My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 78



Khadijah menggenggam tangan Bilal dan mengecup nya. Setiap kali melihat wajah suaminya, Khadijah merasa sangat berdosa. Bilal tidak membiarkan Khadijah kekurangan dalam hal apapun, tapi Khadijah malah membuat Bilal terluka.


"Maafin aku, Mas. Aku cuma bisa membuat Mas Bilal menderita" Gumam nya. "Ku mohon bangunlah, Mas. Mas Bilal boleh memberikan hukuman apapun pada ku asal Mas Bilal bangun, bahkan... jika Mas Bilal mau meninggalkan ku, aku akan terima itu"


Ummi Mufar yg baru saja masuk, tak sengaja mendengar kata kata Khadijah, ia kasihan dengan Khadijah sebenarnya, tapi ia masih kecewa.


Dan melihat kedatangan Ibu mertua, Khadijah langsung menghapus air matanya.


"Ummi mau menjemput Asma" Ummi Mufar berkata pada Khadijah.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Khadijah, ia juga ingin meminta maaf pada Asma dan keluarga nya.


"Aku takut Asma masih marah dengan mu, Khadijah. " Khadijah langsung tertunduk sedih.


"Jam berapa penerbangan Ummi?" tanya Shofia yg tiba tiba juga masuk kedalam kamar Bilal.


"Nanti sore, jam 4" Shofia melirik arlojiny, dan jam menunjukan pukul 11.


"Ummi, Apa Shofia boleh mengatakan sesuatu?" Ummi Mufar mengangguk "Jika Shofia berada di posisi Asma, maka yg sangat Shofia harapkan kedatangan nya adalah suami Shofia, bukan mertua. Apa lagi ini masalah rumah tangga mereka"


"Ummi ngerti, tapi lihatlah kondisi Bilal saat ini, biarkan Ummi yg menjemput Asma, walaupun Ummi tidak tahu akan seperti apa respon mereka nanti"


Shofia hanya bisa mendesah pasrah, apa lagi tidak ada satupun dari keluarga Asma yg menghubungi keluarga Bilal. Membuat Shofia berfikir pasti Asma dan kelurga nya sangat kecewa pada Bilal. Bahakn Abi Rahman yg notabene nya adalah teman Abi Kahlil, juga tak menghubungi nya. Shofia takut hubungan antara dua keluarga itu benar benar terputus. Khadijah pun memikirkan hal yg sama, tapi sekali lagi, ia tak berani menghubungi Asma, ia tahu Asma pasti masih sangat marah dan membencinya.


Memikirkan hal itu, membuat kepala Khadijah terasa sakit seperti di hantam besi yg besar. Dan hanya dalam hitungan detik ia langsung limbung dan ambruk tak sadarkan diri.


Membuat Ummi Mufar dan Shofia sangat khawatir.


Mereka pun segera memanggil Dokter dan membawa khadijah ke kamar rawat yg lain.


Ummi Mufar meminta Shofia menemani kakaknya, sementara dia akan menemani Khadijah.


Shofia mondar mandir di samping bangsal kakaknya dengan perasaan tak menentu.


"Kak... ayo dong bangun, semua orang kebingungan karena masalah kakak, kami semua khawatir, Mbak Khadijah pingsan, Ummi menangis setiap hari karena khawatir. Apa kakak engga kasian sama mereka?. ayo bangun, Kak Bilal." ucap Shofia.


Kemudian ia teringat kemarin saat ia mengatakan sesuatu tentang Asma, Kakaknya itu merespon.


"Kak...." Panggil Shofia, ia menarik kursi dan duduk di samping kakaknya. "Kakak harus bangun dan menjemput Asma, dia pasti menunggu kakak." ucap Shofia, kemudian Shofia melihat monitor itu namun ternyata usahanya tak membuahkan hasil.


Dan kemudian Mukhlis datang beserta istri dan anak anak nya.


"Bagaimana Bilal, Dek?" tanya Mukhlis pada Shofia.


"Pria tua ini sepertinya sudah menyerah" seru Shofia yg membuat Mukhlis menggeleng dan menegur Shofia


"Jangan berkata begitu, Shofia. Kita harus membantu nya dan berfikir positif"


"Kemaren saat aku mengatakan sesuatu tentang Asma, dia merespon. tapi sekarang engga lagi" Shofia berkata sedih.


"Bilal pasti merasa kesakitan dengan kondisi nya. Shofia" sambung Dini.


