
Bilal mengajak Asma untuk berbelanja setelah Bilal selesai sholat Jum'at.
"Memang nya kita akan berbelanja apa?"tanya Asma sembari memasang sabuk pengaman nya
sebelum akhirnya Bilal melajukan mobil nya.
"Apapun yg ingin kamu beli untuk rumah kita" jawab Bilal
"Aku engga pandai memilih perabotan rumah. Oh ya aku mau bunga mau di tanam di taman" seru Asma tampak antusias.
"Ya, nanti kita cari ya, bagaimana kalau kita cari seprei dulu? Itu yg paling penting kan? Supaya kamar nya bisa segera bisa tempati"
"Okey" jawab Asma girang.
"Dan juga perabotan dapur, aku sama sekali engga membeli perabotan dapur, aku engga ngerti harus beli yg mana" tutur Bilal. Sebenarnya, barang barang dirumah nya sudah dia pesankan sejak lama, seperti kasur, sofa, meja dan juga lemari, namun sebagian ia sengaja tak memesannya karena ia ingin berbelanja sendiri dengan Asma
"Kalau perabotan dapur aku mah juga engga tahu" jawab Asma sambil terkikik.
"Ya udah, nanti kita belanjanya ajak Mbak Dini aja"
"Yupz, ide yg bagus" cetus Asma.
Bilal dan Asma memilih berbelanja seprei lebih dulu, karena itu yg paling penting.
Sesampai nya di toko itu, pelayan segera menyambut mereka dengan ramah dan mulai menunjukan seprei yg paling bagus yg mereka punya.
"Ini bagaimana?" tanya Bilal menunjukan seprei berwarna putih yg juga memang terlihat sangat bagus dan pasti nyaman di pakai.
"Aku engga suka seprei putih, cepat kotor" seru Asma, dan seketika Bilal ingat di malam pernikahan nya dengan Asma, gadis itu menggerutu karena kamarnya di pasang seprei putih. Bilal tak kuasa menahan senyum mengingat masa masa itu.
"Kenapa senyum senyum?" tanya Asma sambil melirik Bilal dan kemudian ia memilih beberapa pasang seprei dan bad cover yg menurutnya nyaman di pakai.
"Engga apa apa" jawab Bilal berusaha menahan senyum nya "Kenapa kamu milih yg polos semua?" tanya nya yg melihat Asma memang memilih seprei yg polos.
"Aku pusing kalau terlalu banyak motif nya" jawab Asma yg membuat Bilal mengangguk mengerti.
Kemudian keduanya lanjut memilih dan Bilal iya iya saja pada pilihan Asma,karena ia memang tidak pernah mempermaslah kan motif atau warna seprei, baginya yg penting nyaman di pakai.
Setelah berhasil memilih beberapa pasang seprei dan juga bad cover nya, kini mereka hendak pergi mencari bunga yg Asma mau.
Hingga sampailah mereka di sebuah toko bunga yg menjual bunga hias, bunga asli dan juga bunga yg bisa di tanam.
Saat Asma sibuk melihat lihat isi toko dan mencari bunga yg cantik, Bilal tiba tiba mendapatkan panggilan dan Bilal mengatakan ia akan keluar sebentar untuk menjawab telepon nya sementara Asma di suruh memilih apapun yg dia mau. Asma memilih membeli beberapa jenis bunga, namun yg paling banyak ia beli bunga mawar putih untuk ia tanam di taman nya. Asma juga memilih beberapa bunga hias untuk ia letakkan di ruang tamu dan di ruang keluarga.
Saat asyik melihat lihat bunga hias, Asma merasakan seperti ada yg memperhatikan nya, Asma pun mendongak dan tatapan nya bertemu dengan tatapan seorang pria yg berdiri di antara bunga bunga yg ada di pojok ruangan. Asma menoleh ke kanan dan ke kiri berfikir mungkin pria itu tidak menatap nya. Namun saat melihat sekeliling nya, Asma yakin pria yg tampak seperti mahasiwa itu memang menatap nya.
Kemudian, pria itu melambaikan tangan, dan ia mengambil sekuntum mawar putih, pria itu tersenyum pada Asma dan mulai melangkah ingin mendatangi Asma. Namun Asma mengangkat tangan nya dan memberi isyarat untuk berhenti, dan pria itu pun seketika menghentikan langkah nya dan masih menatap Asma dan tersenyum manis.
