
Walaupun masih mengantuk, Asma memaksakan diri keluar dari kamarnya, apalagi cacing di perut nya sudah demo besar besaran meminta makan.
"Kalian masak apa?" tanya Asma saat sudah ada di dapur yg sudah di penuhi anggota keluarga perempuan nya itu.
"Bi Ida masak soto hari ini, kalau Ummi lagi buat martabak manis buat kamu, kamu pasti suka" jawab Ummi Kulsum.
"Oh ya, keliatan nya enak" jawab Asma senang.
"Mau masak ini buat Asma, mau beli itu buat Asma. pasti begitu, semua nya serba Asma" sambung Aisyah yg sedang membuat susu.
"Bilang aja Mbak iri" balas Asma sambil membuka mulut nya lebar karena Ummi nya itu sedang menyuapkan satu potong martabak manis ke dalam mulut nya "Asma mau yg di taburi keju ya Ummi" pinta nya manja.
"Iya. Aqilah, coba periksa apa masih ada keju di kulkas?" seru Ummi nya itu. Kemudian Aisyah menyerahkan satu gelas susu yg masih hangat itu pada Adik nya.
"Minum susu ini, Dek. Kamu keliatan lemah dan pucat" ucap nya, Asma pun menerima susu itu dan langusung meneguk nya.
"Pas aku lagi lemah dan pucat saat hamil muda, engga ada yg buatin aku susu hangat" sambung Aqilah "Ini, Ummi. Keju nya" ia menyerahkan keju itu pada ibu nya.
"Ya kan Mbak ada suami nya yg bisa ngurus" jawab Aisyah.
"Asma juga ada suami nya" Aqilah pun tak mau kalah
"Tapi Asma kan adek ku"
"Aku kakak mu"
"Bilang aja siapa yg mau susu hangat setiap pagi, nanti Bibi buatkan, mau yg punya suami atau yg belum. Bibi buatkan semua nya" teriak Bi Ida yg mendengar perdebatan ketiga saudari itu. Mereka semua terkikik geli.
"Udah punya suami semua, Bi" seru Asma "Ummi, mau lagi" ucap Asma kemudian sambil membuka mulut nya, Ummi nya itu pun menyuapi lagi dengan penuh kasih sayang, bersamaan dengan itu, Bilal tiba tiba saja masuk ke dapur sambil membawa botol air, dan ia melihat istri nya yg sedang di manja oleh ibu nya. Bilal tersenyum senang melihat istri nya yg tampak sangat bahagia.
"Ada apa, Bilal?" tanya Aqilah.
"Oh, ini...aku mau isi air" ucap Bilal, kemudian Bilal pun mengisi air nya di dispenser namun matanya tak bisa berhenti menatap istri nya yg juga sedang menatapnya, bahkan ia sampai tak sadar botol nya sudah penuh dan akhirnya air nya tumpah.
"Bilal, air nya sudah penuh" seru Aqilah yg langsung membuat Bilal terkejut.
"Oh...maaf maaf" ucap Bilal yg melihat lantai nya sudah basah.
"Engga apa apa, nanti Bi Ida bereskan"
"Ummi lagi buat apa?" tanya Bilal sambil mendekati Ummi nya namun tujuan yg sebenar nya adalah mendekati istri nya. Asma tersenyum malu malu karena Bilal yg terus menatap nya dan kini berada di hadapannya.
"Buat martabak manis buat istri mu. Oh ya Bilal, bisa tolong ambilkan parutan keju di belakang mu itu?" pinta ibu mertua nya, Bilal pun langsung mengambil nya sementara tatapan nya masih terpaku pada istri nya, membuat istri nya itu kembali merona.
"Ini Ummi..." seru Bilal dan menyerahkan apa yg di pegang nya.
"Nak, Ummi engga nyangka pria kota yg berpendidikan seperti kamu engga bisa bedain mana pisau mana parutan keju" tutur Ummi Kulsum yg membuat Bilal heran, dan saat di lihat apa yg di pegang nya, Bilal hanya bisa menahan senyum malu, ia sedang memegang sebilah pisau, Asma dan yg lain nya pun menertwainya.
