My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 89



"Maaf dan terimakasih banyak, Asma. Maaf karena aku menyakiti mu, dan terimakasih banyak karena sudah datang" Khadijah melepaskan tangisan nya. Selama ini, inilah yg sangat ia harapkan. "Aku mengakui kesalahan ku, dan dengan segenap hati ku, aku memohon maaf dari mu"


Khadijah berkata dengan penuh penyesalan. Asma menepuk nepuk punggung Khadijah seperti yg pernah ia lakukan pada Bilal. Khadijah tersenyum dengan perlakuan Asma itu.


Sementara Lita, ia segera keluar karena ingin memberi waktu berdua saja untuk Asma dengan madu nya. Namun, Lita menghentikan langkah nya karena Hubab masih ada di sana. Lita pun tanpa basa basi langsung menarik ujung lengan baju Hubab dan membawa nya keluar. Tak peduli Hubab yg protes.


"Apa sih?" Tanya Hubab setelah ia berada di luar sambil menghempaskan tangan Lita.


"Biarkan mereka berdua saat ini" Lita berkata dengan santai


"Kenapa? Sepupu ku lagi sakit, aku harus menjaga nya" Ujar Hubab kesal


"Kamu fikir sepupu ku akan mencekik nya?. Mereka tuh butuh privasi. Apa lagi ini masalah rumah tangga mereka" Jawab Lita tegas.


"Tapi...."


"Engga ada tapi tapi... Tunggu aja di sini" Perintah Lita yg membuat Hubab semakin kesal. Namun ia menurut saja dan tak masuk lagi ke dalam.


Sambil melerai pelukan nya, Asma berkata


"Jangan menagis, Mbak" Ia menghapus air mata Khadijah. "Aku lah yg minta maaf karena sudah hadir dalam kehidupan Bilal, akulah yg sebenar nya sudah sangat menyakiti mu"


Khadijah menggeleng dan ia menggenggam tangan Asma.


"Kamu memang takdir nya, Asma. Kamu adalah pelengkap hidup nya"


"Dan semua itu terjadi berkata kamu, Mbak. Bilal sangat beruntung memiliki istri yg selalu memikirkan kebahagiaan suami nya. Harus ku akui, bagiku itu memang tidak adil karena aku yg terseret ke dalam nya. Tapi aku mengerti, terkadang karena cinta, orang tak mengenal salah atau benar. Apapun yg bisa menjadi kebahagiaan untuk orang yg di cintai nya, maka hanya itu kebenaran yg dia tahu. Jika aku pelengkap hidup Bilal, maka kamu adalah pelengkap hidup kami"


"Bilal benar..." Khadijah berkata dengan senyuman nya "Kamu mungkin memang manja dan ke kanak kanakan. Tapi ternyata kamu juga bijak dan dewasa" Khadijah menarik nafas nya, dan ia menatap Asma dan berkata "Maaf, karena aku sudah membuat kita kehilangan anak anak kita"


Air mata Asma langsung mengalir bebas, karena sungguh hatinya masih sakit mengingat hal itu. Tak semudah itu melupakan sakit kehilangan buat hati nya. Tapi hati kecil nya sedang berusaha memaafkan dan ikhlas


"Aku..." Asma menghapus air matanya "Aku sedang berusaha untuk ikhlas"


"Hanya itu yg aku mau, Asma. Aku selalu berdoa agar kamu mau memaafkan ku"


.


.


.


Sementara Bilal yg baru saja sampai ke rumah sakit, segera bergegas menuju kamar istri nya.


Bilal sangat terkejut melihat Lita yg ada di depan Kamar Khadijah. Ia berusaha mempercepat langkah nya meskipun sedikit kesulitan karena ia masih menggunakan tongkat.


"Lita?" Panggil Bilal dan membuat Lita langsung mendongak "Kamu di sini?. Sama siapa?"


"Sama Asma, Ustadz" Jawab Lita yg langsung membuat Bilal tersenyum senang.


"Beneran? Dimana dia?"


"Di dalam" Jawab Hubab. Bilal pun dengan antusias segera bergegas ke dalam dan Hubab mengikuti nya tapi sekali lagi Lita melarang nya.


