
Bilal masih terjaga meskipun jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Apa yg mereka alami masih seperti mimpi buruk bagi Bilal, dan ia berharap ia segera bangun dan semua nya kembali seperti semula.
Tapi setiap kali ia melihat wajah sedih istri nya, Bilal tahu itu bukan mimpi, karena rasa sakit dihatinya begitu nyata.
Bilal merebahkan diri di samping Asma yg sudah terlelap, saat ia hendak memejamkan mata, Bilal di kejutkan dengan istrinya yg tiba tiba bergerak gelisah dan menggumamkan sesuatu, Bilal segera bangun dan menyalakan lampu, terlihat istri nya itu yg menagis dalam tidur nya. Bilal segera membangunkan Asma, dan saat Asma membuka mata, ia langsung memeluk Bilal dengan erat dan tangisnya pun pecah.
"Zahra...Sayang... Ada apa?" tanya Bilal sembari memeluk istri nya itu dan membelai rambut nya. Asma tak bisa menjawab dan ia masih terisak. "Kamu mimpi?" tanya Bilal masih membelai rambut istrinya.
Seolah tersadar, Asma langsung menghentikan tangisnya dan melepaskan diri dari pelukan Bilal. Asma menghapus air matanya dan ia hendak kembali tidur namun Bilal mencegah nya.
"Zahra, bicaralah pada ku, Sayang. ku mohon" pinta Bilal namun Asma masih diam dengan bibir yg bergetar dan ia masih sesenggukan. "Apa kamu mimpi buruk lagi?" Bilal bertanya dengan sangat lembut. Asma mengangguk pelan.
"Itu hanya mimpi, jangan menangis" ucap Bilal dan menarik Asma kedalam pelukannya. "Tidurlah" Bilal kembali membelai rambut Asma, Asma yg merasa sangat nyaman dalam pelukan Bilal pun perlahan kembali tenang.
Asma tahu Bilal sangat sedih karena dia mengabaikan nya, tapi Asma lakukan itu supaya ia tak lepas kendali dan akhirnya melampiaskan semua nya pada Bilal.
Bilal terus membelai rambut Asma hingga Asma mulai kembali mengantuk dan akhirnya ia pun tertidur dalam pelukan Bilal.
.
.
.
Asma terbangun saat ia mendengar suara Ibu nya yg sedang berbicara dengan seseorang, saat membuka mata, hal yg pertama dia lihat adalah suaminya yg saat ini sedang duduk di samping Asma seolah memang menunggu Asma.
Asma menatap Bilal dengan penuh luka, ia ingin memberi tahu Bilal betapa sakit hatinya karena telah di khianati oleh Khadijah. Asma ingin memberi tahu Bilal, ia tak ingin disana lagi , Asma ingin pergi tapi bagaimana dengan Bilal?
Bulir air mata itu kembali mengalir begitu saja, namun dengan cepat Bilal menghapus air mata Asma dengan ciumannya.
"Berhentilah menangis, Zahra. Aku merasa seolah melaikat maut menarik nyawa ku setiap kali aku melihat mu meneteskan air mata" Bilal berkata dengan mata yg berkaca kaca, tatapan luka Asma seperti sebuah pedang yg menembus jantung nya.
Asma menggigit bibir nya berusaha menahan tangis nya.
"Bolehkah aku marah?" tanya Asma kemudian dengan masih terisak. Bilal pun tak kuasa menahan air matanya dan ia mengangguk.
"Kau bahkan boleh menghukum ku, Zahra."
"Aku... "
"Asma..." Bilal dan Asma menoleh pada asal suara itu, dan Khadijah muncul bersama Ummi Kulsum dari balik pintu. Seketika wajah sedih Asma berubah menjadi sebuah kemarahan.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Khadijah sambil ia berjalan masuk. Asma mengusap air mata nya dengan kasar menggunakan punggung
tangan nya.
"Masih sangat sakit, di sini" Asma berkata dengan nada dingin sambil memegang dada nya.
