah nya, ia pun segera mandi dan berganti pakaian. Sebelum akhirnya turun untuk sarapan, namun ia tak mendapati suami dan madunya di meja makan.


"Bi, dimana mereka?" tanya Asma pada Bi Mina yg sedang sibuk di dapur.


"Mungkin masih di kamar ibu, Neng"


Setelah mendengar jawaban Bi Mina, Asma berniat memanggil mereka, apa lagi sarapan terlihat sudah siap.


"Ya udah, aku panggil mereka untuk sarapan"


Asma berjalan mendekati kamar Khadijah, selama tinggal di sana, tak pernah sekalipun Asma memasuki kamar Khadijah, entah kenapa dia merasa enggan. Sesampai nya disana, pintu nya terbuka sedikit dan Asma mendengar suami dan madunya itu sedang berbicara sambil tertawa kecil, Asma mencoba mengintip. Mereka tampak mesra, dan saat hendak memanggil mereka, ia melihat Bilal mengecup bibir Khadijah yg sontak membuat mata Asma melotot sempurna. Dan di detik selanjutnya, ia merasa sesak nafas.


Dengan cepat Asma berlari ke kamarnya, mengambil ransel nya dan hendak pergi dari rumah nya.


"Loh, sarapan dulu, Neng Asma" teriak Bi Mina yg tidak dihiraukan nya. Asma terus berjalan dengan perasaan yg berkecamuk, ia merasa kesulitan bernafas, hatinya merasa perih, dan matanya terasa panas, seolah ia akan segera menangis. Asma menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, mencoba menenangkan perasaannya yg seperti di peras.


Sementara Bilal dan Khadijah sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Sebelum turun, Bilal mencari keberadaan Asma di kamarnya, namun ia tak mendapati nya, bahkan ransel dan dompet nya pun tidak ada.


"Zahra..." panggilnya sembari menuruni tangga.


"Neng Asma sudah pergi ke sekolah, Pak" tutur Bi Mina yg mendengar panggilan Bilal.


"Kenapa engga pamit?" tanya Bilal heran, ia bahkan masih berfikir mungkin Asma benar benar akan berhenti sekolah.


"Loh, bukan nya tadi Neng Asma sudah ke kamar Ibu? Katanya mau panggil kalian untuk sarapan"


"Oh ya?" Sambung Khadijah. Bi Mina hanya mengangguk.


"Tapi dia engga ada panggil kami, Bi" tutur Bilal.


"Katanya tadi mau panggil Bapak sama Ibu buat sarapan, setelah itu dia langsung berlari berangkat sekolah" Bilal tampak memikirkan Zahra nya. Ada apa lagi, fikir nya. Apa lagi jam sekolah masih lama, untuk apa Asma buru buru ke sekolah.


.


.


.


Sesampai nya di sekolah yg masih sepi, Asma langsung masuk kelas. Ia duduk di kursi nya, teringat kembali kemesraan Bilal dan Khadijah, Asma merasa kesal. Ia mengeluarkan buku dan pena nya kemudian mencoret coretnya penuh emosi.


"Ayolah Asma, ada apa dengan mu? Mereka kan suami istri, wajar dong melakukan semua itu. Kenapa harus marah dan sakit hati?" ia berkata pada dirinya sendiri. Untuk menenangkan emosi nya, ia pun pergi untuk mengambil wudhu.


Saat kembali ke kelas, ia langsung di sambut ceria oleh Nora yg langsung memeluk nya.


"Asma, Alhamdulilah kamu sudah sembuh, kata Ustadzah Khadijah kamu engga enak badan"


Asma hanya menjawab nya dengan gumaman.


.


.


.


Dirumah sakit, Bilal diberi tahu oleh Dokter bahwa keadaan Khadijah semakin hari semakin memburuk, dan dokter menyarankan menjalani kemoterapi ke Singapura.


"Aku punya sahabat disana, Doktor Elyara. Aku tahu bahkan kemo tidak menjamin apapun, tapi kita harus tetap berusaha dan berharap ada keajaiban" ucap dokter Fina yg selama ini menangani Khadijah.


"Baiklah, Dok. Aku akan ke singapura bersama Khadijha, tolong aturkan pertemuan kami dengan Dokter Elyara"


"Segera, Bilal. Tapi minggu depan dia akan menikah, tapi pasti ku usahakan secepat nya berbicara dengan nya. Aku yakin dia bisa menangani Khadijah "


"Terimakasih banyak, Dok"


"Sama sama, jaga Khadijah ya" ucap Dokter Fina yg sudah menganggap Khadijah sebagai adik.


.


.


.


