
Dan waktu terus berjalan, ia melewati setiap detik dengan senyum kebahagiaan. Khadijah merasa mendapatkan suaminya kembali, dimana Bilal terus bersama nya setiap saat tanpa harus membagi waktu seperti dulu. Dimana Khadijah bisa selalu tidur dalam pelukan suami nya dan dimana Khadijah tak lagi harus menahan cemburu karena keberadaan istri kedua suami nya itu. Kini, Bilal sepenuh nya milik nya.
Begitu pun dengan sang suami, ketakutan nya akan jarak antara dia dan kekasih hatinya sungguh berbanding terbalik dengan apa yg terjadi. Kini ia telah mendapatkan cinta istrinya, kedekatannya walau hanya lewat media social semakin hari semakin menimbulkan cinta antara keduanya. Perdebatan kecil sering terjadi, namun tak sampai berakhir dengan amarah dan air mata. Perdebatan itu hanya bentuk dari cinta dalam hati.
Bilal sungguh tak menyangka, kedekatan yg dia inginkan sewaktu bersama, ternyata terwujud saat tak bersama.
Mungkin, saat ia tak lagi di sisi nya, Zahra nya baru menyadari adanya cinta di antara keduanya. Seperti kata orang, akan terasa berarti saat sudah pergi.
Me
'Aku sangat merindukan mu, Zahra.'
Me
'Karena ujian mu sudah selesai, kau boleh pergi ke suatu tempat jika bosan di rumah, ajak Dini dan juga Rayhan dan Laila. kalian bisa bersenang senang'
Me
'Ummi bilang dia akan mengajak mu ke acara teman nya. Jangan menggunakan riasan, ingat itu! Kenakan cadar, dan teruslah berada di sisi Ummi'
Bilal mendesah kesal karena Asma tak juga membalas pesannya.
Me
'Dimana kau, Zahra? Kenapa tidak membalas pesan ku?'
Bilal terus memandangi layar ponsel nya, sejak Asma menjalani ujian, mereka mulai jarang berkomunikasi, Asma bilang dia ingin fokus pada pelajarannya.
Tapi sekarang ujiannya sudah selesai, seharusnya Zahra nya kembali memberikan waktu untuk suami nya itu, namun meskipun ujian sudah selesai sejak beberapa hari yg lalu, Asma tetap jarang berkomunikasi dengan Bilal. Padahal mereka tak lagi bertengkar, tak ada masalah besar yg terjadi, tapi entah kenapa, Bilal merasa Asma menghindari nya.
Sebelumnya, semuanya berjalan begitu indah, sangat indah. Zahra nya mulai mengakui bahwa dia memang merindukan Bilal, Zahra nya juga mulai menunjukan sikap yg memberi tahu bahwa dia telah membalas perasaan Bilal. Tentu itu membuat Bilal sangat bahagia dan tak sabar ingin pulang dan menemui istrinya itu.
Sementara Khadijah saat ini sedang berbincang dengan Dokter Elyara. Dokter Elyara mengatakan Khadijah mengalami kemajuan yg sangat baik, dan ia yakin Khadijah akan segera sembuh.
"Kau beruntung memiliki suami yg sangat setia dan sangat mencintai mu, dia benar benar merawat mu dengan baik, harus ku akui, kemajuan mu ini juga berkat suami mu" ucap Dokter Elyara yg membuat Khadijah tersenyum lebar, Bilal memang mengurusnya dengan sangat baik, dan itu membuat Khadijah semakin dan semakin mencintai nya.
"Dia suami terbaik di dunia" jawab Khadijah.
"Ya, kau membuat wanita lain iri. Oh ya, kau boleh pulang, Minggu depan kita akan bertemu lagi"
"Terimakasih" ucap Khadijah, tak lama kemudia Bilal datang dan langsung merangkul istri nya itu.
"Terimakasih, Dokter. Sampai ketemu minggu depan" Ucap Bilal sembari menyunggingkan senyum.
Bilal membawa Khadijah pulang ke apartemen yg tak jauh dari rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, Khadijah melihat Bilal tampak murung.
"Ada apa, Mas?" tanya Khadijah khawatir
"Engga apa apa, sayang" Bilal menjawab sambil menyunggingkan senyum samar. Saat di lampu merah, Bilal merogoh ponselnya dari dalam saku nya dan ia bernafas lega karena istru kecil nya sudah membalas pesan nya. Tapi saat ia membaca pesan nya, Bilal mengernyit bingung
^^^Zahra Y Bilal^^^
^^^'Ya'^^^
"Hanya itu?" gumam Bilal tak percaya.
