
Bilal mencari ponsel Asma ke setiap sudut rumah nya, dari kamar, ruang keluarga, dapur bahkan di kamar mandi, namun tidak ada. Bilal menelpon nomor Asma berharap ia bisa mendengarnya saat berdering. Benar saja, samar samar dia mendengar dering ponsel Asma dari luar rumah, Bilal mengikuti arah suara itu. Bilal bernafas lega saat ia mendapati ponsel Asma ada di ayunan. Bilal teringat sebelum ke bandara, Asma memang masih duduk di ayunan itu setelah menyiram bunganya.
Bilal segera memeriksa ponsel Asma, Memang ada panggilan keluar beberap kali di menit menit yg sama malam itu, dengan perasaan yg was was, kini Bilal memeriksa pesan Asma.
Seketika Bilal terkulai lemas saat membaca pesan itu.
"Khadijah" Desisi Bilal tak percaya, apa lagi Khadijah juga membalas pesan itu dan mengatakan akan segera pulang. Tapi Bilal ingat, saat itu ia mengajak Khadijah pulang tapi dia tak mau.
Bilal menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia masih tak percaya dengan apa yg baru saja dilihat nya.
Sekarang ia mengerti kenapa Zahra nya sangat membenci nya, Asma pasti mengira bahwa Bilal yg mengabaikan nya. Pantas saja Asma menyalahkan Bilal atas keguguran nya. itulah yg ada dalam pikiran Bilal saat ini.
Bilal sungguh tidak percaya Khadijah bisa melakukan semua itu.
Tapi yg terpenting saat ini adalah menjelaskan pada istrinya bahwa ia sangat peduli padanya dan tidak akan pernah mengabaikan nya.
Zahra nya harus tahu itu, Bilal bahkan rela memberikan nyawa nya pada Zahra dan anak anaknya.
Bilal segera menghubungi Adil dan ia harus bicara saat ini juga pada Asma, setelah itu, Bilal akan pergi menjemput nya tidak perduli apapun yg terjadi.
Dengan jantung yg berdebar debar, Bilal menunggu jawaban dari Adil.
"Halo, Bilal. Apa kamu sudah menemukan ponsel Asma?"
"Bahkan aku menemukan alasan Zahra meninggalkan ku" Geram Bilal tertahan
"Maksud mu?"
"Dil, Aku mau bicara dengan istri ku sekarang juga. Ini sangat penting"
"Ummi membawa Asma ke pasar, karena dia terus menangis di kamarnya, jadi Ummi membawa nya untuk mengalihkan fikirannya"
Hati Bilal semakin sakit membayangkan pujaan hatinya menangis sendirian tanpa Bilal di sisi nya.
"Dan aku juga engga yakin dia mau berbicara dengan mu untuk saat ini"
"Aku tahu itu, tapi aku harus memberi tahu nya Dil, aku engga pernah mengabaikan dia, aku sangat mencintai nya lebih dari apapun. Dia salah faham padaku, malam itu dia mengirim pesan dan bahkan menelpon ku, tapi ponsel ku ada pada Khadijah dan... dan dia yg membaca dan membalas pesan nya. Zahra pasti mengira itu aku, Dil. Karena itulah dia sangat membenciku dan meninggalkan ku"
"Aku tahu, dan Asma juga tahu itu"
"Aa..apa Maksud mu, Dil?" Bilal bertanya karena ia merasa ia salah dengar.
"Bilal, Zahra mu sama sekali tidak pernah membenci mu, dia tahu sejak awal kalau Khadijah yg membaca dan membalas pesan nya. Dan Zahra mu itu sangat mengenal suaminya. Dia tahu suaminya peduli padanya"
Bilal sungguh masih bingung apa yg di maksud Adil sebenarnya. Ia seperti orang bodoh saat ini.
"Tapi.... Zahra....Zahra membenci ku,.dia mengabaikan ku. Dan dia...." Bilal berusaha mengatur nafasnya karena tiba tiba saja dadanya terasa sesak saat mengingat kata kata terkahir Asma "Dia bilang jangan menunggunya" Bilal berkata dengan suara yang tercekat. Terdengar Adil yg menghela nafas di sana.
