My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 63



Bilal membujuk Asma agar mau di bawa ke Dokter tapi Asma mengatakan ia sudah sehat dan akan baik baik saja. Walaupun Bilal tidak yakin dengan hal itu, tapi Asma tetap kekeh mengatakan bahwa ia baik baik saja.


"Ya udah, nanti kalau ada apa apa, langsung telpon aku ya" pinta Bilal yg sedang siap siap berangkat bekerja.


"Iya, jangan khawatir. Lagian ada banyak orang disini, aku akan baik baik saja" seru Asma sembari membantu Bilal mengenakan kemeja nya untuk yg kedua kali nya, Asma mengancingkan kemeja Bilal, setelah selesai, ia berjinjit dan untuk yg kedua kalinya pula, ia memberikan kecupan singkat di bibir Bilal membuat Bilal menaikan sebelah alisnya dan kembali bertanya tanya apa yg salah dengan istri nya yg tiba tiba menjadi istri sholehah dan romantis begitu.


"Ada apa?" tanya Asma yg melihat Bilal terus menatap nya seperti orang keheranan.


"Zahra, kenapa kamu tiba tiba begini?" tanya Bilal yg sudah tidak bisa lagi membendung rasa penasaran nya.


"Begini bagaimana?" tanya Asma santai.


"Layani suami kayak istri sholehah saja" cetus Bilal yg langsung membuat Asma mendengus.


"Jadi selama ini aku bukan istri sholehah?" tanya Asma kesal.


"Bukan gitu, Sayang. Tapi dua hari ini kamu kayak gimanaaa gitu" seru Bilal membuat Asma tertawa dengan nada bicara Bilal.


"Ya syukuri aja kalau aku sudah jadi istri sholehah" ucap nya.


"Apa aku boleh pakai parfum hari ini?" tanya Bilal namun Asma menggeleng.


"Tunggu, boleh kok" seru Asma yg membuat Bilal senang namun kesenangan nya hilang seketika saat Asma mengambil parfum nya sendiri "Pakai parfum ku aja"


"Engga. Engga mau, Zahra. Itu parfum perempuan, apa kata orang nanti aku pakek parfum perempuan. Itu juga wangi manis dan feminim, girly banget" gerutu Bilal namun Asma tak menghiraukan penolakan panjang lebar suaminya itu, Asma tetap menyemprotkan parfum itu ke tubuh Bilal.


"Sesekali ikutin mau nya istri" ucap nya.


"Engga mau" seru Bilal namun Asma malah berkacak pinggang dan menatap tajam Bilal.


"Aku nangis nih kalau engga mau" ancam nya dengan nada ketus, Bilal bergidik ngeri melihat kelakuan istri nya yg semakin aneh.


"Ya udah iya, Sayang. Mau kok" jawab Bilal mengalah. Dan seketika Asma langsung tersenyum bahagia, Bilal pun segera pergi ke kantor nya sebelum ia gila karena keheranan dengan tingkah istri nya itu.


.


.


.


Sesampainya di kantornya, karyawan Bilal menyapa dengan ramah seperti biasa, namun saat berdekatan dengan Bilal, mereka tampak heran namun tak mengungkapkan apapun.


Seumur hidup, Bilal tidak pernah menggunakan parfum perempuan apa lagi parfum Asma memilik aroma yg sangat manis dan feminim. Bilal tak heran jika karyawan nya seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak berani, mereka pasti ingin menanyakan apa yg salah dengan aroma parfum Bilal hari ini.


"Assalamualaikum, Pak. Selamat pagi" sapa seorang kepala keamanan pada Bilal.


"Waalaikum salam. Selamat pagi, Paman" ucap Bilal. Dan pria itu pun juga tampak mengernyit saat bisa mencium aroma parfum Bilal.


"Pak Bilal ganti parfum?" tanya pria itu dengan berani, dia yg sudah bekerja selama bertahun tahun tak begitu sungkan dengan Bilal, apa lagi Bilal yg memang ramah pada semua karyawan nya dan dekat dengan mereka.