"Yg sakit badan mu atau hati mu?" tanya Nora tiba tiba yg membuat Asma mengerutkan kening nya. Saat ini, ia dan Nora menikmati makan siang nya sembari Nora terus mengoceh tentang kehidupan nya di asrama, namun sepertinya perhatian Asma berada jauh dari diri nya "Kamu terlihat seperti orang yg sedang patah hati" lanjut Nora yg semakin membuat Asma bingung.


"Engga lah, mau patah hati karena apa juga" sanggah nya.


"Yg pasti bukan karena di putusin pacar, apa gara gara suami mu, huh?"


"Kenapa harus patah hati gara gara dia?" tanya Asma namun sepertinya pertanyaan itu justru untuk dirinya sendiri.


"Ya, karena dia suami mu, Neng Asma sayang. Kali aja kamu cemburu dengan istri nya yg lain" Asma terdiam, dan mengingat kembali apa yg di lihat nya pagi tadi, namun dengan cepat dia mengusir fikiran itu.


"Aduh, jangan jadi provokator deh" ucap Asma kesal "Lagi pula mereka kan suami istri, wajar mereka bermesraan kan?" Asma berkata tanpa sadar yg justru itu menjadi jawaban untuk Nora. Dan membuat Nora mengerti apa yg membuat Asma menekuk wajahnya sejak tadi pagi.


"Ya, Bebs. Wajar banget,cemburu itu juga wajar dan cemburu arti nya cinta"


"Maksud mu aku cemburu? Engga mungkin" namun mata Asma memberi tahu itu sangat mungkin, bahkan hati kecil nya membenarkan bahwa dia memang cemburu.


.


.


.


Setelah jam pelajaran usai, Asma bersiap pulang namun ia melihat mobil Bilal di halaman sekolah nya.


"Di jemput suami tuh" goda Nora. Dan Bilal pun mendatangi nya. Kemudian Bilal membuka kaca mobil nya dan menyuruh Asma masuk, dengan wajah yg cemberut Asma pun masuk.


"Kenapa wajah mu cemberut gitu?" tanya Bilal saat sudah menutup pintu mobilnya. Kemudian Bilal mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Asma namun Asma menghindar dan membuang muka. Bilal tahu Asma tak pernah menyambut ciuman atau pelukan nya. Tapi entah kenapa penolakan yg satu ini terasa berbeda bagi Bilal, apa lagi Asma tidak mengomel seperti biasa nya dan diam saja.


"Kamu marah?" tanya nya sambil menjalankan mobil nya. Asma tak menjawab, ia lebih memilih membuang pandangan nya keluar jendela. Bilal teringat dengan perilaku nya semalam dan ia berfikir mungkin Asma marah karena semalam ia marah marah tidak jelas dan membuat laptop nya semakin rusak.


"Gara gara semalam?" Asma masih diam "Maaf ya, Sayang. Aku janji aku akan belikan laptop yg baru, tapi sekarang aku masih engga ada waktu kosong"


"Zahra...." panggil Bilal karena masih tak mendapatkan jawaban dari Asma.


"Aku engga marah" jawab Asma kemudian.


"Beneran?"


"Hem"


"Tapi keliatan nya masih marah" goda Bilal, Asma melirik Bilal sekilas, dan ia baru menyadari raut wajah Bilal yg tampak sangat lelah.


"Gimana keadaan Mbak?" tanya nya kemudian. Bilal tersenyum tipis


"Masih sama, sayang" Bilal menjawab sedih. Asma yg mendengar itu pun ikut sedih. Asma mengeluarkan permen dari tas nya dan memberikan nya pada Bilal. Namun Bilal menolak nya dengan berasalan ia tak ingin permen.


"Kenapa melakukan itu?" tanya Bilal sambil menikmati permen nya.


"Menghibur mu" Asma menjawab dengan jujur dan entah dari mana dia mendapatkan ide gila itu untuk menyenangkan suami nya, tapi ia merasa ia mulai kehilangan kewarasannya.


.


.


.


"Zahra,ayo cepetan, Sayang! Nanti Bi Mina ketinggalan bus nya" teriak Bilal sembari melirik arloji nya. Dia harus mengantar Bi Mina ke halte bus, karena asisten rumah tangga nya itu harus pulang kampung untuk menghadiri pernikahan sanak keluarga nya.


Asma terlihat berlari kecil menuruni tangga sambil memegang tali ransel nya, Bilal mengajaknya ikut sekalian untuk mencari laptop baru untuk istri kecilnya itu, namun Asma hanya ingin laptop nya di perbaiki karena itu adalah hadiah dari Ayahnya di ulang tahun nya yg ke 16.


