My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 65



Waktu terus berjalan dan memberikan semua kebahagiaan yg ada untuk Bilal dan kedua istrinya. Kehamilan Asma terus berkembang dan dengan rutin Bilal menemani nya mengontrol kehamilan nya untuk mengetahui kondisi janin dalam perut Zahra nya.


Dan Khadijah juga melakukan tugasnya yaitu mengatur asupan makanan untuk madunya itu, dan setiap minggu, kedua nya mengukur perut Asma yg mulai membuncit dan menimbang berat badan Asma yg juga naik, apa lagi sejak ia sudah tak mual mual lagi, nafsu makan Asma terus bertambah.


Setiap kali Asma meraskan adanya kehidupan di perut nya, Asma begitu bahagia dan terkadang ia menangis haru tanpa sadar. Dirinya juga masih tak percaya dia sudah mengandung dan akan menjadi seorang ibu.


Asma duduk bersandar di kepala ranjang, sementara suaminya tengah terlelap di samping nya.


Bilal adalah kebahagian terbesar dalam hidup nya. Walaupun harus Asma akui, tak ada yg membuat nya bersedih dan menangis lebih dari Bilal, tapi tetap saja, ia sangat mencintai suaminya itu.


Asma membelai rambut Bilal dan kemudian ia mencium kening suaminya dengan penuh kasih sayang, semenjak kehamilannya, Asma memang lebih manja pada Bilal,dan juga sedikit romantis, Asma selalu menyiapkan pakaian Bilal sebelum bekerja dan membantu Bilal mengenakan nya, ia juga memberikan kecupan penyemangat hari suaminya itu. Dan yg membuatnya tak habis fikir, sampai saat ini ia masih sangat benci saat Bilal menggunakan parfum. Dan Asma sangat menyukai aroma natural dari tubuh Bilal.


Sentuhan dari Asma rupanya mengganggu tidur Bilal, pria itu kini menggeliat dan akhirnya membuka mata, seketika ia tersenyum saat yg di lihat nya adalah Zahra nya.


"Ada apa, Sayang? Kamu mencium ku diam diam lagi?" tanya Bilal yg memang merasakan beberapa malam terkahir Asma sering mencium nya saat ia tidur.


"Entahlah, aku hanya sering merasa merindukan mu" jawab Asma jujur. Bilal pun juga duduk dan ia menyandarkan kepala Asma di bahu nya.


"Aku selalu disini" seru Bilal dengan suara rendah "Kenapa kamu engga tidur? Ini sudah malam"


"Aku lapar" jawab Asma yg langsung membuat Bilal terkejut, pasalnya, sebelum tidur Asma sudah makan dua kali.


"Lagi?" tanya Bilal dan Asma mengangguk dengan polosnya.


"Baiklah, istri dan anakku mau makan apa?" tanya Bilal sambil mengelus perut Asma.


"Nasi goreng pedas" pinta Asma.


"Hem nasi goreng pedas, baiklah" seru Bilal kemudian ia pun merangkak turun dari ranjang dan Asma pun mengikutinya.


Di dapur, Bilal segera menyiapkan bahan bahan untuk memasak, sementara Asma memeriksa isi kulkas untuk melihat mungkin ada yg bisa ia makan untuk mengganjal perut nya yg akhir akhir ini lapar selalu menyerang nya tak kenal waktu.


"Bilal, pakek sosis ya, ada sosis tuh di kulkas" seru Asma, ia sendiri mengambil beberapa buah jeruk dan kemudian mengupasnya.


"Iya, Sayang" jawab Bilal, syukurlah ia bisa memasak karena saat di pesantren nya dulu ia sering memasak.


"Kasih sayur juga ya, biar bayi ku sehat" seru Asma lagi.


"Iya" jawab Bilal sambil mengupas bawang kemudian mengiris nya.


"Ini..." Asma meletakkan dada ayam yg masih beku "Pakek dada ayam juga" Dan Bilal hanya bisa menarik nafas dan mengembuskan nya.


"Iya"


"Bilal, jangan pakek telur ya. Aku engga suka bau nya"


"Iya, Sayang. Lebih baik kamu makan aja jeruk nya dan biarkan aku bekerja, oke?" tutur Bilal dan Asma pun mengangguk, ia makan dalam diam dan kemudian terlihat Khadijah yg juga datang ke dapur sambil menguap dan masih tampak sangat mengantuk.


"Ini baru jam 2 pagi, kenapa kalian disini?" tanya Khadijah yg terbangun karena suara bising mereka.


"Zahra mau nasi goreng pedas kata nya" jawab Bilal sembari mencuci dada ayam nya.


"Oh, sini aku bantu" ucap Khadijah.