"Iya, Paman. Lebih tepat nya bukan ganti sih, tapi engga tahu kenapa istri ku mau aku pakai parfum nya, aku di larang pakai parfum ku sendiri" tutur Bilal terus terang.


"Oh, wanita hamil memang begitu kadang, Pak. Biasanya menjadi lebih sensitif, kadang apa yg dia suka menjadi tidak suka, dan begitu juga sebaliknya, istri saya juga begitu dulu"


"Istri ku belum hamil, Paman. Mungkin mood nya aja yg lagi berubah" seru Bilal yg tak mau berharap jika terus terusan mendengar kata 'hamil'.


"Oh begitu"


"Iya, ya udah, Paman silahkan kembali bekerja" tutur Bilal dan ia pun segera berjalan menuju ruangannya.


Bilal menghempaskan tubuhnya ke kursi nya dan ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Kemudian Bilal mengendus aroma tubuh nya sendiri, sebenarnya Bilal suka dengan aroma parfum Asma namun hanya saat ia mencium nya dari tubuh Asma, bukan dari tubuhnya sendiri.


"Kalau beneran gara gara hamil gimana ya?" gumam Bilal apa lagi dia dan Asma sama sekali tidak melakukan apapun untuk mencegah kehamilan. Bilal menggelengkan kepala nya dan ia berusaha fokus pada pekerjaan nya sekarang.


Di tengah fokusnya bekerja, ponselnya bergetar dan Bilal pun segera menjawab telpon yg ternyata dari ibu nya.


"Assalamualaikum, Ummi. Ada apa?" tanya Bilal dengan jari jari yg masih sibuk di keyboard laptop nya.


"Bilal, Asma pingsan" seru sang ibu dengan suara yg tampak khawatir.


"Apa? Bagaiamana keadaan nya? Apa dia baik baik saja?" tanya Bilal dengan sangat panik dan tanpa berfikir panjang ia segera mengambil kunci mobil nya dan meninggalkan pekerjaannya.


"Dokter masih dalam perjalanan, tapi dia benar benar pucat"


"Aku pulang sekarang, Ummi. Dan tolong telepon lagi Dokter nya suruh cepatan" seru Bilal yg sudah sangat khawatir dengan istri nya itu.


"Bilal..." panggil Hubab yg melihat Bilal sangat buru buru keluar dari ruangan nya "Ada apa?" tanya Hubab yg melihat Bilal sangat panik.


"Aku harus pulang, Hubab" seru Bilal


"Ada apa? Apa Khadijah sakit lagi?" tanya Hubab yg juga tampak panik karena melihat Bilal panik.


"Zahra" jawab Bilal dan ia pun segera meninggalkan Hubab yg kini juga terkejut dan tampak khawatir.


.


.


.


Sesampai nya dirumah Ummi nya, Bilal segera berlari menuju kamarnya, disana dia melihat Ummi Mufar, Dini dan juga Khadijah sedang berdiri di depan pintu kamar nya. Khadijah yg menyadari kedatangan Bilal hanya menatap nya sekilas, tampak ekspresi penyesalan di wajah istri nya itu. Namun fokus Bilal saat ini adalah Zahra nya.


"Dokter lagi memeriksa nya" jawab sang ibu. Dan tak lama kemudian Dokter keluar dan Bilal langsung mencecarnya dengan pertanyaan


"Dok, bagaimana Zahra? Apa dia baik baik saja? Apa dia sakit? Dia sudah sadar kan?"


"Ya, dia baik baik saja" ucap Dokter itu sembari tersenyum "Dan selamat ya, kalian akan punya anggota keluarga baru. Neng Asma sedang mengandung"


Semua orang tampak bahagia mendengar kabar itu, terutama ibu Bilal yg memang sudah lama sekali menginginkan cucu dari putra bungsu nya itu. Bahkan Dini juga tampak sangat bahagia, Namun beda hal nya dengan Khadijah dan Bilal yg malah tampak bingung.