Bilal berpamitan pada Khadijah yg sedang di istirahat di kamarnya dan Bilal mengatakan harus segera menelpon Bilal jika Khadijah membutuhkan nya.


"Bi Mina berapa lama pulang nya?" tanya Asma saat mereka sudah dalam mobil.


"Sekitar 5 hari, Neng. Soal nya sudah lama engga kumpul bareng keluarga"


"Oh gitu..." seru Asma.


Setelah sampai di halte, Bi Mina segera berpamitan pada tuan dan nyonya nya itu, Bilal berpesan agar menelpon Bilal saat sampai tujuan.


Kemudian Bilal membawa Asma computer stores.


"Apa bisa memperbaiki laptop disini?" tanya Bilal pada seorang pegawai laki laki.


"Bisa, Pak" jawab pria itu dengan ramah. kemudian Bilal menyerahkan laptop Asma. Pria itu mencoba menyalakan laptop Asma namun Bilal menghentikan nya dengan cepat.


"Apa kamu yg akan memperbaiki nya?" tanya Bilal.


"Ya, Pak. Biar saya cek dulu kerusakannya apa, kalau hanya kerusakan ringan, bisa di tunggu. tapi jika kerusakan nya parah, mungkin satu atau dua hari baru selesai"


"Bukan itu maksud ku, apa tidak ada perempuan disini yg bisa memperbaiki nya?" tanya Bilal dengan enteng nya dan itu membuat Asma melotot tak percaya, sementara pegawai itu terlihat bingung dengan maksud Bilal.


"Kenapa tanya tanya perempuan ?" tanya Asma setengah berbisik dan ia terlihat kesal


"Kami punya pegawai perempuan, hanya saja mereka sedang sibuk juga, jika menunggu mereka, itu akan lama"


"Baiklah, kalau begitu laptop nya tidak perlu di perbaiki" seru Bilal yg kembali membuat pegawai itu bingung begitu juga dengan Asma. Bilal mengambil laptop itu dan memasukan nya ke dalam ransel Asma.


"Pak, saya bisa memperbaiki nya sebaik pegawai perempuan disini" tutur pria itu yg mengira Bilal mungkin takut dia tidak bisa memperbaiki nya.


"Memang nya kenapa kalau dia yg memperbaiki?" tanya Asma yg juga tak habis fikir dengan tingkah Bilal.


"Iya, saya tahu itu, hanya saja..." Bilal melirik Asma sekilas "Ada sesuatu di dalam laptop nya yg saya tidak ingin kamu melihat nya, saya harap kamu mengerti" pria itu ber oh ria sembari mengangguk anggukan kepala nya, padahal dia sama sekali tidak mengerti apa maksud Bilal. Semenatara Asma hanya bisa membuang nafas kasar dengan tingkah gila Bilal


"Saya perlu laptop baru, bisa tunjukan pada kami?"


"Bisa" jawab pria itu kemudian memanggil seorang gadis "Dia siswi yg sedang magang, tapi dia bisa melayani anda dengan baik, Pak" ucap pria itu kemudian memerintahkan siswi yg sedang magang itu untuk menunjukan laptop yg bagus pada Bilal.


Gadis itu pun menuruti nya, ia membawa Bilal dan Asma masuk, kemudian menunjukan beberpa laptop terbaik yg mereka punya, tak lupa ia menjelaskan spesifikasi nya, kekurangan dan kelebihan setiap laptop yg ada.


"Tapi sebenarnya, itu semua tergantung dari pemakaian dan perawatannya, Mas" ucap wanita itu sembari tersenyum manis, dan Asma mendapati wanita itu mencuri curi pandang pada Bilal yg saat ini sedang serius memeriksa laptop nya.


"Zahra, kamu mau yg mana?" tanya Bilal, namun Asma sibuk memperhatikan karyawan itu yg masih memandangi Bilal " Zahra..." panggil Bilal sekali lagi yg membuat Asma segera mengalihkan perhatian nya pada Bilal.


"Yg mana aja" jawab Asma kemudian. Akhirnya Bilal memilih salah satu laptop yg menurut nya paling bagus walaupun sedikit mahal, tapi tak masalah baginya, ia ingin memberikan segala hal yg terbaik untuk istri nya.


"Kami akan menginstal sistem operasi nya dulu, Mas. Dan juga yg lain nya" Kemudian wanita itu membawa mereka ke ruangan sebelah nya, ia mempersilahkan Asma dan Bilal duduk sementara wanita itu mengerjakan tugas nya.


Dan sekali lagi, Asma memergoki wanita itu yg sesekali melirik Bilal yg sedang sibuk dengan ponsel nya. Tanpa fikir panjang, Asma langsung merangkul lengan Bilal yg tentu membuat Bilal terkejut.