"Kamu siapkan sayurnya aja, biar aku yg potong daging sama sosis nya"


Khadijah dan Bilal pun saling membantu membuatkan makanan yg Asma mau. Sementara Asma terlihat sudah menghabiskan tiga buah jeruk dan saat ini ia sedang makan jeruk yg ke empat.


"Hem, aromanya wangi" seru Khadijah saat Bilal sudah mulai memasak.


"Ambilkan garam nya, Khadijah"


"Oke, pakek kecap manis?"


"Iya"


Khadijah memperhatikan suaminya yg ternyata pandai memasak, ia baru tahu itu. Bahkan aroma masakan nya pun sangat wangi dan menggugah selera. Saat selesai, Bilal menyiapkan nasi goreng itu di piring.


"Aku mau tidur" ucap Asma tiba tiba yg membuat Khadijah dan Bilal mengernyit bingung.


"Loh, katanya lapar?" tanya Khadijah.


"Aku sudah kenyang" seru Asma, Bilal dan Khadijah melihat tumpukan kulit jeruk di depan Asma.


"Terus siapa yg mau makan ini, Zahra?" tanya Bilal heran dengan istri nya itu, ia bahkan sedikit kesal, sudah bela belain masak di jam dua pagi dan Asma bilang sudah kenyang.


"Besok pagi aku makan, sekarang aku sudah sangat kenyang"


"Ya sudah, engga apa apa" jawab Bilal mencoba memahami istri nya itu.


Dan Khadijah yg melihat nasi goreng Bilal tampak lezat, ia tak bisa menahan air liur nya, ia pun mengambil sendok dan hendak memakan nya tapi Bilal segera menarik piring itu menjauh membuat Khadijah mendesah kecewa.


"Ingat kata Dokter, jangan makan yg pedas dan berlemak"


"Satu sendok aja, Mas. Ya, Rasanya sudah ber abad abad aku engga makan yg enak enak"


"Engga, sembuh dulu baru nanti makan yg enak"


Khadijah terus membujuk Bilal agar mengizinkan nya makan nasi goreng itu dan Bilal terus mengingatkan apa kata Dokter. Asma yg melihat Khadijah tampak sangat menginginkan nasi goreng itu sebenarnya kasihan, tapi benar kata Bilal, Khadijah tidak boleh makan yg pedes dan berlemak


"Ummi Khadijah nakal, Nak" Asma bersuara sembari mengusap perut nya "Dia mau makan nasi goreng yg pedas, padahal kan engga boleh, nanti kalo Ummi Khadijah sakit, siapa yg jagain kamu? Sementara Ummi Zahra harus pergi ke sekolah dan belajar, ya kan?"


"Benar" sambung Bilal " Ummi kamu nakal, Sayang. Engga mau jaga kesehatan" Ucap Bilal sambil ia berjongkok dan berbicara tepat di depan perut Asma.


"Engga..." sambung khadijah yg juga berjongkok, ia juga mengusap perut Asma " Ummi engga nakal, Sayang. Ummi janji akan jaga kesehatan supaya Ummi bisa jagain kamu nanti" Asma tersenyum senang melihat hal itu. Begitu juga dengan Bilal.


"Ya udah, sekarang kalian kembali ke kamar masing masing dan istirahat, biar aku bereskan ini sebentar"


Dan kedua istri Bilal itu pun begitu patuh dan langsung pergi ke kamar nya masing masing.


Sementara Bilal membereskan dapur nya hingga bersih kembali. Setelah itu, ia segera kembali ke kamar dan mendapati istri nya itu tengah merintih,Bilal yg panik segera berlari menghampiri nya.


"Zahra, ada apa? Apa kamu sakit?" tanya Bilal yg tampak sangat khawatir.


"Cuma kram, kata Dokter itu hal biasa. Nanti juga sembuh"


"Hem begitu, kalau gitu sebaik nya kamu tidur, besok ada janji dengan Dokter mu" seru Bilal, ia pun merebahkan dirinya, di susul dengan Asma yg juga bergabung dengan meletakkan kepalanya di dada Bilal.


"Jam berapa?" tanya Asma sambil memejamkan mata, setelah kenyang ia menjadi sangat mengantuk


"Jam 10. Besok engga usah sekolah dulu"


"Aku jadi sering bolos sekarang, padahal kamu sudah bayar sekolah ku" ucap Asma sambil tersenyum tipis mengingat saat ia meminta bolos tapi Bilal memarahi nya karena sudah membayar sekolah nya. Bilal pun tertawa karena istri nya itu mengungkit hal itu.


"Kesehatan mu dan anak kita jauh lebih penting dari apapun"


"Benarkah?" tanya Asma dengan mata melebar.


"Tentu saja, kalian segalanya bagi ku. Aku akan melakukan apapun untuk kebaikan mu dan anak kita dan aku akan selalu menjaga kalian, aku janji"


"Terimakasih, Bilal. Kami mencintai mu"


"Aku juga sangat mencintai kalian"


.


