
Tak seperti perjalanan sebelum nya, dimana Asma hanya diam dengan ekspresi datarnya saat Bilal membawa nya pulang, kini Asma dan Bilal membicarakan banyak hal, Asma bahkan tak pernah melepaskan tangannya dari tangan Bilal, dan saat di pesawat, ia selalu menyandarkan kepalanya di bahu Bilal.
Di bandara, sopir yg di suruh mengantar mobil Bilal sudah menunggu, dan saat ia melihat Bilal dan istri nya, sopir itu segera menghampiri nya dan menyerahkan kunci mobil Bilal.
"Apa ada lagi yg bisa saya bantu, Pak?" tanya sopir itu pada Bilal.
"Engga ada, Paman. Makasih ya, oh Ya Paman naik apa pulang nya?"
"Pulang sama Arip, Pak. Itu dia lagi nunggu di parkiran depan"
"Oh begitu, ya sudah. Hati hati ya" Ucap Bilal kemudian ia membawa istri nya itu keluar.
"Kenapa kamu menyetir sendiri?" tanya Asma saat sudah di dalam mobil.
"Aku mau membawa mu secara khusus ke suatu tempat, Sayang" ucap Bilal dan mulai mengemudikan mobi, Asma menganggukan kepalanya sembari ber oh ria, ia ingat memang Bilal mengatakan akan menunjukan sesuatu padanya.
"Bilal..." panggil Asma sambil menatap suami nya itu.
"Ada apa, Zahra?"
"Apa aku mengecewakan mu?" tanya Asma tiba tiba yg membuat Bilal meliriknya sekilas.
"Maksud mu?" tanya nya tak mengerti.
"Aku mendengar apa yg Ummi bicarakan dengan mu tadi, soal...bayi" Asma berkata dengan sangat pelan di akhir kalimat nya.
"Hmm, lalu? Kenapa aku harus kecewa padamu, Sayang? Aku mengerti kamu masih terlalu muda untuk memiliki bayi"
"Ya, itu benar. Aku bukannya engga mau bayi, tapi aku belum siap jadi ibu, aku engga pernah mengurus mu dan aku juga engga bisa mengurus diriku sendiri, lalu bagaimana aku bisa mengurus bayi?" Asma berkata seolah ia merasa bersalah. Asma yakin Bilal sangat mengharapkan bayi dari nya, apa lagi ia sudah menikah selama bertahun tahun dan belum memiliki bayi.
Bilal mengelus pipi Asma dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih di setir mobil, ia melirik Asma sekilas dan menyunggingkan senyum seolah ingin memberi tahu bahwa itu sama sekali bukanlah masalah.
"Aku mengerti, Sayang. Engga apa apa, lagian sekarang kita baru memulai hubungan kita, jadi biarkan kita menikmati kebersamaan kita ini, oke?" Asma mengangguk dan bernafas lega karena suami nya bisa mengerti dirinya.
"Bilal, Kamu bilang bilang mau membawa ku ke suatu tempat, tapi ini jalan pulang"
"Aku tahu, ini memang jalan pulang, Zahra"
Bilal membawa Asma memasuki kawasan sebuah perumahan yg ada di belakang di pondok pesantren nya.
"Kenapa kita kesini?" tanya Asma sembari melihat lihat rumah yg ia lewati.
"Membawa mu pulang" ucap Bilal yg membuat Asma semakin bingung dan penasaran. Kemudian Bilal menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yg sedang di kerjakan dan tampak akan segera selesai. Bilal dan Asma turun sembari menatap rumah yg cukup besar itu.
Kemudian seorang pria paruh baya datang menghampiri Bilal dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, Ustadz. Lama sudah tidak mengecek rumah nya ya, apa Ustadzah Khadijah sudah menjalani pengobatannya?" tanya pria itu yg tampak sudah sangat mengenal Bilal.
"Iya, Alhamdulillah Khadijah membaik, doakan saja Paman, Paman sendiri apa kabar?"
