My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 70



Bilal bisa sedikt bernafas lega karena kini Zahra nya telah sadar kembali. Namun ia juga harus kembali merasa terpukul, ketika Bilal menghampiri Asma, istri nya itu langsung memalingkan wajahnya seolah tidak ingin melihat Bilal. Hal itu membuat hati Bilal terasa jauh lebih sakit di bandingkan dengan saat ia mendapatkan kabar kematian anak anak nya.


Walaupun begitu, Bilal tetap berada di samping istri nya. Dan Bilal semakin khawatir dengan Asma, karena Asma bukan hanya tak mau melihat nya, tapi ia juga tak mau berbicara dengan siapapun. Tatapannya pun selalu terlihat kosong dan ekspresi wajahnya terlihat datar.


Dokter mengatakan itu karena Asma masih terlalu shock, dan ia tak mampu menerima kenyataan yg harus ia hadapi.


"Sayang..." Bilal berkata dengan sangat lembut, ia menggenggam tangan Asma, namun Asma tak bereaksi apapun. Bilal mencium tangan Asma "Zahra, bicaralah, Sayang!" Pinta Bilal, namun Asma masih tak menjawab nya. "Zahra, ku mohon jangan seperti ini sayang, kamu membuat ku takut" Bilal berkata dengan mata yg berkaca kaca dan suara yg bergetar.


"Bilal..." Dini menepuk pundak adik iparnya itu. "Asma hanya butuh sedikit waktu, biarkan dia menenangkan diri"


"Maafkan aku, Sayang. Maaf karena aku gagal menjaga kalian, kamu boleh marah, Zahra. kamu boleh menampar ku dan melampiaskan kemarahan mu, tapi ku mohon, jangan diam kan aku. Aku mohon, Sayang" Bilal memohon dengan berderai air mata, ia mencium tangan Asma hingga membuat tangan Asma basah oleh air mata nya.


Asma pun tak bisa membendung air mata nya, ia menangis dalam diam namun ia tetap tak bereaksi.


Asma segera menghapus air matanya dengan tangannya yg bebas, dan ia memalingkan wajahnya, ia juga tak sanggup melihat Bilal yg terluka, namun ia juga harus akui, dia begitu marah dan kecewa. Asma bisa menerima apapun dalam hidupnya, tapi ia tak bisa menerima kehilangan anak anak nya begitu saja.


Sementara itu, Mukhlis datang kerumah sakit dengan membawa kedua orang tua Asma dan juga Adil.


Ayah, Ibu, dan juga kakak nya segera menemui Asma. Saat mereka memasuki kamar rawat Asma, Asma langsung menatap Ummi nya dengan derai air mata, seolah ia ingin memberi tahu, betapa sakit nya luka yg harus dia terima, dan betapa hancur hatinya saat ini.


Dini pun membawa Bilal keluar, supaya kedua orang tua Asma bisa menghabiskan waktu bersama putri mereka.


Bilal keluar, tapi ia tak pergi, Bilal duduk bersandar di pintu kamar rawat Asma. Berfikir bagaimana ia harus menjalani hidup nya sekarang, bagaimana ia bisa mendapatkan maaf dari Zahra nya?.


Di dalam, Ummi Kulsum langsung memeluk Asma dan seketika tangis Asma pecah tanpa bisa di cegah, ia menangis sejadi jadi nya di pelukan sang Ibu, dan terus mengatakan bahwa ia telah anak anak nya.


"Rasanya sakit, Ummi. Asma seperti kehilangan nyawa Asma. Kenapa Asma tidak mati saja bersama mereka?" ucap Asma di barengi tangis yang tak bisa ia hentikan.


"Ssshtt... tenanglah, Nak. Ikhlaskan mereka, Allah hanya sedang menguji mu, kau harus sabar dan tabah. Allah akan gantikan apa yg sudah Dia ambil dengan yg lebih baik" Ummi Kulsum membelai kepala Asma,


"Tapi mereka anak anakku,mereka baik baik saja. Kenapa sekarang mereka meninggalkan ku? Apa salah ku? aku sudah menjaga mereka, tapi mereka masih pergi"


Asma terus menangis di pelukan sang Ibu hingga membuat pakaian Ibu nya basah.


Melihat keadaan putri nya yg begitu terpukul, Ummi Kulsum pun tak bisa menahan air matanya. Saat mengandung Asma , ia juga hampir kehilangan Asma, dan itu sudah membuat nya merasa sekarat, dan sekarang, putri nya benar benar kehilangan anak anak nya. Ummi Kulsum mengerti betapa sakit nya itu.


"Dek..." Adil menghapus air mata Asma dengan sayang. "Kamu harus kuat, adik kakak harus jadi wanita yg kuat, tabahkan hati mu, Sayang."


"Tapi Asma engga mau kehilangan anak anak Asma, Kak. kemaren mereka masih hidup di sini dan Asma bisa merasakan detak jantung nya. Tapi sekarang... sekarang...." Asma kembali menagis terisak isak sambil memegang perut nya. Seluruh tubuhnya bergetar karena tangis nya.