"Apa lagi?" Tanya Hubab sambil menatap tajam Lita.


"Jangan masuk, mereka butuh privasi"


Hubab menghembuskan nafas kasar.


"Khadijah itu saudari ku, dan Bilal itu sahabat ku. Apa salah nya aku cuma masuk"


"Ya salah, Tuan. Apa lagi cuma sepupu dan sahabat, saudara kandung aja engga berhak ikut campur dalam rumah tangga saudara nya kecuali memang di butuhkan" Jawab Lita yg berhasil membuat Hubab tak bisa lagi menjawab.


Saat membuka pintu, Bilal langsung menyunggingkan senyum lebar nya, ia sangat senang melihat kedua istri nya yg tampaknya sudah baikan.


"Zahra..."


Asma langsung menoleh dan ia hanya tersenyum tipis pada Bilal.


"Kamu bagaimana bisa ada di sini?. Kamu engga bilang kalau mau datang, aku bisa kirim orang menjemput mu"


"Engga apa apa, Bilal." Jawab Asma singkat.


Bilal pun mendekati kedua istri nya itu, dan Bilal bisa melihat kebahagiaan dan ketenangan di mata istri pertama nya.


Bilal langsung merengkuh Asma kedalam pelukannya dan ia mencium kening Asma, kemudian ia juga mencium kening Khadijah.


"Bagaimana keadaan mu sekarang, Sayang?"


"Aku jauh merasa lebih baik" Jawab Khadijah girang.


"Benar kan apa yg aku bilang, Zahra pasti akan membuka hati untuk mu" Bilal berkata sambil duduk di samping Khadijah.


Khadijah pun tersenyum bahagia sambil mengangguk berkali kali.


"Kalau gitu, aku akan keluar." Ujar Asma karena ia tak ingin menganggu Khadijah dan Bilal. Namun Bilal segera menarik tangan Asma dan mencegah nya.


"Tetaplah di sini, Zahra. Khadijah selalu menanyakan mu, kalian bisa menghabiskan waktu di sini"


"Engga apa apa, Mas" Sela Khadijah. "Kamu pulang aja sama Lita, kalian pasti lelah kan. Minta anterin aja sama Hubab"


Asma mengangguk, ia segera keluar dari kamar Khadijah dan Bilal pun mengikuti nya keluar.


"Sayang..." Bilal menarik tangan Asma, seketika Asma langsung berhenti dan menoleh.


"Ada apa?" Tanya Asma dengan ekspresi yg datar. Bilal langsung memeluk Asma dengan sangat erat. Asma hanya diam dan tak membalas pelukan Bilal.


"Terimakasih sudah datang, Zahra" Bisik Bilal masih memeluk istri nya.


"Aku hanya mengikuti kata hatiku, Bilal. Tapi untuk melupakannya..."


"Aku tahu" Bilal memotong pembicaraan Asma dan ia melepaskan pelukan nya.


"Tak ada yg bisa melupakan rasa sakit kehilangan seorang anak, Zahra. Begitu juga aku, aku juga takkan bisa melupakan itu sampai kapan pun, tapi aku engga mau di kuasai amarah, aku engga mau membuat hati ku gelap jika di huni oleh kebencian, dengan memaafkan bukan berarti kita lemah atau bodoh. Justru dengan memaafkan kita kuat dan pintar" Bilal mengangkat tangan kanan nya dan ia membelai pipi Asma dengan sayang, sementara Asma mendengarkan Bilal dalam diam.


"Dengan memaafkan kita melepaskan beban berat dan rasa sakit. Jika hati kita bisa memaafkan, maka hati kita akan selalu lapang dan damai. Dan kita tidak akan mendapatkan apapun dengan menyimpan kebencian, Zahra. Kecuali rasa sakit terus menerus"


Kedua mata Asma memerah dan ia berusaha menahan tangisnya, karena memang benar, amarah dan benci di hati nya sangat menyiksa nya. Namun menghapus amarah dan kebencian juga tak mudah


"Aku sedang berusaha untuk itu, Bilal. " Asma berkata dengan suara rendah.