"Dia lakukan semua itu untuk menyelamatkan rumah tangga mu dengan Khadijah. Dia tidak mau kamu tahu hal ini"
"Dan sampai detik ini, Khadijah sendiri tidak memberi tahu ku, Adil. Jika Zahra memang tidak mau aku tahu, maka dia bisa diam dan berbohong seperti Khadijah. Lalu kenapa harus meninggalkan ku?. Aku merasa sekarat tanpa dia"
"Bilal, apa kamu tidak mengenal Zahra mu?. Dia itu emosian dan mudah marah. Jika dia sudah marah, maka dia bisa mengatakan atau melakuan apapun. Apa kamu ingat betapa marah nya dia saat dia tahu dia sudah di nikahkan dengan mu?. Dia berteriak pada Abi dan Ummi, bahkan melempar gelas didepan mereka. Dia masih labil, emosinya meluap luap seperti remaja pada Ummi nya. Dan dia sangat marah pada Khadijah, dan bahkan mungkin membenci nya. Tapi dia menahan semua itu di hatinya dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak memberi tahu mu, karena dia engga mau melukai hati mu, dia yakin kamu akan sangat sedih, kecewa dan mungkin marah pada Khadijah jika kamu sampai tahu apa yg sudah Khadijah lakukan, dan Asma sangat takut itu berdampak pada rumah tangga kalian yg sudah di bangun bertahun tahun. Karena itulah dia memilih pergi, karena Asma fikir dia lah yg salah karena sudah berada di tengah tengah kalian"
Seketika kaki Bilal terasa lemas seperti tak bertulang, hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya. Bilal jatuh terkulai lemas di atas tanah.
Rasnya ia tak percaya dengan apa yg baru saja Adil katakan. Rasnya itu tidak mungkin. Tapi Bilal teringat dengan apa yg dikatakan Asma di malam sebelumnya.
'Tapi ketika sebuah kebencian yg harus aku hadapi bukan hanya berdampak pada ku, tapi juga berdampak pada mu, aku engga bisa menerima nya. Aku begitu sedih dan kecewa'
Jadi, inilah yg Asma maksud kan malam itu?.
Bilal bahkan lupa untuk bernafas, bagaimana bisa dia tidak tahu hal sebesar ini?
Bagaimana bisa dia membiarkan Zahra nya menderita sendirian?
Dan bagaimana bisa istri pertamanya, seorang Khadijah yg ia kenal sebagai wanita dewasa yg bijak bisa melakuan hal seperti itu?.
Dan anak anak yg tak berdosa, yg bahkan masih ada dalam kandungan Asma menjadi korban?
"Bilal... Apa kau mendengar ku?" Bilal tak mampu bersuara, kenyataan yg sangat pahit seolah memutus pita suara nya. "Bilal?" Sekali lagi Adil memanggilnya. Namun Bilal hanya diam.
"Maaf, Bilal. Sungguh aku sudah melakukan kesalahan dengan mengatakan semua ini, padahal adikku sudah berusaha menyembunyikan hal ini dari mu. Tapi aku fikir, kamu berhak tahu alasan yg sebenarnya kenapa Zahra mu ingin meninggalkan mu. Dia juga tidak menceritakan apapun pada ku, ataupun pada orang tua kami, aku tahu soal pesan itu, Karena aku engga sengaja membaca pesan nya, seperti kamu yg mengira Asma salah faham, aku pun mengira dia salah faham dan saat aku mencoba menjelaskan nya justru dia yg tidak pernah salah faham sedikitpun, Aku terpaksa mendukung keputusan nya, Bilal. karena aku engga mau adikku sedih terus menerus. Dia terlalu banyak menanggung kesedihan sendirian. "
Adil berkata dengan pelan. Namun kata kata itu, tak lebih dari bom yg meledakkan hati Bilal.
"Bilal... Apa kamu masih disana?" tanya Adil lagi. Bilal menarik nafas, ia berusha mendapatkan ketegaran nya lagi.
"Jangan katakan apapun pada Zahra" Akhirnya Bilal mampu bersuara "Cukup katakan, Aku akan mengantarkan ponsel kesayangannya."
"Tapi, Bilal...."
