My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 44



Asma masih bersikap dingin pada Bilal dan juga pada Khadijah yg sudah pulang dari rumah sakit, Bilal selalu berusaha mengambil hati Asma dan mendapatkan maaf dari nya, dan tak sedikit pun Bilal mencoba membela diri atau pun membenarkan tindakan nya.


Bahkan ia enggan menerima ponsel baru yg Bilal berikan untuk nya. kini Asma lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya.


"Zahra, Adil menanyakan mu" seru Bilal sembari berjalan menghampiri Asma yg saat ini sedang rebahan di ranjang sambil membaca buku. Asma melirik Bilal sekilas kemudian ia mengambil ponsel Bilal yg di sodorkan kepada nya, kemudian Bilal berjalan keluar kamar.


"Dek, kemana ponsel mu? Beberapa hari ini kami engga bisa menghubungi mu. Ummi sangat khawatir" tutur Adil dari seberang sana.


"Ponsel Asma rusak, Kak. Jatuh di kamar mandi" jawab Asma berbohong.


"Oh ya, kenapa engga beli yg baru? Atau mau Kakak belikan?"


"Sudah di belikan sama Bilal, tapi belum sempat membeli sim card nya. Kakak tahu kan kalau Asma selalu ingin nomor yg bagus" sekali lagi Asma berbohong.


Bilal yg sebenarnya masih berada di luar kamar semakin merasa bersalah dan ia juga tersentuh karena Asma tetap menjaga nama baik nya didepan keluarga nya.


"Bilal?" tanya Adil dari seberang telpon "Kenapa kamu memanggil dia dengan nama? Itu engga sopan, Asma"


"Terus aku harus panggil Ustadz gitu?" tanya Asma dengan tawa kecil nya.


"Ya bukan tapi kamu bisa memanggil nya Mas atau abang gitu atau panggilan yg lain nya"


"Hehe, iya nanti Asma carikan nama panggilan yg bagus dan penuh hormat" jawab Asma ngeyel yg membuat Adil terdengar menghela nafas. Adil pasti berfikir Asma masih tidak berubah, nakal.


"Ya sudah, nanti kalau sudah dapat sim card nya. Langsung hubungi kakak ya, kasian tuh Ummi sudah uring uringan karena putri kesayangan nya hilang kabar"


"Iya, Kak. apa Ummi ada dirumah?"


"Engga ada, dia pergi kerumah mertua Aqilah bersama Aqilah dan Aisyah"


"Hmm begitu "


"Iya, ya sudah, Kakak tutup dulu telpon nya, nanti kakak telpon lagi"


Setelah menutup telpon nya, Asma meletakkan hp Bilal di atas meja dan ia melanjutkan membaca buku, namun tiba tiba pintu terbuka dan Bilal masuk begitu saja.


"Apa kaki mu sudah di obati?" tanya Bilal sembari menghampiri istrinya itu. Namun Asma tak menjawab nya, Bilal tahu Asma bukannya lupa mengoleskan salep di kaki nya, tapi gadis itu malas melakukannya, dan dengan senang hati Bilal yg akan melakukan nya.


Seperti saat ini, Bilal mengambil salep dari dalam laci, ia kemudian duduk di sisi kaki Asma, mengangkat sedikit ujung celana tidur Asma, kemudian dengan sangat lembut ia mulai mengoleskan salep itu. Awal awal Bilal melakukan itu Asma selalu menolak, namun Bilal selalu berusaha melakukan nya dan itu sebenarnya mulai membuat hati Asma tersentuh, namun kemudian ia teringat bagaimana Bilal meninggalkannya demi Khadijah.


"Zahra..." panggil Bilal dengan sangat lembut, Asma hanya melirik sekilas namun kemudian ia fokus kembali ke buku nya, dan terlihat Bilal sudah selesai mengoleskan salep di kaki nya.


"Sayang,sudah ya marah nya! Aku engga tahan kalau kamu diemin aku begini" bujuk nya. Namun Asma tetap tak menggubris nya


"Zahra..." Asma segera turun dari ranjang kemudian ia pergi untuk memberi makan pada ikan ikan peliharaan nya. Asma sebenarnya juga tidak tahan melihat mata Bilal yg penuh luka setiap kali dia mengabaikan nya, tapi hati Asma sudah terlanjur sakit. Dia memang masih remaja, tapi dia tetaplah wanita dan seorang istri, yg akan merasakan sakit hati jika suami nya melukai nya dengan alasan apapun, apa lagi jika alasan itu adalah wanita lain nya.


"Asma..." panggil Khadijah, Asma menoleh dan mendapati madu nya itu berjalan ke arah nya, Khadijah sudah tampak lebih baik, walaupun masih menunjukan perhatian nya pada Asma, tapi Asma bisa merasakan sikap nya yg tak sehangat dulu. Dan Asma tidak mau peduli akan hal itu, Khadijah ikut menaburkan pakan itu dan lama keduanya terdiam. Dan kemudian tanpa menatapnya, Khadijah berkata


"Maafin Mas Bilal ya" mendengar itu, Asma langsung melirik Khadijah sekilas namun kemudian ia fokuskan kembali pandangannya ke pada ikan ikan nya "Dia engga ada maksud ninggalin kamu"


"Tapi itu yg dia lakukan" akhirnya Asma bersuara dengan sangat dingin.


