
Asma melakukan kebiasaan lama nya, yaitu mendengarkan musik sambil menikmati hembusan angin di ayunan yg berada di samping halaman rumahnya, ia menatap cahaya bintang yg sangat indah di tengah gelapnya malam.
Sudah dua hari ia berada dirumah orang tua nya, dan ia jauh merasa lebih baik.
Saat Asma menutup mata,ia di kejutkan dengan Adil yg tiba tiba sudah duduk di samping nya.
"Eh Kakak. Ada apa, Kak?" tanya nya
"Dek..." Panggil Adil pelan "Kamu baik baik aja kan?" tanya Adil yg langsung di jawab dengan anggukan Asma. Dan Asma langsung menyandarkan kepalanya di bahu Adil seolah ia sudah merasa sangat lelah dan butuh tempat untuk bersandar dan melepaskan kelelahan nya.
"Asma baik baik aja, Kakak engga kasih tahu apapun kan ke Abi dan Ummi?" tanya Asma.
"Engga" Adil menjawab sambil membelai kepala adiknya itu "Kamu harus sabar ya, harus tetap kuat dan percaya sama Allah, Dia sedang merencanakan hal yg baik untuk mu, Insya Allah"
Asma tersenyum samar mendengarkan kata kata kakak nya.
"Maafin kakak, karena kakak engga bisa berbuat banyak selain menjadi sahabat curhat mu, maafin Kakak, karena sudah membiarkan pernikahan mu terjadi, Kami fikir kamu akan bahagia karena Khadijah sendiri yg ingin Bilal menikahi mu dan juga Bilal sangat mencintai mu"
"Asma bahagia kok" jawab Asma sambil mengusap air mata nya yg lagi lagi entah bagaimana mengalir begitu saja "Lagi pula ini bukan salah siapapun, Asma sendiri yg memilih jalan hidup ini. Asma cuma butuh doa kakak, supaya Asma bisa menjalani jalan yg sudah Asma ambil, supaya Asma bisa bahagia dalam rumah tangga Asma seperti Mbak Aqilah dan Mbak Aisyah" Asma berkata dengan suara yg bergetar, ia pesimis bisa bahagia seperti kakak kakak nya, rasanya itu hal yg sulit.
"Kamu pasti bisa bahagia, Dek. Selama kamu bisa ikhlas dengan jalan hidup mu dan kamu bisa mensyukuri nya, Allah akan melapangkan hati mu dan menenangkan fikiran mu"
"Bagaimana jika Asma sudah ikhlas dan bersyukur, tapi ada orang lain yg engga menerima nya?"
"Maka itu urusan orang itu, jika dia menyakiti mu sementara kamu engga menyakiti nya, maka biar itu menjadi urusan nya dengan Allah."
Asma tersenyum miring, karena yg menyakitinya adalah keadaan dan status nya, setidaknya itu bagi nya. Karena Khadijah tidak pernah secara langsung menyakiti nya, Asma tidak bisa menyalahkan siapapun, ia sadar betul itu adalah jalan hidup yg ia pilih sendiri.
Adil masih membelai kepala adiknya itu, dia masih remaja dan sudah harus menghadapi situasi yg sulit sebagai seorang wanita dan juga istri, sungguh Adil merasa kasihan. Tapi ia juga bangga, Adiknya terlihat tegar dan tidak mengumbar masalah nya ataupun mengeluh akan situasi nya pada siapapun bahkan pada kedua orang tuanya.
Di balik sikap manja dan ke kanak kanakannya, Adil sama sekali tidak menyangka adiknya adalah pribadi yg kuat, ia bisa menahan kesedihan nya sendiri, dan ia tidak membiarkan dirinya larut dalam amarah dan benci.
Adil tahu Asma terkadang memang mudah marah dan sakit hati, tapi ia tak pernah benar benar bisa membenci, karena itulah mudah saja bagi Adik nya untuk menerima Bilal dan Khadijah dalam hidup nya.
"Ini sudah malam, pergi lah tidur" ucap Adil. Asma pun mengangguk dan segera beranjak dari ayunan nya.
Di susul dengan Adil yg juga pergi ke kamarnya.
.
.
.
Asma menggeliat dan mengerang saat tidurnya terganggu dengan sentuhan di pipinya, tak hanya sentuhan, kini ia juga merasakan sebuah kecupan di pipi nya, membuat Asma yg masih sangat mengantuk memaksa matanya untuk terbuka. Dan samar samar ia melihat suami nya itu yg sedang tersenyum pada nya, Asma pun membalasnya dengan senyuman tipis kemudian Asma berbalik sambil bergumam tidak jelas, dan ia kembali terlelap.