"Aku tahu, Sayang" Bilal berkata dengan lembut dan menghapus air mata Asma di sudut mata nya. "Aku tahu hati kecil mu mulai membuka pintu maaf untuk Khadijah, itu yg membawa mu kesini kan?" Asma mengangguk pelan. "Aku bangga pada mu, Zahra" Bilal berkata dengan senyum lebar membuat Asma juga sedikit tersenyum.


"Pulang dan istirhat lah, ini kunci rumah nya" Bilal menyerahkan kunci rumah Asma pada nya. "Jika kau butuh sesuatu, telpon saja Bi Mina. atau minta lah dia menginap dengan mu malam ini"


"Iya" Jawab Asma sambil menerima kunci itu. "Aku pulang dulu, kamu juga jaga diri ya di sini. Jagain Mbak juga"


"Iya"


.


.


.


Sesampainya di rumah nya, Asma langsung masuk bersama Lita, sementara Hubab tak mau mampir karena ia sendiri ingin pulang ke rumah nya.


Lita terlihat menyukai rumah Asma itu dan mengatakan Asma beruntung karena Bilal sudah menyiapkan rumah untuk nya.


"Setiap suami pasti akan melakukan itu untuk istri nya kan?" Asma berkata.


Di perjalanan pulang tadi, Asma sempat membeli makanan untuk dirinya dan Lita.


Setelah kedua nya mandi dan berganti pakaian, mereka pun menyantap makanan mereka.


"Rumah mu besar, tapi...." Lita meneguk air dari gelas "Sepi banget, Asma. Kamu betah tinggal di sini?"


"Aku belum sempat tinggal di sini, maksud ku, aku baru menempati rumah ini setelah aku keguguran, itu pun bersama Kakak, Ummi dan Bilal. Jadi aku engga merasa kesepian, yah kalau engga ada orang kayak sekarang, memang sepi sih"


"Jadi, apa yg akan kamu lakukan sekarang?"


"Mengikuti arus. Jujur, aku engga tahu apa yg harus aku lakukan, aku seperti terdorong untuk kembali dan aku kembali. Tapi, aku masih merasa engga tenang, seperti ada sesuatu yg membuat ku gelisah"


"Mungkin kamu kefikiran sama Mbak Khadijah aja"


"Bisa jadi" Jawab Asma.


"Ya udah, sebaiknya sekarang istirhat, besok pagi kerumah sakit lagi"


Asma pun mengangguk, dan kedua nya menghabiskan waktu di ruang keluarga.


Lita menonton tv sementara Asma sudah jatuh tertidur di sofa. Saat fokus pada sinetron yg di tonton, Lita di kagetkan dengan Asma yg kembali bergerak gelisah dalam tidur nya, bahkan ia menggumamkan sesuatu yg tidak jelas.


"Mimpi?" Tanya Lita yg melihat Asma mengatur nafasnya.


"Kita kerumah sakit lagi" Ucap Asma setelah ia mendapatkan kesadarannya.


"Hah?" Seru Lita. Namun Asma langsung menarik Lita dengan buru buru. "Tv nya, Asma. matikan dulu" Ujar Lita heran dengan tingkah Asma. Asma pun melepaskan tangan Lita dan dengan cepat Lita mematikan tv nya.


Asma segera memanggil taksi untuk menjemput mereka


"Kamu kenapa sih?" Tanya Lita yg masih heran dengan tingkah Asma.


"Perasaan ku engga enak, Ta. Aku mimpi in Mbak lagi dan anak anak itu"


Di sepanjang perjalanan, Asma terus bergerak gelisah, ia meremas tangannya sendiri. Melihat itu, Lita mencoba menenangkan nya dengan mengatakan bahwa mimpi anak anak adalah pertanda baik, tapi sepertinya insting Asma mengatakan sebaliknya.


Walaupun dalam mimpi nya anak anak itu tampak sangat lucu dan menggemaskan.


.


.


.


Sesampainya di rumah sakit, Asma berjalan dengan sangat terburu buru menuju kamar Khadijah, Lita sampai terseok seok mengikuti nya.


Dan saat membuka pintu kamar, di sana sudah ada Ummi Mufar, Dini dan juga Mila.


Mereka semua langsung menatap heran pada Asma karena Asma membuka pintu nya dengan sedikit keras membuat mereka semua terkejut begitu juga dengan Khadijah.


