
Bilal tersenyum senang saat ia melihat Asma yg tampak membaik, saat ini istri kecil nya itu sedang sibuk dengan laptop nya di ruang keluarga. Bilal segera menghampiri Asma dan tanpa basa basi langsung mengecup pelipis Asma yg berhasil membuat gadis itu terkejut.
"Gimana keadaan mu, Sayang?" tanya Bilal masih setia dengan senyum menawannya.
"Lebih baik" jawab Asma setelah menenangkan jantung nya yg seakan hampir copot gara gara kecupan Bilal" Kamu engga ngasih tahu keluarga ku kan soal aku pingsan?" cicit Asma, ia khawatir jika sampai keluarga nya tahu Asma pingsan, mereka pasti sangat khawatir terutama umminya.
"Engga kok, aku engga mau mereka khawatir"
"Makasih" ucap Asma tulus bahkan di barengi senyum manis dengan mata yg berbinar, dimana itu tak pernha terjadi sebelum nya. Dan tentu itu hal yg sangat menyenangkan bagi Bilal.
"Ada apa dengan laptop mu?" tanya Bilal karena Asma sepertinya kesal dengan laptop nya itu.
"Entahlah, akhir akhir ini sering drop tiba tiba" Bilal pun memeriksa laptop Asma
"Nanti aku belikan yg baru" ucap nya kemudian karena menyadari laptop istri nya itu memang sudah di rusak.
"Engga usah, aku engga ada keperluan penting dengan laptop"
"Engga apa apa, Sayang. Lagian laptop mu memang sudah rusak. Oh ya, aku harus ke kantor sekarang, baik baik dirumah ya" Asma mengangguk. Dia masih enggan ke sekolah dan ia bersyukur karena Bilal tak meminta nya pergi ke sekolah "Hari ini Khadijah juga akan ke sekolah untuk mengajar, kalau butuh apa apa, telepon kami" sekali lagi Asma hanya mengangguk. Tak lama kemduian Khadijah turun dari kamar nya dan ia sudah tampak rapi.
Sebelum pergi, Khadijah berpesan pada Asma agar tak melakukan hal gila lagi dan menjaga kesehatan nya, tentu Asma senang dengan perhatian itu.
"Kami benar benar takut kemarin saat kamu pingsan, jangan lakukan itu lagi, oke?"
"Iya, Mbak" jawab Asma dengan senyum samar nya.
"Ya udah, baik baik di rumah" tutur Khadijah sebelum ia pergi.
.
.
.
"Apa kamu sudah berhasil membuat istri kecil mu jatuh cinta?" tanya Hubab karena sejak tadi dia melihat Bilal yg tampak sangat bahagia, wajahnya berseri dan matanya berbinar, dan juga ia senyum senyum sendiri seperti orang gila.
"Belum, tapi akan. Tadi pagi dia mengucapkan terimakasih sambil tersenyum manis" tawa Hubab pecah seketika mendengar penuturan Bilal.
"Hanya itu?" tanya Hubab berusaha menghentikan tawa nya "Bilal... Bilal, semua orang akan mengucapkan terimakasih sambil tersenyum. Ya Allah Bilal, gadis itu benar benar membuat mu gila ya"
"Ck" Bilal berdecak karena Hubab tak mengerti perasaan nya, walaupun Bilal bisa memaklumi nya karena Hubab belum menikah dan sampai saat ini, tak pernha sekalipun ia terlihat menyukai seseorang "Kalau nanti kamu sudah jatuh cinta, baru kamu bisa ngerti"
"Aku berharap aku engga jatuh cinta pada gadis asing yg masih kecil, Aamiin" Bilal tertawa kecil karena Hubab seolah mengejek nya.
"Sudahlah, ini sudah sore. Aku pulang duluan, kangen sama gadis asing ku yg masih kecil" Bilal berkata sembari membereskan barang barang nya.
"Ya ya ya... Aku engga tahu sihir apa yg Asma lakukan pada mu, kamu itu sudah tua. Tapi masih seperti remaja labil yg di mabuk asmara"
"Cinta membuat ku merasa muda terus, Hubab. Dan dia hanya punya dua sihir, matanya saat menatap ku dan bibir nya saat tersenyum, itu langsung menancap disini" Bilal memegang dadanya, dan hal itu berhasil membuat Hubab bergidik ngeri.
