
Asma mengambil ponsel yg Bilal berikan padanya dari dalam laci, ponsel itu sudah terisi lengkap dengan sim card nya, kemudian ia memasukan ponsel dan laptop nya ke dalam ransel nya.
"Bi, aku berangkat dulu ya" ucap nya pada Bi Mina yg sedang mempersiapkan sarapan.
"Loh, Neng Asma, tumben berangkat nya awal?"
"Ada tugas" jawab Asma bohong dan ia segera berjalan keluar rumah nya. Malam ini Asma berniat akan tidur di asrama, dia benar benar merasa butuh waktu dan ingin menjauh dari suami nya yg sangat menyebalkan itu. Asma tahu jika ia minta izin sudah pasti tidak akan di izinkan. Tentu saja, dia bukan Khadijah yg selalu di beri kebebasan oleh Bilal, fikir nya.
Asma memberi tahu Nora bahwa malam ini ingin tidur bersama Nora, saat Nora menanyakan alasannya, Asma hanya mengatakan dia ingin tidur di asrama, itu saja. Saat Nora menanyakan apakah Bilal mengizinkan Asma, dengan terpaksa Asma berbohong dan mengatakan Bilal mengizinkan nya.
Di malam hari nya, setelah melaksanakan rutinitas santri nya, Nora membawa Asma masuk ke kamar nya, disana teman teman Nora menyambut Asma dengan senang hati karena sebelum nya Asma pernah tidur di sana.
"Asma, kamu engga mau ganti baju?" tanya Nora karena Asma masih mengenakan seragamnya.
"Engga usah" jawab Asma. Bahkan Nora menyarankan agar ia memakai baju Nora, tapi Asma menolak nya. Karena semua aktifitas sudah selesai, kini mereka bersiap istirahat.
Sementara Asma, ia duduk melamun dan bertanya tanya kenapa Bilal tidak mencari nya, padahal dia tidak memberi tahu siapapun kalau dia akan menginap. Apakah suami nya itu memang tidak perduli, fikir Asma. Dan itu membuat nya semakin merasa sakit hati, mungkin saat ini Bilal sedang sibuk mengurus istri pertama nya sehingga ia lupa dengan istri keduanya.
"Asma..." Nora mengguncang tubuh Asma beberapa kali karena Asma terlihat melamun sejak tadi "Kamu lagi ada masalah ya sama Ustadz?" tanya Nora, dengan cepat Asma menyanggah nya
"Kamu bohong, mata mu mengatakan kamu sedang ada masalah"
"Aduh, Nora. Sejak kapan kamu bisa membaca situasi orang dengan menatap matanya" ujar Asma mencoba menghindari pertanyaan Nora.
"Neng Asma beruntung banget ya, bisa sekolah di sini tapi tetap bebas, tidak perlu tinggal di asrama" ucap salah satu teman Nora.
"Iya betul, jadi engga sumpek kayak kita ya, setiap hari aktifitas nya itu itu aja. Bahkan di hari libur pun tetap tidak boleh keluar asrama"
"Justru aku ingin sekali tinggal di asrama, tapi engga di izinin, kalian yg beruntung, bisa sekolah normal, menikmati masa remaja dengan teman dan sekolah"
"Tapi tinggal di asrama itu engga enak, bosan. Coba seandainya kasih hiburan gitu, atau se engga nya kasih TV kek, ya biar bisa menghilangkan jenuh gitu"
"Kalian mau nonton film?" tanya Asma.
"Ya mau lah, sudah lama aku engga nonton oppa korea"
Asma tertawa mendengar jawaban teman Nora itu, kemudian ia mengeluarkan laptop nya yg membuat semua teman teman Nora tampak terkejut bercampur senang.
"Apa bisa akses internet?" tanya mereka antusias
"Bisa" jawab Asma sembari mencolokkan modem nya.
"Itu di larang di pesantren!" ucap tegas seorang santri yg baru saja masuk ke kamar. Dia adalah Imel, santri kelas 6 sekaligus ketua kamar mereka. Asma sempat beberapa kali bertemu dengan Imel, dan Asma merasa gadis itu tipe gadis yg dingin.
"Larangan tidak boleh di lakukan hanya jika berpotensi ketahuan" jawab Asma dengan santai nya yg membuat mereka tertegun, terutama Imel.
"Asma, kamu itu istri Ustadz, seharusnya mencontoh kan yg baik" tegas Imel.
"Memang hal buruk apa yg ku lakukan? Sekarang sudah waktu nya istirahat, santri bebas mau tidur, mau belajar atau melakukan yg lain" tutur Asma yg membuat Imel menatap nya tak percaya, tak seperti anggota keluarga pemilik pesantren yg kalem, sopan, anggun dan yg pasti mereka begitu patuh pada peraturan, Imel justru melihat Asma tampak berbeda.