"Asma, Bilal sudah memberi tahu Ummi soal kedatangan mu" Seru Ummi Mufar, Asma dan Lita pun menghampiri Ummi Mufar. "Tapi kenapa kamu kesini?. Bilal bilang kamu akan kesini lagi besok pagi"


"Dirumah sepi, Ummi. Jadi biar di sini aja, nemenin Mbak" Jawab Asma berbohong.


"Kalau gitu, nginap di asrama aja, bersama Lita. ya Lita?" Lita tak menjawab dan hanya tersenyum sungkan.


"Engga, Asma mau di sini aja" Jawab Asma berharap Ibu mertua nya itu tak memaksa. Dini pun juga ikut membujuk Asma karena kasihan kalau Lita dan Asma tidur di rumah sakit. Namun Asma tetap pada keputusan nya meskipun Khadijah juga ikut membujuk nya.


"Ya sudah engga apa, kalau gitu kami pulang dulu, karena sudah ada kamu, Lita dan Bilal yg menjaga Khadijah"


"Iya Ummi" Jawab Asma. Ummi Mufar pun segera memberikan ciuman penuh kasih nya di kening Khadijah.


"Ummi pulang dulu ya, Nak. Besok Ummi ke sini lagi" Khadijah hanya mengangguk sambil mengulum senyum


Dini dan Mila pun juga berpamitan. Namun Mila merasa aneh karena tiba tiba Khadijah memeluk nya dengan erat.


"Mil, makasih ya" Ucap Khadijah lemah.


"Makasih buat apa?. Buat buah nya?" Tanya Mila di iringi tawa kecil nya, karena memang tadi ia membawakan buah "Sejak kapan kamu berterimakasih karena hal itu" Lanjut Mila kemudian sekali lagi ia memeluk Khadijah. "Semoga cepat sembuh"


"Insya Allah" Jawab Khadijah.


Setelah semua pergi, Asma kembali tampak gelisah namun ia menyembunyikan hal itu.


"Mbak mau buah?" Tanya Asma berusaha mengalihkan fikiran nya yg tak tenang. Khadijah menggeleng karena ia tak ingin makan apapun.


"Kalian makan aja buah nya" Seru Khadijah dan ia kembali berbaring, Asma pun membantu nya.


"Dimana Bilal, Mbak?"


"Tadi keluar katanya sih sebentar" Asma hanya menggumam.


Sementara Lita sudah menguap dan ia tampak mengantuk. Asma pun menyuruh Lita untuk tidur disofa. Sementara Asma duduk di kursi yg ada di samping bangsal.


"Asma..." Khadijah menggenggam tangan Asma "Jika nanti aku mati, Mbak titip Mas Bilal ya"


"Jangan berkata begitu, semoga ada keajaiban yg bisa menyembuhkan Mbak"


Khadijah tertawa kecil mendengar penuturan Asma yg baginya terlalu naif.


"Mbak... " kali ini Asma yg ingin mengatakan isi hati nya "Aku sudah memaafkan mu, jadi Mbak jangan merasa bersalah lagi. Mungkin itu memang takdir ku. Jadi sebaiknya sekarang Mbak lebih fokus lagi pada kesembuhan Mbak, jangan mikir yg aneh aneh lagi. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi" Asma berkata dengan pelan. Dan Khadijah langsung tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya.


"Terimakasih, Asma"


Bersamaan dengan itu, Bilal pun datang dan ia sudah tahu kedatangan Asma, karena di depan tadi sempat bertemu Ummi nya.


"Apa yg kalian bicarakan?" Tanya Bilal


"Wasiat" Jawab Khadijah asal membuat Bilal tampak sedih mendengar itu.


"Jangan berwasiat sekarang" Ucap Bilal setengah marah


"Mbak cuma bercanda" Sela Amsa. Bilal pun duduk di sisi Khadijah dan mencium kening nya.


Khadijah menggenggam tangan Asma dan tangan Bilal di atas perut nya.


"Kalau nanti aku pergi, kalian jangan tengkar kayak Tom And Jerry lagi ya, kasian Bi Mina pusing liat kalian begitu. " Khadijah berkata dengan lemah.