"Hanya itu apanya, Mas?" tanya Khadijah yg heran melihat ekspresi Bilal. Namun Bilal segera mengulum senyum dan mengatakan tidak apa apa.
Me
'Ada apa, Sayang?. Kamu marah? Apa aku membuat kesalahan?'
^^^Zahra Y Bilal^^^
^^^'Engga, aku cuma lelah karena tadi menemani Ummi seharian'^^^
Me
'Jangan berbohong, Zahra. Aku bisa merasakan kau senagaja menghindari ku'
^^^Zahra Y Bilal^^^
^^^'Aku engga menghindari mu'^^^
^^^Zahra Y Bilal^^^
^^^'Bagaimana kondisi Mbak?'^^^
Me
'Dia semakin membaik, Dokter bilang kemajuan nya sangat pesat'
^^^Zahra Y Bilal^^^
^^^'Alhamdulillah, Semoga Mbak segera sembuh'^^^
"Siapa Mas?" tanya Khadijah yg melihat Bilal sangat serius membalas pesannya .
"Zahra. Dia menanyakan keadaan mu" Dan Kahdijah hanya bisa beri oh ria.
.
.
.
Indonesia
Asma menggeliat malas saat mendengar ketukan di pintu nya dan terdengar suara Bi Mina yg memanggil nya, sudah dua hari dia tinggal di rumah nya.
"Iya, Bi" jawab Asma kemudian dia pergi ke kamar mandi. Asma melihat pantulan dirinya di cermin, Asma meringis karena penampilan nya sangat berantakan, wajahnya kusut, matanya sembab, ia mengusap sisa air mata di sudut matanya. Kemudian Asma mencipratkan air ke wajahnya.
"Hati kamu tuh cuma sebesar biji beras ternyata ya, kecil, gampang sakit hati"
Asma tersenyum kecut mengingat kata kata kakaknya yg sepertinya memang benar.
Saat itu, ibu mertua nya meminta Asma untuk memanggil Hubab yg katanya ada di ruangan Dini. Asma pun pergi melaksanakan perintah sang ibu mertua. Namun langkah nya terhenti saat ia mendengar percakapan Dini dan Hubab
"Aku senang sepertinya Khadijah sangat bahagia di sana karena bisa selalu bersama Bilal"
"Aku tahu itu, Hubab. Itu bagus semoga dengan begitu bisa mempercepat kesembuhan Khadijah"
"Din, sebenarnya aku engga tega melihat sepupu ku itu menahan sakit setiap kali melihat suaminya bersama wanita lain. Aku pernah meminta Khadijah agar Asma tinggal bersama Ummi Mufar, aku rasa itu lebih baik, jadi kedua istri Bilal tidak terus terusan sakit hati karena saling cemburu. Khadijah bilang dia akan membicarakan itu dengan Bilal setelah mereka pulang"
"Asma bukan wanita lain, Hubab. Dia istri sah Bilal, dan kenapa harus Asma yg keluar dari rumah Bilal?"
"Aku tahu dia juga istri nya, tapi aku kasian sama Khadijah. Dan Khadijah jauh lebih membutuhkan Bilal dari pada Asma"
"Kedua nya sama sama membutuhkan Bilal, aku engga suka kamu berbicara seperti itu, Hubab. Dan aku harap kamu engga pernah berbicara seperti itu lagi. Aku tahu kamu hanya peduli pada Khadijah, begitu juga aku. Sebagai seorang wanita, aku mengerti perasaan Khadijah, tapi Asma juga seorang wanita dan seorang istri, posisi nya jauh lebih menyakitkan, apa kamu tahu? Bahkan sampai detik ini, masih banyak santri yg membicarakan nya dan bertanya tanya apa yg membuat Asma mau di nikahi Bilal, bahkan aku pernah mendengar mereka membawa bawa kedua orang tuanya dan tempat asalnya. Mereka berbicara seolah Asma merusak kebahagian Khadijah, engga ada yg tahu cerita yg sebenarnya, dan Asma tidak pernah mencoba memberi tahu mereka. Dia memilih diam, dia juga pasti sedih dengan hal itu.
Jika Asma harus keluar dari rumah Bilal, apa Asma harus sekali lagi mengorbankan diri untuk Khadijah?"