"Bilal, Tidak ada apapun yang bisa Ummi masak di sini" seru Ummi Kulsum "Bahkan kalian belum punya perabotan dapur"
"Iya, Ummi. Kami belum sempat belanja, aku dan Zahra juga tidak mengerti harus beli apa saja, kami sudah berencana pergi belanja bersama Dini. Tapi belum sempat. Aku akan pesan makanan dari luar saja"
"Kenapa harus pesan dari luar, Mas? kalian bisa sarapan di rumah. Bi Mina bisa masak" jawab Khadijah.
"Pesan dari luar saja, Bilal" sambung Asma dan saat ini, ia menatap lurus Khadijah. Khadijah bisa meraskan tatapan Asma yg berbeda padanya sejak berada di rumah sakit.
"Iya, Sayang" jawab Bilal dan ia pun mengambil ponsel nya kemudian memesan makanan untuk mereka. Khadijah hanya bisa menyunggingkan senyum samar.
"Baiklah, silahkan kalian mengobrol, Ummi keluar dulu" seru UmKulsum
"Iya" jawab Asma, kemudian Ummi Kulsum dan Bilal pun keluar meninggalkan Asma dan Khadijah.
Keduanya sama sama diam, Khadijah masih berdiri dan ia tak tahu harus berbicara apa. Khadijah juga tak tahu kenapa Asma meminta pulang ke rumah nya sendiri. Asma pun juga diam, ia masih menunggu Khadijah membuka suara, namun Asma tak memalingkan wajahnya sedikitpun, dengan berani ia terang terangan menatap Khadijah.
"Em Asma, sebenar nya aku...." haruskah Khadijah meminta maaf dan mengakui itu salah nya? Hatinya meminta hal itu, tapi fikiran nya menolak nya. Ia terlalu takut dengan reaksi Asma apa lagi Bilal.
"Kamu sedih karena kita kehilangan anak anak kita?" tanya Asma yg sebenarnya adalah sindiran, Khadijah mengangguk sambil menundukkan kepala nya.
"Aku juga" Asma berkata masih dengan nada yg tajam dan ia tersenyum miring "Tapi yg membuat ku jauh lebih sedih, karena masih ada kesempatan mereka bisa di selamatkan, seandainya salah satu ibu nya mau menolong nya" Khadijah langsung mendongak dan menatap bingung pada Asma, ia tak tahu apa yg Asma maksud kan. "Saat itu, ibu nya udah engga sanggup lagi bertahan, dan ibu yg lain mengabaikan nya. Malang sekali anak anak ku" Asma berkata dengan mata yg kembali berkaca kaca, mengingat rasa sakit yg ia alami malam itu.
"Asma... aku... aku..."
"Seandainya ibu nya mau membantu nya sekali saja, mungkin anak anak kita masih hidup sampai sekarang" lanjut Asma dengan amarah yg berusaha ia pendam "Kenapa, Mbak? Apa salah anak anakku?" kini Asma tak mampu lagi menahan air mata nya. Sementara Khadijah masih tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu meminta ku pada Abi untuk di berikan pada suami mu agar dia bahagia, aku bukan properti yg bisa di minta begitu saja. Tapi ya, akhirnya aku mau memberikan diriku dan semua yg aku miliki pada suami mu, tubuhku, hati ku, dan bahkan aku bisa memberikan seorang anak. Tidakkah kamu melihat suami mu bahagia dengan semua itu?" kini Khadijah mengerti, Asma tahu dialah yg membaca pesan nya malam itu, Khadijah semakin merasa bersalah. Ia pun ikut menangis dan ia tak punya lagi pembelaan diri.
"Tapi bahkan setelah melihat kebahagian suami mu, justru kamu lah yg engga bisa menerima ku. Kamu lah yg merebut kebahagian suami mu sendiri. Aku engga ngerti apa seorang istri yg di madu memang seperti itu? karena aku sama sekali engga ngerti dengan hal itu. Aku cuma anak kemaren sore yg bahkan engga tahu bagaimana caranya menjadi manusia yg baik, tapi aku harus sudah jadi istri dari seorang pria yg sudah menikah. Walaupun begitu, aku masih berusaha menjadi istri yg baik" Asma kembali menghapus air mata nya, ia berusaha lebih tegar. Asma menatap Khadijah yg saat ini juga menangis.