"Sangat baik" jawab pria itu kemudian ia menatap Asma "Dan kamu pasti tuan putri nya. Zahra? Benar?" Asma mengerutkan kening nya karena heran bagaimana pria itu bisa mengenal nya.
"Zahra dia Paman Agung, dia yg mengurus pembangunan rumah kita"
"Rumah kita?" tanya Asma tak mengerti. Bilal memangguk kemudian ia menggandeng tangan Asma dan membawanya masuk.
"Ucapkan Bismillah dan salam, dahulukan kaki kanan mu sebelum memasuki rumah" pinta Bilal yg membuat Asma mengulum senyum dan ia pun mengikuti perintah suami nya itu walaupun masih kebingungan.
"Bilal, aku... aku engga ngerti apa maksud mu sebenarnya" Asma berkata setelah ia melangkah masuk melewati pintu utama.
"Kau fikir apa, Zahra? Aku menikahi mu begitu saja tanpa memikirkan dan menyiapkan masa depan mu?" tanya Bilal yg membuat Asma semakin bingung "Sayang..." Bilal menatap Asma "Saat aku memutuskan menikahi mu, saat itu juga aku sudah memikirkan dan menyiapkan masa depan mu, aku membangun rumah ini khusus untuk mu, aku sendiri yg mendesain nya. Awal nya aku fikir akan membawa mu kesini hanya saat rumah ini sudah bisa di tempati, tapi seperti nya menunggu saat itu terlalu lama"
"Jadi maksud mu aku akan tinggal di sini?" Asma bertanya setengah tak percaya namun ia tampak senang.
"Kita, dan anak anak kita" jawab Bilal yg membuat Asma merasa terharu dan juga tak percaya ternyata Bilal sudah memikirkan banyak hal tentang nya " Maaf, karena aku tidak bisa
membawa mu kerumah ini lebih cepat, butuh proses yg panjang untuk membangun rumah ini"
Bilal berkata penuh penyesalan, dia memang seorang pria, tapi ia mengerti perasaan wanita nya. Ia tahu suatu hari nanti salah satu dari istri nya akan minta berpisah rumah. Bilal hanya tak menyangka, secepat itu Asma meminta berpisah rumah, padahal selama ini ia melihat semua nya baik baik saja antara dia dan Khadijah. Khadijah memperlakukan Asma dengan sangat baik dan begitu juga sebaliknya.
"Terima kasih, dan tidak perlu meminta maaf" Ucap Asma sembari memeluk Bilal. Dan Asma segera melepaskan pelukannya saat mendengar paman Agung yg berdeham dan ternyata ada di belakang mereka sejak tadi.
"Ehem ehem. Jika sudah selesai, mau kah saya tunjukkan setiap sisi rumah ini? Atau Ustadz sendiri yg akan membawa Tuan Putri nya keliling istana?" ucap Paman Agung yg membuat Asma tersipu. Sementara Bilal hanya bisa mengulum senyum setiap kali melihat istri nya tersipu.
"Paman boleh kembali bekerja, aku yg akan membawa Zahra berkeliling rumah" tutur Bilal. "Oh ya, berapa lama lagi ini akan selesai?"
"Sebentar lagi, ini memang sedikt lebih lama dari perkiraan saya, Ustadz. Karena kita menambahkan kolam ikan"
"Kolam ikan?" tanya Asma antusias. Bilal tersenyum senang melihat istri nya begitu antusias.
"Iya, Zahra. Dulu aku engga tahu kamu suka ikan, tapi setelah tahu, aku segera meminta Paman agung untuk membuatkannya di tengah taman"
"Ada taman juga?" tanya Asma lagi.
"Ya, Taman yg mungil semungil kamu, Tuan Putri " sela paman Agung. Asma tertawa kecil karena paman Agung itu selalu memanggilnya Tuan Putri.
"Nanti kita liat taman nya, sekarang kita lihat rumah kita dulu" seru Bilal yg langsung di setujui Asma. Kemudian mereka pun berjalan masuk dan saat berada di dalam, rumah itu jauh lebih besar dari pada yg terlihat dari luar.
"Bilal, apa menurut mu rumah ini tidak terlalu besar jika hanya untuk kita?" tanya Asma.