Asma sekali lagi mengusap air mata yg mengalir begitu saja di pipi nya mengingat apa yg sudah ia dengar, kenapa semua orang melihat Asma seolah ia duri bagi kehidupan Khadijah?
Sementara Asma sendiri sudah berusaha sebaik mungkin untuk menerima Bilal dan Khadijah dalam hidup nya.
Apakah mereka fikir Asma juga tak merasa cemburu?
Tapi setelah semua itu, tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Asma untuk tinggal terpisah dengan madu nya itu, Karena sejauh apapun mereka tinggal terpisah takkan merubah kenyataan bahwa Bilal memang harus selalu membagi hati dan waktu nya untuk kedua istrinya.
Dan dengan tinggal terpisah, takkan membuat kedua istri nya itu memiliki Bilal seutuh nya.
Saat Asma bisa menerima Khadijah dan Bilal, Asma fikir mereka bisa hidup bahagia bersama layaknya keluarga apa lagi setiap kali Khadijah memperlakukan Asma dengan sangat baik seperti adik nya sendiri. Bagaimana Asma akan berfikir untuk tinggal terpisah? Tapi ternyata semua itu salah.
Mungkin, sekarang madunya itu merasa terancam karena dirinya dan Bilal semakin dekat.
Asma mengusap wajahnya dengan kasar, memikirkan semua itu membuat kepalanya sakit dan dadanya sesak.
"Mungkin Hubab benar, sebaiknya aku pergi dari rumah ini" Asma bergumam pada dirinya sendiri, apa lagi ia sudah benar benar jatuh cinta pada Bilal, dan cinta itu pasti akan menimbulkan cemburu yg jauh lebih besar dan menyakitkan dari sebelum nya.
Saat Asma keluar kamar, terdengar ponselnya yg berdering, ia pun segera meraih ponselnya yg ada ditengah ranjang, ada beberapa panggilan tak terjawab dari suami dan ibu nya, Asma pun lebih memilih menghubungi ibunya.
"Assalamualaikum, Ummi. Tadi Asma lagi di kamar mandi" tutur Asma saat Ummi nya menjawab panggilan nya.
"Waalaikum salam, Bagaimana keadaan mu sekarang, Nak? Apa masih demam?" terdengar suara Ummi nya yg tampak khawatir pada Asma karena memang sudah dua hari ini Asma demam dan panasnya sangat tinggi, namun ia tak memberi tahu ibu mertua nya atau pun Bilal.
"Panasnya sudah turun" ucap Asma meskipun sebenarnya badan nya masih sangat panas.
"Syukurlah, kalau masih demam, sebaiknya pergi ke dokter ya, Sayang "
"Iya, Ummi jangan khawatir, Asam bisa jaga diri kok"
"Ummi sebenarnya telpon kamu karena mau kasih tahu, Aqilah sudah melahirkan" Terdengar suara bahagia Ummi nya menyampaikan kabar itu, Dan Asma pun ikut sangat bahagia.
"Beneran? Kapan ? Anak nya laki laki atau perempuan?" Asma bertanya antusias.
"Laki laki, Aqilah melahirkan tadi subuh, sejak semalam dia memang sudah sakit perut, jadi kami langsung larikan kerumah sakit"
"Tapi normal kan Ummi lahiran nya?"
"Iya, Alhamdulillah normal, meskipun sedikt sulit"
"Alhamdulillah, yg penting Mbak sama keponakan baru Asma selamat. Si Yasmin pasti senang punya adik"
"Senang apa nya, dia selalu nangis dan marah kalau Fatimah bantuin Aqilah mengurus bayi nya, Yasmin merasa cemburu, persis kamu dulu saat Yasmin lahir, padahal dulu kamu sudah 12 tahun lho saat Yasmin lahir"
Asma terkikik geli mengingat masa masa itu, Fatimah yg baru melahirkan anak pertama nya tentu saja belum tahu bagaimana cara mengurus bayi dengan baik, dan saat ibu mertua nya membantu nya, adik ipar kecil nya itu malah nangis dan mengatakan seharusnya dia yg di urus karena Yasmin punya ibunya sendiri yg bisa mengurus nya.
"Ya abis dulu Ummi engga siang, engga malam, Yasmin aja yg di urusin" bantah Asma.
"Ya kan Fatimah belum bisa mengurus bayi nya, nanti kalau kamu punya bayi sendiri, baru ngerti deh, ngurus bayi itu susah dan perlu sangat hati hati "
Asma hanya menanggapi ucapan Ummi nya itu dengan tawa kecil, bayi lagi bayi lagi yg di bicarakan, fikirnya.