Bilal semakin sedih dan ia bisa meraskan sesuatu yg selalu ia takuti selama ini akan segera datang. Begitu juga dengan Asma yg meraskan hal yg sama.


Asma menyandarkan kepalanya di lengan Khadijah. Tanpa ia sadari air matanya menetes begitu saja.


"Mbak engga boleh pergi. Siapa lagi yg bisa menjadi penengah kami ketika bertengkar kalau bukan Mbak, Bi Mina engga akan berani belain aku dari Bilal" Asma mengingat Khadijah yg selalu menjadi penengah saat dulu ia dan Bilal selalu berdebat karena hal hal tak penting. Dan Khadijah selalu membela nya.


Bilal tak bisa berkata kata lagi, ia pun meletakkan kepala nya di samping kepala Khadijah.


"Sudah ngobrolnya, sebaik nya kalian tidur." Seru Bilal. "Awas aja kalau besok pagi kesiangan sholat subuh nya" Ia memperingati kedua istri nya.


Khadijah dan Asma tertawa kecil mendengar peringatan Bilal itu.


.


.


.


Di tengah malam, Bilal terbangun dan ia mendapati Asma sudah tertidur dengan masih menyandarkan kepalanya di lengan Khadijah. Bilal juga melihat Lita yg sudah terlelap di sofa.


"Mas..." Panggil Khadijah pelan karena ia juga terbangun.


"Ada apa?. Kenapa kamu engga tidur?"


"Pindahin Asma ke sofa, kasian dia. Nanti lehernya sakit lho" Ujar Khadijah. Namun Asma yg mendengar perbincangan mereka pun ikut terbangun.


"Ada apa?" tanya nya sambil menguap.


"Zahra, kamu pindah ke sofa gih, nanti leher mu sakit" Ujar Bilal. "Aku mau sholat dulu"


"Aku juga mau sholat" Jawab Asma sambil menggeliat dan meregangkan tubuh nya yg memang terasa pegal.


"Aku juga" Sambung Khadijah yg membuat Bilal tersenyum, karena ketiga nya tidak pernah sholat malam bersama sama. Di tambah Lita yg juga ikutan bangun karena mendengar percakapan mereka.


"Aku juga ikut" Ucap Lita masih setengah sadar membuat mereka pun tertawa kecil.


Setelah mengambil wudhu, mereka pun melaksanakan Sholat malam.


Bilal sangat berharap ini bukan kali terkahir hal indah ini terjadi. Bilal sangat berharap, di malam malam berikutnya ini akan selalu terulang.


Di tengah malam yg sepi dan tenang, membuat Sholat mereka terasa begitu khusyu. Begitu tenang dalam mencurahkan isi hati nya pada sang Rabb.


Namun saat sujud terkahir, Ke khusyu'an Asma terganggu di kala ia melihat madu nya tak kunjung bangun untuk Tahiyat, ia tak fokus pada bacaan nya dan air matanya mengalir dengan bebas, dengan menahan tangis dan sesak di dada nya, Asma berusaha menyelesaikan sholat nya mengikuti Bilal sebagai imamnya.


Dan setelah mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, dengan cepat Asma merengkuh Khadijah dan memanggil suami nya dengan suara yg bergetar.


"Bilal...."


Bilal langsung menoleh dan ia melihat Asma yg sudah merengkuh Khadijah yg sudah menutup mata. Air mata Bilal langsung mengalir bebas dengan nafas yg tercekat.


Ia pun segera merengkuh istri nya itu dan menepuk nepuk pipi nya.


"Khadijah, bangun... ayo bangun!" Bilal terus menepuk nepuk pipi Khadijah dan memanggil nama nya dengan penuh penekanan seolah memberi perintah, namun istri nya itu tak merespon sama sekali.


Lita dan Asma hanya bisa menangis melihat Khadijah yg sudah terbujur kaku.


Dengan masih menangis, Bilal mencium wajah istri nya itu hingga wajah istri nya pun basah oleh air mata Bilal.


Asma berusaha menenangkan suami nya. Ia memeluk Bilal yg saat ini sedang merengkuh tubuh Khadijah yg sudah tak bernyawa lagi.


▪️▪️▪️


Tbc..