"Dia begitu panik saat itu, Asma. Ini salah ku, bukan salah nya"


Asma menghela nafas, kemudian ia menatap Khadijah dengan serius


"Aku tahu kamu butuh dia, aku mengerti keadaan mu, tapi dia yg engga bisa aku mengerti, jika dia memang engga bisa menunggu ku, dia bisa memanggil ku dan kita bisa pulang bersama, tapi hanya jika dia memang peduli pada ku"


Setelah mengucapkan hal itu, Asma segera meninggalkan Khadijah. Sementara Khadijah hanya bisa menahan rasa bersalah nya, ia merasa, dirinya lah yg menjadi orang ketiga yg menganggu hubungan Bilal dan Asma. Apa lagi setiap hari Khadijah melihat Bilal selalu sedih karena Asma mengabaikan nya, Khadijah sungguh tidak tega melihat suami yg di cintai nya itu bersedih.


.


.


.


Berkali kali Bilal melirik jam dinding kamarnya yg terasa berjalan begitu lambat, ia sedang menunggu Asma pulang. Sebelum berangkat ke sekolah nya, Asma memberi tahu Bilal dia akan pulang terlmabat karena akan mengerjakan tugas bersama teman teman nya.


Tapi ini sudah hampir jam 9. Dan istri nya itu belum juga pulang, Bilal bahkan sampai menelpon Ummi nya berkali kali hanya untuk memastikan apakah Asma baik baik saja dan terus menanyakan kapan Asma akan pulang. Ummi nya memberi tahu Bilal agar memberikan sedikit kebebasan kepada Asma apa lagi jika itu berhubungan dengan sekolah nya. Ummi nya mengatakan tidak masalah jika Asma pulang terlmabat, dia akan menyuruh sopir mengantar Asma pulang atau Bilal bisa menjemput nya sendiri.


Jam sudah menunjukan pukul 21.35 . Karena tidak tahan terus memikirkan Asma, akhirnya Bilal memutuskan untuk menjemput istri nya itu.


"Mau kemana, Mas?" tanya Khadijah yg melihat Bilal membawa kunci mobil nya.


"Tapi ini baru jam 9"


"Jam 9.35. Seharusnya jam 9 dia sudah pulang" Khadijah tak bisa berkata apa apa lagi, ia mencoba mengerti Bilal yg selalu mengkhawatirkan Asma bahkan ketika Asma dalam keadaan baik baik saja.


Saat Bilal membuka pintu dan hendak keluar, ia melihat Asma yg muncul bersama Hubab. Asma bahkan tampak tersenyum saat berbicara dengan Hubab, dan Bilal juga bisa melihat Hubab yg tampak senang berbicara dengan istri nya itu.


Saat sampai di depan rumahnya, Asma tampak terkejut melihat Bilal yg seolah menunggu nya. Kemudian Hubab menyapa Bilal seperi biasa, namun Bilal tampak sedang menahan amarahnya.


"Aku kesini mau mengantar martabak untuk Khadijah. Sejak dari rumah sakit, dia bilang ingin makan martabak" ucap Hubab sambil menyerahkan bingkisan martabak itu. Bilal segera menerima nya dan bertanya


"Apa ada yg lain?" Hubab menaikan sebelah alisnya dan ia menyadari sahabat nya itu tidak dalam mood yg bagus,


"Engga, itu aja" jawab Hubab kemudian ia berpamitan pada Bilal dan Asma. Setelah Hubab pergi, tanpa sepatah kata pun pada Bilal, Asma langsung berjalan melewati nya, bahkan Bilal yg memanggilnya tak ia pedulikan.


"Zahra, aku ingin bicara dengan mu!" tegas Bilal namun Asma tak menoleh sedikit pun, ia berjalan masuk ke kamar nya. Bilal segera memanggil Khadijah dan memberikan martabak nya, saat Khadijah melihat ekspresi marah Bilal, ia tampak bingung.


"Ada apa, Mas?" tanya Khadijah. Namun Bilal tak menjawab nya dan ia segera berlari ke kamar Asma. Bilal langsung membuka pintu dengan kasar hingga membuat Asma tersentak.


"Zahra, dari mana saja kamu?" tanya Bilal menahan amarahnya yg hampir meledak.


"Dari sekolah" jawab Asma dengan santai


"Apa kamu tahu ini jam berapa?" tanya Bilal lagi, Asma hanya melirik arloji nya kemudian berkata


"Tadi aku ikut sepupu Mbak membeli martabak" jelas nya, kemudian ia hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun Bilal mencekal tangan nya


"Apa kamu tahu di sini aku sangat mengkhawatirkan mu? Dan kamu malah pergi bersama laki laki lain? Ini sudah malam, Zahra. Kamu tidak boleh melakukan hal itu!"