"Engga, Sayang. Nanti kita kan punya anak anak. Dan anak anak butuh rumah yg luas, supaya mereka nyaman" mendengarkan kata anak anak, Asma kembali merasa bersalah karena ia belum bisa memberikan apa yg sangat Bilal inginkan itu.
"Iya, anak anak akan suka rumah yg luas" ucap Asma untuk menyenangkan suami nya itu.
Kemudian Bilal mulai menunjukan seisi rumah itu, di mulai dari ruang tamu, dapur, ruang khusus keluarga dan musholla yg berada di antara ruang tamu dan ruang kelurga. Bilal mengatakan ia sengaja membuat mushalla berada di antara ruang tamu dan ruang kelurga, supaya seandainya ada tamu, mereka tetap memilik privasi, ada dua kamar di bawah, dan 3 kamar di atas.
Dan saat ini, Bilal sedang membawa Asma ke kamar yg akan mereka tempati yg berada di lantai atas. Asma menatap kagum kamar itu yg tentu saja memiliki jendela yg besar.
"Ya, aku sangat menyukai nya. Terimakasih" ucap Asma senang.
"Baiklah, sekarang kita lihat apa yg sudah aku siapkan di luar rumah untuk mu" seru Bilal dan menggandeng istri nya menuruni tangga, kemudian ia berjalan keluar melewati pintu belakang, dan Asma di kejutkan dengan adanya kolam renang disana. Tak hanya itu, di halaman samping rumah nya, Bilal sengaja membuat taman sederhana dan juga sebuah ayunan, saat berada di desa nya, Bilal sering sekali melihat Asma menghabiskan waktu di ayunan nya.
"Kamu bisa mendengarkan musik atau membaca novel mu itu, atau juga belajar di sini, seperti yg sering kamu lakukan di rumah"
"Sempurna" seru Asma bahagia.
"Tapi ingat, Zahra. saatT Kita punya anak nanti, aku engga mau dia mendengarkan musik sejak kecil, aku ingin dia jadi Hafidz" seru Bilal serius.
anakT lagi, fikir Asma. Jika Bilal terus saja membicarakan anak itu pasti akan membuat Asma juga menginginkan nya fikir Asma, karena ia pasti tidak tega pada suami nya
"Dan disini, kolam ikan mu" lanjut nya.
Beberapa pekerja menyapa Bilal dan Asma, mereka mengucapkan salam dan menanyakan keadaan Bilal, dan yg membuat Asma heran, mereka menyapa Asma dengan memanggil Tuan Putri Zahra.
"Kenapa mereka memanggil ku Tuan Putri Zahra" Asma bertanya pada suami nya itu.
"Aku juga engga tahu" ucap Bilal karena ia memang tidak tahu alasan mereka memanggil Asma dengan sebutan Tuan Putri Zahra. Paman Agung yg mendengar pertanyaan Asma pun menghampiri nya dan menjawab pertanyaan Asma.
"Karena Ustadz Bilal sering menyebut nama mu di sini, dia bilang rumah ini khusus untuk Zahra, dia juga bilang ingin rumahnya di cat biru karena biru adalah warna favorit Zahra, buatkan taman dan letakkan ayunan karena Zahra suka menghabiskan waktu di ayunan, buatkan kolam ikan karena Zahra suka memelihara ikan" Asma tertawa mendengar jawaban panjang lebar paman Agung dan ia menatap Bilal yg hanya tersenyum samar.
"Hmm benarkah itu?" tanya Asma sembari menyenggol Bilal dengan bahu nya dan ia tersenyum menggoda Bilal. Bilal hanya mengedikan bahu pura pura acuh.
.
.
.
Sementara itu, Khadijah sudah tak sabar menanti kedatangan suami nya. Ia sudah sangat merindukan Bilal, dua minggu waktu yg cukup lama bagi nya.
Saat mendengar suara mobil Bilal, Khadijah segera berlari membuka pintu dan menyambut kedatangan suami dan madu nya.