.


.


Dokter sedang memeriksa perut Asma dan menunjukan layar monitor USG pada Bilal dan Asma


"Semuanya baik baik saja, anak anak kalian berkembang dengan sangat baik" ucap Dokter itu yg seketika membuat Asma dan Bilal tercengang.


"Anak anak?" tanya Asma dan Bilal bersamaan.


"Kami tidak ingin tahu itu" jawab Asma dengan cepat "Biar itu menjadi kejutan untuk kami nanti" lanjutnya sambil menatap Bilal yg juga tampak sangat bahagia.


"Baiklah, lalu bagaimana dengan keadaan mu, Bu Asma?"


"Perutnya terkadang kram dan dia tampak kesakitan" jawab Bilal yg memang tak tega saat terkadang Asma tiba tiba meringis karena kram.


"Selama kehamilan, rahim akan terus berkembang sehingga menyebabkan ligamen dan otot yang menopang rahim menjadi menegang. Jadi hal biasa jika meraskan kram di bagian perut bawah"


"Apakah itu tidak berbahaya?" tanya Bilal lagi.


"Tidak, Pak. Itu hal normal jika tidak di tandai gejala yg lain, seperti mengalami pendarahan"


"Sayang, kamu engga pendarahan kan?" tanya Bilal pada istri nya itu dengan sangat lembut, melihat bagaimana Bilal memperlakukan Asma, Dokter itu tak bisa menahan senyum nya.


"Engga, hanya saja kadang perut ku benar benar sakit seperti menusuk"


"Apakah sakit nya berlangsung lama?"


"Tidak, Dok. Hanya beberapa menit"


"Baiklah, itu tidak masalah. Tapi jika Bu Asma meraskan kram atau nyeri yg luar biasa, sebaiknya segera periksakan agar kita segera tahu kondisi janin nya dan kita bisa segera mengambil tindakan"


"Baiklah, Dok"


Dokter memberikan beberapa saran agar Asma bisa menjaga bayi nya lebih baik lagi, tak lupa Dokter juga mengingatkan jika kram yg Asma rasakan semakin parah, maka harus segera di tindak lanjuti.


Setelah selesai memeriksakan kandungan nya, Bilal pun membawa Asma pulang, namun di perjalanan Asma meminta Bilal menghentikan mobilnya karena ia melihat ada penjual durian dan tiba tiba saja ia sangat ingin memakan nya.


"Durian?" tanya Bilal meringis, karena ia paling tidak suka durian, mencium aromanya saja sudah membuat Bilal sakit kepala.


"Anak mu yg mau" bujuk Asma dengan wajah memelas.


"Ya udah iya" jawab Bilal dan ia pun membawa Asma kesana, namun yg membuat Bilal semakin kesal, Asma ingin memakan durian itu disana.


"Makan dirumah aja ya, Sayang"


"Engga mau, mau nya disini" seru Asma dengan senjata andalannya, wajah memelas. Membuat Bilal kembali mengikuti maunya istri nya itu.


Bilal menutup mulut dan hidung nya saat sang penjual mulai membelah durian dan menyajikan nya di depan Asma.


Dengan sangat antusias, Asma langsung menikmati nya


"Bilal, kamu tunggu di mobil aja kalau engga tahan sama bau nya" tutur Asma yg tak tega melihat suaminya sepertinya sangat tersiksa dengan aroma durian itu.


"Aku engga mungkin ninggalin kamu sendirian di sini" jawab Bilal.


"Ya Allah, Bilal. Itu mobil mu, aku di sini. Engga sampek jarak 2 meter, engga akan ada yg culik aku kok"


"Engga apa apa, aku mau temanin kamu di sini"


"Tapi Bilal..."


"Engga apa apa, Sayang. Beneran" ucap Bilal meyakinkan padahal ia sudah hampir pingsan karena aroma menyengat durian itu.


Setelah selesai, Asma pergi mencuci tangan nya sementara Bilal membayar durian nya. Bilal sengaja memberikan uang lebih sebagai rasa syukur atas apa yg dia miliki sekarang. Tentu penjual itu sangat berterima kasih dan mendoakan Bilal beserta keluarga nya.


Asma dan Bilal kembali melanjutkan perjalanan pulang, namun tiba tiba Bilal menghentikan mobil nya di depan sebuah mini market.


"Mau beli apa?" tanya Asma.


"Air, tunggu sebentar" Bilal pun segera bergegas membeli apa yg dia butuhkan. dan saat keluar, Asma melihat Bilal yg membeli air, sabung cuci tangan dan juga perment.


"Buat apa itu?" tanya Asma.


"Buat kamu, ayo sini cuci tangan mu" seru Bilal.


