
Asma tak bisa tidur karena meraskan sakit di perut nya, ia pun membangunkan suaminya.
"Ada apa, Sayang. Apa perut mu sakit?" Bilal bertanya dengan panik, dan Asma hanya bisa mengangguk.
"Kita kerumah sakit" ujar Bilal dan ia pun segera bangun dan mengambil tas yg berisi kebutuhan Asma untuk melahirkan yg sudah Bilal persiapkan sejak sebulan yg lalu.
Faraz yg tidur di tengah tengah mereka pun terbangun karena mendengar suara ayah nya.
"Ada apa, Abi?" tanya Faraz sambil mengucek matanya.
"Faraz, Ummi mau melahirkan seperti nya, Nak. Abi harus ke rumah sakit, kamu di rumah aja ya sama Nena" Seru Bilal sambil menggendong Asma yg sudah tampak kesakitan.
"Ikut...ikut...ikut..." Seru Faraz mengikuti Bilal yg segera keluar kamar. Bilal pun berteriak memanggil Bi Mina.
"Ada apa, Pak?" Tanya Bi Mina yg datang tergopoh gopoh.
"Bi, Zahra mau melahirkan seperti nya. Bi Mina jaga Faraz ya"
"Enda mau... Faz ikut,Bi..." Rengek Faraz.
"Sayang, biarin aja Faraz ikut" Ucap Asma lemah pada suami nya.
"Ya udah, ayo kita pergi sekarang"
.
.
.
Di rumah sakit, Dokter dan suster segera menangani Asma dan membawa nya ke ruang persalinan. Tentu saja dengan Bilal di sisi nya, karena Bilal tak ingin meninggalkan istrinya dan Asma pun tak mau di tinggal suaminya.
"Ayo, Bu... Dorong ! Dorong! dorong lebih kuat lagi" Seru Dokter itu, Asma mengejan sekuat tenaga dan ia meremas tangan Bilal dengan sangat kuat.
Nafas Asma tersengal, keringat sudah membasahi seluruh tubuh nya yg sudah lelah dan sakit. Ia menatap Bilal dengan mata yg berkaca kaca menahan sakit nya melahirkan.
"Sayang, yg kuat ya... Bismillah... dorong lagi, Sayang" Bilal ikut memberikan dukungan pada istri nya. Satu tangan nya menggenggam tangan Asma, dan tangan yg lain mengelap keringat yg mengucur di kening Zahra nya itu.
"Aku... aku engga sanggup...Bilal" Ucap Asma lemah.
"Jangan berkata begitu, Sayang. Kamu pasti kuat, bertahan lah sedikit lagi, ingat apa kata mu? Heaven. Anak ini akan menjadikan rumah kita seperti surga, karena keberadaannya akan menyempurnakan kehidupan kita semua"
Ucap Bilal dan mencium wajah Asma berkali kali.
Asma tersenyum lemah mendengar penuturan Bilal dan ia berusaha lebih kuat lagi.
Bilal terus menguatkan Asma dan Asma terus berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak nya.
Bilal pun juga tak henti henti nya berdoa dalam hati untuk keselamatan istri dan anak nya.
Sementara di ruang tunggu, Bi Mina, Ummi Mufar dan Dini menunggu dengan harap harap cemas, wajah mereka tegang dan mereka terus mengucapkan doa doa untuk Asma dan anak nya. Ummi Mufar memangku Faraz yg juga tampak cemas. Cucu kecil nya itu menyenderkan kepala nya di dada Ummi Mufar dan mengalungkan lengan kecil nya di leher sang Nenek .
"Nek, Adik bayi nya sudah keluar ya?" Tanya nya.
"Sebentar lagi, Sayang. Faraz doain ya, semoga Adik bayi dan Ummi selamat dan sehat" Faraz mengangguk dan ia pun mengangkat kedua tangan nya.
"Ya Allah. Adik bayi Faz, Ummi Faz, selamatkan dan sehat kan. Aamiin"
Tepat setelah Faraz selesai berdoa, terdengar suara tangisan bayi dari dalam membuat wajah tegang mereka seketika lentur dan di gantikan dengan senyum kebahagiaan dan mengucapkan rasa syukur tiada henti.
"Alhamdulilah, ya Allah"
Sementara Bilal tak kuasa menahan tangis haru nya saat Dokter memberikan bayinya yg masih merah dan berdarah ke pada Bilal. Bilal menggendong bayi itu dengan sangat hati hati.
Kemudian, Bilal mengumandangkan Adzan di telinga bayi yg berjenis kelamin perempuan itu dan kemudian berdoa.