Bilal tidak tahu, haruskah dia bahagia karena ia akan segera memiliki bayi, atau haruskah dia khawatir mengingat Zahra nya tak menginginkan bayi?


Sementara Khadijah, hati kecilnya ikut merasa bahagia melihat ibu mertuanya yg tampak sangat bahagia, tapi sebagai istri ia juga cemburu karena bukan dirinya yg bisa membuat suaminya bahagia.


"Oh ya, untuk mengetahui kondisi janin dan ibu nya, sebaik nya Neng Asma di bawa ke dokter kandungan, saya khawatir dengan kondisi janinnya melihat Neng Asma yg tampak lemah"


"Ya, Dok. Kami pasti akan segera membawa nya ke Dokter kandungan. Terima kasih banyak, ini kabar yg selalu kami tunggu tunggu selama ini" ucap Ummi Mufar, saking bahagia nya ia bahkan langsung memeluk Dokter wanita itu.


"Sama sama, Nyonya. Semoga janin dan ibu nya sehat selalu. Saya permisi, harus kembali bertugas"


"Ya, Tentu. Dini tolong antarkan Dokter sampai depan ya, dan minta sopir mengantar nya" seru Ummi Mufar.


"Iya, Ummi. Ayo Dok, silahkan" seru Dini.


"Selamat ya, Nak. Kau akan jadi ayah" Ummi Bilal segera memeluk tubuh Bilal yg masih diam mematung dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.


Bahagia? Tentu dia sangat bahagia, tapi bagaimana dengan Zahra nya? Apakah Zahra nya juga akan bahagia seperti Bilal? Bagi Bilal, kebahagian Zahra nya adalah yg terpenting dari pada kebahagian diri nya sendiri.


"Aku...aku mau ketemu Zahra" ucap Bilal, ia sungguh tak sabar untuk melihat kondisi istri nya,


ibu nya pun mempersilahkan.


Bilal membuka pintu pelan pelan, dan ia melihat Asma yg sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan memegang perut nya,namun tatapan nya hanya lurus ke depan, tentu membuat Bilal semakin khawatir.


"Zahra..." Bilal memanggil nya dan Asma pun mendongak masih dengan ekspresi yg tak bisa Bilal artikan. Asma mengulurkan tangannya pada Bilal yg langsung di sambut oleh Bilal, ia pun duduk di hadapan istri nya itu dan masih tak mengalihkan pandangan nya dari wajah istri nya itu.


"Bagaimana keadaan mu, Sayang?" tanya Bilal sembari mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan Asma.


"Bilal, Dokter bilang aku...aku hamil" ucap Asma dengan suara pelan seolah ia tak percaya itu adalah nyata. Asma menatap perut nya dan kemudian menatap Bilal "Ada janin di rahim ku, apa itu benar?" tanya nya. Bilal hanya bisa mengangguk pelan.


Asma pun juga terdiam, ia seolah sedang mencerna apakah itu nyata atau hanya mimpi. Melihat Asma yg terdiam, Bilal menyadari bahwa Asma memang tak menginginkan bayi, tapi semua sudah terjadi.


"Maaf, Sayang. Seharusnya kita bisa mencegahnya" Bilal berkata dengan nada sangat rendah. Asma menatap Bilal lekat lekat kemdian ia memukul bahu Bilal dengan keras membuat Bilal terkejut dan meringis.


"Ada apa?" tanya Bilal semakin khawatir.


"Kamu ini suami macam apa? Istri nya hamil bukan nya Alhamdulillah malah bicara ngaur" celoteh Asma yg membuat Bilal tercengang. "Untung aja bayi kita belum bisa dengar, coba kalo dia dengar, dia pasti sedih dan berfikir kamu engga mengharapkan kehadiran nya. Kasian kan anakku" lanjut nya yg membuat Bilal semakin tercengang.