"Maaf, aku... aku salah ambil" ucap Bilal gerogi kemudian segera meletakkan pisau itu dan segera mengambil parutan keju nya.
"Maklumi aja, Ummi. Fokus nya lagi terbang di udara bersama kupu kupu"goda Aisyah yg menyadari sejak tadi Bilal terus memperhatikan Asma.
Dengan cepat Bilal pergi dari sana, namun sebelum melangkah keluar dari pintu, ia menoleh pada Asma dan memberinya isyarat untuk menemui nya. Asma yg mengerti itu pun langsung menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis pada suami nya itu.
Asma melihat Ummi nya sudah selesai memberikan taburan keju di atas martabak nya itu dan ia pun segera mengambil nya.
"Asma makan di kamar" ucap nya kemudian ia segera melangkah cepat menuju kamarnya.
"Ada yg aneh sama Asma dan Bilal" seru Aisyah.
"Aneh apa nya?" tanya Aqilah.
"Entahlah, mereka pandang pandangan dari tadi kayak pengantin baru aja" yg lain hanya tertawa kecil mendengar penuturan Aisyah karena memang tidak memperhatikan itu di karenakan sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
Sementara Asma, dengan gugup ia masuk ke dalam kamar nya, dan mendapati suaminya itu tengah duduk di tepi ranjang dan seolah memang menunggu nya. Asma menggigit bibir nya menahan rasa gugup dalam dirinya setelah apa yg mereka lewati dan ia berjalan mendekati Bilal.
"Makanlah" seru nya meletakkan martabak itu di hadapan Bilal.
"Suapi" pinta Bilal manja sedangkan matanya menatap begitu intens pada Asma yg membuat Asma lagi dan lagi merona. Dan ia pun menyuapi suami nya itu, kemudian Bilal bergantian menyuapi istri nya dan keromantisan itu terus berlanjut.
"Zahra..." seru Bilal sembari mengusap bibir Asma yg belepotan terkena keju dengan jari nya. Sangat romantis, apa lagi Bilal yg malah menjilati sisa keju itu dari jarinya.
"Hm?" jawab Asma.
"Aku sudah telpon wali kelas mu tadi...."
"Kenapa? Apa kita harus pulang?" sela Asma yg tak membiarkan Bilal menyelesaikan kata kata nya.
"Bukan, Sayang. Aku sudah izin untuk menambah masa liburan mu, jadi dua minggu" tutur Bilal yg langsung membuat Asma kegirangan.
"Benarkah? Tapi kenapa kamu lakukan itu?" tanya Asma.
"Karena kita sedang berbulan madu disini" ucap Bilal yg langsung membuat pipi Asma merah seperti tomat.
"Tapi bagaimana dengan pelajaran ku? Aku akan banyak ketinggalan pelajaran"
"Engga apa apa, nanti aku bantu kamu"
Asma harus mensyukuri punya suami Ustadz, kan? Di butuhkan di saat saat seperti ini
"Lalu bagaimana dengan Mbak? Bukankah dia membutuhkan mu? Apa lagi dia baru saja menyelesaikan pengobatan nya, dia pasti butuh kamu berada di sisi nya"
"Aku meminta Hubab tinggal dirumah selama aku disini, aku juga sudah menyewa Suster secara khusus untuk merawat Khadijah. Aku sudah berbicara dengan Khadijah, kamu jangan khawatir. Ummi dan yg lain nya juga akan mengurus nya, dan aku, biarkan aku disini dulu bersama mu, anggap saja ini bulan madu kita"
Asma tersenyum senang mendengar itu, Asma langsung memeluk Bilal dan mengucapkan terimakasih, apa lagi karena ia memang masih ingin bersama kelurga nya.
.
.
.
Bilal benar benar sudah mendapatkan Asma sebagai istri nya dan kini keduanya sedang di mabuk asmara.
Asma menjalani hari hari nya dengan sangat bahagia, hingga ia lupa dengan semua rasa sakit yg pernah ia rasakan.