"Lebay" Hubab berkata yg membuat Bilal tertawa.
.
.
.
Bilal sengaja pulang lebih cepat, karena ia mengkhawatirkan keadaan Asma yg sendirian di rumah karena Khadijah memberi tahu Bilal dia akan pulang setelah isya karena anak anak kelas 6 mengadakan musyawarah yg akan di dampingi Khadijah dan beberpa Ustadzah lainnya. Dan alasan yg paling kuat adalah Bilal merindukan nya. Malam ini, adalah waktu nya bersama Asma, ia tak sabar ingin memeluk dan mencium istri kecil nya itu.
Setelah menekan bel rumah nya, Bi Mina secepat kilat membukakan pintu.
"Dimana Zahra, Bi?" tanya nya langsung.
"Neng Asma tidur di sofa,Pak. Tadi nonton tv dan sepertinya ketiduran"
Bilal pun segera melangkah lebih cepat untuk menghampiri kekasih hati nya itu, ia melihat Asma yg sedang tertidur pulas di sofa sementara tv nya masih menyala. Bilal membungkuk dan mengecup lembut pipi Asma tak peduli seandainya sentuhannya itu menganggu tidur Asma. Namun nyatanya, Asma hanya menggeliat dan sesaat kemudian kembali tertidur pulas, Bilal hanya tersenyum melihat istri nya yg begitu menggemaskan saat tertidur pulas.
Dengan cepat, Bilal naik ke kamar Asma, membersihkan diri kemudian mengganti pakaian nya dengan pakaian santai. Setelah nya, ia turun sambil membawa laptop nya untuk menyelesaikan pekerjaan yg belum selesai hari ini.
Bilal mengambil remote dan mematikan tv nya karena ia fikir tak ada yg menonton juga, namun tiba tiba Asma menggumam.
Bilal hanya tersenyum tipis dengan kelakuan istri mudanya itu, kemudian ia duduk di sofa, mengangkat kepala Asma dengan hati hati dan meletakkan di pangkuan nya. Dan lagi, Bilal mengecup kening Asma, seolah itu adalah candu nya yg tak bisa ia lepaskan.
Asma tahu apa yg Bilal lakukan, dan ia menikmati nya. Entah sejak kapan, ia menyukai sentuhan Bilal.
Asma membenarkan posisi tidurnya senyaman mungkin, dan ia semakin mendesakan kepalanya ke perut Bilal, menghibup aroma suami nya yg ertah sejak kapan ia menyakai nya.
.
.
.
"Bi, ada orang di luar" teriak Asma yg mendengar suara bel berbunyi. Namun Bi Mina tak menyahut, Asma pun segera berlari dan membuka pintu, rupanya yg datang adalah Khadijah dan sepupu nya, Hubab.
"Assalamualaikum, Asma. Gimana keadaan mu? Aku dengar kamu pingsan kemrin, kamu membuat suami mu hampir mati jantungan karena shock" tanya Hubab yg membuat Asma malu, ia memang pernah beberapa kali bertemu dengan Hubab namun ia tak banyak berbicara.
"Waalikum salam, aku baik. Terimakasih. Silahkan masuk" Asma melebarkan pintu nya sehingga Khadijah dan Hubab masuk.
"Mas Bilal dimana, Asma?" tanya Khadijah sembari melepaskan jaket yg sepertinya milik Hubab karena setelah itu ia menyerahkan nya pada Hubab. Belum sempat Asma menjawab, Bilal sudah muncul dan menyapa Hubab.
"Kalian sudah makan malam?" tanya Khadijah pada Bilal dan madu nya itu.
"Sudah, kamu?" tanya Bilal.
"Sudah, tadi aku dan Hubab makan di dapur Ummi'' jawab Khadijah kemdian ia pun naik ke kamarnya, begitupun dengan Asma. Sementara Hubab dan Bilal membicarakan pekerjaan nya di ruang tengah.
"Ini laptop siapa?" tanya Hubab yg melihat laptop Asma masih berada di meja.
"Punya Zahra. Tapi sepertinya sudah rusak" jawab Bilal kemudian ia pergi ke dapur untuk mengambil air.