Ummi Kulsum semakin mengeratkan pelukannya dan ia mencium kepala Asma, saat ini hanya itu yg bisa dia lakukan untuk menenangkan putrinya.


Tak ada kata yg bisa menyembuhkan hati seorang Ibu yg terluka karena kehilangan buah hatinya.


Tak ada bajukan yg bisa menenangkan perasaannya. Ummi Kulsum tahu itu, apa lagi saat sang buah hati meninggalkan nya begitu saja seolah tanpa sebuah alasan.


Namun sekali lagi, takdir akan terus berjalan entah manusia siap menerima nya atau tidak.


Mendengar suara hati istri nya yg begitu terluka itu membuat Bilal hanya bisa menangis, apa lagi ia tak bisa berada di samping Asma karena Asma seolah sangat membenci nya. Dan hal itu semakin menyempurnakan kehancuran hati Bilal.


Adil yg baru keluar dari kamar Asma, melihat Bilal yg tampak sangat kacau. Adil mengulurkan tangannya pada Bilal dan membantu Bilal berdiri. Terlihat sekali, adik ipar nya itu sama terluka nya seperti Asma. Adil sudah tahu bahwa Asma tak mau berbicara dengan Bilal, Mukhlis sudah menceritakan semua nya.


"Pulang lah, Bilal. setidaknya bersihkan dirimu"


"Aku harus menemani istri ku, Dil"


"Biar kami yg menjaga nya, ada Ummi di sini"


"Aku engga mau meninggalkan Zahra ku, aku sudah meninggalkan nya dan itu....itu membuat kami kehilangan anak kami" Bilal kembali meneteskan air matanya. Membuat Adil tidak tega.


"Jangan menyalahkan dirimu terus menerus, aku tahu kamu juga terpukul seperti adik ku, tapi kamu harus lebih kuat karena Zahra mu membutuhkan mu, lebih dari dia membutuhkan kami, sebenarnya dia jauh lebih membutuhkan suami nya. Cobalah mengerti hal itu, Bilal"


"Dia sangat membenci ku, Dil. jangankan berbicara, menatap ku saja dia enggan" Bilal berkata dengan suara bergetar.


"Itu engga benar, adikku mencintai mu dan engga mungkin membenci mu, dia hanya sedang terluka saat ini dan dia engga bisa berfikir jernih. Waktu akan menyembuhkan luka nya dan dia akan mengerti itu adalah bagian dari takdir hidup nya." Bilal terdiam dan berharap apa yg di katakan Adil benar.


"Pulanglah, kami akan menjaga Asma disini" Tapi Bilal masih tak mau dan bersikukuh tak ingin meninggalkan Zahra nya.


"Bilal... Lihat dirimu" sela Mukhlis "Kalau kamu engga bisa mengendalikan dirimu sendiri, dan tetap terpuruk seperti ini, lalu bagaimana kamu akan menjadi kekuatan bagi Asma?. Bagaimana kamu akan menjaga nya?. Dia juga sangat membutuhkan mu" Ucap sang Kakak dan hal itu membuat Bilal mau meninggalkan rumah sakit.


Mukhlis membawa Bilal pulang, Mukhlis sungguh tidak tega melihat Bilal yg terus menerus melamun dengan tatapan yg kosong. Tapi ia sudah tak tahu lagi harus menghibur nya bagaimana. Ia hanya bisa berdoa, agar adik nya dan adik iparnya tetap kuat dan mampu melewati cobaan dalam hidup mereka.


.


.


.


Saat dirumah sakit, Bilal yg begitu terpukul karena keadaan Asma, ia tak mampu menjawab panggilan Ibu mertua nya, sehingga Khadijah lah yg menjawab nya dan memberikan kabar sedih itu pada Ibu Asma.


Dan sampai sekarang, ponsel Bilal masih ada bersama Khadijah. Dan Khadijah baru tahu beberapa pesan terkahir Asma yg memberi tahu kondisi nya, bahkan ada banyak panggilan tidak terjawab dari Asma.


Sungguh itu membuat Khadijah semakin merasa berdosa. Ia menyesali kelalaian nya. Jika Bilal membaca pesan itu, Bilal pasti akan mengira Khadijah telah dengan sengaja menyembunyikan keadaan Asma, Bilal pasti sangat marah dan menyalahkan Khadijah atas kematian anak anak nya. Dan mungkin, Bilal akan meninggalkan Khadijah. Membayangkan itu, Khadijah tidak sanggup, ia telah kehilangan segala nya, bahkan anak anak Asma yg juga anak anaknya, ia telah kehilangan nya juga. Khadijah tidak mau jika sampai harus kehilangan Bilal.


"Maafkan aku, Asma. aku sama sekali tidak berniat jahat pada mu, aku juga merasa terpukul atas keguguran mu" Khadijah menghapus air mata penyesalan nya. Ia bertanya tanya, kenapa semuanya jadi seperti ini?


Khadijah berfikir, dia telah melakuan pengorbanan yg sangat besar untuk kebahagian suaminya. Tapi ternyata, ia sendiri yg menjadi penyebab penderitaan terbesar suami nya.