"Tapi santri tidak boleh membawa hp apa lagi laptop ke pesantren" Seru Imel lagi berusaha membuat Asma mengerti.
"Aku disini sebagai istri Bilal dan menantu dari keluarga nya, aku di diperbolehkan membawa atau menggunakan hp dan laptop. Dan aku hanya meminjamkan laptop pada teman teman ku" jawab Asma telak yg membuat Imel tak tahu lagi harus menjawab Asma, sementara yg lain nya menatap memohon pada Imel. Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya Imel mengizinkan mereka dan meminta mereka tidak memberi tahu siapapun. Mereka semua bersorak gembira, begitu juga dengan Asma yg tersenyum simpul, ia sama sekali tak bermaksud mengungkit status nya, tapi sepertinyajiwa nakal nya kambuh lagi saat berhadapan dengan Imel yg sangat terlihat dingin. Teman teman Asma berebutan ingin menonton film kesukaan mereka masing masing, ada yg bilang rindu oppa, ada yg nyanyi india sambil nebak nebak judul nya, bahkan ada yg mencari film horor. Asma senang melihat teman teman nya senang, tapi sekali lagi hatinya bertanya tanya, kenapa Bilal tidak mencari nya, apa setidak peduli itu dia pada nya?
Sementara teman teman Asma sibuk mencari film, Asma merebahkan dirinya di tempat tidur Nora, dan saat ia memejamkan mata, Bilal hadir begitu saja dalam benaknya, membuat Asma langsung membuka matanya lebar lebar. Kemudian setelah berganti pakaian, Imel duduk di samping Asma dan tiba tiba bertanya.
"Lari tidak akan menyelesaikan masalah, Neng Asma" Asma menatap bingung pada Imel.
"Maksud nya?"
"Kamu pasti lagi ada masalah sama Ustadz kan?" tanya Imel lagi. Asma dengan cepat menyanggah nya.
"Engga kok"
"Tapi mata mu mengatakan ya" Asma menghela nafas. Tadi Nora, sekarang Imel, fikir nya.
"Mungkin kamu salah mengartikan mata ku" ucap Asma.
"Aku yakin aku engga salah, sikap mu, tatapan mu, dan bahkan saat kau menutup mata dan tiba tiba membuka mata lagi, itu sudah menandakan ada yg membuat hati mu tertekan" Asma tak habis fikir bagaimana Imel bisa dengan mudah menebak keadaaan nya, namun ia tetap tak ingin mengakui nya.
"Maaf kalau aku lancang" ucap Imel kemudian ia pergi ke tempat tidurnya sendiri "Jangan terlalu lama menonton film nya, awas saja kalau engga bangun dan sholat tahajud berjemaah" lanjut nya memperingatkan teman teman nya itu.
.
.
.
Asma tak bisa memejamkan mata walau sedikitpun, padahal jam sudah menunjukan pukul 3.25. Hatinya merasa sangat sakit menyadari Bilal benar benar tidak peduli dengannya, bahkan ia menangis dalam diam. Kini dada nya terasa sesak, sekuat tenaga Asma menahan tangis nya agar tak membangunkan teman teman nya, namun isakan kecil tetap lolos begitu saja. Asma menutup wajahnya dengan bantal, ia merasa seolah sekarat.
Asma bangun pelan pelan dan mencari ponsel dalam tas nya, kemudian ia pergi ke pojok kamar untuk menghubungi kakak nya, Asma sudah tidak tahan menahan semua sakitnya sendirian, ia butuh seseorang untuk melepaskan tekanan hati nya.
Asma tahu biasanya jam segini Adil sudah bangun, ia pun mengirim pesan pada Kakak nya itu dan menanyakan bisakah Asma menelpon nya sekarang, baru beberapa detik setelah pesan masuk, Adil langsung menghubungi Asma.
"Dek, ada apa? Kenapa kamu mau telponan kakak tengah malam? Kamu engga apa apa kan?" Asma tak tahu harus menjawab apa, dia hanya bisa menggigit bibir untuk menahan tangis nya
"Dek...Asma...Sayang. Kenapa diam? Kamu engga apa apa kan? Asma bicaralah, jangan bikin kakak takut " terdengar suara adil yg benar benar ketakutan di sana.
"Kak....hiks...hiks..."
"Ya Allah... Asma, sayang. Kamu nangis? Ada apa?"