Shofia semakin sedih. Ia kasian pada Ummi nya yg terus sedih karena Bilal tak sadar, ia juga kasian pada Khadijah yg terus menerus menangis dan merasa bersalah, dan ia kefikiran tentang Asma, bagaimana keadaan Istri kakaknya itu sekarang, Shofia bisa membayangkan berada di posisi Asma saat ini pasti sangatlah menyakitkan.


"Kak, Kakak itu punya masalah sama Zahranya Kakak. ya kan?. maka Kakak harus bangun dan menyelesaikan masalah Kakak sendiri. masak iya Ummi yg harus kesana dan ikut campur masalah kak Bilal. Apa kata orang tua Asma nanti, Dulu Abi dan Mbak Khadijah yg membuat Kakak bisa mendapatkan Asma, sekarang kakak harus bisa mendapatkan Asma dengan usaha kakak sendiri" Shofia berkata dengan sangat serius.


"Bilal gerak...." Seru Dini tiba tiba yg langsung membuat Mukhlis terkejut. "Tadi jarinya bergerak" lanjut nya sambil menunjuk ke arah Bilal


"Oh ya?" tanya Shofia karena ia tak melihat hal itu, Dini mengangguk yakin.


"Kamu yakin, Din?. Apa dia benar benar bisa mendengar Shofia?" Tanya mukhlis harap harap cemas.


"Coba bicara lagi, Shofia" pinta Dini. Dan Mukhlis pun memperhatikan Bilal Dengan seksama.


"Kak Bilal... Sampai sekarang engga satupun di antara kami yg berani menelpon Asma, dan Asma pun engga ada menghubungi kami. Gimana kalau Asma sudah lupa sama Kakak?. Gimana kalau Paman Rahman menjodohkan Asma sama pria lain, yg pasti yg lebih muda dan tampan dari pada Kakak"


"Bilal bisa mendengar mu, Shofia " seru Mukhlis tak percaya, karena Bilal kembali menggerakan jari nya. Bahkan kelopak matanya pun bergerak seolah Bilal ingin membuka mata. Tentu Shofia kegirangan dengan hal itu. Ia pun kembali melancarkan aksinya, dan di sela keseriusan nya, kejahilan nya pun muncul.


"Kakak itu sudah tua, sekarang juga sudah jelek dan terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit sialan ini, sementara Asma... Dia berkeliaran bebas di luar sana, dia cantik dan juga muda, pasti banyak yg mengantri untuk jadi suami nya. Ckckck... sungguh pria tua yg malang" Shofia berkata dengan nada mengejek.


Dini yg mendengar itu pun langsung meringis, ia fikir Shofia bukannya memotivasi Bilal supaya berjuang untuk bangun, tapi malah menekan mental Bilal. Dini yakin setelah ini Bilal pasti akan semakin drop. Dini pun berbisik pada Mukhlis


"Mas, Kalau Shofia berkata begitu, Bilal bukannya sadar, malah pasti akan semakin drop" ucapnya khawatir


"Adikku emang sedikit gila" ucap Mukhlis yg juga tak menyangka Shofia akan mengatakan hal seperti itu. Tapi ia masih penasaran sampai mana Bilal akan merespon Shofia.


Mukhlis dan Dini kembali meringis dengan kata kata Shofia yg justru seperti kutukan. Mereka merasa hancur sudah pasti perasaan Bilal tuh.


Namun tiba tiba raut wajah keduanya berubah menjadi sangat terkejut saat melihat Bilal perlahan membuka mata.


Mereka menganga tak percaya.


"Aku akan panggil Dokter...." Ucap Mukhlis kemudian dengan antusias. Sementara Dini masih tak percaya dengan apa yg dilihat nya, ia tercengang dan bingung. Selama berhari hari, mereka melakukan segala cara untuk membuat Bilal sadar, tapi tak membuahkan hasil sedikitpun. Dan siapa sangka, kata kata gila Shofia yg seperti sebuah kutukan justru membuat Bilal membuka mata.


Shofia pun terlihat sangat bahagia karena Bilal kembali membuka matanya.


Dokter segera datang dan memeriksa keadaan Bilal.


"Bagaimana keadaan nya, Dok?" tanya Mukhlis.


"Sangat baik, detak jantung nya stabil, perlahan dia akan pulih. masih butuh waktu untuk memulihkan tubuh nya, terutama kakinya yg memgalami patah tulang. Tapi Insya Allah, dia akan sembuh"


Mukhlis, Dini dan Shofia bernafas lega mendengar penuturan Dokter. Bahkan kedua keponakan Bilal yg mendengar itu pun juga senang dan segera berlari mencari nenek mereka untuk memberi tahu kabar gembira ini.