Dengan sangat terpaksa, Khadijah menghapus semua pesan Asma dan berharap Bilal tak pernah tahu akan hal itu.


Saat mendengar suara klakson dari bawah, Khadijah yakin itu pasti suaminya, ia pun bergegas membukakan pintu untuk suaminya itu. Khadijah sangat sedih melihat kondisi Bilal yg sangat memprihatinkan.


"Mas, bagaimana keadaan Asma?" tanya Khadijah.


"Masih sama" jawab Bilal, dan ia pun segera bergegas ke kamar Asma. Ternyata di sana Bi Mina sedang membersihkan kamar meraka.


"Tunggu...tunggu...." seru Bilal saat Bi Mina hendak melepaskan seprei nya. Nafas Bilal tercekat di tenggorokannya saat melihat noda darah di seprei nya yg pasti itu adalah darah Asma.


"Maaf, Pak. saya baru sempat membersihkan kamar neng Asma" seru Bi Mina yg juga masih sedih, apa lagi ia melihat tuan nya juga masih tampak sangat terpukul.


"Kenapa Bibi engga menelpon ku jika Asma mengalami pendarahan?" Tanya Bilal yg membuat Bi Mina mengernyit heran, apa lagi ia sendiri melihat Asma sedang mengirim pesan pada Bilal.


Baru Bi Mina membuka mulut untuk balik bertanya, terdengar suara ketukan pintu dan terlihat Khadijah yg berdiri di ambang pintu.


"Bi, bisa tolong siapkan makanan untuk Mas Bilal?" seru Khadijah


"Aku engga lapar" jawab Bilal dengan cepat.


"Tapi kamu pasti belum makan sejak semalam kan, Mas?"


"Aku bilang aku engga lapar." sanggah Bilal lagi "Bi, tinggalkan ini, aku akan melakukan nya sendiri" ucap Bilal sambil menarik seperi dari tangan Bi Mina


"Tapi, Pak..."


"Tinggalkan aku sendiri" Pinta Bilal tegas yg membuat Khadijah dan Bi Mina segera meninggalkan nya.


Setelah mereka pergi, Bilal menutup pintu dan mengucinya. Bilal kembali menangis membayangkan apa yg sudah Zahra nya alami dan ia tak ada di ada disampingnya. Bilal melepas seperei itu kemudian ia membawa nya keluar untuk di cuci sendiri.


Bi Mina yg melihat itu, tentu melarang Tuan nya melakukan pekerjaan yg seharusnya di lakukan Bi Mina, tapi Bilal tetap ingin melakukan nya sendiri.


Bilal memasukan seprei nya ke dalam mesin cuci, setelah di cuci, ia pergi menjemurnya.


Khadijah dan Bi Mina hanya bisa menyaksikan hal itu dalam diam, mereka tidak tega melihat Bilal seperti orang yg kehilangan akal sehat.


Setelah selesai, kini Bilal kembali ke kamarnya, ia mengambil seprei yg baru dan memasangnya sendiri, setelah itu ia segera membersihkan diri.


Sementara Khadijah tetap menyiapkan makanan untuk Bilal sekalipun pria itu mengatakan tidak lapar.


Setelah makanan siap, Khadijah kini melihat Bilal turun dengan wajah yg lebih segar namun kedua matanya masih memperlihatkan luka di hati nya. Bilal memakai jeans dan juga kaos polos putih di padukan dengan jaket trucker denim biru.


"Mas, kamu mau pergi lagi?" tanya Khadijah yg melihat Bilal berpakaian seperti itu.


"Iya, aku engga mau ninggalin Zahra. Oh ya, dimana ponsel ku?" Khadijah merasa gugup saat Bilal menanyakan ponsel namun ia berusaha tenang.


"Tunggu sebentar" Jawab Khadijah dan ia pun segera bergegas ke kamar nya untuk mengambil ponsel Bilal.


Setelah itu, dengan ragu Khadijah menyerahkan ponsel Bilal.


"Mas, apa engga sebaiknya kamu istirhat aja di rumah sebentar?. Di sana kan sudah ada orang tua Asma. Nanti kamu sakit, Mas"


"Aku engga apa apa, kamu jaga diri ya dirumah. Jangan terlalu banyak fikiran" seru Bilal dan ia mencium kening istri nya itu " Aku mau pergi ke rumah sakit sekarang"


"Makan dulu, Mas. Aku sudah siapkan makanan mu"


"Aku makan dirumah sakit aja" jawab Bilal dan ia pun segera pergi.


Khadijha hanya bisa menghela nafas berat. Hanya satu kelalaian nya saja, telah menghancurkan hati semua orang dan menyebabkan kematian anak anak nya Asma dan Bilal. Khadijah pun merasa bahwa ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri untuk itu.


Namun ia tak bisa berbuat apa apa. Semua sudah terjadi, dan Khadijah hanya berharap Allah mengampuni kesalahannya. Walaupun mungkin setelah ini, Khadijah akan menjalani sisa hidup nya dengan bayang bayang kematian anak anak Asma.


▪️▪️▪️


Tbc...