"Ya Allah, jadikan dia hamba Mu yg akan terus meng agungkan nama Mu, berjalan di jalan Mu, dan membawa kebenaran Mu di setiap langkah nya. Jadikan dia obat dari segala rasa sakit ibu nya, penenang dan penyemangat bagi ayahnya. Jadikanlah dia hamba Mu yg akan selalu membawa kedamaian dan ketenangan kepada siapapun yg ada bersama nya. Jadikan dia wanita yg sholehah hingga ajal menjemput nya, jadikan dia putri yg berbakti pada orang tua nya, dan kelak, jadikan dia istri dan ibu yg akan membuat rumah nya terasa di surga"
Bilal mengucapkan doa yg sama seperti yg ia panjatkan saat Sarfaraz di lahirkan. Ia berdoa agar Sarfaraz menjadi Imam dan pemimpin yg sholeh dan bijak.
Dokter itu pun tanpa sadar juga menangis haru, Dokter itu adalah Dokter yg juga membantu Asma melahirkan putra pertama nya.
Sarfaraz Yusuf.
Dokter itu tak bisa melupakan pasangan ini, karena sebelum melahirkan Faraz, Bilal meminta pada Dokter agar saat bayi nya lahir segera di berikan pada Bilal, Bilal ingin yg pertama kali anaknya dengar saat lahir ke dunia adalah nama Tuhan nya dan kebesaran Nya, dan Bilal akan memanjatkan doa dengan tulus untuk kehidupan anak anak nya.
Karena itulah saat bayi ini lahir, tak ada yg mengatakan sesuatu hingga Bilal mengumandangkan Adzan nya.
Asma menatap Bilal dan putri nya dengan senyum lemah di bibirnya.
"Sayang, Alhamdulilah, kita di karuniai putri, cantik, seperti mu" ucap Bilal dengan senyum lebar nya.
" Alhamdulillah, ya Allah" balas Asma dengan suara nya yg hampir tak terdengar karena ia benar benar sudah kehabisan tenaga.
"Maryam Yusuf"
.
.
.
Faraz tak bisa mengalihkan pandangannya dari bayi mungil yg ada di pangkuan ibunya. Bibir nya terus menyunggingkan senyum lebar, dan sesekali ia mendekatkan wajah nya hingga sangat dekat dengan wajah Baby Maryam.
Tatapan nya penuh selidik seolah Faraz ingin melihat sebenarnya apa yg ada di pangkuan ibu nya itu.
"Unyil" celetuk Faraz asal yg langsung membuat mereka semua tertawa.
"Namanya Maryam, Sayang. Bukan Unyil" tutur Bilal lembut yg saat ini sedang duduk di samping istri nya dan merangkul nya.
Bilal tak henti henti nya memberikan kecupan kecupan kecil di kening dan pipi Asma, memberi tahu betapa bahagia nya ia saat ini.
"Tapi kecil, lucu. Kayak Unyil" jawab Faraz dengan begitu polos nya. Dia pun hendak mencolek pipi Baby Maryam tapi Asma segera menghentikan nya, apa lagi putri mereka itu baru saja tertidur.
"Jangan, Sayang. Adek bayi nya lagi bobok, nanti dia bangun"
"Mau pegang, Ummi. Sedikit aja" rengek Faraz dengan wajah memelas, namun Asma melarangnya, membuat Faraz langsung cemberut, hidung nya pun sudah kembang kempis dan mata nya sudah berkaca kaca hendak menangis. Melihat itu pun Asma jadi tak tega.
"Ya sudah, boleh. Tapi pelan pelan ya, jangan sampai Baby Maryam bangun"
Seketika Faraz tersenyum lebar membuat Asma hanya bisa geleng geleng kepala.
Faraz pun menyentuh pipi Baby Maryam dengan ujung jari nya.
"Lembut. Kayak bolu" ujar nya yg langsung membuat mereka kembali tertawa.
Ummi Mufar yg melihat cucu nya pun tak kuasa menahan diri, hingga ia juga ingin menyentuh nya.
Asma memberikan putri nya itu pada neneknya. Dan dengan senang hati Ummi Mufar menggendong cucu nya.
"Masya Allah, Nak. Kau sangat cantik, semoga hati mu, dan takdir mu secantik wajah mu, semoga Allah selalu merahmati mu, semoga kamu bisa menebarkan cinta kasih pada siapapun yg bersamamu"
Ummi Mufar mencium kening Baby Maryam.
Kebahagiaan tampak sangat jelas di wajah mereka dengan kelahiran putri Bilal dan Asma itu.
Di setiap kelahiran cucu cucu nya, Ummi Mufar dan Abi Khalil selalu mengadakan syukuran besar besaran, bahkan Abi Khalil mengundang guru nya yg dari mekkah untuk mendoakan cucu cucu nya secara khusus, dari mulai putra putri Mukhlis dahulu, putra Bilal, putri Hubab, dan sekarang, syukuran harus kembali di gelar untuk putri Bilal dan Asma.
Keluarga Asma pun datang untuk melihat cucu mereka, bersamaan dengan kembalinya Hubab dan Lita.