"Tapi....bukan nya kamu bilang belum siap?"


Asma menghela nafas panjang, karena memang benar ia sama sekali belum siap punya anak.


"Kak Aisyah pernah bilang, takdir hidup akan terus berjalan entah kita siap atau engga" Asma mengelus perut nya dimana akan ada kehidupan di sana.


Dan kemudian Khadijah, ibu mertua nya dan juga Dini ikut masuk untuk melihat keadaan Asma. Khadijah berjalan mendekati Asma, Asma tersenyum pada Khadijah.


"Aku memang belum siap jadi ibu, tapi Allah itu adil, Bilal. Dia sudah menyiapkan ibu yg sangat baik untuk anak kita, bukan begitu Mbak?" ucap Asma menatap Khadijah, Khadijah tak mengerti apa yg Asma bicarakan begitu juga yg lain. Kemudian Asma meminta Khadijah agar duduk juga di samping nya, Khadijah pun mengikuti nya. Saat Khadijah sudah duduk di samping nya, Asma membawa tangan Khadijah ke perut nya.


"Memang aku ibu yg akan mengandung dan melahirkan nya, tapi Mbak yg akan menjadi ibu yg akan merawat dan mendidiknya. Dia juga anak mu, Mbak" ucapnya sembari tetap menyunggingkan senyum pada madu nya itu "Saat dia lahir kelak, dia akan memberikan kita cinta dan kehormatan sebagai ibu dengan sama besar nya. Mbak mau kan jadi ibu nya?" lanjut Asma yg langsung membuat Khadijah terharu, begitu juga dengan Ummi Mufar, Dini dan Bilal.


Asma mengambil gelang yg di berikan ibu mertua Shofia dan meletakkan nya di tangan Khadijah.


"Mbak mau kan memakaikan gelang ini saat anak kita lahir?"


Tanpa sadar Bilal meneteskan air mata, melihat istri kecil nya Zahra, begitu bijaksana dan dewasa.


Bilal tak hanya terkejut karena Asma menerima kehamilan nya dengan senang hati, ia juga sangat terkejut dengan apa yg di katakan istri kedua nya itu pada istri pertama nya.


Khadijah tak tahu harus berkata apa, ia juga tak menyangka Asma akan mengatakan hal itu. Khadijah hanya bisa menangis haru dan langsung memeluk Asma.


"Kita akan merawatnya bersama" ucap Khadijah, Asma pun membalas pelukan Khadijah "Terima kasih, Asma. Kau mau memberiku kesempatan jadi ibu "


Bilal merangkul kedua istri nya dan mencium kening mereka secara bergantian. Sekrang Bilal merasa hidup nya begitu sempurna, ia begitu bahagia hingga tak bisa menggambarkan nya dengan kata kata. Ketiganya larut dalam kebahagian dan tangis haru mereka.


Ummi Mufar yg melihat itu juga tak kuasa menahan air mata nya begitu juga dengan Dini. Melihat Bilal yg tampak sangat bahagia, begitu juga dengan Khadijah, dan yg membuat mereka terharu, dengan apa yg di katakan Asma, begitu tulus dan menyentuh.


Ummi Mufar mengelus pipi Asma, kemudian ia mencium kening nya dengan penuh kasih sayang.


"Ibu yg melahirkan putri seperti mu, adalah ibu yg paling beruntung di dunia ini, Asma" seru sang ibu mertua "Dan anak yg akan lahir dari mu, adalah anak yg paling beruntung di dunia"


Asma hanya menanggapi ucapan Ummi nya itu dengan senyuman dan ia memeluk ibu mertua nya itu.


"Doakan Asma, Ummi. Supaya Asma bisa jadi ibu yg baik"


"Pasti, Nak. Doa kami akan selalu menyertai kalian bertiga dan juga calon anak kalian"


▪️▪️▪️


Tbc...