"Baiklah, saya tinggal dulu. Dan pasien masih harus banyak istirhat. Dia tidak boleh stress dan harus selalu mendapatkan dukungan"


"Aku tahu itu, Dokter" seru Shofia dengan senyum jahil nya.


Ia pun kini menatap kakaknya yg juga menatap nya. Bilal memberi isyarat pada Shofia dengan matanya untuk mendekat.


"Kakak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Shofia. Bilal mengedipkan matanya.


Shofia pun mendekatkan telinganya pada Bilal,


"Aku dan Zahra..." Bilal berkata dengan sangat lemah, apa lagi terhalang oleh alat bantu pernafasan yg menutupi mulut nya."Seperti jiwa dan raga, setan kecil. Hanya kematian yg bisa memisahkan kami" Shofia cengengesan saja mendengar kata kata Kakak nya yg tersendat sendat itu.


"Apa yg Bilal katakan, Shofia?" tanya Mukhlis khawatir "Apa dia butuh sesuatu?"


"Engga kok" jawab Shofia sambil kembali berdiri tegak. "Kak Bilal cuma bilang makasih karena sudah buat dia sadar, Kak Bilal juga bilang akan memberikan Shofia hadiah sebagai ucapan terimakasih nya" jawab Shofia riang yg membuat Bilal memutar bola mata nya, sungguh adiknya ini seperti setan kecil saja. fikirnya.


"Tapi ekspresi Bilal mengatakan hal yg lain" Sambung Dini. Ia menyadari saat Bilal memutar bola mata. Apa lagi apa yg di katakan Shofia sama sekali bukan hal yg baik. Mukhlis pun berfikir hal yg sama, apa mungkin Bilal akan mengucapkan terima kasih pada orang yg mengejeknya tua, jelek, dan memanas manasi nya dengan mengatakan istri nya akan menikah lagi. Jika Mukhlis di panasi panasi begitu, dia pasti akan menabok adik kecil nya itu.


"Bilal...." Panggil sang Ibu yg datang dengan nafas tersengal, Ibunya itu langsung berlari saat mendengar kabar putra nya yg sudah sadar.


"Nak, Alhamdulillah kamu sudah sadar" Ummi Mufar langsung mencium wajah Bilal ia bahkan menitikan air mata kebahagiaannya. "Apa kata Dokter, Mukhlis?"


"Bilal baik baik saja, dan Insya Allah akan segera pulih"


.


.


.


Lita melakukan segala cara untuk membuat Asma kembali bahagia, ia menghibur nya, mengajaknya jalan jalan, dan juga belanja.


sedikit keceriaan terpancar dari wajah Asma.


Walaupun saat sendiri, ia kembali bersedih. Apa lagi Bilal yg belum juga menghubunginya.


Terkadang, Asma menyesal karena sudah meninggalkan Bilal dan memintanya untuk tidak menunggu nya. Tapi saat mengingat Khadijah, Asma kembali yakin bahwa keputusan nya benar. Secepatnya, dia akan meminta cerai dari Bilal.


"Woy...melamun lagi. lama lama kesurupan kau" seru Lita, saat ini mereka sedang jalan jalan di taman, Lita menyerahkan satu bungkus pentol pada Asma, kemudian mereka duduk di atas rumput hijau dan menikmati pentol itu. Sejak kecil, itulah jajanan mereka, makanan pinggir jalan yg sangat nikmat. Tak lupa dengan minuman sarimanis yg juga di bungkus plastik plus sedotannya. sungguh kenikmatan yg sempurna.


"Seandainya aku bisa mengulang waktu" Asma berkata dengan lirih, kemudian ia menyeruput minuman itu dari sedotannya "Aku engga akan pernah menerima Bilal, dengan begitu, kami bertiga tidak akan saling menyakiti" Asma berkata dengan sedih.


"Semua yg terjadi memiliki alasan, Asma. Percayalah, kamu akan memiliki hidup yg bahagia suatu hari nanti"


"Menurut mu, apa yg akan terjadi jika aku bercerai?"


Lita seperti tersentak dengan pertanyaan Asma. Namun ia berusaha tidak menanggapi hal itu dengan serius.


"Maka... itu akan menjadi kesempatan kedua yg tidak akan di sia siakan oleh Ustadz yg lain" seru Lita sambil terkikik geli. Membuat Asma yg tadinya sangat serius memberengut kesal.


▪️▪️▪️


Tbc...