"Ya udah, nanti Ummi telpon lagi. Kamu istirahat, jangan lupa minum obat"
"Iya Ummi, nanti kalau kalian sudah pulang dari rumah sakit, telpon Asma ya. Asma mau liat keponakan bayi Asma"
"Iya, nanti Ummi telpon"
"Assalamualaikum, Ummi"
"Waalaikum salam"
Setelah memutuskan sambungan telepon nya, Asma kini hendak menghubungi Bilal, karena sudah ada tiga panggilan tak terjawab darinya. Namun, Asma tiba tiba mengurungkan niatnya, ia kembali melempar hp nya ke tengah ranjang dan ia pun segera turun.
Di bawah, Bi Mina sudah menyiapkan nasi goreng untuk Asma.
"Makasih, Bi" ucap Asma kemudian membawa makanannya itu ke ruang tengah, ia pun menikmati nasi goreng itu sambil menonton TV.
Saat terdengar telpon rumahnya berdering, Asma memanggil Bi Mina supaya mengangkat telponnya, Bi Mina pun berlari tergopoh gopoh dan segera menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum" Ucap Bi Mina.
"Waalaikum salam, Bi. Ini aku"
"Oh iya, Pak. Ada apa?"
"Kata Ummi, Zahra ada dirumah. Apa benar?" Bi Mina terlihat heran mendengar pertanyaan Bilal.
"Iya, Pak. Sudah dua hari Neng Asma di sini, dia demam jadi dia tidak pergi ke sekolah dan istirhat di rumah"
"Zahra sakit?" Terdengar suara Bilal yg tampak terkejut. "Sejak kapan? Kenapa engga ada yg memberi tahu ku?" Bi Mina tentu saja mengernyit bingung karena Asma mengatakan dia sudah memberi tahu Bilal.
"Tapi Neng Asma bilang sudah kasih tahu Bapak"
Terdengar Bilal yg menghela nafas berat di sana.
"Dimana dia? Aku mau bicara?"
"Iya, Saya panggilkan dulu"
Dan dengan cepat Bi Mina memanggil Asma dan mengatakan Bilal ingin berbicara.
"Bilangin Asma akan telpon dia lewat hp" Seru Asma kemudian ia kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, Asma segera meraih ponselnya dan menghubungi suami nya, tak sampai tiga detik berdering suami nya itu langsung menjawab telpon Asma.
"Zahra, kamu sakit? Sudah ke dokter? Dan kenapa kamu engga bilang kalau kamu sakiit, Sayang?"
"Cuma demam, sudah minum obat kok" jawab Asma dengan suara pelan.
Jauh dalam hatinya, ia merindukan Bilal. Ia merindukan kedekatan mereka yg sedang asyik pacaran di chat, tapi sejak mendengar percakapan Dini dan Hubab, Asma kembali merasa bingung dengan posisi nya.
"Sayang, ada apa?" Bilal bertanya dengan suara lirih, seolah tahu istrinya itu sedang tidak baik baik saja.
"Engga ada apa, Bilal."
"Jangan bohong, Zahra. Perasaan ku engga enak, aku merasa engga tenang dan aku terus memikirkan mu, jika kau ada masalah, katakan pada ku. Ku mohon, Sayang"
"Engga ada masalah sama sekali, Bilal. Beneran jangan khawatir ya, aku baik baik aja" ucap Asma dengan suara yg di buat ceria "Oh ya, Mbak Aqilah sudah melahirkan, anaknya laki laki" lanjut Asma untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya? Alhamdulillah, bagaimana keadaan mereka?"
"Mereka baik. Em Bilal, apa aku boleh minta sesuatu?"
"Minta apa, Sayang?'
"Aku ingin pulang, aku kangen sama keluarga ku, aku juga ingin melihat putra nya Mbak Aqilah"
"Zahra, apa bisa kamu menunggu ku sebentar? Nanti kita pulang bersama, oke?"
"Tapi, Bilal..."
"Sayang, ku mohon. Hanya sebentar lagi, kemo Khadijah akan selesai, dan perkembangan nya sangat baik, aku yakin sebentar lagi kita bisa pulang"
Asma terdiam beberapa saat, namun pada akhirnya ia tetap neng iya kan apa yg di minta suami nya itu.
"Baiklah"
▪️▪️▪️
Tbc...