Kemudian Asma menunjuk Bilal yg sedang berada di dekat pintu keluar, pria itu pun mengikuti kemana arah Asma menunjuk, dan saat pria itu menatap Asma kembali, Asma mengangkat tangan kiri nya dan menunjukan cincin pernikahan yg melingkar di jari manisnya. seketika Asma melihat pria itu tercengang dan menatap Asma seolah tak percaya, Asma hanya menyunggingkan senyum tipis melihat reaksi pria itu. Untuk meyakinkan pria itu, Asma memegang perut nya dan mengusap nya, kemudian ia membuat gerakan seolah menggendong bayi, memberi isyarat bahwa ia sedang hamil dan akan memiliki anak dari suami nya.
Terlihat pria itu lemas seketika, dan bunga mawar yg di pegang nya jatuh terkulai ke lantai. Sekali lagi Asma hanya tersenyum tipis dengan reaksi pria yg tampak sedang patah hati itu.
Kemudian seorang wanita dan pria yg sepertinya juga mahasiwa datang menghampiri pria itu dan mereka keluar dari toko bunga itu.
Asma pun lanjut melihat lihat bunga yg lain.
Sementara di luar, teman pria itu bertanya
"Ada apa, Bro? Kkok bengong gitu?"
"Ada gadis cantik di dalam, aku bahkan ragu dia itu manusia apa malaikat, cantik banget" teman wanita nya pun mengintip Asma.
"Yg pakek jilbab kuning itu?" tanya nya, dan temannya pun mengangguk.
"Ya ajak kenalan dong, dia kayaknya masih SMA deh"
"Punya suami, hamil, dan akan punya anak" ucap pria yg patah hati itu dan ia segera menjauh dengan perasaanya yg kacau, sementara kedua temannya hanya mengedikan bahu dan tak mengerti apa maksud nya.
"Sudah selesai?" tanya Bilal setelah ia selesia menelpon.
"Sudah, itu semua yg mau aku beli"
"Astaghfirullah, banyak nya, Sayang" seru Bilal membuat Asma tersenyum geli.
"Taman nya kan masih kasong"
"Ya juga sih" balas Bilal. Kemudian ia pun membayar semua belanjaan Asma, dan kebetulan sekali, toko itu juga menyediakan jasa untuk mengantar dan langsung menanam nya, membuat Bilal bernafas lega karena ia tak harus mencari orang lagi untuk menanam bunga itu.
Setelah semuanya selesai, Asma dan Bilal bergegas pulang apa lagi hari sudah menjelang sore dan sebentar lagi akan masuk waktu maghrib .
.
.
.
Setelah apa yg Asma katakan pada malam itu, Khadijah menjadi merasa bersalah, ia merasa telah menyakiti Asma. Padahal gadis itu tidak salah apapun, Khadijah mengenakan jilbab nya dan ia pergi untuk menemui Asma di kamarnya, ia ingin meminta maaf, dan ia ingin hubungan mereka hangat lagi seperti dulu. Apa lagi, selama ini ia dan Asma tak pernah punya masalah secara langsung.
Saat hendak mengetuk pintu, Bilal tiba tiba keluar dari kamar Asma.
"Ada apa, Khadijah? Apa kamu sakit lagi?" tanya Bilal khawatir.
"Engga, Mas. Aku baik baik aja, aku cuma mau ketemu Asma"
"Oh..." Bilal menoleh dan menatap istri nya yg sudah terlelap di tengah ranjang "Zahra sudah tidur" lanjut nya.
"Tumben, baru jam 9" seru Khadijah.
"Mungkin dia lelah, akhir akhir ini dia mudah lelah sepertinya"
"Apa dia sakit?" tanya Khadijah
"Engga, dia baik baik aja"
"Syukurlah, ya udah. Biar aku bicara besok sama dia"
"Iya, kamu juga harus pergi tidur, jangan lupa minum obat nya"
Bilal juga kembali ke kamar Asma, Bilal menatap wajah Asma lekat lekat dan ia mencium kening istri nya yg sedang terlelap itu, Bilal menyelimuti tubuh Asma dan ia pun berbaring di samping nya dengan posisi meyamping agar bisa memeluk tubuh mungil istri nya itu.