"Asma.... Asma boleh bicara sesuatu sama Kak Adil?" tanya Asma mencoba menghentikan tangis nya.
"Iya Sayang, Boleh. Asma mau bicara apa? Apa ada yg menyakiti Asma di sana?"
"Engga ada... cuma..cuma..."
"Cuma apa, Dek? Bicara saja, jangan takut "
" Asma butuh teman curhat dan juga minta saran dari Kakak. Ini...ini masalah rumah tangga Asma, apa boleh?" terdengar suara hela'an nafas Adil di sana, sudah pasti dia sangat mengkhawatirkan adik kecil nya itu.
"Boleh, Sayang. Bicara saja"
Lalu, dengan perlahan Asma menceritakan keadaan nya dan seperti apa rumah tangga nya, Asma memilih kata dengan sangat hati hati, karena ia tak ingin memojokkan suami nya atau menyalahkan madunya, ia tidak ingin Adil berfikir buruk tentang mereka, namu tetap saja Asma mengatakan ia marah pada Bilal yg tidak bisa menjaga nya, Asma juga mengatakan Bilal memarahi nya hanya karena dia jalan bersama Hubab dan itu membuat nya sangat kesal, Asma bertanya apa yg harus dia lakukan sekarang karena sekarang dia benar benar merasa marah dan bahkan tinggal di asrama tanpa izin Bilal. Dan Bilal sama sekali tidak mencari nya, Asma bertanya pada kakaknya, kenapa suami nya seperti itu? Mungkinkah suami nya itu memang tidak perduli.
"Apa lagi yg perlu di jelaskan, Kak? diaT meninggalkan aku begitu saja, apa susah menunggu sebentar atau memanggil ku"
"Sayang, saat seseorang panik, khawatir dan juga takut, dia bisa melakukan hal yg salah. Bahkan kakak pernah melakukan nya pada mu, kan? Apa lagi itu menyangkut kesehatan Khadijah yg memang sudah sakit sakitan selama ini, saat Bilal mendapatkan kabar dari Khadijah tentu saja dia akan langsung panik dan pergi. Mereka berdua sudah hidup dalam ke khawatirkan tentang penyakit Khadijah"
Asma terdiam mendengarkan kata kata kakak nya. hati kecil nya membenarkan hal itu, apa lagi Bilal juga sudah menyuruh Mukhlis menjemput nya. Tapi di satu sisi ia masih merasa cemburu karena merasa Khadijah lebih penting dari nya.
"Asma, cobalah kamu fikirkan berada dalam posisi Bilal, istri yg sudah menemani nya selama bertahun tahun sedang sekarat, tentu dia akan langsung berlari pada nya. Bilal memang meninggalkan mu tapi dia tetap peduli, buktinya dia masih menyuruh kakaknya menjemput mu, dan dia juga mencari mu, selain itu dia selalu berusaha meminta maaf pada mu bahkan sampai dia tidak menemani Khadijah di rumah sakit. Dia pasti menyesali perbuatannya, sayang."
"Jadi maksud Kakak, Asma harus maafin dia?"
"Kita harus selalu bisa memaafkan, Asma. lagiY pula, kalau kamu terus marah sama dia, bukan nya kamu juga tersiksa? Kebencian hanya membawa rasa sakit, Dek"
Asma membenarkan kata kata Kakak nya itu, memang dia juga merasa sakit dan menderita.
"Tapi dia marah marah hanya karena Asma pulang bersama sepupu Mbak, Kak. Padahalkan cuma pergi beli martabak, dia bilang Asma jalan sama laki laki lain, Asma tersinggung dong Kak"
bukannya menanggapi serius perkataan Asma Adil justru terdengar tertawa, membuat Asma memberangut kesal
"Malah ketawa, Asma serius, Kak "
"Haha haha... Dia itu cemburu, Asma. Suami mu itu tipe yg cemburuan dan posesif "
"Tapi sama Mbak Khadijah engga"
"Karena dia sangat mencintai mu, Dek"
"Cinta dari mana? Dia selalu cari masalah"
"Nanti kamu juga ngerti *kok, j*adi bagaimana perasaan mu sekarang? Merasa lebih baik?"
"Hmm, maaf ya, Kak. Udah ganggu tengah malam"
"Engga apa apa, kapan pun Asma butuh Kakak , Kakak akan selalu ada"
"Makasih Kak"
"Iya, Sayang. ya udah, Kakak mau sholat dulu, nanti kalau ada apa apa, telpon kakak ya"
"Iya, Kak. assalamualaikum "
"Waalaikum salam"
Setelah menutup telpon nya, Asma di kejutkan dengan Imel yg sudah terbangun dan menatap nya. Imel menghampiri Asma dan duduk di samping nya.