"Tapi tadi disana aku sudah cuci tangan"


"Tapi bau durian nya masih ada"


Asma pun turun dari mobil dan ia segera mencuci tangan nya, tak lupa Bilal ia menuangkan sabun yg cukup banyak ke tangan Asma.


"Kebanyakan sabun nya"


"Biar hilang bau nya" setelah selesai mencuci tangan Asma, Bilal mencium tangan istri nya itu "Nah, sudah hilang bau di tangan mu, sekarang kumur kumur dan makan permen ini, biar bau yg di mulutmu juga hilang" Asma menahan tawa melihat ekspresi Bilal yg sepertinya sangat membenci aroma durian itu. Namun ia mengikuti apapun yg di minta suami nya.


Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan pulang dan ternyata Bilal membawa Asma pulang kerumah baru nya.


Rumah itu sudah sangat layak di tempati. Asma sangat bahagia karena akhirnya rumahnya bisa di tempati. Bilal membukakan pintu mobil dan membantu Asma turun dari mobil.


"Selamat datang di rumah, Nak" seru Bilal mengusap perut Asma.


"Ini sudah bisa di tempati?" tanya Asma.


"Sudah, Sayang. Kalau kamu mau, kita bisa tinggal di sini" Asma memang sangat ingin tinggal di sana, tapi mengingat ia dan Khadijah kini kembali dekat, Asma rasa ia harus memikirkan nya sekali lagi.


Bilal dan Asma pun memasuki rumah mereka.


"Saat pertama kali memasuki rumah ini kita hanya berdua, dan sekarang..." Bilal berjongkok dan ia mengecup perut Asma "Kita ber empat."


"Iya, sekarang kita bersama anak anak kita" Asma mengusap perut nya"Nanti kita tinggal di sini ya, Nak. Abi kalian sendiri yg mendesain rumah ini, apa kalian suka?"


"Tentu saja anak anak ku pasti suka apa yg di lakukan Abi mereka" sambung Bilal.


Bilal mengeluarkan kunci rumah nya dengan sebuah gantungan yg bergambar dua pengantin yg saling berpegangan tangan, dan di bawahnya tertulis Bilal Zahra kemudian memberikan nya untuk Asma, namun Asma menolak nya.


"Kenapa?" tanya Bilal


"Kenapa harus aku yg pegang kunci rumah nya?"


"Karena ini rumah mu, Sayang"


"Rumah kita, dan kamu adalah kepala keluarga di sini" ucap Asma kemudian "Tapi gantungan kunci nya bagus, apa kamu memesannya?" tanya Asma dan ia pun melihat gantungan kunci itu yg memang sangat lucu.


"Ya, aku memesannya dari teman ku"


"Bilal sayang, Aku benar benar engga nyangka, Ustadz yg dulu selalu memasang wajah datar ternyata tipe pria yg manis dan romantis" ucap Asma kemudian menggandeng tangan Bilal dan membawanya naik untuk melihat kamar meraka. Bilal yg mendengar itu tertawa kecil, karena ia sama sekali tak merasa selalu memasang wajah datar dan tak merasa dirinya adalah pria yg manis dan romantis. Apapun yg di lakukan nya, hanya sebagai ungkapan cinta nya.


Bilal dan Asma memasuki kamar mereka, dan betapa senangnya Asma saat melihat ada sebuah box bayi di sisi ranjang nya lengkap dengan bantal dan selimut nya. Asma berjalan dan menyentuh setiap sisi box kecil itu, ia juga mengusap bantal mungil itu, membayangkan kelak bayi nya akan tidur di sana, membuat Asma tak sabar menunggu kelahiran nya.


"Kamu yg membeli nya?" tanya Asma dengan mata yg berbinar bahagia.


"Iya, karena aku engga tahu bayi kita kembar, aku hanya membeli satu. Nanti kita bisa beli lagi" tutur Bilal yg juga sangat bahagia melihat istrinya yg tampak sangat menyukai apa yg sudah dia persiapkan.


Asma langsung berhambur kedalam pelukan Bilal dan ia mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih untuk semua nya, aku mencintai mu Bilal" Asma berkata dengan mata yg berkaca kaca. Betapa Bilal sangat mencintai nya, Asma merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.


"Aku mencintai mu, Zahra. Juga sangat mencintai mu" ucap Bilal sembari membalas pelukan Asma, dan ia mengecup pucuk kepala Asma


"Tapi bagaimana kau bisa mempersiapkan semua ini? Padahal kamu selalu sibuk mengurus kantor, membantu Abi di pesantren, dan juga mengurus aku dan Mbak"


"Aku bisa melakukan apapun untuk mu, Zahra" jawab Bilal yg membuat hati Asma semakin tersentuh, ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku mencintai mu, Bilal"


"Dan aku mencintai mu, Zahra"


▪️▪️▪️


Tbc...