"Aku sangat memohon pada mu, Kakak ipar" Pinta Bilal dengan menahan amarah, sedih, dan kecewa yg kini mengaduk aduk hati nya.
"Aku tahu apa yg harus ku lakukan, Dil" setelah mengucapkan itu, Bilal memutuskan sambungan telepon nya dan ia menggenggam ponsel nya dengan sangat erat hingga kuku nya memutih.
Bilal tidak tahu lagi keadaan hatinya saat ini, sedih, kecewa dan marah semuanya bercampur menjadi satu. menguasai hatinya dan mengganggu fikirannya.
.
.
.
Khadijah yg mendengar bunyi bel rumahnya langsung berteriak meminta Bi Mina mebukakan pintu.
Bilal datang dengan ekspresi yg membuat Bi Mina bergidik ngeri.
"Dimana Khadijah?" tanya Bilal dengan nada tajam.
"Mas?" panggil Khadijah yg baru turun dari tangga. " Mas, kamu engga apa apa kan?" tanya Khadijah khawatir. "Kamu masih belum makan juga?" Bilal hanya menggeleng. "Mau aku siapkan makanan?" Bilal pun mengangguk.
"Bi, Bibi pergi belanja ya" seru Bilal sambil mengeluarkan beberpa lembar uang dari dompet nya.
"Barang barang dirumah masih banyak, Pak" Jawab Bi Mina dengan polos nya.
"Kalau gitu, belanja untuk dirumah Ummi aja. Belanja semuanya ya, jangan sampai ada yg kelupaan. Belanjakan cemilan juga untuk Rayhan dan Laila. "
Bi Mina mengernyit bingung dengan permintaan Bilal. Karena di rumah Ummi nya itu punya lebih dari satu pembantu, dan tidak mungkin disana kekurangan sesuatu.
"Tapi, Pak. kok tumben...."
"Pokoknya pergi aja sekarang" Sanggah Bilal. Dengan perasaan yg tak menentu, Bi Mina pun ikut saja perintah Tuannya itu.
"Saya izin dulu sama Ibu, Pak."
"Engga usah, nanti aku yg bilangin" jawab Bilal "Cepatan, Bi." usir Bilal sedikit kasar yg membuat Bi Mina takut dan langsung berjalan keluar tergopoh gopoh.
Bilal menunggu Khadijah di ruang keluarga. Dadanya naik turun menahan emosi yg membakar jiwa nya. matanya berkilat penuh amarah, rahangnya mengeras dan ia masih mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
Tak lama kemudian Khadijah datang dan ia menyadari ada yg tak beres dengan Bilal.
"Makanan nya" Khadijah meletakkan makanan itu dan segelas air di depan Bilal.
"Rendang?" tanya Bilal, Khadijah mengangguk pelan apa lagi melihat Bilal yg berkata dengan senyum miring.
Bilal berdoa sebelum makan, kemudian ia meneguk air itu sedikit, dan menyuapkan satu sendok nasi dan rendang itu kedalam mulutnya.
"Enak, kamu yg masak?" Bilal bertanya dengan nada yg seolah mengejek, Khadijah mengangguk lagi.
"Kamu pintar, Khadijah. sudah berpendidikan, seorang guru, bisa masak lagi. bukankah itu sangat sempurna?" Khadijah diam dan tak mengerti kenapa Bilal tiba tiba berkata demikian "Sedangkan Zahra..." Bilal berkata sambil tersenyum kecut " Dia engga ada apa apa nya di bandingkan kamu, dia masih kecil, masih sekolah, dia juga engga pintar dalam pelajaran dan sangat malas belajar, bahkan engga naik kelas dua kali. Dia engga bisa masak, bersihkan kamar aja Zahra engga bisa"
Khadijah semakin bingung dengan apa yg Bilal bicarakan sebenarnya, dan sejak kapan dia membandingkan Khadijah dengan Asma?. Bilal mendorong piring itu menjauhi dari hadapannya. Ia meminum air karena terasa sangat sulit menelan makanan itu.
"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, istri ku?" tanya Bilal tajam. Tentu itu membuat Khadijah sedikit takut dan hanya bisa menggeleng pelan. "Kalau begitu, dengarkan aku, aku ingin membicarakan banyak hal dengan mu" ucap Bilal. kemudian ia mengeluarkan ponsel Asma dari saku nya dan meletakkan nya di depan nya. Khadijah melirik ponsel itu sekilas namun ia masih tak bisa menebak apa mau Bilal.