Bilal teringat apa yg di lakukan wanita nya itu di toko bunga tadi, Bilal yg tak sengaja melihat Asma yg menggunakan bahasa isyarat, Bilal penasaran dengan siapa ia bicara, dan saat ia mengikuti arah pandang Asma, Bilal sedikit geram karena Asma berkomunikasi dengan pria lain apa lagi Asma yg tampak menyunggingkan senyum, namun saat mengerti apa yg Asma isyaratkan, Bilal tersenyum lebar dan bangga dengan istri nya yg bisa menjaga diri, tak hanya itu, dia juga tak membiarkan orang lain berharap pada nya.
Dan mahasiwa itu mengingat kan Bilal pada dirinya sendiri yg juga terpana pada kecantikan Asma saat pertama kali melihat nya, tentu Bilal mengerti apa yg di harapkan pria itu.
.
.
.
Asma yg baru keluar dari kamar mandi, melihat suami nya itu sudah rapi dan siap berangkat bekerja.
Dan tiba tiba, Asma mengendus sesuatu yg tampak nya sangat menganggu indra penciuman nya.
"Bilal, kamu ganti parfum ya?" tanya Asma saat ia berada di dekat Bilal dan aroma yg sangat menganggu nya itu ternyata berasal dari suami nya.
"Engga kok, kenapa, Sayang?" tanya Bilal
"Ih, bau nya aneh" ucap Asma sembari menutup mulut dan hidung nya "Expired kali tuh" lanjut nya.
"Engga, Zahra. Baru beli, liat tuh" Bilal menunjukan parfum nya dan memang masih banyak.
"Tapi bau nya engga enak, ganti gih" pinta Asma yg membuat Bilal keheranan.
"Tapi ini parfum yg biasa aku pakek, Sayang. Kamu kenapa sih?" tanya Bilal heran.
"Pokoknya ganti baju, buang aja parfum nya tuh, selera mu jelek amat" ucap Asma sembari mengambilkan kemeja yg baru untuk Bilal. Dan tentu saja Bilal semakin keheranan karena Asma tak biasanya mengomentari parfum nya, justru gadis itu pernah mengatakan ia suka aroma Bilal.
Karena tak ingin berdebat, Bilal pun mengganti baju nya dan ia hendak menggunakan parfum yg lain tapi Asma langsung mencegah nya.
"Apa lagi? Ini wangi kok, wangi banget malah, benera, coba cium!" Bilal mendekatkan parfum nya ke Asma dan Asma malah langsung menutup hidung dan mulutnya, dan bahkan itu membuatnya langsung merasa mual.
"Zahra? Kenapa, Sayang?" seru Bilal yg melihat wajahnya istri nya memerah seperi orang akan muntah.
"Itu juga engga enak bau nya" ucap Asma dan menjauhkan parfum itu "Engga usah pakai parfum" ia berkata sembari memasukan semua parfum Bilal ke dalam laci dan menutup nya rapat rapat, membuat Bilal semakin tak habis fikir apa yg salah dengan istri nya itu.
"Kamu sakit?" tanya Bilal. Asma hanya menggeleng dan yg membuat Bilal semakin heran, Amsa membantu Bilal mengenakan kemeja nya. Bilal bingung haruskah dia bahagia dengan Asma yg melayani nya atau haruskah dia khawatir karena itu tak pernah ia lakukan sebelum nya. Setelah selesai memasang kancing kemeja suami nya, Asma tiba tiba kembali mengendus tubuh Bilal membuat Bilal semakin bingung dan tak tahu lagi harus berkata apa.
"Hmm, ini baru wangi, aroma tubuh mu yg sebenarnya" seru Asma setelah mengendus tubuh Bilal.
Bilal langsung menempelkan telapak tangannya di kening Asma, takut takut istri nya itu sakit, tapi suhu tubuhnya normal.
"Sayang, Semalamy kamu mimpi apa?" tanya Bilal yg benar benar penasaran ada apa dengan istri nya itu.
"Engga mimpi apa apa, saking lelah nya aku sampai bermimpi pun udah engga sanggup lagi" jawab nya yg membuat Bilal tertawa kecil.