"Abi bilang, jangan menyalahkan orang lain atas takdir yg terjadi pada kita, sehelai daun yg jatuh karena tertiup angin juga adalah takdir sementara angin hanyalah perantara. Tapi manusia bukanlah angin, manusia bisa berfikir sebelum bertindak, manusia juga harus menerima konsekuensi dari tindakannya. Manusia punya akal untuk berfikir dan punya perasaan yg berasal dari hati. Apakah otak nya tidak berfikir sebelum merugikan orang lain? Apakah hati nya sudah mati hingga mengabaikan perasaan orang lain?"
Khadijah hanya bisa bungkam mendengar semua apa yg Asma katakan. Tangis nya semakin pecah, karena sekali lagi, apa yg Asma katakan adalah benar.
Khadijah selalu berada di posisi yg salah dan terdesak oleh keadaan.
Khadijah sungguh masih punya hati, hati yg sangat mencintai suami nya. ia menyatukan Asma dan suaminya demi kebahagian sang suami, tapi ia juga tak bisa mengakui kesalahan nya karena tak ingin kehilangan sang suami.
"Asma, aku sama sekali engga bermaksud menyakiti mu, aku juga mengharapkan anak anak mu lahir ke dunia ini. Itu...itu memang kesalahan ku, ku mohon jangan salah faham"
"Apa itu penting?" desis Asma " Aku sangat menghormati mu sebagai istri pertama Bilal, dan kamu juga jauh lebih tua dari ku. Jadi selama rasa hormat itu masih ada, sebaiknya Mbak pergi dari hadapan ku, sebelum aku meneriaki Mbak dan meluapkan semua amarah dalam hati ku"
"Asma, ku mohon...."
"SEKARANG..." ucap Asma penuh penekanan. Jika Khadijah masih berusaha membela diri lagi, Asma yakin dia akan akan lepas kendali dan akan melupakan semua kebencian nya. Dan itu, tentu akan membuat Bilal, ummi dan kakaknya bersedih. Asma tidak mau membuat mereka bersedih terutama Bilal.
Dengan hati yg terluka dan juga derai air mata, Khadijah berbalik dan berjalan menuju pintu, namun tiba tiba pintu sudah terbuka dan Bilal masuk dengan satu mangkuk sup hangat di tangannya.
"Ada apa?" tanya Bilal yg meraskan atmosfer yg berbeda di kamarnya, apa lagi melihat kedua istri nya yang tampak nya bersitegang. Asma membuang muka dan ia mengabaikan pertanyaan Bilal.
"Khadijah, kamu nangis?" tanya Bilal heran.
"Dia juga ibu dari anak anak kita, Bilal. Tentu dia juga akan bersedih karena kehilangan mereka" sindir Asma.
"Sudah, jangan menangis lagi. Semua sudah terjadi" seru Bilal mengusap sisa air mata Khadihah dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan nya masih memegang mangkuk sup.
Kemudian Bilal berjalan menghampiri Asma
"Sayang, Kamu makan ya" Asma mengangguk dan hendak mengambil mangkuk sup itu "Biar aku suapi" lanjut Bilal.
"Em Mas, aku mau pulang ya" tutur Khadijah.
"Loh, kenapa? Aku fikir kamu mau nemenin Ummi di sini"
"Biarkan dia pulang, Bilal. Dia juga masih sakit. Harus istirhat" sambung Asma sekali lagi dengan nada sarkastik yg membuat Bilal heran, dan ia semakin yakin kedua istri nya itu bersitegang.
"Ya udah, aku antar. Tunggu sebentar sampai Zahra menghabiskan makanan nya"
"Engga usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri" seru Khadihah lagi. Tapi tiba tiba Asma langsung mengambil mangkuk sup itu dan berkata.
"Antar saja dia. Kita masih bersedih atas musibah yg menimpa kita, jika sampai terjadi sesuatu dengan nya di tengah jalan, kita harus bersedih lagi dan membuang air mata lagi"
"Zahra..." tegur Bilal yg tak percaya dengan apa yg di katakan Asma.
Bahkan Adil yg baru datang pun juga terkejut dengan apa yg di katakan Asma. Adil yakin adiknya bukanlah wanita yg bermulut pedas.
Sementara Khadijah hanya bisa menunduk sedih dan ia bisa mengerti kemarahan Asma pada nya.