Kedua orang tuanya, kakak kakak nya, keponakannya dan suami nya. Mereka semua ada di sisi nya, Asma berharap dua minggu ini tidak pernah berakhir.
Dan Bilal juga kembali membantu mengajar di Madrasah nya. Asma merasa kini hidupnya sangat sempurna.
"Gara gara Tante Asma neh, hilang kan hafalan Yasmin" seru Yasmin dengan kesal. Sementara Asma malah cengengesan.
"Maaf deh" ucap nya.
"Ya udah, Yasmin coba menghafal lagi sana sama Ummi, nanti kalau sudah hafal, disetorkan lagi ke Abi, ya Nak?"Seru Adil pada putri nya itu.
"Ya udah deh" jawab Yasmin dan segera berlari keluar kamar Adil.
"Ada apa, Dek?"
"Asma mau bicara sesuatu sama Kakak" Ucap Asma sembari menutup pintu nya kemudian ia duduk di tepi ranjang Adil
"Ya, tentang apa?"
"Hmm menurut Kak Adil, bagaimana jika Asma meminta pisah rumah saja pada Bilal?" Asma bertanya dengan ragu ragu, karena setelah ia fikir fikir, akan lebih baik dia yg meminta keluar dari pada di minta keluar. Adil menghela nafas berat dan ia pun duduk di hadapan adik bungsu nya itu.
"Jika itu mau mu, dan kamu yakin itu yg terbaik untuk kalian bertiga, tentu itu engga masalah. Asal kamu bicara baik baik dengan Bilal"
"Bagaimana jika Bilal engga setuju?"
"Jika Bilal memang mencintai mu, dia pasti akan mengerti perasaan mu dan melakukan yg terbaik untuk mu" Asma bernafas lega karena kini sudah mendapatkan jawaban dari keraguan nya untuk membicarakan hal itu dengan Bilal.
"Makasih, Kak. Asma akan bicara dengan Bilal"
"Tapi kenapa kamu ingin berpisah, apakah Khadijah menyakiti mu?"
"Engga,tentu saja engga" Asma menyanggah nya dengan cepat "Mbak engga pernah dengan sengaja menyakiti Asma. Tapi Asma rasa engga ada satu wanita pun yg bisa melihat suami nya bersama wanita lain didepan mata nya sendiri. Apa lagi setiap hari, begitu juga dengan Mbak dan Asma"
"Kecemburuan" gumam Adil sambil tersenyum tipis "Kamu mulai mencintai suami hm?" tanya nya menggoda Asma dan Asma tampak tersipu malu dengan pertanyaan itu.
"Sebenarnya itu jauh lebih baik, Dek. Mungkin mudah menahan amarah, tapi pasti sulit menahan cemburu. Dan dari cemburu bisa menimbulkan amarah dan benci, dan jika orang sudah membenci orang lain, maka dia akan dengan mudah menyakiti orang lain, dan Kakak engga mau hal terjadi pada mu. Jadi, sebaiknya bicaralah dengan Bilal, tapi ingat, bicara baik baik ya"
"Iya"
.
.
.
Mila berkunjung kerumah Khadijah untuk menjenguk sahabat nya itu. Dan disana juga ada Hubab dan seorang Suster yg memang di minta oleh Bilal untuk merawat Khadijah selama dia tidak ada.
"Apa Suster nya nginep disini?" tanya Mila.
"Engga, Hubab yg tidur di sini, Suster hanya datang di pagi hari dan pulang di malam hari"
"Berapa lama memang nya Bilal di sana?"
"Sekitar 10 hari lagi" jawab Khadijah
"Tapi kamu engga apa apa kan di tinggal sama Bilal?"
"Engga masalah" jawab Khadijah namun matanya menyiratkan yg lain.