"Ya udah, ke sekolah nya nanti aku antar jemput deh, jadi engga capek lagi" tutur Bilal.
"Engga usah, kayaknya akhir akhir ini kamu juga sibuk banget" ucap Asma.
"Aku carikan sopir ya buat kamu" ujar Bilal yg seketika membuat Asma tertawa.
"Cuma 5 menit dari sini dan kamu mau aku pakai sopir? Mending duit nya simpan buat anak kita nanti" ucap Asma yg entah kenapa kata 'anak' itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Bilal yg mendengar Asma mulai membicarakan anak pun tampak senang, namun ia tahu Asma masih belum menginginkan nya jadi Bilal tak membiarkan hatinya berharap banyak saat ini.
"Ya, betul juga sih. Ya udah, aku turun duluan ya" ucap Bilal hendak mencium Asma namun yg sangat mengejutkan Bilal sekali lagi, Asma tiba tiba berjinjit dan lebih dulu mencium sudut bibir Bilal.
Dan bukannya senang, hal itu justru membuat Bilal semakin khawatir dengan perubahan istri nya itu.
"Katanya mau turun duluan" seru Asma yg melihat Bilal masih mematung di tempat nya.
"Oh... iya..." gumam Bilal dan ia pun segera turun dengan wajah yg kebingunan.
"Ada apa, Mas?" tanya Khadijah yg sudah berada di meja makan.
"Engga apa apa" jawab Bilal dan tak lama kemudian Asma pun juga turun dan ia sudah siap berangkat ke sekolah. Namun saat melihat makanan di meja makan, Asma meringis dan ia kembali merasa mual.
"Aku sarapan di sekolah aja" ucap Asma yg tak berselera dengan masakan Bi Mina itu.
"Loh, kenapa? Ini Bi Mina sudah buatkan sarapan untuk kita" sambung Khadijah. Dan Asma masih menunjukan ekspresi tak suka nya dengan makanan itu.
"Aku engga nafsu makan, mual" seru Asma.
"Ya justru karena mual itu, Zahra. Kamu harus tetap makan, magh nya kambuh lho nanti" seru Bilal namun Asma tetap tak ingin makan.
"Aku berangkat aja ya, Assalamualaikum" Ucap Asma kemudian mencium tangan suami nya itu dan segera pergi setelah Bilal mengecup pipi lembut istri tercinta nya itu.
Bi Mina yg datang membawa air juga tampak heran dengan Asma, biasa nya Asma selalu suka dengan masakannya.
"Neng Asma kenapa, Pak?" tanya Bi Mina sembari menuangkan air ke gelas Bilal dan Khadijah.
"Kata nya mual, Bi. Jadi engga nafsu makan"
"Mungkin masuk angin" sela Khadijah.
"Bisa jadi, akhir akhir ini dia memang terlihat lemas dan mudah lelah katanya. Dia juga aneh, parfum ku di bilang bau bahkan itu membuat nya juga mual, aku di larang pakai parfum apapun" tutur Bilal yg masih tak habis fikir dengan sikap istri nya itu.
"Mungkin Neng Asma hamil, Pak" cetus Bi Mina saat ia mendengar penuturan Bilal.
Khadijah dan Bilal tampak terkejut dengan apa yg di katakan Bi Mina. Sesaat Bilal berharap itu benar adanya, namun mengingat istri nya belum menginginkan seorang anak, Bilal cepat cepat membuang harapan itu.
"Engga mungkin, Bi. Mungkin Zahra masuk angin, apa lagi akhir akhir ini dia sering tidur malam untuk menghafal pelajaran nya, di tambah kemaren kita pergi belanja seharian, ya mungkin dia lelah aja" tutur Bilal.
Khadijah sebenarnya juga memiliki pemikiran yg sama dengan Bi Mina, di lihat dari gejala nya, Asma memang mirip seperti orang hamil.
Seandainya itu benar, Khadijah seharusnya merasa senang, karena memang itu yg dia inginkan sejak dulu bahkan sebelum Bilal bertemu Asma, Khadijah ingin Bilal memilik keturunan.
Tapi memikirkan Asma hamil sementara dirinya tidak, kenapa hatinya merasa tak suka?
▪️▪️▪️
Tbc...