Namun saat ia merasakan sebuah ciuman yg bertubi tubi di pipi nya, membuat ia langsung membuka mata lebar lebar dan segera duduk
"Bi...Bilal?" seru nya tak percaya sambil mengucek matanya memastikan apakah dia salah lihat, tapi memang suaminya itu berada di hadapan nya saat ini, Asma pun menepuk nepuk pipi nya sendiri "Ini pasti mimpi" gumam nya.
Sementara suaminya itu masih tersenyum pada nya, kemudian suaminya mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman mesra yg penuh kerinduan di bibir nya yg tentu saja berhasil membuat Asma melotot sempurna.
"Apa itu terasa nyata, Zahra?" tanya Bilal dengan suara serak nya. Asma menyentuh bibir nya dan itu memang terasa sangat nyata "Aku disini, Sayang" lirih Bilal.
"Benarkah?" tanya Asma setengah berbisik, suami nya itu mengangguk dan Asma langsung berhambur kedalam pelukan nya yg di sambut dengan senang hati oleh suami nya itu.
"Hiks...hiks.. hiks..." Asma langsung terisak dalam pelukan suaminya itu.
"Sayang, kenapa menangis?" tanya Bilal sambil mengecup pucuk kepala Asma berkali kali dan membelai rambut nya.
"Kenapa lama sekali pergi nya?" tanya Asma di sela sela isakan nya.
"Maaf" hanya itu yg bisa Bilal ucapkan.
"Aku merindukan mu" ucap Asma dengan suara rendah nya, dan Bilal yg mendengar itu begitu senang dan langsung tersenyum lebar.
"Katakan lagi"
"Aku merindukan mu"
"Sekali lagi" pinta Bilal dan Asma mencubit perut nya membuat Bilal meringis.
"Aku merindukan mu, Bilal" ucap nya di sela isakan kecil nya.
"Aku juga sangat merindukanmu" ucap Bilal dan mengeratkan pelukan nya, ia tak bisa berhenti mengecup dan mencium istri nya itu, ia sangat merindukan nya, hingga rasanya itu membuat dia merasa sekarat. Lama keduanya berpelukan dan Asma pun sudah menghentikan tangis nya, Bilal menghapus air mata Asma yg mengalir di pipi nya dengan ciuman nya.
Kemudian mengecup kening nya, kedua kelopak matanya, hidung mungil nya, dan bibir nya yg masih sedikt bergetar akibat tangis nya.
"Sudah, jangan menangis, sekarang aku di sini"
"Tapi, bagaimana kau ada disini? Kapan kau pulang?" tanya Asma yg masih dalam pelukan Bilal.
"Lalu, Mbak?"
"Dia langsung pulang kerumah"
"Oh" gumam Asma dan ia pun semakin mengeratkan pelukannya, menghirup aroma suami yg sangat di rindukan nya itu.
Begitu pun dengan Bilal, ia menghirup aroma kekasih nya yg sangat manis dan selalu ia rindukan, ia rindu tangan mungil istri nya saat memeluk nya seperti ini.
"Sayang..." Bilal berkata dengan suara rendah sambil membelai pipi istri nya itu, kemudian ia mencengkram nya dengan lembut dan sekali lagi mengecup bibir merona istri nya.
"Aku ingin melepas rindu, aku sangat merindukan mu, izinkan aku menyentuh mu, istriku" ia berkata dengan suara serak nya, Asma tak menjawab dengan bibirnya, namun matanya mengatakan segala nya.
Keduanya larut dalam tatapan yg sangat memabukan dan membuat keduanya hilang arah, menatap satu sama lain dengan tatapan yg begitu intens.
"Aku ingin tahu jawabanmu, Zahra" seru Bilal sambil membelai pipi Asma mengikut garis rahangnya dengan jari telunjuk nya.
"Apa kau tidak tahu jawabannya?" tanya Asma yg yakin bahwa Bilal sudah tahu jawabannya.
"Aku ingin mendengar dari bibir mu, Sayang" ucap Bilal dan sekal lagi mengecup sudut bibir Zahranya, yg tentu itu berhasil membuat Zahra nya hilang akal, dengan perasaan yg begitu menggelora dan adrenalin yg berpacu dengan cepat.
Asma memberanikan diri untuk membalas kecupan Bilal dengan mesra dan berbisik
"Ya, Bilal. Aku juga merindukan mu, suami ku. Kau bisa memiliki aku sekarang, dan selama nya" Bilal tersenyum penuh kemenangan dan langsung menghujani wajah Asma dengan ciuman yg begitu lembut dan mesra di setiap inci wajahnya.
"Sebaik nya kita sholat dulu, dan setelah itu kita bisa melepas rindu, Sayang. Dan menyempurnakan pernikahan kita" Bilal berkata sembari membelai mesra pipi Asma dengan punggung jemari nya, sementara Asma hanya bisa menanggapi nya dengan senyuman malu malu.