"Syukurlah kalau kamu bisa mengerti, Karena Bilal pasti sangat merindukan Asma, mereka terpisah cukup lama"
"Ya, aku bisa mengerti" Khadijah memang bisa mengerti,namun jauh dalam hatinya ia tak bisa menerima keputusan Bilal yg bahkan tidak mengantar nya sampai rumah. Sementara Khadijah masih sangat membutuhkan Bilal berada di sisi nya, Khadijah merasa seharusnya Bilal tak melakukan itu, dan itu sangat menyakiti perasaan Khadijah.
Sementara Hubab, saat ini pria itu sedang menaburkan pakan ikan ke dalam akurium dan ia tersenyum lebar melihat ikan ikan itu yg makan dengan lahap.
"Kamu suka ikan, Bab?"tanya Mila yg melihat Hubab tampak senang memperhatikan ikan ikan Asma.
"Sepertinya begitu, Mil. Sejak datang kesini, sepupu ku itu memperhatikan ikan Asma dengan sangat baik" sela Khadijah, karena di hari pertama Hubab tinggal bersama nya, Hubab tampak menyukai ikan ikan itu dan dia lah yg dengan teratur menaburkan pakan ikan itu.
"Aku suka pemiliknya" Hubab berkata dalam hati.
.
.
.
Bilal membelai rambut Asma yg saat ini sedang merebahkan kepala nya di pangkuan nya. Bilal merasa sangat bahagia dan tak ingin moment kebersamaan ini berakhir.
Dan Asma menikmati setiap sentuhan penuh cinta dari Bilal.
"Bilal, aku ingin bicara sesuatu, apa boleh?" tanya Asma
"Tentu saja,Sayang" jawab nya dengan lembut.
"Tapi jangan marah ya?" Bilal mengerutkan kening nya dan penasaran dengan apa yg akan di katakan istri nya itu.
"Tergantung dari apa yg kamu bicarakan" seru Bilal masih melanjutkan aktifitas nya.
"Hmm bolehkah aku tinggal bersama Ummi Mufar aja?" seketika tangan Bilal langsung terhenti dan ia menatap Asma seolah ingin memastikan apakahh ia tak salah dengar.
"Maksud mu?" Asma kemudian duduk berhadapan dengan Bilal, ia menggenggam tangan suami nya itu dan menatap matanya, Asma mengumpulkan segala keberanian nya untuk mengungkapkan keinginannya itu.
"Bolehkah jika aku tinggal bersama Ummi? Aku...aku ingin tinggal terpisah dengan Mbak. Tapi jangan salah faham dulu, aku bisa menjelaskan maksud ku. hanya saja aku....."
"Kamu engga suka kita bertiga tinggal di bawah satu atap?"
"Bukan begitu, Bilal. Hanya saja sulit, itu sangat sulit untuk ku maupun untuk Mbak, aku harap kamu mengerti" Asma berkata dengan sangat hati hati. Ia tidak tahu apa yg akan Bilal fikirkan tentang nya setelah mengungkapkan keinginannya itu
"Aku mengerti" ucap Bilal yg membuat Asma sedikit terkejut, apa lagi Bilal berkata sambil tersenyum seolah ia memang sangat mengerti keinginan istri nya "Nanti saat pulang, aku akan menunjukan sesuatu pada mu. Dan sekarang, aku hanya ingin kita menikmati kebersamaan ini, Zahra. Ingat, ini bulan madu kita, dan kamu tahu kan apa yg seharusnya di lakukan oleh orang yg berbulan madu, bersenang senang, berbahagia, dan....."
"Dan?" tanya Asma dengan polos nya. Bilal mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Asma.
"Setiap malam akan selalu jadi malam pertama kita"
Dan seketika, Asma langsung merona bahkan pipinya terasa terbakar, seluruh tubuhnya terasa terkena sengatan listrik. Lagi pula kenapa Bilal perlu mengucapkan kata itu? Bukankah memang itu yg terjadi di setiap malam mereka?
Tiada malam yg mereka lewatkan tanpa rutinitas melepaskan rindu, mengungkapkan cinta dan kasih sayang. Menyatakan kepemilikan satu sama lain, dan berbagi sentuhan akan selalu di rindukan dan takkan pernah bisa di lupakan.
▪️▪️▪️
Tbc...