Antara terkejut dan tak percaya Asma mendengar penuturan Bilal yg seolah menuduh nya, ia memandang Bilal dengan tatapan dingin nya.


"Laki laki lain? Dia itu sepupu Mbak, dan sudah seperti kakak bagi ku"


"Tetap saja dia itu pria dewasa dan bukan muhrim kamu, Zahra. Dan kamu sudah menikah, seharusnya kamu bisa menjaga jarak dari pria lain"


"Apa maksud mu?" tanya Asma tak percaya karena Bilal benar benar seperti menuduhnya "Aku tidak pergi berkencan dengan nya, aku hanya pergi membeli martabak tidak jauh dari sekolah" ucap Asma yg mulai kesal "Dan aku tahu batasan ku, Bilal. Aku tidak akan melakukan hal yg bisa merusak kehormatan ku sendiri"


"Lalu kenapa kamu harus ikut dengan nya?" tanya Bilal lagi dengan nada yg lebih tinggi, membuat Asma semakin merasa kesal.


"Memang apa yg salah? Tadi aku kebetulan bertemu dengan nya, dia bilang akan membeli martabak untuk Mbak, kemudian aku ikut dan kita pulang, itu saja. Kenapa kamu marah marah, huh? Apa yg kamu fikirkan?" tanya Asma dengan emosi yg sudah memuncak.


"Aku..." Bilal hanya bisa menelan ludahnya, ia tidak tahu apa yg dia fikirkan, tapi saat melihat Asma berjalan bersama Hubab dan Asma tampak dekat dengan nya, Bilal menjadi sangat marah apa lagi karena sejak tadi Bilal selalu mengkhawatirkan Asma.


"Selama ini kamu engga pernah marah kalau Mbak yg jalan sama Hubab" tutur Asma kemudian.


"Mereka sepupu, Zahra"


"Sepupu juga bukan mahram, Bilal" balas Asma yg langsung membuat Bilal terdiam "Tapi kamu selalu mengizinkan Mbak pergi berdua dengannya, mau siang hari, malam hari, kamu engga pernah marah. Bahkan saat Mbak datang ke rumah ku, dia juga datang berdua bersama sepupu nya, apa kamu marah? Engga kan?"


Mendengar kata kata Asma, Bilal seolah sadar dari emosi yg menguasi dirinya. Dan sekali lagi ia menyesal karena membuat istri nya kesal dan bertengkar dengan nya.


"Zahra, Sayang. maafin aku...aku engga bermaksud seperti itu" Bilal berkata dengan lembut dan memelankan suara nya.


"Kamu selalu seperti itu" desis Asma tajam dan hampir menangis saking kesal nya pada suaminya itu "Kamu benar benar tidak adil, mungkin akan lebih baik jika aku yg sakit dan segera mati" ucap Asma yg membuat hati Bilal terkesiap tak menyangka Asma bisa mengucapkan hal itu.


"Zahra, jangan bicara seperti itu, Sayang" ucap Bilal sedih. Namun Asma segera pergi ke kamar mandi dan menutup pintu nya dengan kasar hingga menimbulkan suara gebrakan. Bilal mengetuk pintu nya dan terus mengucapkan kata maaf dengan penuh penyesalan.


Di dalam, Asma melepaskan tangisnya. Ia teringat bagaimana semua orang mengatakan bahwa Bilal mencintai nya dan akan menjadi suami yg baik, tapi rupanya mereka semua salah, fikir nya. Bilal sangat tidak adil dengan dirinya, Bilal tak pernah memarahi Khadijah, tak pernah berdebat dan membiarkan Khadijah melakukan apapun yg dia mau.


Sementara dirinya? Bilal selalu mencari masalah, bertengkar, berdebat, di larang melakukan ini, harus melakukan itu. Yg membuat Asma sangat sedih dan kecewa saat Bilal mengatakan sesuatu yg seolah Asma telah melewati batasan nya karena berjalan bersama Hubab. Sementara Khadija di izinkan bersama Hubab kapan pun dan dimana pun.


Asma merasa iri pada Khadijah yg di perlakukan dengan begitu sempurna.


Sementara di luar kamar mereka, Khadijah mendengarkan perdebatan mereka, dan Khadijah merasa sedih karena sekali lagi ia melihat betapa besar cinta Bilal untuk Asma berdasarkan kecemburuan nya.


Ya, Bilal marah karena cemburu, dan selama ini, Bilal tidakpernah marah pada Khadijah karena merasa cemburu. Khadijah merasa iri pada Asma, yg bisa membuat Bilal merasakan jatuh cinta dan juga merasakan cemburu. Betapa sempurna nya Asma yg telah memberikan banyak warna dalam hidup Bilal, warna yg tidak akan pernah bisa Khadijah berikan sampai kapan pun


▪️▪️▪️


Tbc...