"Saat aku menikahi Zahra, aku selalu takut dia menyakiti mu dengan ataupun tanpa sengaja. Karena dia masih remaja labil, kalau bicara blak blakan tanpa berfikir dulu. Seperti saat dia marah marah padamu dan mengatakan kamu wanita yg egois, kamu ingat itu?.
Aku sangat marah padanya karena dia menyakiti istri ku yg baik hati, aku bahkan membentak nya, aku yakin selama 18 tahun hidupnya, dia tidak pernah di bentak seperti itu." Khadijah hanya bisa menelan ludahnya sambil menerka nerka kemana arah pembicaraan Bilal.
"Apa lagi saat kamu rela berhenti mengajar di kelasnya dan mengundurkan diri sebagai wali kelas tiga, aku semakin khawatir dengan mu, karena aku yakin kamu harus selalu mengalah pada nya. Tapi aku baru sadar, justru yg terjadi sebaliknya. Dia lah yg selalu mengalah dan mengerti keadaan mu, saat aku sibuk mengurus mu bahkan meninggalkan nya selama berbulan bulan, dia hanya diam. Dan bahkan,dia harus mengurungkan niatnya untuk tinggal dirumah nya sendiri karena kasihan jika kamu tinggal sendirian." Bilal menarik nafas panjang. Ia menatap Kahdijah yg saat ini menundukkan kepalanya.
"Tatap mata ku, Kahdijah!" Perintah tegas Bilal. Khadijah pun dengan takut takut menatap mata suami nya itu.
Bilal sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dengan menumpukan kedua siku nya di pahanya dan saling mengaitkan jari jari kedua tangannya. Kemudian Bilal melanjutkan masih dengan menatap mata Khadijah
"Zahra itu 12 tahun di bawah ku, dan 11 tahun di bawah mu, bukankah itu perbedaan usia yg siginifikan?. Dari usia kita bertiga, Zahra jauh lebih muda, tapi usia tidak menjadi patokan kepribadian seseorang, dia manja dan ke kanak kanakan. Tapi dia juga bijak dan dewasa, dia terlihat tidak menghormati ku seperti kamu menghormati ku, dia bahkan sering melawan ku, tapi...." Bilal semakin tajam menatap Khadijah "Dia seorang istri yg menghargai suami nya dan hubungan yg suaminya miliki, dia seorang istri yg menjaga kehormatan dan perasaan suaminya. Dia masih sekolah dan dia tidak punya pengalaman hidup sebanyak kamu memiliki pengalaman hidup, tapi dia tahu arti hidup berumah tangga. Dia tahu bagaimana menjaga sebuah hubungan, yaitu dengan pengorbanan." Bilal menggertakkan giginya, sungguh ia merasa terbakar akan emosi karena kekecewaan nya
"Zahra ku meninggalkan ku karena kamu, Khadijah" Bilal berkata dengan penuh emosi, seketika Khadijah langsung menatap Bilal dengan sangat terkejut.
"Demi kamu, dan demi keutuhan rumah tangga kita, dia meninggalkan ku .Apa kamu tahu itu?" Bilal masih berusaha mengontrol emosi nya yg sudah berada di ubun ubunnya.
"Mmm...Maksud Mas Bilal?" tanya Khadijah pelan.
"Kenapa kamu masih pura pura, Khadijah. Dimana Khadijah istri ku yg selalu jujur?"
"Aku engga ngerti Mas Bilal bicara apa" cicit Khadijah dengan suara bergetar
"Pembohong" Tuduh Bilal penuh amarah, dan kali ini ia tak mampu lagi menahan amarahnya "Kamu tahu malam itu Asma sakit, kamu membaca dan membalas pesannya, Kenapa kamu tidak mau menyelamatkan anak kami, Khadijah?" Dan untuk pertama kalinya, Bilal berkata dengan penuh kemarahan dan kebencian.
Dan akhir nya, yg Khadijah takutkan benar benar terjadi. Dia hanya bisa menunduk dengan berurai air mata.
▪️▪️▪️
Tbc....