Mereka berharap semoga kelak anak anak mereka bisa saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.
.
.
.
Kecemburuan, kesedihan, amarah hingga kebencian pasti akan di rasakan oleh manusia yg masih punya hati. Terutama seorang wanita yg pada hakikat nya memiliki hati yg lemah lembut.
Tak peduli seberapa hebat wanita, seberapa tinggi pendidikan nya, seberapa luas ilmu nya, takkan ada yg bisa menyelamatkan diri dari rasa cemburu ketika pria nya mencintai wanita lain.
Bahkan, kecemburuan juga di rasakan istri Nabi Ibrahim, Sayyidah Sarah kepada Sayyidah Hajar, hingga sang Nabi harus tinggal terpisah dengan istri kedua nya dan putra nya.
Wanita mulia seperti Sayyidah Aisyah pun juga bisa merasakan cemburu pada istri pertama Rasulullah yg bahkan sudah meninggal, yaitu Sayyidah Khadijah.
Itulah hakikat nya wanita di dunia ini.
Namun, wanita yg bisa menerima wanita lain demi kebahagiaan sang suami, adalah wanita yg kuat dan berhati mulai.
Walaupun begitu, janganlah terlalu naif sehingga dengan mudahnya menerima sebuah kata 'poligami' walaupun jaminannya adalah surga. Karena jalan menuju surga tak semudah jalan pulang kampung.
Akan ada begitu banyak rintangan yg akan menyerang tepat di hati, pasti sulit untuk di lewati tapi bukan berarti tak mungkin bisa di lewati.
Tapi jika bisa ikhlas dengan poligami, tulus karena Allah, maka Allah akan menuntun, memberi jalan, dan Allah akan menyiapkan surga yg jauh lebih nyaman dari kampung halaman sendiri. Dengan segala keindahan yang bahkan tak pernah terbersit dalam benak setiap makhluk di dunia ini.
Begitu juga dengan cerai, sangat mudah mengucapkan nya, terutama saat hati dalam keadaan terluka, dalam rumah tangga memang akan ada banyak rintangan, luka dan air mata. Namun itu adalah pelengkap cerita cinta sejati.
Cerai adalah solusi terkahir dalam sebuah pernikahan ketika hubungan berada di titik dimana tak ada lagi jalan yg lebih baik untuk kedua nya.
.
.
.
Dear Bidadari surga Bilal
Orang bilang, aku adalah pelengkap hidup Bilal. Tapi bagi ku, justru Mbak Khadijah lah yg melengkapi hidup ku dan Bilal.
Orang Bilang, Aku istri Bilal yg sempurna. Tapi bagi ku, uMbak Khadijah jauh lebih sempurna karena aku takkan bisa berbesar hati seperti Mbak yg rela di madu demi kebahagiaan sang suami.
Dulu, Saat aku mengatakan aku tak bisa ikut dengan Bilal, Bilal berkata dia yg akan ikut dengan ku. Tapi bukan karena aku lebih berarti dari mu, Mbak.
Tapi karena Bilal tahu, Mbak jauh lebih ikhlas dengan poligami ini. Mbak jauh lebih bisa bersabar dari pada aku dan Mbak jauh lebih bisa menghargai arti sebuah pernikahan.
Sangat mudah bagi ku untuk mengucapkan kata cerai, karena hati ku masih begitu lemah dalam mempertahankan rumah tangga ku.
Tapi kamu, Mbak.... Begitu banyak yg terjadi dalam pernikahan mu, namun tak pernah sekalipun kamu mengucapkan kata cerai pada suami mu.
Betapa hebat nya kamu menjalani semua cobaan dalam rumah tangga mu, betapa kuatnya kamu dalam mempertahankan rumah tangga mu meskipun dengan menahan rasa sakit di setiap hembusan nafas mu.
Mbak... Aku lah yg seharusnya minta maaf, karena aku lah yg sebenaranya telah menyakiti mu.
Di hari Bilal merasa mencintai ku, di hari itu juga, aku adalah luka di hati mu, aku air mata yg terus mengalir di pipi mu, aku api yg membakar hati mu dengan api cemburu, aku rasa sakit yg selalu membuat mu sedih dan merasa lemah.
Maafkan aku, Mbak.
Dan terimakasih, terimakasih atas kehidupan yg kau berikan pada ku.
Keberadaan ku sebagai istri Bilal, tak lain adalah lambang besarnya cinta mu pada suami mu.
Dan mungkin, orang fikir ini adalah kisah cinta Bilal dan Zahra nya.
Tapi bagi ku, ini kisah cinta mu, kisah cinta mu yg tiada akhir sekalipun kamu sudah berada di alam sana. Karena kisah cinta Bilal dan Zahra takkan pernah terjalin tanpa kisah cinta mu.
Salam penuh cinta, dari lambang cinta mu pada suami mu, Asma Azzahra.
▪️▪️▪️
Tbc...