"Kamu bangun gara gara aku, ya? Maaf ya" ucap Asma tampak tak enak hati.
"Engga kok, jam segini aku memang pasti bangun"
"Apa kamu dengar aku tadi saat bicara sama kakak?" Imel tersenyum tipis dan mengangguk. Dia memang mendengar semua nya, dia bahkan tahu Asma juga menangis sejak tadi.
"Aku engga akan kasih tahu siapapun, aku tahu masalah rumah tangga tidak boleh di sebarkan"
"Terima kasih" ucap Asma tulus.
"Aku mengerti perasaan mu" ucap Imel kemudian mengeluarkan kalung dari dalam baju nya, dan terdapat sebuah cincin pernikahan di sana "Aku juga seorang istri" tutur Imel yg membuat Asma sangat terkejut.
"Serius?" tanya Asma tak percaya "Apa kamu juga di jodohkan?"
"Engga" jawab Imel sembari tersenyum "Kami saling mencintai, kami bahkan sudah pacaran cukup lama, dia sangat mencintai ku tapi juga sangat posesif, itu membuat ku merasa terkekang, sehingga pertengkaran selalu terjadi, sehingga sudah tidak terhitung lagi berapa kali kami putus nyambung"
"Lalu kalau kamu sudah tahu dia seperti itu, kenapa masih menikahi nya?"
"Aku juga sangat mencintai nya, Asma. Kami menikah dua tahun lalu, aku sudah meminta nya menunggu ku sampai lulus, tapi karena dia selalu takut kehilangan ku, dia langsung meminta izin pada orang tua ku untuk menikahi ku, karena mereka juga tahu kami sudah pacaran cukup lama, tentu mereka senang akhirnya kami bisa menikah"
"Apa teman teman mu tahu itu?"
"Engga, cuma anggota keluarga Ustadz Bilal yg tahu, kami mengundang mereka di pernikahan kami, Abi Ustadz Bilal sendiri yg menikahkan kami"
"Lalu apa setelah menikah dia sudah tidak posesif lagi?"
"Tambah parah" jawab Imel sambil tertawa kecil namun Asma bergidik ngeri mendengar itu.
"Bukannya itu sangat merepotkan?"
"Iya jika tidak ada cinta atau pengertian di kedua belah pihak. Lagi pula, kalau pasangan kita engga posesif, ya engga akan ada sebuah tantangan dalam hubungan kita, kan? Semua nya akan terasa hambar"
"Benar juga, tapi kalau berlebihan kan repot juga"
"Ya itu sering terjadi, kemudian kami bertengkar, saling menyalahkan, tapi kemudian dia datang dengan penyesalan, meminta maaf, dan melakukan segala hal untuk meluluhkan hati ku"
Mendengar penuturan Imel, Asma teringat Bilal. Bilal memang terkadang menjengkelkan, tapi Bilal selalu melakukan apapun untuk meluluhkan hati Asma.
"Itu hal yg sangat menyebalkan, membuat kesalahan, menyadari, menyesal, meminta maaf dan mengulangi nya lagi" gumam Asma teringat suami nya, kemudian ia berjalan ke arah jendela, dan betapa terkejut nya dia melihat Bilal yg berdiri di bawah sana sembari menatap ke arah nya, atau lebih tepatnya, menatap jendela kamarnya.
"Engga mungkin" gumam Asma melangkah mundur. Ia yakin ia salah lihat, kemudian Asma melangkah lagi dan memang itu suami nya, Asma masih tak percaya dengan apa yg di lihat nya, lagi pula apa yg di lakukan suami menyebalkan nya itu disana.
"Ada apa?" tanya Imel sambil menghampiri Asma "Ya Allah, Ustadz masih di sana?" seru Imel terkejut saat melihat Bilal berdiri di bawah sana.
"Masih disana? Maksud nya?" tanya Asma tak mengerti.
"Setelah sholat isya, aku sudah melihat Ustadz Bilal berdiri disana dan menatap jendela kamar ini. Dan saat melihat mu di kamar, aku fikir dia yg mengantar mu kesini" Asma menganga tak percaya mendengar penuturan Imel.
"Apa menurut mu dia berdiri sejak tadi disana?" tanya Asma pada Imel sembari menatap ke arah Bilal yg saat ini masih memandangi jendela kamarnya.
"Ku rasa begitu"
"Engga mungkin, apa dia sudah gila berdiri disana ber jam jam dan itupun di malam hari?"
"Sepertinya dia memang gila, Neng Asma. Dan kamu yg membuat nya gila"
▪️▪️▪️
Tbc...