Sementara Hubab, ia membuka laptop Asma untuk melihat kerusakan nya, dan saat di nyalakan ia di suguhkan pemandangan yang sangat indah. Foto Asma yg di jadikan wallpaper, tanpa hijab, dengan rambut yg acak acakan dan tertawa lepas, tanpa sadar Hubab memandangi foto itu dan terpana dengan keindahan yg di lihat nya. Hingga tiba tiba ia di kagetkan dengan laptop yg di tutup tiba tiba, saat ia mendongak, ia mendapati Bilal dengan ekspresi datar nya namun tatapan nya menyiratkan sesuatu yg lain, bahkan sepupu Khadijah itu merasa terintimidasi dengan tatapan Bilal.
"Maaf, Bilal. Tadi aku emm hanya bermaksud melihat kerusakan nya"
"Sering drop" Balas Bilal dingin yg tentu itu membuat Hubab merasa tidak nyaman "Ini file untuk keperluan besok" Bilal mencabut flashdisk dari laptop nya sendiri dan menyerahkan nya pada Hubab "Besok aku harus ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Khadijah, mungkin aku akan ke kantor di sore hari"
"Hem oke, aku pulang dulu kalau gitu" ucap Hubab, padahal dia datang untuk menghabiskan waktu bersama sepupu nya karena selama ini Hubab terlalu sibuk dengan pekerjaan, tapi tatapan Bilal seolah mengusir nya pergi. Ya, itu memang salahnya yg telah lancang menatap kecantikan istri Bilal.
Setelah Hubab pergi, Bilal membawa laptop Asma ke kamar nya, kemudian ia melemparkan laptop itu ke ranjang dengan marah,membuat Asma yg sedang mendengarkan musik tersentak kaget.
"Apa apaan?" protes nya tak suka sambil melepaskan headset dari telinga nya.
"Kenapa kamu menyimpan foto tanpa hijab di laptop mu? Di jadikan wallpaper lagi"
"Emang nya kenapa? Laptop itu kan privasi ku"
"Tapi alangkah baik nya kalau kamu engga menyimpan foto tanpa hijab" Bilal berkata dengan nada tinggi yg tentu membuat Asma keheranan, ia mencoba menyalakan laptop nya namun tak bisa.
"Mati lagi kan" gerutu nya kesal, ia mencoba beberapa kali namun laptop nya tetap tak mau menyala. Asma menyalahkan Bilal karena ia fikir laptop nya mati total gara gara di lempar Bilal.
"Syukur lah kalau mati total" ucap Bilal yg membuat Asma melotot.
"Ada apa dengan mu? Marah marah engga jelas" ucap Asma sambil meletakkan laptop nya di meja belajar nya. Bilal yg mendengar itu, berusaha menahan emosi nya yg seakan segera meledak dalam diri nya mengingat bagaimana Hubab memandangi foto Zahra nya.
"Maaf, Sayang. Aku engga ada maksud marah marah, aku hanya sedikit lelah" ucap Bilal dengan nada lirih dan tampak menyesal dengan perilaku nya.
"Kalau lelah ya istirahat, bukan nya marah marah. Marah marah juga menguras tenaga tau" ucap Asma dengan nada ketus nya.
Bilal pun segera naik ke atas ranjang yg segera di ikuti Asma. Bilal menarik Asma ke dalam pelukannya, walaupun Asma sempat menolak dan mencoba melepaskan diri, Bilal seolah tak peduli. ia benar benar merindukan Zahra nya. merindukan aroma nya yg manis dan tubuhnya yg mungil berada dalam pelukannya.
"Zahra, coba sekali saja kamu jangan melawan kalau aku peluk, lebih baik kamu peluk aku juga, ya kan? Kita pasti bisa tidur nyenyak kalau saling berpelukan" bisik Bilal karena Asma masih mencoba melepaskan diri.
"Yg ada justru aku sesak, berasa engga bisa gerak" Bilal tersenyum lebar mendengar jawaban Asma, ia pun sedikit melonggarkan pelukan nya.
"Sekarang bagaimana? Apa sudah merasa nyaman?" tanya Bilal, Asma tak menjawab. Dalam hati ia berkata, sebenar nya ia memang merasa nyaman, selalu nyaman dalam pelukan Bilal. Tapi sepertinya dia tak akan pernah mau mengakui nya
▪️▪️▪️
Tbc...