.
.
.
Hanya beberapa menit lagi menjelang subuh, dan Bilal masih tak juga memejamkan matanya, dan tak sedikitpun ia memalingkan pandangan nya dari wajah polos istri nya yg sedang terlelap dalam pelukannya itu.
Malam ini terlalu indah untuk ia lewatkan dengan tidur kemudian bermimpi indah namun akan sirna saat ia terbangun, malam ini adalah mimpi nya yg menjadi nyata dan ia tak ingin hal itu sirna dengan memejamkan matanya.
Bilal kembali mencium wajah istri nya itu tak peduli Zahra nya yg mengerang kesal karena Bilal terus saja menganggu tidurnya.
Bilal mendekap Zahra nya dengan sangat erat, bahkan setelah malam panjang dan indah yg ia lewati bersama pujaan hatinya itu tak bisa menyembuhkan rindu dalam hatinya, ia masih merindukan Zahra nya sekalipun ia sedang memeluk wanita nya itu.
Bilal membelai wajah istri nya yg tampak pucat itu, dan ia juga melihat Asma semakin kurus, jauh lebih kurus dari pada saat terkahir kali ia melihat nya. Membuat rasa bersalah menyeruak begitu saja dalam hati Bilal, ia merasa menjadi suami yg buruk karena tidak bisa mengurus istri nya.
Asma menggeliat malas dan pelan pelan membuka mata nya, namun saat menyadari situasi dan posisi nya saat ini, ia kembali menutup matanya rapat rapat membuat Bilal yg melihat nya tersenyum geli dengan reaski istri nya itu.
"Ada apa?" tanya Bilal. Namun Asma tak bersuara sedikitpun dan ia masih menutup mata.
"Sayang, kamu masih ngantuk?" Asma hanya menggeleng "Apa kamu masih em merasa lelah?" Bilal berbisik di akhir kalimat, Asma menggeleng "Apa masih sakit?" Bilal kembali berbsisik.
Asma merona mendengar pertanyaan Bilal itu, dan mengingat malam yg sudah mereka lewati bersama membuat Asma kembali merasa panas dingin, bahkan pipi nya teras panas, dan perut nya bergejolak seperti ada ribuan kupu kupu yg terbang di dalam nya. Asma hanya menggeleng sambil mengigit bibir bawahnya, malu dan gugup ia rasakan.
Bilal yg melihat istri nya masih malu malu itu merasa sangat gemas, dan dengan sengaja Bilal mencengkram bahu Asma dan menariknya semakin mendekat pada tubuhnya, membuat Asma semakin gugup.
"Em kamu engga tidur?" tanya Asma kemudian dengan suara rendah.
"Aku engga mau menutup mata dan melewatkan pemandangan yg sangat indah di hadapan ku ini" tutur Bilal, kemudian ia mengapit dagu Asma dengan jarinya dan membuat Asma mendongak, tatapan keduanya bertemu, dan masih memberikan tatapan kerinduan yang begitu besar yg seolah tak ada habis nya. Bilal menarik dagu Asma hingga wajahnya begitu dekat, Asma memejamkan mata dan menunggu apa yg akan Bilal lakukan selanjut nya.
"Kita harus mandi, sebentar lagi subuh" Asma langsung membuka mata saat Bilal tak melakukan apapun dan hanya mengatakan hal itu.
Asma merutuki dirinya sendiri yg sudah berharap lebih dan sekarang ia merasa sangat malu pada Bilal hingga Asma memalingkan wajahnya.
Namun tiba tiba, Bilal kembali membuat Asma menatap nya dan langsung mencium nya dengan sangat mesra membuat Asma tersentak sesaat namun kemudian membalas ciuman suami nya itu dengan sama mesranya.
.
.
.
Bukan hanya Asma yg terkejut dengan kedatangan Bilal, mertua dan kakak iparnya pun tak kalah terkejut nya melihat kedatangan Bilal yg tiba tiba kerumah nya.
Mau bagaimana lagi, akhir akhir ini ia terus memikirkan Zahra nya, ia merindukan nya setengah mati, dan syukurlah Dokter sudah mengizinkan Khadijah pulang dan melakukan rawat jalan di rumah nya.
Tentu Bilal tak ingin melewati kesempatan itu.
Dan saat di Bandara, Khadijah pun juga sangat terkejut karena Bilal memutuskan akan langusng melakukan penerbangan lagi untuk mendatangi istri keduanya. Namun Khadijah tak bisa berbuat banyak, dan dia membiarkan suami nya itu menemui istri nya.
▪️▪️▪️
Tbc...