"Ada apa sayang?" tanya Bilal sembari menatap istri nya itu.


"Wanita itu terus saja memperhatikan mu" jawab Asma terus terang dengan pipi yg mengembung karena kesal, Bilal pun melirik wanita yg Asma maksud, namun wanita itu masih terlihat sibuk melakukan tugas nya.


"Dia sedang fokus bekerja, Zahra" jawab Bilal. Namun kemudian ia menyadari sesuatu dan ia pun menatap Asma dengan senyum lebar di bibir nya "Kamu cemburu, hm?" goda Bilal. Asma pun langsung melepaskan tangan nya dari tangan Bilal.


"Engga lah" sanggahnya dengan cepat


"Yakin?" tanya Bilal lagi


"Iya, ngapain juga cemburu" Asma berkata sambil memberangut.


"Ya udah, tunggu di sini" ucap Bilal kemudian ia beranjak dan menghampiri siswi magang itu.


"Apa masih lama?" tanya nya.


"Ya, tolong tunggu sebentar" jawab wanita itu dengan ramah.


"Tidak apa apa, kami juga tidak buru buru" jawab Bilal, kemudian ia sedikt berbincang dengan wanita itu mengenai laptop nya. Sebenarnya Bilal melakukan itu hanya untuk memancing Asma, dan benar saja, di detik selanjut nya, Asma mendatangi nya dan merangkul lengan nya dengan posesif.


"Kalau masih lama, apa bisa kita keluar sebentar? Ada cafe di seberang jalan" ucap Asma sambil menatap tajam Bilal. Bilal pun langsung menyetujui nya, !dan mereka berjalan keluar dengan Asma yg masih merangkul lengan Bilal dengan begitu posesif.


"Engga usah terlalu posesif gitu, aku masih dan akan selalu jadi milik mu" bisik Bilal. Namun Asma tak menanggapi nya, mereka memesan sebuah cake di cafe dan menikmati nya.


Setelah itu, mereka kembali untuk mengambil laptop nya yg sudah selesai.


Setelah membayar, Bilal segera membawa Asma keluar, namun saat hendak masuk mobil, tiba tiba siswi magang itu datang menyusul dan memanggil Bilal.


"Mas, tunggu sebentar! " Bilal dan Asma pun berhenti dan menoleh


"Ada apa ya?" tanya Bilal


"Ini... Saya rasa ini punya mu, Mas. Tadi ketinggalan" ucap siswi itu menatap Bilal dengan mata yg berbinar, kemudian siswi itu menyerahkan tasbih digital yg memang milik Bilal. Mungkin terjatuh saat Bilal mengambil dompet di kantong nya. Saat Bilal hendak mengambil nya, Asma mendahului nya dan mengambil tasbih dengan sedikit kasar dari tangan wanita itu.


"Makasih Mbak, sudah mengembalikan tasbih SUAMI SAYA" ucap Asma dengan menekan kata suami saya, ia bahkan mengintimidasi wanita itu dengan tatapan nya. Dan tampak siswi itu terkejut.


"Suami?" tanyanya seolah ia tak percaya. Apa lagi Bilal dan Asma terlihat terpaut usia yg cukup jauh, sehingga wanita itu sejak tadi mengira Asma adalah adik Bilal.


"Iya, saya istri nya" jawab Asma dengan lugas. Kemudian ia merangkul lengan Bilal lagi, tentu Bilal senang dengan apa yg di dengarnya, untuk pertama kalinya, ia mendengar Asma mengakui nya sebagai suami dan mengaku sebagai istri nya. Tak hanya itu, Asma menunjukan rasa cemburu nya dan sifat posesif nya.


"Oh, emm ya" jawab wanita itu dengan salah tingkah "Oke, sama sama Mbak" lanjut nya.


"Terimakasih" ucap Bilal sembari tersenyum simpul "Sebenarnya kamu tidak perlu jauh jauh mengejar kami kesini hanya untuk mengembalikan tasbih itu"


Bilal berkata dengan nada yg sangat lembut dan ramah, yg tentu membuat Asma semakin merasa cemburu, apa lagi wanita itu kini terlihat senang berbicara dengan Bilal. Setidak nya itu yg Asma fikirkan.


"Iya, tidak apa apa, Mas" jawab wanita itu.


"Kita harus pulang, ini sudah sore" tutur Asma dengan sangat jengkel. Kemudian tanpa menunggu Bilal ia pun segera masuk kedalam mobil nya, dan menutup pintu nya dengan kasar hingga menimbulkan suara gebrakan.


▪️▪️▪️


Tbc...