"Bilal...." Panggil Adil sambil berjalan menghampiri mereka "Antar saja Khadijah pulang, aku akan menjaga Asma di sini"
Bilal masih menatap Asma namun Asma langsung membuang muka, membuat Bilal hanya bisa menahan sesak di dadanya.
Kemudian Bilal mengajak Khadijah untuk pergi.
Setelah mereka pergi, Adil menatap adiknya itu lekat lekat.
"Ada apa dengan mu, Asma? Kenapa bicara seperti itu pada Khadijah? Apa kamu juga menyalahkan Khadijah atas apa yg menimpa mu? Itu salah, Dek. Jangan seperti itu, Abi dan Ummi engga pernah mendidik kita membenci orang apa lagi mengatakan hal yg menyakitkan" tegur Adil
"Ayo kita pulang" dan itu jawaban yg Asma berikan pada Adil, sungguh Adil semakin tak percaya dan tak habis fikir dengan adiknya itu.
"Jangan lagi, Asma. Jangan main kabur kaburan lagi. Kamu sudah menjadi seorang istri,kamu engga bisa pergi kemanapun tanpa izin suami mu"
"Kalau gitu, aku akan meminta izin nya. Tapi aku harus pulang"
"Asma, kamu mau meninggalkan suami mu dalam keadaan seperti ini? Dia sangat membutuhkan mu, Dek"
"Dan aku butuh waktu untuk sendiri. Aku hanya ingin menjauh dari semua ini untuk sementara waktu, aku hanya perlu menenangkan diri"
"Lalu bagaimana dengan Bilal? Fikirkan juga suami mu, Asma".
"Justru aku selalu memikirkan nya, sebelum aku menyakiti nya dengan amarah ku, aku ingin pergi"
"Kakak yakin masih ada solusi yg lain. Bilal sangat mencintai mu, Dek" Asma menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Justru karena Bilal sangat mencintai ku, Kak. Dia pasti akan sangat marah dan mungkin rumah tangga nya akan hancur jika dia tahu... jika..."
"Tahu apa?" tanya Adil, Asma langsung menutup mulut nya rapat rapat "Tahu apa, Asma? Apa yg kamu sembunyikan dari Bilal?"
"Bukan apa apa" jawab Asma pelan pelan
"Jujurlah, Asma. Apa yg kamu sembunyikan?"
"Kak..." Asma memegang tangan kakaknya "Bukankah sangat buruk jika kita menyebabkan kehancuran bagi hubungan orang lain?" tanya Asma pada kakaknya itu.
"Tentu saja, Dek"
"Asma engga mau jadi wanita yg buruk" ujarnya, namun Adil mengira yg Asma maksud kan adalah posisi nya yg menjadi istri kedua dan orang ketiga dalam rumah tangga Khadijah.
"Kamu engga menghancurkan rumah tangga Khadijah dan Bilal, justru kamu adalah pelengkap hidup mereka. Sampai sekarang, rumah tangga mereka baik baik saja, kan? Bilal masih memperlakukan Khadijah dengan sangat baik."
Asma hanya terdiam karena kakaknya salah menanggapi maksud nya. Namun ia tak mencoba menjelaskan bahwa yg dia maksud kan adalah Khadijah yg telah mengkhianati nya dengan tidak menyampaikan pesan nya pada Bilal yg pada akhirnya berakhir dengan kematian anak anak nya.
.
.
.
Semenatara itu, Bilal mengantar Khadijah pulang dengan mengendarai mobil nya.
"Apa Zahra mengatakan sesuatu?" tanya Bilal yg melihat Khadijah tampak murung. Khadijah hanya menggeleng "Tapi kelihatannya begitu, apa dia juga marah padamu dan menyalahkan mu?" tanya Bilal lagi
"Engga kok, Mas" jawab Khadijah.
Bilal mengusap kepala Khadijah dengan tangan kiri nya dan ia pun melemparkan senyum untuk menghibur istri nya.
"Zahra masih sedih dan terpukul, jika dia mengatakan hal yg menyakiti mu, jangan masukan kedalam hati. Kita sama sama tahu kan sebenaranya Zahra gadis yg baik dan berhati lembut"
"Iya" jawab Khadijah yg juga memaksakan diri untuk tersenyum.
▪️▪️▪️
Tbc....