"Assalamualaikum, Mbak. Apa kabar?" ucap Asma yg entah kenapa ia merasa kaku di hadapan Kahdijah.
"Waalaikum salam, Mbak baik, kamu?" tanya Khadijah yg juga tampak kaku.
"Sangat baik" jawab Asma kemudian ia berjalan masuk melewati Khadijah.
"Gimana keadaan mu?" tanya Bilal lembut sembari mencium kening istri nya itu.
"Jauh lebih baik" jawab Khadijah dan menggandeng tangan Bilal.
Asma terkejut saat tiba tiba Hubab datang dan berada di depannya, Hubab yg lama tak melihat Asma pun terkejut, dan Hubab melihat seperti ada perubahan dalam diri Asma.
Menurut Hubab, gadis itu tampak lebih dewasa dan semakin cantik. Padahal mereka hanya dua minggu tak bertemu, Hubab heran bagaimana Asma berubah hanya dalam waktu dua minggu.
"Hei Bab..." sapa Bilal yg seketika membuat Hubab sadar dari lamunan nya dan ternyata Asma sudah pergi naik ke kamarnya. Hubab pun juga segera menyambut kedatangan Bilal.
"Maaf ya ngerepotin" ucap Bilal sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
"Engga apa apa, gimana liburan mu?" tanya Hubab
"Aku ambil minum dulu ya, Mas" sela Khadijah dan Bilal pun mengangguk dan berkata "Minta Bi Mina antarkan minuman juga ke kamar Zahra ya, dia pasti haus" ucap Bilal. Karena ia yakin Asma takkan turun jika ada Hubab.
Namun Khadijah lebih memilih mengantar minuman untuk Asma.
Setelah memberikan segelas air putih untuk suami nya, kini Khadijah mendatangi Asma dan membawakan nya satu gelas air juga.
"Asma, Mbak bawakan air" ucap Khadijah setelah mengetuk pintu nya, dan tak lama pintu terbuka.
"Makasih, Mbak. Padahal aku bisa ambil sendiri kok"
"Engga apa apa" ucap Khadijah.
"Ya udah, aku mau mandi dulu" ucap Asma kemudian.
"Hmm ya udah kalau gitu" balas Khadijah kemudian ia segera turun.
"Mas Bilal tadi mampir kemana sama Asma?" tanya Khadijah sambil duduk di samping Bilal.
"Membawa Asma kerumah yg akan dia tinggali nanti"
"Maksudnya?" tanya Khadijah tak mengerti "Rumah yg mana?"
"Yg ada di belakang pondok, sebentar lagi sudah selesai dan bisa di tempati"
Khadijah sangat terkejut mendengar penuturan Bilal, ia tahu Bilal membangun sebuah rumah di sana tapi ia tak pernah tahu ternyata untuk Asma. Bilal memang sudah merencanakan pembangunan di sana saat ia memutuskan untuk menikahi Asma, tapi Khadijah mengira itu akan menjadi rumah yg akan Bilal berikan untuknya karena ia akan segera memiliki dua istri. Khadijah dengan sabar menunggu pembangunan itu selesai.
"Ada apa?" tanya Bilal yg melihat Khadijah tiba tiba membisu.
"Em engga, engga apa apa" jawab Khadijah masih mencerna apakah itu memang benar yg di ucapkan Bilal "Em...jadi Rumah itu untuk Asma?" tanya Kahdijah. Bilal yg melihat ekspresi Khadijah bisa mengerti apa yg wanita itu fikirkan. Namun Bilal tak ingin berbicara banyak sekarang apa lagi masih ada Hubab, sekalipun Hubab adalah keluarga Khadijah dan sahabatnya, Bilal tak ingin membahas hal sensitif tentang rumah tangga nya di depan orang lain.
"Aku mau mandi" ucap Bilal kemudian ia naik ke atas dan menuju kamar Asma semakin membuat Khadijah merasa patah hati.
Khadijah tak habis fikir, apa dua minggu bersama Asma masih kurang bagi Bilal?
Hingga saat dirumah pun, ia masih mendatangi kamar Asma.
▪️▪️▪️
Tbc...